REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
38. Terhempas di Padang Rindu


__ADS_3

Terlebih lagi Bimasena tidak seperti biasanya. Tidak ada senyum yang terurai dari bibir pria itu. Tatapan Bimasena menikam jantungnya. Seperti hendak menerkamnya. Membuat bulu kuduknya meremang.


Mungkinkah pria itu marah kepadanya?


"Bagaimana keadaan kamu Bim?"


Bimasena tidak menjawab pertanyaannya. Mata pria itu terus-terus saja seperti elang yang mengawasi mangsa.


Membuat ia tertunduk tak mampu membalas tatapan itu.


"Kamu marah padaku Bim?" Ucapnya tanpa menatap wajah Bimasena.


Akhirnya pria itu bersuara.


"Aku tidak punya alasan untuk marah kepadamu Nadia. Apa yang kamu lakukan memang benar, menjaga harkatmu sebagai seorang istri dan menjaga keutuhan rumah tanggamu."


"Aku marah kepada diriku sendiri. Karena memiliki keinginan kuat kepadamu. Sementara aku tahu kamu telah terikat pernikahan. Dengan sahabatku pula."


"Aku menatapmu seperti ini untuk mencari celah pada dirimu, yang bisa membuat aku berhenti memujamu. Karena sikapmu yang memintaku menjauh darimu sangat mengacaukanku."


Mencari celah untuk berhenti memuja?


Mengapa ia kurang senang mendengar ucapan Bimasena. Apa Bimasena akan segera menutup bab cerita mereka berdua?


Lalu mengapa ia merasa kehilangan? Bukankah itu hal yang diinginkannya?


Nadia membenci dirinya sendiri. Membenci hatinya yang bimbang.


Tidak ingin kehilangan Bimasena tapi takut meninggalkan Tristan.


"Kamu tahu kenapa aku ikut off road padahal olahraga itu bukan hobiku? Aku ikut demi mengalihkan bayanganmu dari otakku."


"Kamu tahu kenapa aku jatuh? Di puncak tanjakan aku melihat kamu, membuat konsentrasiku buyar. Tanpa sadar tanganku menarik gas sampai full, sehingga motornya jumping dan aku jatuh."


Nadia terkesiap, darahnya mendesir. Separah itukah Bimasena padanya? Ia tidak mengerti hal apa yang ada pada dirinya yang membuat Bimasena seperti itu.


Nadia merasa Bimasena seolah bermain Dart Game. Melempar anak panahan. Tetapi anak panah dilempar ke jantungnya, bukan ke dart board. Setiap ucapan Bimasena selalu menohok jantungnya.


"Maafkan aku Bim," ucapnya lirih sambil menyeka keringat di dahinya.


Bukankah ruangan ini teramat dingin, mengapa ia berkeringat?


Oksigen dan darah berhenti beredar di tubuhnya. Sehingga fungsi organ tubuhnya tak berjalan sebagaimana mestinya lagi. Selalu saja fungsi organnya kacau bila bersama Bimasena.


"Kamu bahagia bersama Tristan?" Pertanyaan Bimasena tidak urung membuat Nadia tersentak.


Ia harus menjawab apa? Apa ia harus berterus terang atau berbohong?


"Maaf itu urusan rumah tanggaku Bim," jawabnya sambil menunduk.


"Mengapa kamu tidak ingin terbuka padaku Nadia?"


Bimasena sudah memojokkannya dan ia tidak dapat berkelit.


Yang bisa ia lakukan menunduk dan mengabsen jari-jarinya. Ibu jari, telunjuk, tengah, manis, kelingking berulang-ulang.


Bimasena mendesah, menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Baiklah kalau kamu tidak ingin menjawabnya. Masalah rumah tangga memang bukan untuk diumbar."


"Lalu mengapa kamu datang kemari? Padahal melalui group Aurel sudah menyampaikan bila aku tidak menerima kunjungan?"


Nadia sudah mati langkah. Bimasena sudah mengunci langkahnya dengan pertanyaan.


Apakah ia harus jujur menjawab, karena aku sayang kamu Bim. Tidak boleh, ia tidak boleh memberi harapan kepada Bimasena.


"Aku khawatir terhadap kamu Bim." Jawaban sederhana, tapi begitu sulit mengatakannya.


"Kenapa kamu mengkhawatirkan aku?"


Oh Tuhan, mengapa Bimasena tidak berhenti memberondongnya dengan peluru pertanyaan.


"Jangan desak aku Bim, kumohon!"


"Aku tidak mendesakmu Nadia, aku cuman ingin memastikan, apakah kamu juga menaruh rasa yang sama dengan perasaanku kepada kamu. Jawablah Nadia, tidak beratkan?" Nada suara Bimasena mulai meluruh. Tetapi pertanyaannya sama saja, seperti peluru.


Tidak ada suara yang keluar dari mulut Nadia. Yang keluar dan tidak dapat dibendung hanya keringat dingin dari dahi dan telapak tangannya. Ia menunduk karena wajah Bimasena seperti jaksa yang sedang menuntut terdakwa. Sampai saat ini belum ada sekalipun senyum yang ia dapat dari Bimasena.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau jawab." Bimasena bangun dari tidurnya, menyingkirkan selimut ke kanan lalu berdiri dan melangkah ke kamar mandi.


Membuat mulut dan mata Nadia berbarengan membulat. Bukan karena tubuh tinggi dan badan atletis itu.


Tetapi karena Bimasena hanya mengenakan boxer, tanpa malu berjalan di depannya.


Dan, mengapa ia berjalan seperti biasanya? Bukankah ia mengalami patah kaki?


Begitu Bimasena keluar dari kamar mandi, ia pun balas menodong Bimasena dengan pertanyaan.


"Bim bukannya kaki kamu patah?" Sekarang Nadia sudah menatap wajah Bimasena. Bukan karena berani, namun melihat ke bawah ke arah boxer itu lebih 'menakutkan'.

__ADS_1


Ia tidak habis pikir mengapa pria itu tidak punya rasa risih sama sekali, justru ia yang merasa risih dan grogi.


"Ternyata kakiku mesti patah dulu, baru kamu ingin datang kepadaku," keluh Bimasena.


"Aku kan gak pernah bilang patah kaki, ucapanku belum selesai kamu langsung memotong. Kamu sendiri yang bilang patah kaki kan? Aku juga tidak mengiyakan." Bimasena membuka tutup botol air mineral dan menandaskannya separuh bagian.


Iya benar. Memang ia memotong ucapan Bimasena. Dengan hempasan yang begitu keras saat terjatuh sangat wajar bila ia berpikir Bimasena mengalami patah kaki.


"Jadi apanya yang patah Bim? Kemarin kamu sempat bilang patah kan?"


"Hati Nadia, hati yang patah karena kamu." Bimasena berjalan mendekatinya. Seketika tubuhnya bergidik.


Perlu diketahui, ia sekarang berada di dalam kamar Bimasena. Dan pria itu ternyata tidak sakit, bahkan sangat bugar. Di rumahnya saja, di ruang tamu Bimasena nekat melakukan itu apalagi di kamar Bimasena sendiri.


Dan sekarang pria itu duduk di depannya, di sisi ranjang. Menghadap ke arahnya. Sehingga ia dilanda panik. Dengan segera ia berdiri dari kursi.


"Kita ngobrol di luar aja Bim," serunya lalu dengan langkah cepat ia berjalan ke arah pintu meninggalkan Bimasena.


Tentu saja ia tidak boleh berlama-lama di dalam kamar itu. Mengumpankan tubuhnya pada Bimasena. Karena mereka tidak hanya berdua di ruangan itu. Tetapi ada setan yang menyertai mereka.


Dan setan itu mulai beraksi merayunya.


Nadia, jangan keluar. Tetaplah di dalam kamar. Apa kamu tidak ingin Bimasena kembali membawamu merasakan syurga?


Ia harus cepat keluar selagi otaknya masih berfungsi normal. Sebelum setan mengalahkan dirinya.


Tetapi begitu membuka pintunya, ia baru ingat, pintu itu tadi otomatis terkunci. Dan untuk membukanya perlu fingerprint atau kode pin.


Lihatlah tubuh pria itu Nadia. Kamu pasti tidak lupa seperti apa dibalik singlet dan boxer itu. Jangan lewatkan kesempatan ini. Bukankah kamu belum pernah merasakan sebelumnya kenikmatan yang telah diberikan oleh Bimasena.


Ia pun berbalik menatap Bimasena yang masih duduk di pinggir ranjang.


"Bagaimana cara membuka pintu ini Bim?"


Otaknya mulai kacau. Karena setan itu semakin tidak sopan merayunya.


Kamu tidak akan mendapatkan kenikmatan itu pada Tristan. Jangan keluar kamar Nadia.


Untuk pertama kalinya sejak ia datang, Bimasena tertawa. Mungkin menertawakan dirinya yang kelimpungan.


"Kamu sudah masuk ke kamar ini dengan kaki kamu sendiri Nadia. Dan kamu tidak akan bisa keluar lagi," ucap Bimasena dengan tenang. Tersenyum ke arahnya.


Bimasena tenang tetapi Nadia tegang.


Lihat senyum itu, bukankah sangat memikat?


Tidak Nadia, Bimasena tidak boleh menaklukanmu.


"Bim, buka pintunya. Tidak baik kita berduaan di dalam kamar," rengeknya pada Bimasena yang semakin dekat.


Akhirnya otaknya berfungsi normal.


Tetapi hanya sesaat. Karena saat kedua tangan Bimasena bertumpu pada pintu mengurung pergerakannya, Nadia sudah hilang akal.


Ia hanya menyandarkan tubuhnya di pintu agar sedikit berjarak dari Bimasena.


"Katakan kenapa kamu mengkhawatirkan aku Nadia!" ucap Bimasena dengan suara lirih. Pria itu masih mengulangi pertanyaan dan semakin mendesaknya.


Nadia tidak menjawab, hanya membuang mukanya ke samping untuk menghindari tatapan mematikan Bimasena. Ia tidak ingin menunduk, karena menghindarkan mata dari melihat hal yang menakutkan (Menakutkan tapi me ... )


Ia bisa mendengar nafas berat dari Bimasena. Tentu karena pria itu sedang menahan gejolak.


Jantungnya memompa darah dengan sangat cepat sehingga ia menjadi tersengal-sengal. Seperti habis berlari dengan kecepatan maksimal di atas treadmill.


Terlebih lagi merasakan hembusan hangat nafas pria itu, serta mencium aroma tubuhnya. Sangat memabukkan.


Dengan lembut tangan Bimasena menyentuh pipinya, memalingkan dan mengangkat dagunya, sehingga mata mereka saling bertaut.


"Katakan kenapa Nadia?" suara Bimasena terdengar serak di telinganya. Begitu seksi, suara yang memendam hasrat menggebu.


Akhirnya ia luluh.


"Karena aku sayang kamu Bim."


Oh Tuhan, apa yang telah diucapkannya.


"Ulangi Nadia!"


"Karena aku sayang kamu. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu."


Biarlah, sudah terlanjur, biarlah Bimasena mengetahui apa yang dirasakan olehnya.


Ia bisa melihat bagaimana Bimasena tersenyum penuh kemenangan.


Dan ia tidak tahu bagaimana awalnya, yang ia tahu sekarang bibirnya berada dalam kulu man bibir Bimasena. Terbuai oleh ciuman yang begitu lembut, menyesatkan ke padang gairah, tempat para musafir cinta saling membunuh rindu.


Degup jantungnya melembut, kakinya melunak. Terhanyut kelembutan yang diberikan Bimasena. Belaian tangan yang lembut menghangatkan punggungnya.


Di mana ia berada? Ia tidak tahu di mana. Mungkin di padang rindu.

__ADS_1


Dan bisikan tepat di atas telinganya, semakin membuatnya terbang jauh dari bumi.


"Aku sayang kamu Nadia, sangat sayang." Bisikan yang diserta kecupan di bawah telinga. Sangat menghipnotis. Ia seperti berayun-ayun dalam buaian Bimasena. Tidak ingin lagi pergi ataupun lari dari Bimasena.


"Kamu tahu bagaimana perihnya rindu?" bisik Bimasena kembali. Dibalas anggukan olehnya.


Ya, ia tahu, sangat tahu bagaimana perihnya rindu. Dan ia yakin, rindunya lebih perih dari rindu Bimasena.


Ia seolah jiwa yang kedinginan, menemukan tempat yang hangat penuh kelembutan. Ia tenggelam, tenggelam dalam dekapan penuh kepasrahan.


Sampai ia tersentak oleh sentuhan dan remasan lembut tangan Bimasena pada tempat yang sangat terlarang untuk pria itu.


Kesadarannya kembali.


"Jangan Bim, jangan mengulangi dosa itu!" pintanya kepada Bimasena.


"Jangan menghalangi langkahku di tengah jalan Nadia," cetus Bimasena dengan suara lembut.


Jiwanya terlalu rapuh, hanya dalam sedetik ia kembali ditenggelamkan Bimasena. Bertekuk lutut di kaki Bimasena. Menghilir dalam keindahan yang merasuki raga, memberi warna-warna dan bernada syahdu.


Tetapi tiba-tiba Bimasena menghentikan semuanya. Membuatnya bertanya-tanya.


Pria mencium puncak kepalanya, lalu merenggangkan dekapan.


"Kapan tanggal terakhir haidmu?"


Ia mendongakkan kepala menatap Bimasena meskipun sangat sulit. Karena jarak mereka hanya beberapa centimeter. Dan wajahnya nyaris tenggelam di dada Bimasena.


"Kenapa kamu tanya itu Bim?"


"Aku ingin tahu. Karena aku yakin, sejak malam itu, benihku sudah bersemayam dan tumbuh di rahimmu. Dan bila kamu hamil, maka aku Ayah dari bayi yang kamu kandung."


Nadia terkesiap. Bagaimana bisa Bimasena memikirkan hal sejauh itu. Berbicara semudah itu. Hal yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali. Karena merasa ia hanya wanita mandul. Belum pernah hamil padahal sudah lima tahun lamanya menjalani pernikahan.


"Apa yang kamu inginkan Bim?" tanyanya, kurang paham apa yang diinginkan Bimasena.


"Aku ingin kamu melahirkan anakku." Bimasena mengusap rambut di keningnya.


"Tapi aku belum pernah hamil. Mungkin aku ... man .. dul."


"Tidak Nadia, kamu tidak mandul, lihat saja nanti. Aku yakin kamu pasti hamil."


Ia kembali tenggelam dalam dekapan Bimasena. Bergerak berirama. Tetapi sekarang ia tidak berada di padang rindu lagi. Tetapi memikirkan kata 'bayi'. Bayi yang sudah lama ia rindukan. Namun belum diberi kepercayaan oleh Tuhan.


Bibir Bimasena kembali menjalar mencari bibirnya. Menyesap lembut meleburkan rasa. Rasa cinta yang menyesatkan.


Namun gedoran pintu mengagetkan mereka berdua. Menghempas Nadia kembali ke bumi yang berpermukaan kasar. Bibir pun berhenti berpagut.


"Brengsek! Siapa lagi mengganggu." Bimasena memaki kesal.


Bimasena mendekatkan matanya pada door viewer untuk melihat siapa yang menggedor pintunya.


"Sial, Alfredo dan Danindra, mengapa juga Danindra saya kasih access card." Bimasena mengumpat, menyesali telah memberi kemudahan Danindra memasuki apartemennya. Padahal ia pun juga memegang access card apartemen Danindra.


Nadia tersentak mendengar nama Alfredo. Wajahnya mendadak pucat pasi. Lututnya gemetar. Terlebih dari luar pintu kembali digedor dengan lebih keras.


"Jangan takut sayang. Aku keluar dulu. Kamu tunggu di dalam," bisik Bimasena sambil mencium pipinya begitu melihatnya panik ketakutan.


Bagaimana ia tidak takut? Bila Alfredo mengetahui keberadaannya di dalam kamar Bimasena, maka ...


Kiamatlah dunianya. Tamat ceritanya.


******


Readersku tersayang,


Bagaimana kabarnya?


Berharap kalian tetap sehat dan penuh kebahagiaan.


Author dalam menulis sangat tergantung pada mood.


Dan desakan-desakan yang meminta UP dari readers, membuat author semakin bersemangat menulis. Merasa novel ini ditunggu-tunggu readers, hal yang sangat membahagiakan bagi author.


Terimakasih sudah menunggu updatenya novel ini.


Terimakasih bagi readers yang selalu meminta UP. Kalian semangatku.


Apalah artinya author tanpa readers.


Salam sayang dari Author Ina AS


๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


********


Ada yang belum kenal Adinda?


__ADS_1


__ADS_2