REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
108. Hati Merah Jambu Menjadi Ungu


__ADS_3

Hal yang paling disenangi oleh Nadia menjadi marketing properti independen adalah bebas mengatur waktu sendiri. Tak ada kewajiban untuk berkantor atau mengisi absensi kerja. Tak ada bos yang mengawasi atau memantau pekerjaannya.


Pada waktu pagi hari, ia bisa berkomunikasi dengan Bimasena sepuasnya melalui layanan video call. Karena pada waktu yang sama, di Venezuela sedang malam hari. Bimasena sudah pulang dari kantornya. Leluasa mengobrol dengannya tanpa terganggu urusan kantor.


Melalui video call, ia memperlihatkan kepada Bimasena, baby Glor yang sudah mulai merangkak mengejar bola.


Bimasena : Ayo kejar bolanya, Nak. Daddy mau lihat.


Ia menggelindingkan bola berwarna merah.


Glor pun merangkak dengan lambat, mengejar bola yang digelindingkannya. Lalu begitu berhasil mendapatkan bola, Glor menunjukkan kepadanya.


Bimasena : Anak Daddy memang jago. Sama seperti Daddynya.


Ia tertawa mendengar Bimasena membanggakan diri. Ia lalu mendekatkan layar handphone kepada Glor, agar Bimasena dapat melihat dengan jelas puteranya. Sehingga dua pria itu bisa bercakap-cakap.


Bimasena : Ayo panggil Daddy dulu dong !


Bimasena : Dad - dy ...


Glor : Bibbi


Bimasena : Pinter anak Daddy


Bimasena : Mom - my ...


Glor : Mammaa


Bimasena menatap Glor dengan penuh rasa haru.


Bimasena : Glor, Daddy sangat rindu Nak. Rindu Daddy kebangetan. Gak sabar ingin memeluk dan menggendong Glor.


Bimasena : Glor kangen nggak sama Daddy?


Glor : Ha ah ...


Glor menunjukkan bola kepada Bimasena.


Bimasena : Bo - la


Glor : Bab ba


Pada layar handphone -nya ia bisa melihat Bimasena berbaring di tempat tidur dan menutupi tubuh dengan selimut.


Glor merebut handphone dari tangannya dan mengamati Sang Ayah berbicara.


Bimasena : Daddy pengen bobo sama Glor. Ingin rasanya Daddy pulang malam ini.


Semua ungkapan rindu Bimasena kepada puteranya membuat air matanya meleleh. Ia bisa merasakan dari suara, getar rindu pria itu kepada puteranya.


Bukan hanya Bimasena yang rindu. Ia pun sangat merindukan pria itu.


Namun ia tidak ingin membuat suasana mengharu, sehingga ia segera melontarkan candaan.


Nadia : Daddy hanya rindu pada Glor? Sama Mommy nggak rindu?


Bimasena : Nggak, Daddy hanya rindu pada Glor. Pada Mommy, enggak.


Ia tahu Bimasena hanya bercanda. Namun mengapa hatinya jadi tergores karenanya?


Nadia : Serius kamu nggak rindu?


Intonasi suaranya pun berubah.


Bimasena : Nggak. Mommy pelit. Gak pernah ngasih yang Daddy minta.


Gak pernah ngasih yang Daddy minta? Yang benar saja. Bagaimana ia mengabulkan permintaan pria itu bila ia diminta untuk tampil polos melalui video call. Juga memintanya mengirim foto tanpa busana. Apa ada pria yang sebadung Bimasena di dunia ini?


Nadia : Ya udah kalau kamu nggak rindu. Nih bicara sendiri sama anakmu. Nggak usah panggil aku.


Ia menyimpan handphone -nya di depan Glor. Tetapi Glor mengambil handphone itu dan memasukkan ke dalam mulut kecil bayi itu.


Cengeng?


Ia sendiri heran, mengapa ia berubah jadi cengeng seperti ini. Hanya karena candaan Bimasena ia marah dan harus membuang-buang air mata.


********


Bimasena tidak mampu menahan tawanya. Nadia merajuk hanya karena ia bercanda bila tidak rindu pada wanita itu.


Wanita yang begitu sensitif.


Saluran air mata Nadia begitu dangkal dan pendek. Kadar prolaktin wanita itu juga sangat tinggi. Sehingga sedikit-sedikit mengeluarkan air mata.


Bimasena : Mi ...


Bimasena : Mommy ...


Bimasena : Nadia ...


Berkali-kali ia memanggil Nadia melalui handphone-nya, namun Nadia tidak pernah menyahut. Meskipun ia tahu Nadia tidak mungkin jauh dari Glor.


Di layar handphone-nya, ia hanya melihat plafon rumah Nadia. Yang artinya, handphone Nadia telah digeletakkan di lantai oleh Glor. Setelah sebelumnya ia melihat bibir Glor.


Setelah beberapa kali mencoba manggil Nadia namun tidak pernah ditanggapi, ia akhirnya memutus sambungan teleponnya. Memberikan ruang dan waktu kepada Nadia untuk bersedih. Meskipun baginya hal itu sangat menggelikan.


Namun ia tidak membiarkan waktu berlalu lebih dari sejam, ia kembali menghubungi Nadia.

__ADS_1


Setelah tiga kali tanpa henti membunyikan handphone Nadia, akhirnya wanita itu menjawab panggilan video call - nya.


Nadia sedang menyu sui Glor.


Ia mengulum senyum kepada Nadia, tetapi Nadia membalas dengan memasang wajah cemberut kepadanya.


Bimasena : Anakmu sudah tidur, Mi ?


*******


Bagaimana Nadia tidak mendongkol bila Bimasena sudah menyakiti hati, tanpa merasa berdosa senyum-senyum pula kepadanya.


Bimasena : Anakmu sudah tidur, Mi ?


Tetapi setiap ia mendengar sebutan mami yang diucapkan Bimasena kepadanya, hatinya menghangat.


Nadia : Hampir.


Ia tahu, pria itu akan merayunya.


Namun jangan pikir ia akan mudah luluh. Ia tetap saja memasang wajah tidak bersahabatnya.


Bimasena : Sejak mengenal aku, begitu banyak air matamu yang tumpah. Maafkan aku, bila lebih banyak menyusahkanmu daripada membahagiakanmu, Nadia.


Nah, bagaimana hati tidak melumer bila sudah mendengar pria tersebut berucap demikian?


Suasana hatinya mendadak berubah. Mudah-mudahan ia tidak menderita gangguan bipolar.


Nadia : Siapa bilang kamu membuat aku susah?


Nadia : Aku justru bahagia bisa mengenal kamu Bim.


Lagi-lagi ia dikalahkan oleh Bimasena. Begitu mudah pria itu memporak-porandakan hati. Mengubah suasana hatinya dalam sesaat.


Bimasena : Tapi benar kan kamu sering menangis karena aku ?


Nadia : Habis kamu ngesalin. Kalau nggak rindu nggak usah nelpon aku.


Nadia : Aku memang nggak pantas dirindukan. Karena aku tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan.


Bimasena : Siapa bilang kamu nggak bisa dibanggakan? Apa kamu nggak sadar kalau kamu adalah sumber inspirasi dan motivasiku? Kamu adalah wanita hebatku Nadia.


Begitu pandai pria itu merangkai kata yang mampu menyanjung hatinya. Seperti sinar matahari yang menghangatkan sampai ke dasar jiwa.


Nadia : Hebat bagaimana? Kamu nggak usah merayu.


Bimasena : Kamu mengandung, melahirkan, merawat dan menjaga puteraku. Kamu lakukan sendirian ditengah terpaan badai masalah. Bagaimana kamu bukan wanita hebat bagiku?


Ia harus bilang apa bila Bimasena terus memujinya seperti ini? Bimasena terlalu meninggikannya.


Namun ia tidak boleh membiarkan Bimasena terus memujinya. Melambungkannya tinggi ke awan. Ia takut terbang terlalu tinggi akhirnya matahari membakar sayapnya. Dan ia pun jatuh berkeping-keping di permukaan Bumi.


Nadia : Bim ...


Ia merapikan pakaiannya karena baby Glor sudah tertidur dan berhenti meminum ASI.


Bimasena : Iya Sayang.


Nadia : Tabunganku dari komisi penjualan udah banyak. Aku bingung mau diapain. Atau aku depositokan aja ya?


Bimasena : Banyak?


Bimasena mengernyit kepadanya.


Ia baru menyadari. Ia dan Bimasena berbeda dalam menafsirkan kata banyak untuk nilai uang.


Banyak baginya belum tentu banyak bagi Bimasena.


Nadia : Bagiku itu sudah banyak Bim. Tabunganku selama ini tidak pernah menyentuh angka itu. Bahkan 10 persennya pun gak pernah sampai.


Bimasena kembali kepada kebiasaan. Menghindari perdebatan dengannya.


Bimasena : Kamu ingin gunakan uangmu berbisnis selain marketing property ?


Ia mengangguk. Ia memang berniat menjadikan sebagian tabungannya sebagai modal bisnis. Tapi masih bingung hendak berbisnis apa.


Bimasena : Kalau kamu ingin berbisnis yang lain, pisahkan dulu mana uang pribadi dan yang mana uang yang akan kamu gunakan sebagai modal berbisnis. Jangan dicampur.


Bimasena : Lalu tentukan kamu ingin berbisnis apa. Buat konsep yang jelas dan terarah.


Nadia : Aku baiknya berbisnis apa Bim?


Bimasena tertawa mendengar pertanyaannya.


Memang lucunya dimana?


Bimasena : Kamu kan pernah mengelola salon kecantikan. Jangan jauh-jauh dari situ, bisnis kecantikan. Karena kamu sudah memiliki pengalaman. Fokus pada satu peluang bisnis.


Bimasena : Prinsip dalam memulai bisnis adalah bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Jangan goyah dalam menghadapi tekanan dan hambatan dalam mengelola bisnis.


Bimasena : Jangan sedikit-sedikit menangis


Nadia : Tuh kamu nyindir aku kan ?


Bimasena tertawa kecil.


Bimasena : Nggak sayang. Dengarkan penjelasanku !

__ADS_1


Bimasena : Dalam berbisnis, teruslah berpikir positif bila suatu saat bisnis akan berkembang lebih besar, jangan menyerah dan pandai-pandailah melihat peluang.


Bimasena : Dan yang terakhir, berani ambil risiko. Gagal itu biasa bagi seorang pebisnis. Kalau gagal, ya diulang lagi.


Nadia : Kalau gagal, uangku nggak kembali ?


Bimasena : Iya


Nadia : Aku rugi dong?


Bimasena : Jelas


Nadia : Hah ???


Tidak mudah baginya mengumpulkan uang lebih dari dua milyar dalam tiga bulan. Bagaimana bila uang itu ia jadikan modal dan ternyata ia gagal? Apalagi ia tidak punya pengetahuan dalam berbisnis.


Nadia : Bim ...


Bimasena : Ya sayang ...


Nadia : Uangnya aku depositokan aja, aku takut rugi.


Bagaimana ia tidak kesal bila Bimasena tertawa terbahak-bahak mendengar ungkapannya.


Nadia : Kok kamu selalu nertawain aku sih? Karena aku bodoh? Kamu sama saja dengan Tristan. Cara menghinanya saja yang beda.


Begitu mendengar ia menyebut nama Tristan, Bimasena berhenti tertawa.


Bimasena : Mi amor, mencari nafkah itu urusanku. Aku akan berusaha mencari, lebih dari yang kamu butuhkan. Jadi kamu tidak perlu menguras tenaga dan pikiran memikirkan urusan bisnis.


Nah kalau Bimasena berbicara seperti itu kan hatinya sudah tenang dan tersanjung. Apa salahnya berbicara dengan kalimat yang menenteramkan daripada menertawainya dan membuatnya tersinggung.


Bimasena : Nadia, FreddCo Energy tersebar di seluruh negara penghasil minyak. Belum tentu aku ditugaskan di Indonesia setelah Venezuela. Setelah menikah kamu dan Glor kan harus ikut aku, kemana aku ditugaskan. Jadi nggak usah terlalu banyak bisnis sendiri. Kecuali kamu merasa kurang dengan apa yang aku berikan.


Nadia : Kita akan tinggal di luar negeri setelah menikah?


Hatinya tiba-tiba diliputi rasa khawatir.


Bimasena : Bisa jadi.


Nadia : Tapi kamu nggak bakal nyakitin hati aku kan kalau aku ikut kamu tinggal di luar negeri ?


Bimasena : Nadiaku sayang, setiap pasangan itu tidak mungkin selamanya berjalan seiring. Hubungan suami istri itu pasti akan diwarnai pertengkaran, perdebatan, dan air mata. Tetapi kita harus melalui semua momen itu dengan rasa cinta.


Bimasena : Rumah tangga akan harmonis bila setiap pasangan menghargai persamaan dan menghormati perbedaan mereka. Serta bisa menerima kekurangan masing-masing.


Giliran ia yang tertawa. Menertawakan Bimasena.


Bimasena : Why are you laughing (mengapa kamu tertawa).


Nadia : Habis kamu lucu deh. Seorang bujangan memberi nasihat perkawinan kepada seorang janda. Apa nggak terbalik?


Bimasena pun ikut tertawa.


Bimasena : Setidaknya aku sudah tahu teorinya. Tinggal praktiknya.


Sesaat mereka berhenti berbicara. Hanya saling pandang melalui layar handphone. Lalu tawa mereka pecah bersamaan.


Kadang-kadang ia masih tidak percaya dengan kenyataan. Apa ia tidak sedang bermimpi bila si mata cokelat jatuh cinta padanya? Bila memang hanya mimpi, maka biarlah ia terus terjebak dalam mimpi itu, tidak pernah terbangun lagi.


Nadia : Biiiiim ... pulang ... kangen.


Mengebiri rindu bukanlah hal yang mudah. Rindu membuat hati yang merah jambu menjadi ungu. Goresan rindu yang ia rasakan lebih kejam dari sayatan sembilu.


Bimasena : Kami tinggal menunggu kapal tanker untuk pengiriman minyak. Bila tanker sudah memuat dan meninggalkan pelabuhan, aku segera pulang ke Indonesia.


Nadia : Kapaaan?


Informasi yang ia dengar dari Bimasena malah membuatnya semakin tidak sabar menunggu sang purnama datang kembali.


Bimasena : Pengiriman dijadwalkan minggu ini. Paling lambat aku pulang minggu depan.


Rasa gembira meronta memintanya untuk melompat kegirangan. Tetapi ia bukan anak kecil. Begitu bahagianya mendengar si mata cokelat akan segera pulang.


Nadia : Bim, aku sudah nggak sabar kamu pulang.


Bimasena tersenyum kepadanya dengan mata yang menyipit.


Bimasena : Aku juga sudah tidak sabar, Nadia. Aku nggak sabar segera melalui kehidupan yang luar biasa denganmu.


Sungguh malu jika ia mengatakan kepada pria yang telah membuat hatinya riang, bila ia juga sudah tidak sabar menjalani hari penuh kasih bersama sang pujaan hati. Ingin segera memahat janji suci dalam sebuah prasasti cinta.


********


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu diberikan limpahan kesehatan dan rezeki dari Sang Pencipta.


Sebagai ucapan terimakasih kepada dukungan readers, author akan memberikan gift kepada tiga readers dengan dukungan tertinggi yang dilihat pada episode terakhir.


Terima kasih atas segala dukungannya terhadap novel ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan readers.


Salam sayang dari


Author Ina AS


๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2