
Tristan. Menatapnya dengan pandangan berkobar, penuh amarah. Siap meledak.
"Mana istriku?" Bentak Tristan.
Dengan tenang Bimasena menjawab, "Nadia ada di dalam."
Tristan menggertakan rahangnya lalu berusaha menerobos dirinya. Tetapi ia yang berdiri di ambang pintu tidak memberi ruang untuk Tristan masuk ke dalam kamar. Sehingga emosi Tristan semakin meluap-luap karena tidak dapat menerobosnya.
"Nadia keluar, atau aku cekik lehermu," ancam Tristan dengan berteriak. Pria itu memendam panas dan sekarang sudah mendidih.
"Tristan kita harus bicara," ajaknya dengan suara yang pelan. Meskipun yakin, dalam suasana penuh emosi seperti ini, Tristan tidak mungkin membuka ruang komunikasi untuknya.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Bereng sek!" hardik Tristan kepadanya.
"Tristan, marahlah padaku. Tetapi jangan marah kepada Nadia, aku yang salah. Aku yang merayunya," tawarnya. Bukan tidak mungkin dalam keadaan semarah itu, Tristan tidak akan bersikap kasar kepada Nadia.
Sebuah pukulan melayang ke pelipis kirinya. Dibarengi pekikan Nadia di belakangnya. Namun karena ia bisa menduga arah datangnya pukulan itu, ia sempat mengelakkan kepalanya, sehingga pukulan itu hanya menyambar pelipis.
Dengan geram Tristan kembali mengarahkan pukulan ke perutnya. Nadia kembali histeris di belakangnya. Namun ia sudah mengetahui tips menerima pukulan, dari olah raga bela diri Marine Corps Martial Arts Program (MCMAP) yang ditekuninya saat menjadi pelajar di Amerika.
Pada MCMAP, diajarkan keahlian bertarung menggunakan tangan kosong. Jika ia menggunakan teknik MCMAP pada Tristan, pilihan yang tersisa hanyalah Tristan mati atau tersiksa.
Tetapi tidak mungkin ia melakukannya pada Tristan. Karena ia tahu diri. Dirinyalah yang salah telah menikung Tristan. Sehingga pantas menerima hukuman. Juga agar Tristan tidak menjadikan Nadia sasaran amukan kemarahan. Sehingga ia memasang badannya untuk menjadi sasaran amukan Tristan, tanpa melawan.
"Teruskan. Tapi jangan lakukan pada Nadia. Karena kalau kamu lakukan pada Nadia, aku akan membunuhmu," ancamnya. Berharap Tristan bisa mendengar kata-katanya.
Satu pukulan kembali menghantam ulu hatinya. Sehingga ia meringis menahan sakit yang menjalar pada ulu hatinya.
Nadia kembali histeris di belakangnya. Wanita itu menerobosnya keluar dari kamar. Berdiri di tengah-tengah diantaranya dengan Tristan. Berusaha menahan Tristan agar berhenti menyerangnya.
Sambil menangis Nadia memohon pada Tristan.
"Jangan Tristan, kumohon hentikan. Bukan Bima yang salah. Aku yang salah."
Diluar dugaannya, tangan Tristan melayang mendaratkan tamparan dengan sangat keras pada pipi Nadia. Membuatnya terhenyak sesaat. Lalu segera menahan tubuh Nadia yang terhuyung dan hampir jatuh.
Seketika darahnya mendidih. Marahnya membuta. Begitu menyandarkan Nadia di dinding, dengan segera ia berbalik. Mencengkeram baju Tristan dan mengarahkan tinjunya dari bawah menuju ke atas, tepat mengenai rahang Tristan. Membuat tubuh Tristan oleng dan terbentur di tembok.
Bimasena kembali memberikan serangan siku yang mengenai dada Tristan, sehingga Tristan ambruk ke lantai.
Nadia kembali histeris, "Cukup, kumohon hentikan! Jangan Bima!"
Tidak berhenti sampai di situ, Bimasena berjongkok, melakukan kuncian pada badan Tristan. Sehingga Tristan tidak mampu bergerak.
"Kamu dengar tadi aku bilang apa? Jangan kasari Nadia atau aku akan membunuhmu. Kamu dengar tidak? Jawab!" Bentak Bimasena.
Tristan terbatuk dan darah menguncur dari sudut bibirnya.
"Jawab, atau aku akan membunuhmu sekarang!" Dengan geram ia mencekik leher Tristan.
"Bima, berhenti! Jangan!"
__ADS_1
Entah darimana datangnya Alfredo dan Angga.
*******
Begitu Ia, Angga dan Alfredo keluar dari lift lantai kamar yang ditempati Bimasena, mereka mendengar teriakan histeris dari Nadia.
Dengan segera mereka berlari menuju kamar Bimasena. Di sepanjang koridor hotel, tampak orang-orang yang hanya menonton sebuah adegan perkelahian, tanpa ada yang berani melerai.
Mereka menemukan Tristan yang babak belur dihajar Bimasena. Dengan segera Alfredo dan Angga berusaha menarik Bimasena yang sedang mencekik leher Tristan yang sudah ambruk di atas lantai.
Tidak mudah bagi Alfredo dan Angga menarik tubuh Bimasena yang lebih kuat dan sedang dikuasai emosi. Ia bisa melihat bagaimana bersusah payahnya Alfredo menarik serta Angga mendorong tubuh pria itu hingga berhasil masuk ke dalam kamar.
Begitu Alfredo dan Bimasena berada di dalam kamar, Angga segera menutup pintu dari luar.
"Janah, bawa Nadia ke kamarmu!" perintah Angga kepadanya. Sementara Angga membangunkan Tristan, dan membawanya pergi entah ke kamar siapa.
Ia pun memeluk Nadia yang tidak berhenti menangis.
"Semua salahku," ucap wanita itu tersedu-sedu di bahunya.
"Sudah Nadia, ayo kita ke kamarku. Malu, di sini diliatin orang," ajaknya pada Nadia.
Ia sendiri malu menjadi tontonan orang di koridor. Dengan langkah cepat ia menarik tangan Nadia yang masih tersedu-sedu. Membawanya masuk ke dalam lift, naik satu lantai menuju kamarnya.
Sesampai di kamarnya, Nadia melorotkan tubuhnya, duduk di atas lantai.
"Mereka saling membunuh karena aku, lebih baik aku mati saja Nah," rintih Nadia. Menyeka air mata dengan lengannya.
"Nadia, kenapa kamu lakukan ini? Apa kamu tidak bahagia dengan Tristan?"
Semalam, begitu berita perselingkuhan Nadia dan Bimasena heboh, ia tidak percaya, Nadia tega melakukan itu pada Tristan. Ia juga tidak percaya, Bimasena malah bermain api dengan istri sahabatnya.
"Aku nggak menyangka akan jadi begini Nah," sesal Nadia. "Apa yang harus aku lakukan Nah?"
Janah menghela nafas panjang. Berpikir sejenak, lalu berucap, "Mohon maaflah pada Tristan suamimu, dan tinggalkan Bimasena. Apa yang kamu lakukan itu dosa besar sebagai seorang istri Nadia."
"Tapi aku sayang Bima Nah," sahut Nadia.
"Wanita mana yang tidak terpesona dengan Bima, Nadia? Semua wanita bisa menyayangi Bima. Apa kamu yakin Bima serius padamu? Aku khawatir ia hanya sedang memacu adrenalinnya, berhubungan dengan istri orang. Teman dan istri teman sendiri pula."
"Aku hamil ... " ungkap sahabat SMAnya itu.
Janah tersentak kaget. Menatap Nadia dengan pandangan tidak percaya. "Hamil anak Bimasena maksud kamu?"
Nadia mengangguk lemah. Pipi kiri teman wanitanya itu, yang tadi memerah, mulai membiru.
"Bagaimana kamu yakin anak yang kamu kandung anak Bimasena?"
"Aku yakin Nah," lirih Nadia.
********
__ADS_1
Alfredo berdiri di belakang pintu untuk menghalangi Bimasena keluar dari kamar.
"Kamu yang salah, mengapa kamu yang menghajar Tristan?" dengus Alfredo, berusaha menormalkan nafasnya yang memburu. Karena menarik sambil menahan Bimasena yang sedang marah, hampir menguras seluruh energinya. Tidak ubahnya menarik tiga ekor banten yang enggan berjalan.
"Aku kesal, Tristan menampar Nadia. Padahal aku sudah pasang badan, agar kemarahannya dilampiaskan kepadaku. Tetapi dia malah memukul Nadia," berang Bimasena.
"Sadarlah Bim, kamu yang membuat Nadia mendapat perlakuan kasar dari suaminya. Makanya, berhenti. Berhenti merusak rumah tangga orang." Alfredo setengah berteriak.
"Minggir Do, aku mau lihat Nadia di luar. Jangan sampai Tristan mengasarinya lagi." Bimasena berusaha menerobosnya.
"Nadia ada di kamar Janah sekarang. Tristan di kamar Angga," sahutnya. "Jangan temui Nadia lagi. Kamu tidak malu dengan kejadian ini?"
"Aku harus memastikan keadaannya Do." Bimasena tidak berhenti mendebatnya. "Atau aku minta tolong padamu. Tolong jaga Nadia sekarang, jangan sampai mendapat kekerasan dari Tristan."
"Baiklah, aku akan menjaga Nadia. Tapi berhenti menemuinya di hotel ini. Tolong jangan bikin heboh reuni ini Bim."
Akhirnya ia keluar dari kamar Bimasena dan berjalan memasuki lift. Naik satu tangga menuju kamar Janah.
**********
Bimasena mengamati wajahnya di dalam cermin. Pelipis kirinya mulai membiru terkena hantaman Tristan. Ia juga membuka singlet yang ia kenakan, untuk melihat bekas pukulan Tristan pada perut dan ulu hatinya. Tidak ada bekas pukulan di sana. Yang ada hanya rasa sakit akibat pukulan Tristan.
Ia sudah terlatih untuk menahan pukulan. Sehingga bekas tangan Tristan tidak begitu terasa baginya. Terlebih melihat cara Tristan memukul yang kurang tangkas, menandakan Tristan tidak pernah mempelajari olah raga bela diri.
Tristan memang tidak memiliki hobby olahraga, terlebih bela diri. Saat mereka sekelas, Tristan disibukkan dengan les berbagai mata pelajaran. Sehingga Tristan menjadi siswa yang paling pintar di kelasnya. Bahkan Tristan juara umum di sekolahnya. Serta beberapa kali mengikuti olimpiade mata pelajaran tertentu.
Begitupun lebam pada pelipis kirinya. Sakitnya tidak seberapa. Hanya menyisakan rasa malu, pertanda ia habis dihajar orang.
Tapi luka yang ia alami, pastilah tidak seberapa dengan yang dialami Tristan. Tristan babak belur dihajar olehnya. Bagaimanapun ia tetap merasa bersalah, menghajar Tristan sampai separah itu. Tapi ia tak mampu menahan emosi, melihat bagaimana Nadia yang terhuyung begitu ditampar Tristan.
Apa yang terjadi barusan diluar perkiraannya. Ia menduga-duga, sejak kapan Tristan mencurigai hubungannya dengan Nadia. Atau Tristan baru mengetahuinya semalam saat gosip panas berhembus dan tak terbendung lagi?
********
Nadia berjalan memasuki lift. Kemudian menekan tombol untuk mengakses lantai teratas. Saat ia keluar dari lift, ia sudah berada di rooftop.
Dengan pandangan kosong, Nadia berjalan membelah rooftop, melewati kolam renang dan restoran. Lalu berdiri di pinggir rooftop yang dilengkapi pagar pembatas setinggi perut.
Ia melihat ke bawah. Di bawah sana, sepuluh lantai ke bawah, merupakan taman belakang hotel. Dengan permukaan rumput dan teh-tehan yang ditata dengan sangat rapi dan indah.
Apakah semua yang telah ia lewati dengan Bimasena hanyalah keindahan semu? Apakah kebahagiaan yang ia rasakan bersama Bimasena tidak akan bertahan lama?
Semua kesenangan telah berakhir. Apa yang terjadi begitu tragis. Ia jatuh dalam kegelapan dan merasa sangat takut.
Sekarang ia putus asa untuk menggapai kebahagiaan bersama Bimasena. Karena ternyata menorehkan pedih pada suaminya, Tristan. Rasa bersalah dan berdosa menikam hatinya. Terlebih saat melihat wajah suaminya babak belur dan berdarah.
Mungkin semua teman-temannya sudah mengetahui skandalnya dengan Bimasena. Entah di mana ia harus menyembunyikan wajahnya menahan malu. Teman-teman pasti akan mencacinya. Tidak akan ada yang bisa memahaminya.
Dunia seakan runtuh. Jiwanya menderita. Ia telah membuat dua pria berseteru. Telah membuat dua pria nyaris saling membunuh. Dan bisa saja kejadian ini akan terus berulang. Sampai salah satunya mati.
Sehingga ...
__ADS_1
Mungkin lebih baik ia yang mati.