REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
130. Epilog. Reuni: Nadia, Cinta Terbaikku.


__ADS_3

Sebuah keharuan hinggap di hati, begitu roda pesawat menyentuh tanah, tanah dimana suara tangis Nadia pertama terdengar. Negeri permai tempatnya dibesarkan dan teramat dirindukan.


Indonesia.


Sebuah mobil menjemput keluarganya, menuju penthouse yang sudah lama mereka tinggalkan. Beristirahat sejenak di rumah itu lalu menjalankan aktivitas seperti yang telah direncanakan sebelumnya di Kanada.


Meskipun seraut wajah teduh ayahnya serta senyum yang menghangatkan jiwa milik ibunya, tidak mungkin ditemuinya lagi di negeri ini, namun masih tersisa pusara yang berdampingan tempat melepas rindu pada mereka.


Ia bersama suami dan anak-anaknya mengunjungi pemakaman ayah dan ibunya. Mengenalkan pada Glor makam kakek dan nenek.


"Kakek di sini, Nenek di sini," terangnya pada Glor. Mengajak Glor berjongkok menabur bunga di atas makam. Lalu suaminya turut menabur bunga setelah menyerahkan baby Frey dalam gendongan kepada baby sitter.


Besar harapannya, orang tuanya bahagia di sana, melihat sang puteri datang berberkunjung tidak sendiri lagi. Ia datang bersama mataharinya, serta bintang-bintang kecilnya. Datang berziarah bersama suami dan anak-anak.


Ia tidak lagi merasa sepi dalam setiap pergantian waktu, saat tenggelamnya matahari. Tidak lagi menjalani hidup yang gersang. Melalui hari dengan bermandi cinta dan penuh kehangatan.


Tidak lagi menanggung hutang di bank serta beban moril terhadap pendidikan dua ponakannya.


Ia berharap suaminya tidak pernah berubah rupa. Karena ia sudah melabuhkan hati dan harap di dermaga cinta Bimasena.


Seusai berziarah di makam kedua orang tuanya, mereka berangkat menuju rumah ayah mertuanya. Memperkenalkan anggota keluarga baru mereka, baby Frey Adelio Bimasena.


Seperti biasa ayah mertuanya selalu menangis setiap bertemu anak maupun cucunya.


"Kenapa kalian begitu lama tidak mengunjungi ayah?" Ayah mertuanya tersedu saat memeluk Bimasena.


"Setahun ini aku sangat sibuk, Yah. Target produksi di Kanada cukup tinggi karena permintaan minyak dunia meningkat," terang suaminya.


Glor memiliki kesibukan baru di rumah kakek. Mendorong sang kakek yang duduk di atas kursi roda mengintari ruangan rumah. Rona bahagia jelas terpancar dari wajah ayah mertuanya atas kehadiran putera tersayang dan cucu-cucu yang lucu.


Dari rumah ayah mertuanya, mereka lanjut ke rumah Bang Herial dan Mpok Nana. Mpok Nana telah menyiapkan makan siang untuk kedatangan mereka.


Kini Bang Herial menjalankan usaha cuci kendaraan bermotor atas bantuan modal dari Bimasena.


Sangat senang rasanya, dalam sehari bisa mengunjungi tiga tempat orang tersayang. Tempat peristirahatan orang tua, rumah ayah mertua dan rumah saudaranya.


Menjelang sore mereka pulang dari rumah Bang Herial. Tetapi di tengah jalan, suaminya meminta kepada sopir untuk menepi dan menghentikan kendaraan.


"Mi, Mommy dan anak-anak pulang ke rumah duluan ya. Daddy mau temui seseorang dulu. Bisakan?" ucap suaminya.


"Bertemu siapa?"


"Tristan," jawab Suaminya.


"Siapa?" ia kurang percaya dengan nama yang baru disebut suaminya. Apa ia tidak salah dengar?


"Tristan," ulang suaminya.


"Kenapa Daddy mau bertemu Tristan?" tanyanya karena hati diliputi tanda tanya.


"Bertemu sahabat lama, nggak ada salahnya kan?" sahut suaminya. "Atau Mommy ingin ikut? Sempat mau kangen-kangenan." Bimasena menyeringai nakal padanya. Sehingga tangannya bergerak mencubit perut suaminya.


"Apa Tristan bersedia bertemu dengan Daddy ? Pria yang merebut istrinya?" pertanyaannya terlontar begitu saja. Ia baru sadar bila pertanyaannya kurang sopan setelah terucap. Namun tidak bisa ditarik kembali.


Beruntung ia memiliki suami yang tidak mudah tersinggung. Malah memiliki otak yang sangat jenius dan keterampilan beretorika.


"Siapa bilang Daddy merebut istri Tristan?" sahut suaminya. "Kamu itu jodohku, Mi. Karena terlalu lama bertualang dan bermain-main, jodohku disambar orang."


"Tetapi siapapun yang berjodoh, akan dipertemukan dan akan disatukan dengan cara apapun. Selama ini aku hanya menitip jodohku pada Tristan. Jadi aku hanya menjemput jodohku yang sedang bersama Tristan, bukan merebut istri Tristan."


"Makanya, aku ingin menemui Tristan untuk berterima kasih. Karena telah menjaga jodohku selama lima tahun lebih," pungkas suaminya.


Membuatnya tidak bisa berkutik, karena pria disampingnya begitu pandai berargumentasi. Memiliki kemampuan menyusun dan memilih kata-kata yang cerdas.


********


Tristan begitu berat melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran. Bukan hanya kakinya, udara pun memasuki paru-paru dengan terpaksa. Sebab tidak ada organ tubuh yang mendukung keputusannya, menerima permintaan Bimasena untuk bertemu.


Tadi Bimasena menghubunginya, ingin berkunjung ke rumahnya malam ini. Tetapi luka lama akibat pengkhianatan istri dan sahabatnya itu tidak benar-benar sembuh. Masih meninggalkan rasa nyeri bila ia mengingat masa kelam itu.


Rasa trauma membuat ia menolak Bimasena datang ke rumahnya. Tetapi karena menghormati suami dari mantan istrinya, juga mantan sahabatnya itu, ia meminta bertemu di luar. Dan Bimasena mengundangnya ke restoran jepang ini. Di dalam private room pula. Entah apa yang hendak dibicarakan Bimasena padanya.


"Apa kabar, Bro!" Bimasena menyalaminya. Menggenggam tangannya dengan erat.


"Baik. Nadia dan Glor bagaimana kabarnya?" Ia turut berbasa-basi.


"Mereka sehat. Tadinya ingin ikut bertemu kamu, tapi Frey rewel, sehingga Nadia dan anak-anak kembali ke rumah. Triyasih bagaimana kabarnya?"


Melalui ucapan Bimasena mengabarkan padanya bila Nadia telah memiliki seorang anak lagi.


"Baik," jawabnya singkat. Tidak perlu mengabarkan pada Bimasena bila Triyasih baru saja melakukan transfer embrio atas program bayi tabung yang mereka lakukan.


"Ada apa ingin bertemu empat mata denganku?" baginya tidak perlu basa-basi yang panjang lagi terhadap Bimasena. Apalagi harus bermain catur dengan pria itu.


Bimasena tersenyum sekilas, menatapnya dengan serius, lalu berucap,


"Aku harap ini waktu yang sudah tepat. Untuk datang padamu mengakui kesalahan, karena pernah menistakan kamu. Rasa bersalah itu terus membayangi aku. Mungkin apa yang aku lakukan tidak layak dimaafkan. Ataupun tidak mungkin termaafkan. Tetapi aku datang dengan penuh kerendahan hatiku untuk meminta maaf. Maafkan aku sobat."


Ia hanya tersenyum getir menanggapi ucapan Bimasena.


Dalam segala hal Bimasena mungkin lebih unggul darinya.


Ketampanan.


Kekayaan.

__ADS_1


Juga memiliki sikap gentleman untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Tidak semua orang berani melakukannya. Apalagi bagi orang yang tidak dalam keadaan terpuruk, karena tetap mempertahankan ego dan kesombongan. Terlebih lagi untuk peristiwa yang telah lama berlalu.


Waktu tidak mungkin diulang kembali. Mungkin seperti inilah skenario hidup.


Yang bisa dilakukan hanyalah berpikir logis dan lebih mendalam, menilai masalah yang pernah menimpa dari sisi positif.


"Begitulah cara sutradara kehidupan mengatur hidup kita. Mungkin seperti itu jalan yang harus dilalui untuk bersama dengan pasangan yang tepat. Semoga Triyasih pasangan yang tepat buat aku dan Nadia pasangan yang tepat untuk kamu," pungkasnya.


*********


Mithalia sudah lama kehilangan semangat mengikuti reuni. Sejak seseorang menghilang dari acara reuni. Namun kali ini ia kembali bersemangat. Karena pria pujaan hati kembali hadir dalam reuni.


Siapa lagi bila bukan ...


Bimasena.


Begitu Bimasena mengonfirmasi kehadiran di acara reuni, ia segera menyiapkan gaun khusus untuk reuni.


Bukankah Bimasena telah menikah dengan Nadia?


Memang benar, Bimasena telah menikah dengan sahabatnya sendiri, Nadia. Tetapi ia belum berhenti memuja , mengagumi dan menginginkan Bimasena hingga kini.


Ia menemukan hal-hal yang membuatnya takjub pada pria itu, sehingga pria lain terasa hambar.


Ia laksana hantu penasaran yang gentayangan, tidak bisa menerima kenyataan terhadap pilihan hati Bimasena. Bimasena menjatuhkan hati pada Nadia.


Memang benar Nadia cantik. Tetapi kriteria memilih pasangan tidak sekedar bagaimana rupanya saja. Nadia wanita yang bersuami sedangkan dirinya masih lajang. Dari segi latar pendidikan, Nadia hanya tamat SMA sedangkan ia bergelar magister. Ia juga cantik, tidak kalah dari Nadia.


Lalu mengapa Bimasena memilih Nadia bukan dirinya?


Awalnya ia mengira Bimasena hanya sekedar bermain-main pada Nadia. Tetapi ternyata pada akhirnya pria tersebut menikahi Nadia. Dan sudah memiliki dua putera dari Nadia.


Segala kemungkinan bisa terjadi. Alam mengajar sebuah hukum yang bernama karma. Kelak semua akan berbalik. Nadia pernah melakukan perbuatan tercela, menyelingkuhi suaminya. Mungkin nanti, Nadia akan merasakan sakit yang dialami Tristan. Diselingkuhi Bimasena.


Ia datang lebih cepat ke Ignazio Cafe. Tempat yang sudah di-booking oleh teman angkatan mereka untuk reuni, disponsori Bimasena. Ia adalah orang yang pertama datang ke cafe itu. Berharap lebih banyak waktu bersama Bimasena dan bisa merebut perhatian pria tersebut.


Hampir semua teman yang mengonfirmasi kedatangan telah datang, termasuk Tristan dan Triyasih, Bimasena belum juga muncul.


Akhirnya sang pujaan datang juga.


Bimasena datang dengan menggendong baby Frey. Menggunakan kaos putih dan bercelana jeans. Glor berjalan di antara Nadia dan Bimasena, bergandengan pada tangan Nadia dan Bimasena.


Aura kebapakan terpancar pada sosok Bimasena. Sangat terlihat bagaimana pria itu melindungi dan mengayomi anak dan istri. Membuat Bimasena semakin sexy dan mempesona.


Salahkah bila ia semakin menggilai pria itu? Pria itu memiliki daya tarik yang besar. Yang mampu membuat wanita terpukau dan terpikat.


Tapi begitu memperhatikan Nadia, mendadak ia kehilangan rasa percaya diri untuk bisa menggaet Bimasena. Kini Nadia tidak sekedar cantik saja. Dengan make up minimalis, Nadia begitu anggun, bak seorang dewi berdiri di samping Bimasena, menyapa teman-teman.


Meskipun tampilan Nadia begitu santai dengan baju kaos dan jeans, namun semua yang dikenakan oleh wanita itu merupakan barang branded. Menjadi istri Bimasena membuat Nadia tampil lebih berkelas. Sangat serasi dengan Bimasena. Bagaimana caranya ia bisa menyalip?


"Tante Mithaaaaaa," sapa Nadia ramah padanya.


Ia berpelukan dengan Nadia, lalu mencium Glor. Dan yang paling ia tunggu adalah mencium baby Frey dalam gendongan Bimasena. Mencium berkali-kali, karena bayi itu begitu menggemaskan. Bayi itu mewakili sang ayah, karena ia tidak mungkin mencium Bimasena. Dari jarak yang sangat dekat, aroma maskulin tercium dari tubuh sang idola.


"Cium bapaknya sekalian," celetuk Alfredo yang melihat ia berkali-kali mencium baby Frey, hingga bayi itu menangis menolak untuk dicium.


Sepanjang acara reuni, matanya tidak berhenti memperhatikan interaksi keluarga Bimasena dan Nadia. Mereka tidak pernah memamerkan kemesraan, tetapi dari cara mata mereka saling bertaut, menampakkan ikatan emosional yang sangat kuat. Membawa rasa iri padanya, tak sabar rasanya segera memiliki keluarga seperti pasangan itu.


***********


Tidak ada seremoni dalam acara reuni mereka. Juga tidak ada konsep tertentu. Mereka sekedar berkumpul, makan-makan diiringi live musik.


Kebiasan yang belum juga hilang untuk teman laki-laki Bimasena adalah bermain catur. Dan kini ia berhadapan dengan Angga. Sementara di sampingnya Tristan berhadapan dengan Glen. Di samping Tristan duduk Triyasih.


Nadia berkumpul dengan teman-teman wanita di salah satu sudut ruangan sambil menggendong baby Frey. Sementara Glor berlarian kesana kemari dalam pengawasan baby sitter.


Tiba-tiba saja namanya dipanggil oleh penyanyi band untuk naik ke atas panggung menyumbang suara. Ia tidak memiliki keterampilan bernyanyi, juga tidak memiliki kualitas vokal yang bagus, tetapi bernyanyi bukan masalah baginya. Ia sudah sering bernyanyi di depan umum.


Tetapi sebelum ia naik ke atas panggung, ia terlebih dahulu berjalan menuju istrinya, meraih tangan dan menarik Nadia.


"Temani Daddy, Mi!"


"Ciyeeeee, romantisnya kebangetan," celetuk salah seorang teman wanitanya.


"Kok menyanyi minta ditemani, Dad. Kan Mami malu berdiri di atas panggung," protes istrinya.


"Mengapa harus malu, dulu berjalan di atas catwalk saja nggak pernah malu kok," ujarnya.


"Itu dulu, zaman batu, zaman Mommy belum punya rasa malu, Dad," kilah istrinya. Dengan terpaksa mengikutinya naik ke atas panggung.


Ia merangkul istrinya saat berada di atas panggung untuk menghilangkan kecanggungan dan rasa grogi Nadia.


Sebelum bernyanyi ia dahului dengan menyampaikan bahasa pengantar.


"Kalian tahu apa yang senang aku lakukan saat bekerja di kantor? Aku paling senang mengintai."


"Mengintai apa yang dilakukan anak dan istri di rumah lewat CCTV."


Nadia membelalakkan mata menatapnya. Hal yang tidak disadari istrinya selama ini bila ia sering memantau keluarga melalui CCTV lewat smartphone.


"Dan berkali-kali aku melihat, bila si kecil telah tidur, istriku menggelar konser nyanyi tunggal tanpa penonton di rumah. Ternyata istriku punya bakat bernyanyi."


Nadia meremas punggungnya dan memelototinya, mengirim peringatan padanya agar tidak bertidak macam-macam.


"Jadi ... sekarang kita saksikan bersama perform dari ... Nyonya Bimasena." Ia mengacak rambut istrinya dan menyunggikan senyum termanis pada istrinya yang melototot padanya.

__ADS_1


Teman-temannya di bawah panggung bersorak dan bertepuk tangan. Sementara di atas panggung istrinya sudah tidak karuan. Menyerangnya dengan cubitan dan bersembunyi di belakang tubuhnya.


Istrinya memiliki keyakinan yang lemah tentang kemampuan diri. Sering minder dan kehilangan kepercayaan diri. Bertolak belakang dengan sosok Nadia yang ia kenal saat SMA. Dengan pesona yang dimiliki mampu menjadi gadis idaman saat sekolah.


Ia hanya ingin menumbuhkan kembali rasa percaya diri istrinya, dengan mengajar Nadia berani tampil di muka umum. Menghilangkan anggapan Nadia terhadap diri sendiri bila dia bukan siapa-siapa dan tidak memiliki kemampuan apa-apa.


***********


Nadia kembali menyerang suaminya yang sudah berbaring di atas tempat tidur dengan cubitan. Bila ia ingat keusilan suaminya saat reuni tadi, yang menjebaknya bernyanyi di atas panggung, ia semakin gemas pada suaminya.


Meskipun ia berhasil membawakan sebuah lagu, tetapi ia menggigil saat menyanyi. Tangannya gemetar memegang mic. Tatapan kagum suaminya yang menemaninya di atas panggung, justru memperparah nervous-nya.


Ia duduk di atas tubuh suaminya menyerang dengan cubitan pada perut.


"Sudah, Mi. Sakit," pinta suaminya, sambil tertawa sehingga ia tidak iba sama sekali. Tetap melayangkan cubitan di tempat lain.


Tetapi suaminya begitu lihai membalikkan keadaan. Hanya sekali sentak ia sudah berada di posisi yang berbeda, di bawah suaminya.


"Mau h a r d c o r e, Mi?" ancam suaminya dengan wajah licik.


Berada di bawah tubuh Bimasena membuat ia kesulitan bergerak.


"Nggak mau, Dad." Keadaan sudah terbalik, dirinya yang memelas atas ancaman suaminya. Ia bergidik karena tatapan mata suaminya penuh keinginan. Singa di atasnya sudah siap menerkam.


Ternyata singa di atasnya berubah menjadi malaikat. Berbaring di sampingnya dan menariknya ke dalam pelukan.


"Daddy hanya ingin menumbuhkan rasa percaya diri Mommy. Rendah hati itu baik, tapi rendah diri tidak baik."


"Rasa rendah diri itu yang membuat Mommy selalu was-was kelak Daddy akan bosan dan berpaling. Padahal itu hanya karena ketakutan Mommy saja yang selalu minder pada Daddy. Selalu menganggap Daddy punya segalanya yang diinginkan wanita. Padahal tidak pernah terbersit dalam hati Daddy, sedikitpun untuk merusak keluarga kita," papar suaminya.


Memang seringkali ia bertanya pada suaminya, akankah suaminya setia selamanya. Di atas ketakutannya kehilangan sosok Bimasena. Juga ketakutannya akan hukum karma karena pernah mengkhianati suami sebelumnya.


"Tentang jalan diluar kelaziman dan berbenturan dengan norma yang kita tempuh sebelumnya, ya memang kita harus melalui jalan itu agar kita sampai ke tahap ini."


"Setiap dosa yang dilakukan itu akan mendapat balasan. Mungkin kita akan dihukum atas dosa yang pernah kita perbuat. Tetapi hukumannya tidak serta merta hal yang serupa dengan yang kita perbuat. Dan jangan lupa, ampunan Tuhan itu maha luas. Tidak terbatas. Berdoalah, semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kita."


"Daddy mengutip ucapan Tristan. Begitulah cara sutradara kehidupan mengatur hidup kita. Mungkin seperti itu jalan yang harus dilalui untuk bersama dengan pasangan yang tepat. Semoga Triyasih pasangan yang tepat buat Tristan dan sudah pasti Nadia pasangan yang tepat untuk Bimasena," lanjut suaminya.


"Mi, tidak mudah mendapatkan seorang Nadia, butuh perjuangan berat. Jadi tidak mungkin Daddy menyia-nyiakan Mommy. Mommy adalah cinta terbaikku. Memilikimu adalah takdirku."


Tidak ada hal yang paling tenang dan nyaman selain bersandar pada bahu Bimasena. Sembari mendengar ucapan menenteramkan dari pria itu.


Kadang-kadang, kelebihan yang dimiliki suaminya membuatnya galau. Karena pesona yang dimiliki suaminya mampu merontokkan hati wanita.


Tetapi ia percaya, bintang paling terang yang dipilihnya, adalah pria paling tepat untuknya.


Sehingga ia berikan seluruh hati dan hidupnya pada Bimasena. Pria yang bisa menghargainya dan menerimanya apa adanya.


Pada Bimasena ia menemukan cinta manis yang luar biasa.


************


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu diberikan limpahan kesehatan dan rezeki dari Sang Pencipta.


Tak terasa setahun bersama dengan Reuni.


Setiap yang dimulai, harus diakhiri.


Akhirnya kita tiba di penghujung episode.


Terima kasih untuk kebersamaanya dengan Reuni.


Terima kasih untuk segala apresiasi dan dukungannya.


Mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam novel ini.


Semoga Author diberi waktu dan kesehatan untuk bisa membuat season 2 dari novel ini.


Seperti janji author, akan membagi gift berupa bunga artificial kepada 10 readers dengan dukungan tertinggi.


Dan readers dengan dukungan tertinggi adalah:



Readers di atas yang belum bergabung di GC, diharapkan dapat bergabung untuk konfirmasi alamat, atau bisa dengan mem-follow author.


Salam sayang dari:


BimaseNAdia.


Glor Gerardo dan Frey Adelio Bimasena.


Author Ina AS


๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Jangan lupa baca novel lain yang sedang on going,



dan


__ADS_1


__ADS_2