
Akhirnya Nadia bisa mengalami bagaimana rasanya menjadi pekerja kantoran. Melalui bantuan tetangganya, Lily, akhirnya ia bisa diterima bekerja di sebuah kantor firma hukum tempat Lily bekerja.
Titiana April & Partners.
Firma hukum yang didirikan oleh Ibu Titiana April. Salah satu pengacara wanita senior di Indonesia. Seorang wanita yang usianya mendekati 60 tahun tapi masih berstatus single.
Nadia baru mengenal nama Ibu Titiana April dari Lily. Selama ini nama advokat yang ia kenal hanyalah advokat yang sering muncul di infotainment karena menangani perceraian selebritis atau menangani selebritis yang tersandung kasus hukum.
Ia juga mengenal nama Novrianto. Pengacara yang sempat menangani perceraiannya dengan Tristan.
Ia baru menyadari, ternyata untuk bekerja di sebuah kantor atau perusahaan, last education maupun skill, tidak selamanya menjadi penentu utama. Karena dengan pendidikan terakhirnya yang hanya tamatan SMA serta keterampilan yang dimilikinya sebagai mantan pekerja salon, sangat tidak masuk akal bila ia bekerja di sebuah kantor firma hukum.
Salah satu yang memegang peranan penting dalam mencari pekerjaan adalah koneksi atau relasi. Koneksi atau relasi adalah aset paling berharga saat membutuhkan pekerjaan. Dan yang menjadi koneksinya adalah Lily.
Lily tidak memiliki posisi penting pada firma itu. Juga tidak masuk dalam jajaran pengacara yang menjadi partner kerja Ibu Titiana April. Tetapi Lily memiliki hubungan yang sangat baik dengan Ibu Titi, panggilan untuk Titiana April.
Oleh karena itu Lily mampu membawanya masuk ke firma hukum Titiana April & Partners untuk bekerja. Meskipun ia berpendidikan rendah serta miskin ilmu dan pengalaman. Belum lagi ia sedang hamil delapan bulan.
Satu hal yang ia syukuri adalah, karena Tristan memberi dukungan kepadanya untuk bekerja.
Tristan memang sudah banyak berubah.
Meskipun tidak memiliki sisi romantisme, namun Tristan sekarang lebih penurut dan tidak pernah menyakitinya lagi dengan kata-kata. Tidak mungkin memaksakan seorang pria yang kaku menjadi romantis. Ia harus bisa memahami karakter suaminya tersebut. Ia harus bisa menghargai perubahan yang telah diupayakan oleh Tristan.
Seperti saat ia meminta untuk mengganti sofa di ruang tamu. Bukan karena sofa itu sudah tua. Tapi karena ia ingin mengubur kenangan yang tersimpan sangat manis dan melekat abadi di sofa itu.
"Sofanya kan masih bagus, belum ada cacatnya," Tristan sempat memprotesnya.
"Iya tapi kan kita nggak pernah ganti sofa sejak kita menikah. Kita butuh suasana yang berbeda," ia memberikan argumennya.
Meskipun Tristan tidak mengiyakan saat itu, tapi begitu Tristan libur, suaminya mengajaknya ke sebuah furniture shop. Dan memintanya memilih sendiri sofa yang diminatinya.
Kadang-kadang ia masih tidak percaya, betulkah Tristan lelaki yang serumah dengannya? Karena Tristan sudah lumayan berubah dari sebelumnya.
Saat bekerja di kantor itu, ia juga baru tahu, bila advokat itu menangani banyak permasalahan. Bukan hanya seputar kasus pidana, perceraian atau perebutan harta saja.
Karena Titiana April & Partner ternyata berkonsentrasi melayani jasa hukum dalam bidang perbankan, perusahaan, hukum investasi, teknologi informasi, minyak dan gas, energi hingga mediasi.
Firma hukum itu bertempat di lantai 8 sebuah gedung perkantoran di Jakarta Selatan, yang merupakan bagian dari superblok milik grup pengembang properti terkemuka.
Seperti nama firmanya, Titiana April & Partner, Ibu Titi bukan satu-satunya advokat di dalam firma tersebut. Terdapat beberapa advokat yang turut bergabung di kantor itu dengan jenjang karir yang levelnya masih dibawah Ibu Titi.
Jenjang karir di kantor advokat Ibu Titi terbagi atas dua, yaitu senior lawyer dan junior lawyer. Jenjang karir tersebut ditentukan berdasarkan masa kerja, prestasi kerja dan ukuran-ukuran lainnya.
Lalu posisi apa yang ia tempati di kantor advokat Ibu Titi?
Ia hanya seorang staf administrasi, sama halnya dengan Lily. Ia baru tahu, bila Lily ternyata bukan sarjana hukum. Tetapi seorang sarjana manajemen.
Ia menempati sebuah ruangan kecil tempat penyimpanan arsip, berdua dengan Lily di dalam ruangan tersebut. Di atas mejanya terdapat sebuah PC desktop all in one dengan monitor LED dan sebuah printer A4.
Pekerjaan yang ia lakukan sama dengan pekerjaan yang dilakukan oleh Lily. Mencatat surat masuk, menyampaikannya ke Ibu Titi, lalu membagikan kepada penerima disposisi serta mengarsipkannya. Ia juga membantu pekerjaan para lawyer bila mendapat perintah.
__ADS_1
Kadang-kadang ia dan Lily menemani Ibu Titi ke pengadilan atau mengunjungi klien. Sehingga ia menjadi cepat akrab dengan Ibu Titi.
"Nadia, kalau kamu capek nggak usah ikut ke pengadilan." Tidak jarang Ibu Titi memberinya perhatian-perhatian kecil semacam itu. Sehingga ia pun nyaman bekerja di kantor advokat milik Ibu Titi. Apalagi para karyawan di kantor tersebut sangat welcome padanya.
Ibu Titi pernah membuatnya terharu dan menangis, karena mengajaknya ke sebuah mall mewah di Jakarta Pusat untuk berbelanja keperluan melahirkannya.
Tidak tanggung-tanggung, Ibu Titi membeli begitu banyak pakaian bayi dan perlengkapan bayi untuknya. Tentu saja Ibu Titi mengeluarkan budget yang cukup besar untuk itu.
"Sekarang aku memiliki alasan untuk membeli pakaian bayi yang lucu-lucu ini. Kamu tahu Nadia, aku juga memiliki keinginan untuk memiliki rumah tangga, memiliki bayi yang lucu. Tapi garis tangan berkata lain," ungkapan Ibu Titi saat itu yang membuat haru jiwanya.
Mungkin saat ini Ibu Titi memiliki harta yang berlimpah dari kesuksesannya sebagai seorang advokat. Tetapi wanita itu tinggal di rumah mewah sendirian. Hanya ditemani oleh pelayan-pelayannya.
Bila sedang tidak ada pekerjaan yang dilakukan, ia menghabiskan waktu dengan Lily untuk mengobrol. Mulai dari hal yang bersifat pribadi, film, artis, orang-orang di kantor dan yang bersifat umum lainnya.
Baginya, Lily adalah sosok yang dapat dipercaya. Wanita itu adalah tempat curhat yang baik, mampu memberikan solusi, dan memiliki jiwa penolong.
Lily sangat perhatian padanya. Apalagi mereka memiliki usia yang sama, sehingga tidak ada kecanggungan sama sekali yang ia rasakan.
Semua rahasia pribadinya ia telah bagi kepada Lily. Karena dengan mencurahkan isi hatinya pada Lily, dapat meringankan beban pikiran serta kegundahan yang terpendam. Lily juga dapat memberikan perspektif lain. Dan yang terpenting adalah Lily dapat membantu memperbaiki suasana hatinya dan memberikan dorongan semangat padanya setelah masalah besar yang menimpanya.
"Tristan kapan pulang dari Bali," tanya Lily padanya.
"Besok," jawabnya singkat.
"Aku pesan oleh-oleh dong, pie susu dengan salak Bali," lontar Lily.
"Nanti aku sampaikan kepada Tristan." Sekarang ia tidak takut lagi meminta sesuatu pada Tristan. Karena Tristan tidak pernah lagi mengeluarkan kata-kata kasar padanya.
"Aku sedang berada di toko J, kamu mau pesan apa?" tanya Tristan padanya, menunjukkan bahwa suaminya itu sedang berada di sebuah toko oleh-oleh khas Bali.
Tristan memperlihatkan padanya deretan baju kaos baik yang ditumpuk maupun digantung di atas etalase. Membuat hatinya menghangat.
"Tuh, yang sweater rajut itu Tris," serunya, begitu matanya menangkap sebuah pakaian yang dianggap menarik dan kekinian.
"Size apa?" Tristan kembali bertanya.
"S," jawabnya singkat.
Tristan malah memperlihatkan wajahnya dengan kening berkerut. "Mana muat?"
"Aku kan mau pakai setelah lahiran, bukan sekarang," kilahnya. Meskipun ia sebenarnya ragu, apa bisa tubuhnya kembali seperti semula setelah melahirkan nanti.
"Kamu yakin?" Tristan mengernyit, sepertinya dapat membaca keraguannya.
"Atau M aja deh," desahnya menyerah. "Lily juga minta oleh-oleh pie susu dengan salak Bali."
"Oke," sahut Tristan. "Hanya itu pesanan kamu?"
Ia berpikir sejenak lalu berkata, "Sekalian perawatan kewanitaan khas Bali deh."
Namun kali ini Tristan menolaknya.
__ADS_1
"Wah, jangan pesan yang begituan dong. Aku malu," seru Tristan dengan wajah yang lucu.
Sehingga ia tidak mampu menahan tawanya. Begitupun Lily yang juga mendengar percakapannya dengan Tristan.
******
Lily tidak perlu malu untuk menguping pembicaraan suami istri itu, karena ia sudah akrab dengan pasangan tersebut. Kadangkala, bila ia tidak sempat untuk memasak, ia cukup menyeberang rumah untuk numpang makan.
Ia bahkan turut tertawa atau nimbrung pada suami istri yang sedang bercanda melalui video call itu. Menyaksikan Nadia menggoda suaminya yang kaku itu dengan memesan perawatan kewanitaan.
"Pesan makanan aja Nadia, jangan yang seperti itu. Masa laki-laki beli perawatan wanita. Malu ah," keluh Tristan yang membuat ia turut tergelak.
Sebagai seorang yang menjadi tempat berkeluh kesah Nadia, ia turut senang melihat hubungan yang mulai menghangat antara Nadia dan Tristan. Karena Nadia pernah berkisah bagaimana sikap Tristan sebelumnya.
Ia juga melihat Tristan sudah sering membantu Nadia mengerjakan pekerjaan rumah, seperti mencabut rumput liar di taman, sampai membersihkan kamar mandi.
Semoga tetangga sekaligus sahabatnya itu bisa meraih kebahagiaannya bersama Tristan dan menjadi keluarga yang harmonis.
Setelah sambungan video call Nadia dan Tristan berakhir, ia dan Nadia sama-sama sibuk di depan layar komputer. Nadia sibuk mengetik tugas yang diberikan oleh salah seorang lawyer. Sementara dirinya hanya sibuk membuka aplikasi belanja online.
Dirinya salut melihat semangat kerja Nadia dan keinginan Nadia untuk belajar. Tidak seperti dirinya yang lebih menyenangi bersantai di kantor itu. Karena ia sudah pernah merasakan dilibas pekerjaan yang cukup banyak dengan target yang cukup tinggi di kantor sebelumnya.
Sekarang ia memiliki tugas yang menyenangkan, tidak perlu terlalu banyak menguras otak dan tenaga. Tetapi memiliki salary yang menggiurkan.
Setelah bermenit-menit ruangan itu hening karena ia dan Nadia sibuk di depan layar LCD masing-masing, tiba-tiba suara sendu Nadia memecah keheningan.
"Ly ... apa kabarnya dia ya?"
Ia pun menghentikan aktivitas browsing-nya dan menoleh ke sumber suara. Ia hanya bisa menghembuskan nafas begitu melihat pipi lembut Nadia yang sudah basah karena air mata.
Tampaknya Nadia sedang memikirkan seseorang dengan begitu mendalam.
"Ly, aku rindu dia. Sangat rindu," rintih Nadia. Bibir Nadia bergetar menahan rasa, sementara air mata mengalir semakin deras.
Ya, ia sangat tahu siapa dia yang dimaksud Nadia. Seseorang dengan figur menawan.
Pria itu telah mengukirkan nama di hati Nadia. Ukiran nama yang menimbulkan luka. Nadia telah membalut luka itu rapat-rapat dengan kasa putih. Namun tetap saja, kasa itu tertembus bercak merah darah nestapa.
********
Readersku tersayang,
Apa kabarnya hari ini?
Semoga tetap dalam curahan kesehatan dan kebahagiaan selalu.
Terima kasih atas segala apresiasi dan dukungan terhadap novel ini.
Salam sayang dari
Author Ina AS
__ADS_1
😘😘😘