REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
34. Apa Yang Membuatmu Berubah?


__ADS_3

Siang ini ia hanya memiliki waktu satu jam untuk bertemu dengan Nadia, karena jadwalnya hari ini sangat padat. Setelah rapatnya di Pertamina selesai, ia segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan maksimal menuju Nadia salon.


Meskipun Nadia sudah memblokir nomornya, tidak sulit baginya melacak posisi Nadia. Ia bukan pria yang gagal paham teknologi. Sehingga hanya dengan berbekal smartphone, dengan mudah ia melacak posisi Nadia. Dan saat ini Nadia terdeteksi berada di salon kecantikannya.


Tadi pagi ia sudah mengirim bunga untuk Nadia.


Namun karena ia harus mengikuti sebuah pertemuan, baru siang ini ia memiliki waktu menemui pengganggu hati pengacau harinya itu.


Tidak mungkin menemui Nadia pada malam hari, karena pada malam hari ia sudah bersama suaminya, Tristan. Sangat tidak mudah.


Ia memarkir mobilnya di depan salon kecantikan, tepat di samping mobil Nadia. Kemudian berjalan masuk ke dalam salon itu.


********


Nadia sedang berjalan melintasi ruang tunggu, membawa box yang berisi botol-botol perawatan rambut. Tanpa sengaja matanya memandang keluar melalui pintu kaca, dan melihat mobil Audy R8 yang sedang menepi, lalu hendak parkir di samping mobilnya.


Ia pun menjadi kalang kabut dengan nafas tidak beraturan. Sampai box yang ia pegang terlepas dari tangannya, dan isinya berhamburan di lantai.


Ia berlari ke dalam WC untuk bersembunyi, tetapi mengurungkannya. Bagaimana bila ada yang kebelet?


Akhirnya ia berlari menuju ruang kerjanya, lalu berteriak kepada siapa saja yang mendengar sebelum menutu pintu,


"Kalau pria yang di luar masuk, katakan aku sedang keluar!"


Ia pun menutup pintu ruang kerjanya dan menguncinya dari dalam. Khawatir Bimasena tidak percaya bila ia keluar dan memaksa masuk ke dalam.


********


Begitu Bimasena masuk ke dalam salon, ia mendapati botol-botol berserakan di atas lantai. Yang dipunguti satu persatu seorang karyawan.


Namun saat ia meminta bertemu dengan Nadia, dengan terbata-bata karyawan itu menjawab,


"M m mbak Nadia ke keluar."


"Kok mobilnya ada di luar?" Ia jelas-jelas menyangsikan ucapan karyawan Nadia.


"M m bak Nadia naik taxi online."


"Oke, aku tunggu di sini," jawabnya sambil tersenyum pada karyawan yang tidak pandai berbohong itu. Karyawan itu jadi salah tingkah ketika ia melempar senyum.


Tanpa dipersilahkan Bimasena duduk pada sofa di ruang tunggu dan menghitung mundur mulai dari angka 60 menggunakan satuan menit.


Matanya melirik tajam ke arah ruang kerja Nadia yang berpintu kaca riben. Matanya tidak bisa menembus masuk, tetapi ia yakin ada sepasang mata yang memandangnya dari dalam, di balik pintu itu.


********


Sekarang, dari balik pintu kaca riben Nadia menatap keluar ke arah ruang tunggu. Dengan mata berkaca-kaca ia berdiri memandangi seorang pria yang duduk dengan tenang di atas sofa.


Mata pria itu selalu melirik tajam ke arah ruang kerjanya. Seolah tahu ia sedang bersembunyi di balik pintu. Mungkin Bimasena tidak percaya apa yang dikatakan karyawannya.


Sesungguhnya ia tidak sampai hati membiarkan Bimasena menunggu seperti itu. Tetapi ini adalah langkah terbaik, menghadapi kegigihan Bimasena. Ia tidak boleh mempermainkan pernikahannya dengan Tristan. Sehingga ia memilih mengabaikan segala rasa pada Bimasena.


Bima, kumohon pulanglah. Jangan habiskan waktumu untuk menungguku. Aku tidak patut ditunggu.


Bukannya ia tidak ingin mencintai Bimasena. Lelaki itu sudah menghibur jiwanya. Menghangatkan kembali hatinya yang beku. Mengusir sepinya, meriangkan kalbunya.


Tetapi ia harus tetap teguh mempertahankan biduk rumah tangganya, sedahsyat apapun godaan yang datang untuk mengaramkan biduknya.


Maafkan aku Bima.


Aku tidak bisa mencintaimu.


Tapi tunggu ...


Mengapa ia selalu merindukan Bimasena?


Rindu serindu-rindunya.


Mengapa ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Bimasena?


Apa ini berarti ia menyayangi Bimasena?


Apa ini berarti ia mencin ... oh tidak, ia tidak bisa menerima bila ia mencintai Bimasena.


Tetapi segala rasa yang tumbuh di hatinya menunjukkan bahwa ia sudah ...


jatuh cinta.

__ADS_1


Dan sekarang ia harus mengubur semua rasa agar tidak membangkitkan asa, yang pada akhirnya bermuara pada lara.


*******


Bimasena melihat jam tangannya. Jam dengan merk dan model yang sama yang ia berikan kepada Nadia. Tetapi ia menggunakan versi prianya.


Sudah 30 menit berlalu. Dan Nadia masih betah mengintipnya dari balik pintu. Bisa saja ia berdiri dan menggedor pintu sampai Nadia keluar. Tetapi ia tidak ingin memaksa Nadia.


Cukup baginya menunjukkan perhatian dan perasaan, memberi ruang dan waktu kepada Nadia, sampai Nadia sendiri yang berjalan dengan ikhlas membawa diri dan hatinya kepadanya. Ia tidak boleh memaksakan keinginannya. Apalagi hendak melakukan hal-hal yang tidak gentle.


Biarlah waktu yang menjawab, kelak ia bisa bersama dengan Nadia atau tidak.


*******


Sudah 30 menit berlalu.


Nadia masih tetap berdiri pada tempatnya, memandang Bimasena keluar. Hatinya semakin tidak tega. Semakin kasihan melihat Bimasena. Sampai setetes air mata jatuh begitu saja untuk pria itu.


Ia memilih mengakhiri segala moment indahnya bersama Bimasena. Ia tidak boleh lagi merasakan buaian Bimasena yang memabukkan. Ia tidak boleh lagi terhanyut pesona Bimasena. Waktunya telah sampai pada titik akhir.


Meskipun tidak bisa bersama, hati sudah terlanjur menyayangi pria itu. Cukup sampai ia sayang saja.


**********


40 menit berlalu.


Bimasena duduk menunggu di waiting room. Nadia masih belum keluar juga dari ruang kerjanya.


50 menit berlalu.


Waktu yang tersisa tinggal 10 menit. Sepertinya Nadia betul-betul tidak ingin menemuinya lagi. Ia hanya duduk menyandarkan punggungnya. Matanya tidak lagi melirik ke arah pintu. Karena sepertinya tidak ada harapan untuk Nadia keluar menemuinya.


60 menit berlalu.


Ia akhirnya berdiri. Waktu untuk menemui Nadia sudah habis dan ia harus segera kembali ke kantornya melakukan pekerjaan yang lain. Setelah pamit pada karyawan Nadia ia pun melangkah keluar dari salon itu.


********


Dengan linangan air mata Nadia memandangi Bimasena yang berdiri dari kursinya, berbicara dengan karyawan, lalu berjalan keluar ruangan.


Dari balik jendela ia bisa melihat Bimasena berjalan ke arah mobilnya dan membuka pintu mobil. Tetapi pria berkemeja putih itu tidak langsung masuk ke dalam mobilnya. Pria itu malah berdiri menghadap ke jendela tempatnya berdiri, tersenyum dan mengangguk ke arahnya. Barulah Bimasena masuk di dalam mobilnya.


Mengapa Bimasena tersenyum dan mengangguk ke arahnya?


Oh tidak, ia baru menyadari kebodohannya.


Jendela di depannya tidak menggunakan kaca riben. Sehingga siapun yang berdiri di belakang kaca, bila kain gorden tersingkap, siapapun yang berada di luar dapat melihatnya.


Dan Bimasena sudah melihatnya.


Sudah mengetahui kebohongannya.


Maafkan aku Bima


Kita tidak bisa meneruskan ini. Semua harus berakhir.


Terima kasih untuk panggilan sayangmu Bim yang menggetarkan hati.


Di sini, di ruang hati ini. Kamu pernah singgah. Tetapi kamu tidak boleh tinggal Bim.


*******


Tristan memasuki sebuah counter handphone, yang berlogo sebuah buah yang tergigit. Sebentar lagi Hakimah berulang tahun, dan ia berniat memberinya hadiah handphone.


Sebenarnya ia tidak perlu menggelontorkan uang sepeserpun untuk membeli ponsel baru, bila saja ponsel hadiah catur itu ia tidak berikan kepada Nadia.


Namun rasa ibanya mendadak muncul pada Nadia. Yang tidak tidur menunggunya demi mengingatkan bila hari itu hari pernikahan mereka. Membuatnya menyerahkan hadiah itu kepada Nadia.


Lagian foto-foto bila ia memenangkan lomba catur dan mendapat sebuah hadiah ponsel mahal sudah tersebar di group alumni. Nadia jelas sudah tahu ia mendapat hadiah dan nantinya akan bertanya, dimana hadiahnya?


Dan sekarang, ia terpaksa merogoh kocek sebesar Rp. 27 juta untuk membeli sebuah ponsel dengan merk dan spesifikasi yang sama dengan ponsel yang diberikan kepada Nadia.


Meskipun cukup menguras tabungan, tetapi tidak masalah bagi Tristan. Wanita seperti Hakimah adalah wanita yang bernilai tinggi, layak mendapatkan hadiah yang terbaik.


Saat ia sedang melakukan transaksi di kasir, sebuah pesan masuk dari Nadia.


Nadia:

__ADS_1


Tristan, malam ini kamu makan malam di rumah ya? Aku akan memasak suki untukmu.


Ia tersenyum geli. Sejak malam ulang tahun pernikahan mereka, Nadia berubah drastis. Menjadi lebih perhatian kepadanya. Apa karena ia memberi hadiah ponsel kepada Nadia? Sebegitu besarkah pengaruh hadiah kepada seorang istri? Tiba-tiba saja Nadia jadi romantis.


********


Tadi sore saat ia pulang dari salon, ia mampir di sebuah supermaket untuk membeli bahan memasak suki. Diantaranya aneka olahan seafood, pokcoy, jamur enoki termasuk bumbu dan cabainya.


Malam ini ia menyiapkan suki untuk Tristan. Ia sudah memasak kuah suki bening dan kuah suki tom yam.


Kompor suki bersama panci tertutup yang berisi kuah, sudah ia letakkan di atas meja. Begitupun Nasi, udang kupas, dumpling chicken, fish roll, lobster ball, seafood tofu, baso ikan, crab stick, chikuwa, shrimp ball, pokcoy, jamur enoki dan cabainya juga sudah terhidang di atas meja. Bahan-bahan suki tinggal dimasak bila Tristan sudah datang.


Sekarang ia duduk di kursi menunggu Tristan pulang.


Ia tidak tahu harus melakukan apa demi menutupi rasa bersalah kepada Tristan. Di relung hatinya, ia sudah berjanji untuk lebih perhatian lagi pada Tristan dan lebih sabar menghadapi sikap Tristan. Demi menebus dosanya kepada Tristan. Karena seberapa sering Tristan menyakiti hatinya, tidak ada nilainya dibandingkan dengan pengkhianatannya kepada Tristan.


Tapi .... Bimasena, sedang apa sekarang?


Oh Tuhan, tolonglah. Mengapa Bimasena tidak mau pergi dari benaknya. Membawa rasa rindu dan pilu pula.


Ia menepuk-nepuk kepalanya untuk menjauhkan bayangan Bimasena. Kemudian ia segera menghubungi Tristan, karena sudah pukul 7 malam tetapi suaminya belum sampai di rumah. Daripada terus merindukan Bimasena, lebih baik mengobrol dengan Tristan.


Nadia: Tristan, kamu sudah di mana?


Tristan: Di jalan, sebentar lagi sampai.


Nadia: Tristan ...


Belum sempat ia berbicara, Tristan sudah mematikan teleponnya.


Hah Tristan.


Tapi ... bukankah ia sudah berjanji akan sabar menghadapi segala sikap Tristan?


Setelah beberapa menit akhirnya Tristan pulang. Ia segera ke ruang tamu untuk membuka pintu yang diketuk Tristan.


Namun begitu pintu dibuka, dadanya seperti dihantam martil. Tubuhnya mendadak melepaskan hormon adrenalin. Jantungnya memompa darah lebih banyak, membuat darahnya beredar diatas batas. Nafasnya menjadi tersengal-sengal


Yang berdiri di depannya bukan Tristan, tapi ...


Bi ma se na.


Oh Tuhan tolong aku!


"Kamu nyari Tristan ya Bim? Tristan belum pulang. Tapi kamu jangan nunggu Tristan," ucapnya dengan tergesa pada Bimasena. Tubuhnya menggigil kedinginan. Telapak tangan dan kakinya membeku.


"Aku tidak mencari Tristan. Aku ingin bertemu dengan kamu Nadia," ucap Bimasena dengan santainya.


Apa pria itu tidak memiliki rasa takut? Sebentar lagi Tristan tiba di rumah. Ia jadi belingsatan.


"Sebentar lagi Tristan tiba di rumah Bim. Kumohon pulanglah," ucapnya dengan penuh rasa tertekan dan gelisah.


Ia hampir menangis memohon kepada Bimasena agar segera pulang. Tetapi pria itu tetap berdiri di tempatnya dengan begitu santainya. Memasukkan kedua tangan di saku dengan mata yang lekat memandanginya.


"Kumohon pulanglah Bima!" Ia memelas, memohon belas kasih Bimasena agar segera meninggalkan rumah itu.


Pria itu tetap berdiri pada tempatnya. Sehingga tangannya bergerak mendorong dada Bimasena.


Tetapi dada itu penuh dengan tarikan magnet. Sehingga ia segera menarik kembali tangannya dari sana. Khawatir, jangan sampai ia menjatuhkan dirinya ke dada Bimasena.


"Aku ingin tahu, kenapa kamu tiba-tiba berubah Nadia. Malamnya kamu sudah setuju aku masuk ke kehidupan kamu. Besoknya malah kamu meminta aku menjauhi kamu. Apa yang terjadi Nadia?" Tanya Bimasena, tatapan pria itu menghujam ke jantungnya, memicu jantungnya berdegup lebih kencang. Membuat keringat dingin menguncur deras di kening dan telapak tangannya.


Ia tidak tahu harus menjawab apa karena diliputi perasaan gelisah dan ketakutan bila Tristan datang dan mendapati Bimasena berada di depan pintu rumahnya.


Ia berada dalam situasi menegangkan dan berbahaya.


Apa Bimasena ingin melihatnya mati?


Ia hendak kembali meminta Bimasena pulang.


Tetapi pandangannya mendadak kabur melihat mobil Tristan sudah menepi, dan parkir di belakang Bimasena. Jantungnya sudah melorot ke kaki. Lantai yang ia pijak terasa lunak membuat ia limbung. Ia tidak bisa bernafas lagi.


Inilah akhir hidupnya.


Tristan datang tidak sendiri.


Tristan datang bersama malaikat pencabut nyawa.

__ADS_1


__ADS_2