
Sudah dua hari Nadia tidak mengunjungi salonnya karena kondisi kesehatannya sedang terganggu. Kemarin, Nadia berfikir mungkin ia hanya kelelahan setelah jogging, karena badannya pegal-pegal serta rasa nyeri pada otot.
Tetapi hari ini ia dilanda sakit kepala yang hebat dan demam dengan suhu yang tinggi. Ruam merah juga muncul pada kulitnya. Beruntung ia masih memiliki stok obat penurun demam di dalam kotak P3K. Karena ia masih sendiri, Tristan baru pulang besok dari Jepang.
Kondisi tubuh yang kurang fit ini jugalah yang dijadikan alasan oleh Nadia menolak Bimasena. Bimasena sudah pulang dari Jambi tadi pagi, dan mengajaknya untuk nonton bioskop nanti malam. Untung saja ia memiliki alasan untuk menolak tanpa harus berbohong.
Bagaimanapun Nadia merasa gentar pergi ke tempat umum yang ramai seperti bioskop bersama Bimasena. Bagaimana bila ada yang mengenali mereka? Tentu akan tersiar kabar bila mereka berselingkuh. Dan dampak terbesarnya jatuh pada dirinya sendiri yang sudah berumah tangga. Rumah tangganya dengan Tristan dipertaruhkan.
Semakin hari Bimasena semakin berani. Datang ke rumahnya tiba-tiba, mengajaknya makan malam, mengiriminya bunga, dan sekarang mengajak nonton pula. Apa Bimasena tidak khawatir dengan nama baiknya bisa dituduh sebagai pebinor?
Bila Nadia mengikuti hatinya, maka Ia sudah bersorak gembira dengan ajakan Bimasena. Ia akan menggunakan pakaian terbaiknya untuk kencan, eh ralat, nonton bersama Bimasena.
Namun ia tetap harus berusaha kuat menjaga marwah sebagai seorang istri. Meskipun tembok pertahanannya sudah rapuh terhadap Bimasena. Bahkan yang tersisa tinggal puing-puing. Namun dengan puing yang terserak itu ia tetap akan bertahan.
Bimasena memiliki senjata tercanggih. Dengan mudah memporak-porandakan benteng pertahanannya. Sementara ia tidak memiliki senjatah canggih, hanya mengandalkan benteng pertahanan zaman kolonial yang terbuat dari susunan batu. Bukan iron dome seperti sistem pertahanan udara milik Israel yang mampu menghalau dan menghancurkan serangan roket jarak dekat dan roket artileri. Lebih-lebih lagi S-400 pertahanan udara milik Rusia yang mampu menembak jatuh pesawat, drone, rudal balistik dan rudal jelajah.
Sekarang, Bimasena telah berhasil mencuri hatinya.
Pertahanan terakhirnya tinggal surat nikah dengan Tristan, yang membuat ia belum memberikan dirinya pada Bimasena. Meskipun hatinya telah dimiliki Bimasena.
Terlebih lagi malam ini Bimasena datang membesuknya. Suhu tubuhnya yang tinggi karena demam, turun drastis di bawah batas normal. Sakit kepalanya raib entah kemana. Yang sakit hanyalah dadanya karena terus mendapat tendangan kuat tidak beraturan dari jantungnya.
"Kita ke dokter Nadia," ucap Bimasena dengan tatapan khawatir. Mungkin Bimasena memperhatikan wajahnya yang memerah karena demam.
"Aku sudah minum obat penurun demam Bim. Ini demamnya juga sudah mulai turun," ujar Nadia, berusaha tersenyum pada pria yang memilih berdiri di teras. Tidak masuk ke dalam rumah karena Nadia sedang sendiri.
"Kamu yakin baik-baik saja? Besok bila demamnya belum turun, kita ke dokter ya?" tekan Bimasena. "Tapi besok Tristan sudah datang," gumam Bimasena meragu.
"Terima kasih perhatiannya Bim. Biar Tristan besok yang mengantar saya ke dokter kalau belum sembuh," jawab Nadia.
"Ya udah, kamu masuklah istirahat."
"Kamu sudah mau pulang?" Tiba-tiba Ia merasa berat hati bila Bimasena harus pulang secepat itu.
"Kamu harus istirahat Nadia. Kalau aku di sini kamu tidak bisa istirahat."
Dengan berat Nadia mengangguk dan melangkah masuk ke dalam rumah. Karena Bimasena tidak akan beranjak sebelum ia masuk, mengunci pintu dan mematikan lampu di ruang tamu. Bimasena harus memastikan bila Nadia sudah berada di kamar, barulah pria itu pulang.
Dan setiba Bimasena di Apartemennya, untuk pertama kalinya ia mendapat panggilan video call dari Bimasena. Coba bayangkan bagaimana jadi Nadia. Mendapat panggilan video call saja berdebar apalagi bila berhadapan dengan Bimasena.
"Bim ... " Nadia tersipu begitu melihat wajah Bimasena di layar ponselnya. Sepertinya Pria itu baru saja tiba di apartemennya karena belum berganti pakaian.
"Belum tidur?" tanya Bimasena.
"Belum."
"Tidurlah. Letakkan handphone di dekatmu. Jangan matikan. Biar aku yang memutus sambungannya nanti bila kamu sudah tidur."
"Maksud kamu, kamu ingin melihat aku tidur Bim?" tanya Nadia tidak percaya.
"Iya, gak masalah kan lihat kamu tidur? Yang penting nggak lihat kamu mandi," ujar Bimasena terkekeh.
Nadia ternganga mendengar ucapan Bimasena.
"Nggak mau ah, nanti kamu lihat aku mangap lagi," sungut Nadia, malah membuat Bimasena tertawa.
__ADS_1
"Nggak masalah Nadia, malah keliatan lucu kok kalau kamu mangap. Mau mangap, iler ataupun mendengkur nggak masalah."
"Nggak mau." Nadia menggeleng.
"Aku mau ganti baju dulu, kamu tidur, tapi jangan matikan VCnya ya," seru Bimasena tanpa mengindahkan Nadia.
Sepertinya Bimasena meletakkan ponselnya di sudut ruangan. Karena Nadia bisa melihat ke hampir semua penjuru kamar tidur Bimasena.
Kamar tidur dengan desain interior minimalis modern, namun tidak menghilangkan kesan mewah. Karena perabotan di dalam kamar itu serba lux. Dari isi kamar saja sangat menampakkan kesenjangan mereka berdua.
Sekarang mata Nadia tidak memperhatikan isi kamar lagi. Namun perhatiannya tertuju pada pemilik kamar yang berjalan kesana kemari.
Tidak ubahnya Ia menonton aktor hollywood di televisi.
Sambil berjalan Bimasena membuka jas dan kemejanya. Apa Bimasena sengaja mempertontonkan aksinya? Seolah tidak ada orang yang melihatnya.
Astaga Bim. Apa yang kamu lakukan?
Nadia terkesiap, mulutnya setengah terbuka. Melihat Bimasena bertelanjang dada membuka lemari mengambil pakaiannya. Makhluk paling sexy yang pernah Ia lihat langsung.
Apa Bimasena menyadari kalau Ia sedang menonton aksinya? Atau Bimasena berpikir bila Ia sudah tidur?
Setelah menghilang beberapa saat dari layar ponselnya, Bimasena muncul kembali dengan hanya mengenakan handuk putih yang melilit di pinggang. Entah apa kesibukannya sehingga ia berjalan kesana-kemari hanya dengan handuk.
Tuhan, lengan itu. Bahu itu. Dada itu. Terpahat sangat indah, sangat menakjubkan. Wanita manapun yang melihat pastilah terpesona. Belum lagi melihat wajahnya. Duh ...
Mengapa malah Ia yang menjadi tersipu melihat Bimasena?
Bagaimana rasanya bila dipeluk pria itu? Tentu sangat nyaman dan menyenangkan bukan?
Nadia jadi memeluk tubuhnya sendiri.
Entah mengapa Nadia meragukannya. Meragukan kalau Bimasena tidak pernah tidur dengan seorang wanita.
Loh mengapa malah ia jadi penasaran soal Bimasena masih perjaka atau tidak? Tapi ia tidak mampu mencegah otaknya agar tidak erotis melihat pemandangan itu.
Nadia segera menggoyangkan kepalanya untuk menjernihkan pikiran kotornya.
Wanita mana yang kelak jatuh dalam pelukan pria itu? Sungguh wanita itu akan menjadi wanita yang paling beruntung.
Nadia hampir memekik karena tiba-tiba Bimasena melepas handuknya. Karena ia sempat berpikir di dalam handuk itu Bimasena polos. Ternyata Bimasena sudah mengenakan boxer. Untung saja ia bisa mencegah suaranya keluar. Akan sangat memalukan bila ia ketahuan menonton Bimasena.
Mengapa ia malah terengah-engah. Hanya karena melihat pemandangan itu. Padahal Ia dan Bimasena berada pada ruangan yang berbeda dan dipisahkan jarak.
Pria itu mengenakan pakaiannya. Kaos singlet berwarna putih. Lalu Bimasena berjalan ke arah ponselnya, ke arahnya.
Dengan cepat Nadia menutup matanya, berpura-pura tidur. Ia tidak ingin Bimasena tahu, bila tadi matanya sudah membelalak menyaksikan pemandangan yang sangat menggiurkan.
"Nadia, sudah tidur ya?" Suara Bimasena sangat dekat. Tidak lama kemudian terdengar suara tawa pria itu.
Apa Bimasena tahu kalau ia hanya pura-pura tidur? Oh tidak, jangan sampai.
********
Pagi hari begitu Nadia terbangun dari tidurnya, Ia kembali merasakan kepala yang berat dan otot-ototnya yang terasa nyeri. Padahal semalam begitu Bimasena datang ke rumahnya, dilanjut dengan panggilan video call dengan Bimasena, Ia sudah tidak merasakan kepalanya yang sakit. Tadi malam begitu Bimasena mengakhiri panggilan video call, Nadia berpikir bahwa ia sudah sembuh.
__ADS_1
Sebegitu besarkah pengaruh Bimasena kepadanya?
Namun yang membuatnya tersentak lantas panik adalah ruam merah yang muncul kemarin di kulitnya berubah menjadi bintil-bintil merah yang berisi cairan dan terasa gatal. Bintil merah itu tumbuh di lengan, kaki, perut, dada dan yang paling mengkhawatirkan karena tumbuh di wajahnya juga.
Oh tidak ... apa ini yang namanya cacar air?
Seingatnya memang sejak kecil ia belum pernah terserang cacar air. Tapi dari mana ia tertular? Sungguh sangat merisaukan karena cacar ini tentu akan merusak keindahan kulitnya.
Ia harus segera ke dokter. Tetapi menunggu Tristan pulang dulu, agar Tristan yang mengantarnya ke dokter.
Begitu Tristan pulang dan Ia membuka pintu untuk Tristan, Tristan menatapnya dengan penuh keheranan.
"Kamu kenapa Nadia?" tanya Tristan sambil melihat wajahnya. Tentu Tristan sudah melihat bintil-bintil yang muncul di wajahnya.
"Aku kena cacar air. Temani aku ke dokter ya?" ucap Nadia dengan penuh harap kepada Tristan. Berharap Tristan memberi perhatian kepadanya.
Namun yang terjadi malah diluar dugaan.
"Apa?" Tristan mundur beberapa langkah menjauhinya. "Oh tidak Nadia, mengapa kamu jorok sekali. Bagaimana bisa seorang wanita tidak menjaga kebersihan tubuhnya. Cacar air itu penyakit menular. Kamu bisa menulari aku."
Nadia hanya bisa ternganga melihat reaksi dari Tristan.
Tristan melanjutkan lagi.
"Kamu tahu Nadia, cacar air dewasa sangat menular. Virus cacar air bisa menyebar di udara dan kemudian menetap pada pakaian, selimut, dan masuk ke tubuh orang lain. Tinggal bersama, menyentuh, atau menggunakan barang-barang yang telah digunakan penderita cacar air, serta melakukan kontak fisik dengan penderita cacar juga dapat membuat seseorang berisiko tinggi tertular cacar air."
"Minggir dari situ Nadia. Aku mau mengambil pakaianku di kamar. Selama cacarmu belum sembuh aku nginap di rumah mama. Aku kembali bila cacarmu sudah sembuh dan rumah sudah disemprot desinfektan."
"Obat cacar nanti saya mintakan sama Tante dokter Cahaya. Aku kirim lewat kurir ke sini. Kamu harus mengisolasi diri agar orang lain tidak tertular."
Nadia bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya memandang tidak percaya atas sikap Tristan kepadanya.
Seperti inikah hubungan suami istri? Disaat salah satu pasangan membutuhkan, yang lain malah pergi karena takut tertular?
Matanya mengikuti Tristan yang bergerak cepat mengumpulkan pakaian dan perlengkapan kantornya lalu bergegas meninggalkan rumah itu dengan bergidik. Seolah dirinya adalah kotoran menjijikkan yang harus ia hindari.
Begitu deru mesin mobil Tristan terdengar meninggalkan rumah, Nadia merosot di lantai menangis meratapi nasibnya.
Mengapa ayah dan ibunya begitu cepat meninggal?
Mengapa Ia memiliki seorang kakak tidak bisa diandalkan?
Karena sekarang Ia butuh tempat mengadu saat suami tempatnya menyandarkan harapan tidak peduli lagi padanya. Bahkan mengeluarkan kata-kata yang menyakitinya.
Sakit kepalanya tidak begitu terasa lagi, karena ada hati yang jauh lebih sakit sekarang.
Dan sekarang ia menangis tersedu-sedu karena Tristan. Berbagai rasa berkecamuk pada dirinya. Sakit, kecewa, marah, dendam.
Apa kamu tahu Tristan, Aku memilih tetap bertahan meski kamu terus membuat hati ini terluka? Berpura-pura semua baik-baik saja. Bertingkah seolah semua sempurna. Padahal hubungan ini sangat menyakitkan.
Hanya wanita bodoh seperti Aku Tristan yang bisa sabar hidup denganmu. Mengapa kamu sekejam itu padaku? Tidak adakah belas kasihanmu melihat aku yang sedang sakit dan butuh bantuanmu?
Buuuuuuuu, datang Bu, Nadia sakit ...
Hanya nama Ibu yang bisa ia panggil disaat seperti ini.
__ADS_1
Apa Ibu tahu apa yang terjadi pada Nadia?
Mengapa Ibu cepat pergi ...