
Entah kemalangan apa yang menimpa diri Nadia. Berpisah dengan Tristan, namun gagal bersama Bimasena.
Kini ia akan melalui hari-hari sendiri, dalam keadaan hamil pula. Mungkin ini adalah azab yang datang lebih awal atas dosa besar yang telah ia lakukan.
Sudah lima hari ia menyewa kamar di sebuah ruma kost tua. Rumah kost berbentuk huruf 'L' dengan posisi kamar yang langsung mengakses halaman, tanpa ruang tamu dan dapur. Terletak di sebuah gang yang berlebar tiga meter.
Di dalam kamar kost hanya terdapat sebuah tempat tidur dan sebuah lemari kosong. Kamar mandinya pun sangat sempit dan tidak layak. Namun tidak ada pilihan lain baginya. Rumah kost inilah yang paling murah ia dapatkan. Kamarnya memiliki sebuah jendela nako yang kacanya ditempeli koran sebagai pengganti gorden.
Berapa lama ia bisa bertahan dengan sisa tabungan yang ia miliki? Sementara ia harus hidup setiap hari tanpa pekerjaan dan penghasilan.
Sebagian tabungan yang dimilikinya sudah terkuras untuk membayar sewa kamar kost, membeli beberapa lembar pakaian dan pakaian dalam termurah, membeli smart phone harga terendah, serta untuk makan sehari-hari. Tidak lupa membeli kipas angin kecil untuk menyegarkan udara panas ibu kota.
Bila hanya mengandalkan tabungan, maka tidak lama lagi ia akan mengalami kesulitan keuangan.
Seumur hidup ia baru merasakan hidup sesusah ini. Sendiri, dalam keadaan hamil, dan penuh dengan keterbatasan. Ia tidak berasal dari keluarga kaya raya, namun sejak kecil tidak pernah merasakan hidup sulit seperti ini.
Ia sudah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang tua satu persatu. Bagaimana pahitnya berpisah dari Tristan. Tapi berpisah dengan Bimasena membuatnya kacau.
Sekarang ketika ia terlepas dari genggaman kedua pria itu, ia sudah dapat membandingkan. Hatinya terasa perih ketika meninggalkan rumah Tristan, tetapi lebih perih lagi ketika meninggalkan apartemen Bimasena.
Belum lagi deraan rasa rindu yang membuncah pada Bimasena berbanding lurus dengan sakit hati yang ditimbulkan oleh rasa rindu itu.
Sudah lima hari berlalu. Apa pria itu juga rindu padanya? Apa pria itu akan mencarinya?
Mengapa masih berharap?
Tidak, ia tidak boleh berharap. Ia harus bisa berjuang untuk hidup sendiri dan hidup bersama buah hatinya kelak.
Menyandarkan harapan pada manusia selalu berakhir menyakitkan. Ia tidak ingin merasakan sakit untuk ketiga kalinya lagi. Pada akhirnya ia akan terbiasa dengan kondisi ini.
Setelah memakan sepotong roti pisang sebagai pengganti makan malam karena ia harus berhemat, ia duduk di atas tempat tidur single bed size, bersandar pada dinding. Menatap kelamnya malam melalui jendela nako yang masih terbuka. Kipas angin meniupkan angin-angin sunyi.
Satu wajah kembali menjelma. Siapa lagi bila bukan wajah pria yang dibencinya saat ini.
Tapi apa benar ia membenci pria itu?
Tidak ... ia merindukannya.
Nadia memutar kembali memori di otaknya.
Mengapa ia bisa berakhir di tempat ini hanya karena saling meragukan? Apakah karena saling meragukan lantas harus berpisah?
Bila dipikir dengan akal sehat, apa yang dilakukannya terlalu kekanak-kanakan. Hanya karena marah merasa diabaikan oleh Bimasena, lantas ia pergi begitu saja meninggalkan apartemen Bimasena. Ia tidak berusaha membuka ruang komunikasi dengan Bimasena.
Mengapa dulu ia begitu sabar menghadapi sikap Tristan? Mengapa pada Bimasena ia tidak bisa melakukan hal yang sama? Padahal yang dilakukan Bimasena tidak ada apa-apanya dibandingkan ucapan tajam dari mulut Tristan yang selalu melukai perasaannya.
__ADS_1
Ia marah hanya karena Bimasena mengabaikannya. Padahal ia lebih dahulu mengabaikan Bimasena.
Jadi siapa yang egois?
Ya dirinya.
Entah mengapa pada Bimasena ia berharap terlalu berlebihan, tidak seperti pada Tristan. Ia selalu ingin mendapat perhatian dari pria itu. Ingin selalu bermanja pada Bimasena dan ingin selalu Bimasena berada di dekatnya.
Lalu apa yang harus ia lakukan? Menghubungi Bimasena?
Atau menunggu Bimasena lebih dahulu menghubunginya?
Tapi bagaimana Bimasena tahu nomor handphone barunya? Bagaimana Bimasena bisa menemukan rumah kostnya?
Bagaimana bila ia menghubungi Bimasena lantas menerima kenyataan yang menyakitkan, Bimasena memintanya kembali kepada Tristan?
Tidak.
Ia tidak akan kembali lagi kepada Tristan. Biarlah ia hidup dan berjuang sendiri di sini.
Ternyata mimpi yang ia buru hanyalah mimpi yang semu. Ingin rasanya pergi jauh meninggalkan dunia yang penuh keresahan ini. Pergi ke tempat yang tidak memiliki cerita sedih.
Karena bayangan wajah, mata, dan senyum pria itu, kini cukup mendatangkan perih.
Pagi menjelang siang, ia mulai melangkahkan kakinya keluar rumah. Menyusuri gang, menuju lokasi salon terdekat yang informasi lokasinya ia peroleh dari internet.
Ia bisa melamar pekerjaan menjadi hairdresser, beautician, ataupun beauty therapist berdasarkan pengalaman kerja yang ia miliki.
Namun ternyata mencari kerja tidaklah mudah. Ia ditolak oleh dua salon kecantikan yang ia datangi.
Saat ia mendatangi salon ketiga, ia malah ditawari untuk menjadi Sales Promotion Girl. Mungkin karena pemilik salon itu melihat wajahnya. Tetapi begitu melihat tubuhnya dengan perut yang mulai membuncit, pemilik salon itu membatalkan tawarannya.
Satu lagi hambatannya, kondisinya yang sedang hamil.
Hari ini ia hanya mendapatkan penolakan dan kegagalan.
Menjelang sore saat ia mulai lelah mendatangi setiap salon. Ia pun singgah di sebuah warteg untuk makan siang. Memesan makanan yang berharga sepuluh ribuan dan segelas air mineral.
Makanan bergizi bukan lagi hal yang terpenting sekarang. Yang terpenting adalah makanan yang dapat menghilangkan rasa lapar dan lelahnya tubuh.
Sepanjang malam ia hanya bisa duduk meratapi diri. Bila tidak segera mendapat pekerjaan maka ia hanya akan menunggu mati di tempat ini.
Tetapi urusan pekerjaan tidak begitu mengganggu dirinya.
Yang mengganggu dirinya hanyalah ... bayangan pria itu.
__ADS_1
Rindu menikam dikala jiwa merasa kesepian. Tetapi tak kunjung menyebabkan mati. Rindu datang hanya untuk menyiksa, membunuh secara perlahan.
Bagaimana caranya agar ia bisa membuang jauh-jauh bayangan pria itu? Tunjukkan bagaimana cara menghalaunya! Karena yang menyebabkan penderitaannya saat ini, bukan karena kesulitan hidupnya. Tetapi karena bayangan pria itu yang selalu muncul tanpa diundang.
Betapa berat melepaskan rasa yang sudah terlanjur merasuk ke dalam dada.
Malam ini ia tidur diiringi nyanyian pilu sang malam. Tidur beralas puing-puing asa yang telah terserak. Di tempat yang sepi dan terasing.
Pagi hari ia kembali bersiap untuk mencari pekerjaan. Dengan sarapan sepotong roti pisang sisa kemarin, ia kembali membakar semangatnya.
Sekarang tujuan yang hendak didatanginya adalah butik. Ia sudah memiliki list butik terdekat dari rumah kostnya.
Mungkin ia bisa menjadi penjaga toko. Ia tidak memikirkan lagi perihal prospek karir. Yang Terpenting ia memiliki pekerjaan dan penghasilan. Karena tabungannya disiapkan sebagai bekal kala melahirkan nanti.
Tetapi ia mulai putus asa begitu telah memasuki tiga butik, dan yang dihadapi hanyalah penolakan melulu.
Dengan langkah lemah dan tubuh yang lelah ia kembali ke rumah kostnya menjelang sore.
Begitu tiba di dalam kamar ia pun menangis meratapi diri.
Sekarang ia begitu rindu pada kedua orang tuanya. Mungkin bila Ayah dan Ibunya masih hidup, ia akan memiliki tempat untuk pulang dan mengadukan beban hidup yang menghimpitnya.
Nadia, jangan cengeng, teruslah berjuang. Percayalah, badai pasti berlalu.
Entah bisikan dari mana, tapi mampu membuat semangatnya tumbuh kembali.
Ia pun segera bangkit melepas pakaiannya lalu menuju kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air untuk mengusir kepenatan jiwanya.
Setelah selesai mandi, ia mengenakan pakaian dalam termurah dari yang pernah ia miliki, serta daster yang ia peroleh dengan harga seratus ribu untuk tiga lembar daster.
Setelah itu ia hendak keluar kamar untuk mengambil jemurannya yang telah kering. Pakaian yang ia cuci tadi pagi di jemur di teras kamar.
Namun tiba-tiba jantungnya berpacu dengan cepat, karena bersamaan dengan ia membuka pintu kamar, sebuah kendaraan berbelok masuk dari gang ke halaman rumah kost.
Sebuah mobil Audy R8 berwarna abu-abu berhenti di halaman rumah kost. Lalu seorang pria gagah berkaca mata hitam turun dari mobil, melempar senyum kepadanya. Senyum yang bisa membuat setiap wanita bertekuk lutut.
Apa yang harus ia lakukan?
Berlari memeluk pria itu untuk membunuh rindu? Ataukah menghajar pria itu habis-habisan karena telah menyusahkan hidupnya?
*********
Maaf numpang promo ya 😁
__ADS_1