REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
29. Reunion Part 3/3


__ADS_3

"Nadia, tunggu!" Bimasena berteriak memanggilnya. Namun wanita itu melesat pergi secepat kilat meninggalkan kamar 1210. Setelah berkali-kali memukul dadanya akibat malu karena Ia terus menertawai dan tidak berhenti menggoda.


Sekarang Bimasena hanya bisa termangu dan menghembuskan nafas kasar. Ia sudah menyia-nyiakan satu kesempatan. Kapan lagi bisa berada di tempat private seperti ini bersama Nadia.


Tetapi tidak mungkin Ia mengejarnya. Meraka sudah terlalu dewasa untuk bermain kucing-kucingan.


Hah payah.


Sekarang Bimasena menyesali mengapa melepaskan Nadia begitu saja. Ia duduk di sisi tempat tidur menggigit bibirnya dengan kepala pening.


Namun pada sisi lain Ia bersyukur Nadia segera kabur dari kamar itu. Karena bila tidak, Ia tidak yakin bisa mengendalikan diri, untuk tidak melahap habis Nadia saat itu juga.


Bimasena mencoba menyingkirkan Nadia dari pikirannya. Karena otaknya sudah sangat kotor sekarang. Terus-terus memberikan gambaran terlarang. Bagaimana manisnya bibir wanita itu. Seperti apa keindahan yang tersembunyi di balik gaunnya. Dan bagaimana dahsyatnya meraih puncak kenikmatan bersama Nadia.


Memang nasibnya sangat mengenaskan. Penyakitnya semakin parah. Tidak ada waktu sedikitpun yang terlewat akhir-akhir ini tanpa memikirkan Nadia. Nadia sudah masuk ke otak dan hatinya, lalu menetap di sana dan terus menyiksanya.


Nadia adalah siksaan yang paling sempurna.


Berbagai wanita cantik dan pintar berlalu lalang di depannya, semua tidak bernilai dan berasa hambar karena Nadia. Bukankah Ia sudah sakit parah? Sangat sulit dipercaya.


Dan yang paling brengsek, bukan hanya ingin selalu bertemu Nadia. sekarang Ia sudah punya keinginan untuk merebut Nadia dari Tristan. Menyingkirkan Tristan dari sisi Nadia. Benar-benar brengsek bukan? Ia juga tidak mengerti mengapa Ia bisa menjadi bajingan licik seperti itu.


Dasar Penjahat!


Dan saat Bimasena kembali ke rooftop, Ia melihat Nadia sudah duduk di samping Tristan. Karena teman-teman wanitanya sudah pulang.


Wanita itu menghindari bertemu mata dengannya, dengan berpura-pura memperhatikan permainan catur Tristan melawan Angga. Padahal sangat jelas, wajah Nadia tiba-tiba merona saat Ia datang menghampiri.


Terlebih lagi begitu Ia duduk di samping Angga, persis di depan Nadia, wajah Nadia pucat seketika. Jarak antara kakinya dan kaki Nadia bahkan tidak sampai setengah meter. Nadia tidak mampu menutupi kegelisahannya.


Terlebih Bimasena dengan nakal mengirim pesan pada Nadia. Tepat di depan suami Nadia. Bukankah Ia semakin kurang ajar?


Bimasena:


Kenapa kamu meninggalkanku sendiri?


Nadia membaca pesannya, namun hanya menggigit bibir, tidak membalas pesannya. Tangan wanita itu gemetaran, tampak Ia sangat ketakutan dengan keberanian Bimasena.


Bimasena:


Tolong jangan gigit bibir seperti itu di depanku Nadia. Bibir itu salah satu dari sekian dari dirimu yang turut menyiksaku.


Keinginannya merasakan bagaimana bibir wanita itu sudah menggebu-gebu. Tetapi belum pernah kesampaian sampai saat ini.


Titik-titik keringat mulai muncul pada dahi wanita itu. Padahal tidak ada alasan yang tepat buat Nadia berkeringat, karena udara sangat sejuk dan angin bertiup sepoi-sepoi. Menandakan bahwa wanita itu dilanda ketegangan yang luar biasa.


Tidak direspon oleh Nadia, Bimasena kembali mengirim pesan.


Bimasena:


Jaga jarakmu dengan Tristan, jangan buat aku cemburu.


Mulut Nadia nyaris membulat begitu membaca pesannya. Berkali-kali wanita itu melirik Tristan yang sangat serius bermain catur dengan cemas. Tentu saja khawatir gelagatnya tercium Tristan.

__ADS_1


Tetapi Nadia mengindahkan pesannya. Menarik kursinya menjauh dari Tristan meskipun hanya 10 cm. Bimasena pun tersenyum penuh kemenangan.


Bimasena:


Kamu cantik sekali malam ini Nadia. Aku semakin kehilangan akal sehat karena kamu.


Bimasena nyaris tertawa, karena setiap pesan yang Ia kirim, begitu Nadia selesai membacanya, Ia melihat Nadia segera menghapus pesan tersebut.


****


Nadia merasa kakinya menggigil kedinginan. Tangannya gemetar dan jantungnya bertalu-talu.


Bimasena semakin berani saja. Tanpa rasa takut sama sekali, pria itu duduk di depannya. Padahal Tristan duduk di sampingnya. Mana Bimasena terus mengiriminya pesan lagi.


Tuhan tolong Aku, Bimasena akan membunuhku.


Beruntung Angga menyelamatkannya.


"Kamu nggak ngantuk Nadia? Kalau kamu nungguin Tristan, bisa sampai pagi nih bermain catur. Menang terus soalnya."


Ia pun menoleh ke arah Tristan.


"Kamu pulang aja duluan," seru Tristan tanpa memandang ke arahnya. Suaminya itu bila sedang memiliki kesenangan, bahkan sampai istri pun Ia lupa.


Bimasena segera menyela, "Pulang sendiri? Ini sudah larut malam. Kurang aman bagi wanita. Ada kamar kosong yang aku booking di bawah. Kalian berdua nginap di sini saja, pakai kamar itu." Bimasena mengucapkan itu pada Tristan.


Nadia tahu maksud Bimasena. Kamar 1210.


"Nggak usah Bim. Biar Nadia pulang ke rumah saja," tolak Tristan.


"Udah kamu pulang saja! Jangan tiba-tiba jadi manja dan cengeng."


"Yang cengeng siapa? Ini juga sudah mau pulang kok." Nadia tidak terima dikatakan cengeng oleh Tristan.


"Tristan, ini sudah malam. Kamu antar Nadia pulang dulu! Nanti kita lanjutkan lagi." Angga menatapnya cemas, nyaris membuatnya menjatuhkan air mata. Karena yang harusnya cemas itu adalah Tristan. Bukan Angga.


Dan Bimasena, pria itu hanya diam dan mengatupkan rahangnya. Entah apa artinya.


"Yang benar saja Angga? kamu pikir jarak pulang pergi dari hotel ke rumah cukup dekat ya?" ucap Tristan pada Angga.


Lalu Tristan menoleh ke arahnya.


"Udah pulang aja cepat Nadia! Ini kunci mobil. Mengganggu kesenangan orang saja. Tau begini, mestinya kamu tidak perlu ikut tadi."


"Aku pakai taxi online saja," tolaknya. Ia bahkan tidak ingin menyentuh mobil suaminya, karena sakit hati pada pemiliknya.


"Naik taxi online malam-malam begini sangat rawan Nadia. Mending kamu yang bawa mobil. Biar Tristan pulang naik taxi online." Angga yang paling cemas dan memberinya perhatian. Sementara Bimasena tidak ambil pusing. Pria itu sibuk bermain dengan handphone-nya.


Tetapi hati sudah terlanjur sakit, lagi-lagi oleh Tristan. Ia pun segera beranjak dari kursinya. Namun Ia tidak melangkah ke lift. Tetapi ke toilet, karena ada yang mendesak hendak tumpah.


Air matanya.


Di dalam toilet ia tidak kuasa lagi menahan air matanya. Seperti inilah rasanya menjadi orang yang tidak penting, tidak dibutuhkan dan tidak berarti sama sekali.

__ADS_1


Bukan hanya sakit hati, Ia sangat malu kepada Angga dan Bimasena atas sikap Tristan. Apa ada istri yang semalang dirinya? Jangankan diberi perhatian oleh suami. Bahkan tidak dipedulikan sama sekali.


Ia sudah melapangkan hati untuk memaafkan sikap Tristan yang sudah berlalu, namun telinganya tidak berhenti mendengar kalimat menyakitkan. Dan sekarang bukan hanya sakit hati, tetapi Ia sudah dendam dengan Tristan.


Nadia sengaja berlama-lama di dalam toilet. Berharap Bimasena menyusulnya. Ataupun menghubunginya.


Saat ini Ia hanya butuh Bimasena.


Seandainya pria itu muncul di toilet, Ia akan memeluk pria itu dan mengadu bagaimana pedih hatinya karena Tristan. Namun sampai 15 menit berlalu pria itu tidak pernah muncul di depan toilet. Bahkan pria itu tidak menghubungi atau mengirim pesan lagi padanya.


Mengapa Bimasena ikutan tidak peduli?


Akhirnya Ia tidak menunggu Bimasena lagi. Berharap kepada manusia memang sering berakhir mengecewakan.


Ia pun melangkah keluar dari toilet menuju lift. Ia sempat melirik ke arah tempat duduknya tadi. Di sana Bimasena nampak tertawa senang bersama Tristan dan Angga.


Ternyata Bimasena juga tidak bisa diharapkan. Tidak ada kepedulian sama sekali pria itu padanya. Semakin membuat hatinya perih saja.


Beruntung Ia belum menggantungkan harapan terlalu jauh kepada Bimasena, meskipun Pria itu sudah menjatuhkan hatinya. Dan sekarang Ia sudah tahu, bagaimana Bimasena yang sebenarnya. Kecewa. Ya, Ia kecewa.


Rasa kecewa yang berlapis-lapis. Pada Tristan, Tristan, Tristan dan terakhir pada Bimasena. Ia kembali menghapus air matanya sebelum lift-nya tiba di lobby dan sebelum Ia keluar dari lift.


Tetapi saat ia keluar ke lobby, sekretaris cantik Bimasena sudah berdiri di depan lift.


"Permisi Mbak, mobil yang akan mengantar Mbak Nadia untuk pulang ke rumah sudah menunggu di depan lobby. Saya antar Mbak!"


Ternyata Bimasena masih peduli padanya. Ia menyesal sudah berprasangka buruk pada Bimasena.


Nadia mengikuti sekretaris Bimasena keluar dari lobby menuju sebuah mobil Mercedes berwarna hitam yang terparkir di depan lobby.


"Terima kasih," ucap Nadia kepada sekretaris Bimasena yang membukakan pintu mobil untuknya. Ia pun naik ke atas mobil, di jok belakang sebelah kanan.


"Sopirnya ditunggu sebentar lagi ya Mbak," kata Sekretaris itu.


Nadia mengangguk sambil tersenyum.


Luka hatinya sedikit terobati oleh perhatian Bimasena. Mungkin pria itu hanya sengaja bersikap tidak peduli padanya tadi.


"Pesona Kayla Indah," serunya kepada sopir begitu sopir itu sudah berada di jok depan.


Sementara Ia sibuk mengetik pesan kepada Bimasena sambil melap air matanya yang masih saja menetes.


Ia akan mengadu kepada Bimasena, meskipun hanya lewat pesan saja.


Nadia:


Terima kasih Bim. Terima kasih perhatiannya.


Tetapi ... hidungnya mencium wangi yang tidak bisa Ia lupakan saat mobil sudah melaju. Wangi yang sangat mahal dan berkelas.


Apa Ia tidak salah?


Ia pun menggeser tubuhnya ke kiri demi memastikan ... agar Ia bisa melihat siapa yang sedang mengemudi.

__ADS_1


Pada saat yang sama, pengemudi itu berucap sambil menepikan kendaraannya. "Sama-sama Nadia, pindahlah ke depan. Duduklah di sampingku."


__ADS_2