REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
68. Dia Telah Pergi


__ADS_3

Nadia telah pergi.


Dan mungkin tidak akan kembali.


Apakah seorang pria tidak boleh menangis?


Kenapa menangis menjadi pengecualian bagi seorang pria? Sementara menangis adalah cara bagi seseorang mengekspresikan perasaannya.


Tristan tak mampu lagi menahan air matanya begitu melihat Nadia pergi meninggalkan rumah. Naik ke atas kendaraan mewah yang meski bekerja seumur hidup pun tak akan mampu ia berikan untuk Nadia.


Tidak peduli anggapan bila seorang pria yang menangis memiliki pribadi yang lemah. Ia hanya ingin meluapkan rasa kesedihan dan kehilangan yang membebaninya secara psikis. Biar saja dunia menertawainya.


Ia hanya bisa menatap perhiasan dan barang-barang yang Nadia tinggalkan dengan mata nanar. Bahkan skin care-nya pun Nadia tinggalkan.


Bila sekarang ia terhempas ke dasar jurang, semua karena salahnya sendiri. Tidak mampu memberikan kebahagiaan kepada istrinya. Sehingga istrinya mencari kebahagiaan pada pria lain.


Sekarang Nadia pergi setelah menorehkan luka. Meninggalkan sekeping hati yang lara.


Ia bangkit mengeluarkan semua pakaian Nadia di dalam koper. Menyusunnya kembali ke dalam lemari. Karena masih berharap, suatu waktu istrinya akan kembali. Menggunakan pakaian-pakaian itu lagi.


Mengapa ia tidak bisa mengerti hati seorang wanita?


Ia baru menyadari setelah Nadia pergi. Bahwa wanita yang ada di sisinya selama ini adalah bintang paling terang. Bukan yang berkilau di luar sana. Dan sekarang jiwanya sudah kelam. Karena bintang itu telah pergi. Tak ada lagi cahaya yang meneranginya.


Masih adakah waktu untuk mengulang kembali bersama Nadia?


Bila Nadia tidak kembali,


mungkin sesalnya akan abadi


****


Nadia keluar dari rumah Tristan dengan tangis yang semakin keras. Dengan langkah tergesa ia masuk ke mobil Bimasena agar tidak menjadi perhatian tetangga.


"Kamu diapakan oleh Tristan?" tanya Bimasena cemas begitu ia naik ke atas mobil. Pasti Bimasena sudah berprasangka buruk pada Tristan karena melihatnya menangis.


Tapi mulutnya tidak mampu menjawab sehingga ia hanya menggeleng.


"Jawab Nadia, kamu diapakan oleh Tristan?" desak Bimasena.


Ia kembali menggeleng sembari berusaha meredakan tangisnya dan menyimpan dokumennya di jok belakang.


Karena tidak menjawab Bimasena tiba-tiba saja hendak turun dari mobil, mungkin ingin menemui Tristan. Sehingga tangannya buru-buru mencegat tangan Bimasena.


"Jangan Bim! Aku nggak diapa-apain sama Tristan."


"Lalu kenapa kamu menangis seperti itu?"


Mengapa juga Bimasena tidak mengerti bagaimana perasaannya? Malah terpicu emosi pada Tristan.


"Bim, aku dan Tristan sudah bersama selama lima tahun. Dan sekarang kami akan berpisah. Salahkah bila hatiku sedih karena perpisahan ini?"


Bimasena tidak menanggapinya lagi. Pria itu hanya mendengus, lalu memberikan kotak tissue untuknya. Setelah itu Bimasena memakai sunglass-nya, kemudian melajukan kendaraan kembali ke apartemen.


Sepanjang jalan ia masih sekali-kali terisak. Sementara pria di sampingnya diam seribu bahasa.


"Bim, tolong bantu carikan aku rumah kost. Kita tidak boleh tinggal bersama bila belum menikah," ujarnya dengan suara yang serak begitu tangisnya sudah reda.


"Kamu nggak usah tinggal di rumah kost Nadia. Aku punya apartemen dan rumah. Kamu tinggal di sana saja. Terserah pilih apartemen atau rumah. Tapi lebih baik tinggal di apartemen. Sistem keamanannya lebih bagus," tawar Bimasena.


*******


Sikap Nadia membuat Bimasena bingung.


Sejak pulang dari rumah Tristan, Nadia mengurung diri di dalam kamar. Bahkan tidak ingin bertemu dan berbicara dengan dirinya.


"Tolong jangan ganggu aku Bim, aku ingin sendiri," seru Nadia dari dalam kamar begitu ia mengetuk pintu kamar Nadia.


Bahkan Nadia tidak ingin keluar untuk makan malam. Membuat hatinya bertanya-tanya, apa yang tadi terjadi di rumah Tristan sehingga Nadia bersikap seperti itu.


Demikian pula pagi hari, saat ia hendak berangkat ke kantor, Nadia masih mengurung diri di dalam kamar. Bahkan malam hari saat ia pulang dari kantor, Nadia tetap enggan keluar kamar menemuinya.


Mungkin Nadia butuh waktu untuk menyendiri dan menyepi. Karena masalah yang dilalui begitu berat.


Memang benar, ia tidak boleh mengganggu Nadia dulu. Ia harus memberikan ruang dan waktu kepada Nadia untuk menenangkan diri. Karena bagi seorang perempuan, perceraian bukan hal yang mudah untuk dihadapi. Terlebih lagi perempuan teramat peka dalam aspek emosional.


Tetapi begitu malam ketiga Nadia belum juga ingin bertemu dengan dirinya, pikirannya sudah berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


"Aku ingin sendiri Bim. Tolong jangan ganggu aku." Suara Nadia terdengar begitu menyayat dari dalam kamar, saat ia kembali mengetuk pintu kamar Nadia.


Nadia hanya keluar kamar bila ia tidak berada di apartemen. Tetapi begitu ia pulang, Nadia kembali mengunci diri di dalam kamar. Ia tahu itu karena bisa memantau CCTV di apartemen melalui handphone-nya. Berarti Nadia memang menghindarinya.


Sekarang ia berpikir bila ... Nadia belum siap untuk bercerai dengan Tristan. Serta masih ragu untuk melanjutkan hubungan ke tahap selanjutnya bersamanya.


Nadia sedang berada di ujung jalan yang bercabang.


Bim, aku dan Tristan sudah bersama selama lima tahun. Dan sekarang kami akan berpisah. Salahkah bila hatiku sedih karena perpisahan ini?


Ia baru mengerti maksud perkataan Nadia itu saat mereka berada atas mobil sepulang dari rumah Tristan.


Maksudnya adalah ... Nadia masih mencintai Tristan. Nadia masih menyayangi Tristan.


Sial.


Ia hanya bisa tersenyum getir dan beranjak dari depan kamar Nadia menuju kamarnya.


Jadi apa yang akan ia lakukan?


Ia tidak boleh egois. Memaksa Nadia menceraikan Tristan lalu menikah dengannya bila perasaan Nadia masih setengah-setengah dan Nadia masih bimbang.


Mungkin kesalahannya selama ini adalah terlalu memaksa Nadia agar semua proses berjalan seperti yang ia inginkan. Sementara Nadia belum siap untuk itu semua.


Ia berlari dengan sangat cepat dan kuat sementara Nadia merangkak dengan sangat lambat dan lemah. Sehingga begitu ia tiba di ujung jalan, ia tidak menemukan Nadia di sana.


Mungkin ia bisa menunggu Nadia sampai Nadia siap. Tapi apa Nadia tidak akan mengubah arah di tengah jalan?


Lalu bagaimana bila Nadia ingin kembali kepada Tristan?


Kemungkinan itu memang ada. Tapi seorang pria harus tegar dalam urusan hati. Pria harus tangguh dan tetap kuat meskipun terpatahkan. Tidak boleh menjadi korban dari keadaan.


Apapun yang terjadi, entah itu ia gagal atau ia kalah, ia harus tetap menunjukkan jati diri bahwa ia pria yang kuat.


Keesokan paginya ia melintasi begitu saja kamar Nadia. Tidak mengetuknya lagi. Sayup-sayup ia mendengar bunyi lagu sendu dari kamar Nadia. Wanita itu sedang galau.


Ia turun ke lantai dasar apartemen, dimana fasilitas gym tersedia. Setiap pagi, ia selalu menyempatkan diri berolahraga sebelum berangkat ke kantor.


Berharap dengan berlatih mengangkat beban menggunakan alat Smith Machine dapat mengalihkan kepenatannya karena Nadia.


Tapi ternyata yang bekerja saat ia berolah raga hanya ototnya. Otaknya tetap disibukkan dengan Nadia, Nadia dan Nadia.


Tetapi juga karena ia telah kecewa dengan sikap Nadia.


*******


Sudah empat hari Nadia mengabaikan Bimasena. Mengurung diri di dalam kamar. Menghakimi diri sendiri. Karena perbuatannya telah membuat Tristan malu dan terluka.


Ia begitu kasihan melihat Tristan saat pertemuan terakhir mereka. Tristan begitu kacau. Badannya semakin kurus tak terurus.


Namun Tristan begitu bijaksana. Ia tidak menyangka Tristan akan bersikap demikian. Justru sikap Tristan seperti itu yang membuat ia semakin didera rasa bersalah. Seolah ia adalah makhluk paling kejam yang menghuni bumi.


Pagi kelima ia mengurung diri di dalam kamar, ia akhirnya keluar kamar. Berjalan menuju meja makan, menunggu Bimasena untuk membicarakan rencananya tinggal sendiri.


Sepuluh menit duduk menunggu Bimasena, pria itu belum juga muncul.


Apa Bimasena sudah berada di tempat gym dan berlama-lama di sana karena hari ini Sabtu, hari libur?


"Pak Bima udah bangun ya?" tanyanya kepada Erna yang datang membawa sarapan untuknya.


"Udah Mbak, Pak Bima udah berangkat pagi-pagi."


"Berangkat ke kantor?"


Erna mengernyit kepadanya. "Loh bukannya Pak Bima berangkat ke Amerika? Tadi Pak Bima bilang begitu Mbak. Mau ke Amerika. Minta kami melayani Mbak Nadia."


"Ke Amerika?" desisnya.


Mengapa Bimasena tidak pamit padanya? Memang sudah dua malam Bimasena tidak mengetuk pintu kamarnya lagi.


Apa Bimasena marah?


Ia pun menyesal telah mengabaikan Bimasena selama beberapa hari ini.


Mengapa sikapnya selalu salah? Entah itu kepada Tristan maupun kepada Bimasena.


Ia segera menghubungi Bimasena melalui ponsel baru yang diberikan Bimasena untuknya. Tetapi nomor yang ia hubungi sedang tidak aktif. Mungkin Bimasena sudah berada di atas pesawat.

__ADS_1


Sekarang ia seperti orang bodoh menunggu kabar dari Bimasena. Sudah dua hari tidak berhasil menghubungi Bimasena. Padahal ia sudah memperkirakan Bimasena telah tiba di Amerika. Bahkan pesannya pun tidak terkirim.


Sekarang ia paham, Bimasena balas mengabaikannya.


Bila sebelumnya ia menangis karena Tristan, sekarang ia menangis karena Bimasena.


Bukan hanya rindu, ia juga menahan sakit hati pada Bimasena. Yang pergi begitu saja meninggalkannya di apartemen itu sendiri tanpa pamit.


Meskipun marah padanya, apa tidak sebaiknya memberitahunya bila hendak bepergian jauh seperti itu? Baginya Bimasena telah keterlaluan.


Hatinya berdebar ketika hari ketiga ia menghubungi Bimasena dan nada sambung telah terdengar. Tapi Bimasena tidak menjawab panggilannya. Begitupun dengan panggilan kedua dan panggilan ketiga.


Begitu tersiksa menunggu suara pria itu.


Namun ia tidak menyerah. Beberapa saat kemudian kembali menghubungi Bimasena.


Akhirnya Bimasena menjawab teleponnya setelah panggilan kelima.


Bimasena : Halo! Nadia!


Nadia : Kamu tega Bim ...


Suaranya lebih terdengar seperti rintihan.


Bimasena : Sebentar ya Nadia, selesai rapat kita bicara.


Rapat? Ia bahkan tidak peduli dengan rapat. Bisa saja setelah ini Bimasena kembali menonaktifkan handphone-nya.


Nadia : Kamu pergi begitu saja meninggalkan aku sendiri di apartemen tanpa pamit. Kamu tega.


Tangisnya pun pecah menahan luapan emosi dari dalam dada. Dimana belas kasih Bimasena? Katanya cinta tetapi tega menyiksanya seperti ini. Membiarkan resah menyelimutinya.


Bimasena : Nadia, aku hanya memberi ruang dan waktu untukmu berpikir. Untuk memikirkan dengan jernih. Melangkah lebih lanjut denganku atau kembali pada Tristan. Karena aku sudah melihat keraguan padamu sejak kamu kembali dari rumah Tristan.


Apa? Bimasena masih memintanya berpikir untuk kembali kepada Tristan?


Ternyata kata cinta hanya mainan lidah.


Nadia : Kamu jahat. Kamu sudah membawaku sejauh ini, tiba-tiba masih memintaku berpikir untuk kembali kepada Tristan? Kamu jahat Bim.


Bimasena : Nadia aku masih rapat, nanti aku hubungi kembali ya.


Nadia : Tidak perlu, kamu tidak perlu menghubungiku lagi. Aku akan pergi dari tempat ini. Aku tidak ingin bersama-sama siapa pun lagi. Aku bisa hidup sendiri. Tidak denganmu, juga tidak dengan Tristan. Maafkan sudah merepotkanmu.


Nadia memutus sambungan telpon dengan tersedu-sedu. Baru saja hendak menyandarkan harapan pada Bimasena, diawal langkah sudah dikecewakan.


Ia meletakkan handphone itu di atas nakas.


Semua terasa sudah gelap di matanya. Ia akan pergi dari apartemen itu. Tidak akan membawa apapun yang diberikan Bimasena kepadanya termasuk handphone, kartu-kartu, dan pakaian kecuali yang melekat di badannya. Ia hanya membawa dompetnya yang ia peroleh kembali dari Tristan dan dokumen pribadinya.


Percuma ia mengikuti langkah Bimasena. Sudah sejauh ini ternyata Bimasena masih meragukannya. Membuatnya ikut meragukan kesungguhan Bimasena.


Setelah pamit pada maid, ia pun pergi meninggalkan apartemen Bimasena.


Melepaskan genggaman dari siapapun.


Tanpa arah dan tujuan.


******


Readersku tersayang,


Bagaimana kabarnya hari ini?


Semoga tetap dalam curahan kesehatan dan kebahagiaan.


Tidak berhenti Author ingatkan.


Jangan menanam bibit selingkuh, jangan sampai tumbuh tidak terkendali.


Jangan mendekati zina.


Novel ini sekedar hiburan semata. Bukan untuk ditiru. Mudah-mudahan ada nilai positif yang bisa dipetik meskipun seujung kuku.


Terima kasih atas segala apresiasi dan dukungannya.


Salam sayang dari Author Ina AS

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2