REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
49. Kaliurang Reunion (4)


__ADS_3

Berdua membuat lupa.


Terlebih tidur dalam pelukan Bimasena. Apalagi malam ini Bimasena memperlakukannya dengan sangat lembut. Karena menurut Bimasena ia adalah perempuan hamil yang harus dijaga.


Tidak seperti biasanya, tidak ada gairah yang bergejolak pada Bimasena malam ini. Tidak ada ***** yang meletup-letup. Tidak ada tangan nakal yang merayap dan meremas.


Bimasena hanya memeluk dan membelai punggungnya. Sangat nyaman, menenteramkan, berada dalam pelukan laki-laki yang menawarkan indahnya sebuah cinta. Mereka larut, berselancar di dalam rindu.


"Sudah berapa lama nggak datang bulan?" bisik pria itu di telinganya.


"Lupa," jawabnya seadanya.


"Setelah di sofa pernah datang bulan?"


Ia menggeleng.


"Itu sudah tiga bulan sayang. Tahu kamu hamil gak bakal aku membolehkan kamu jauh-jauh datang kemari. Naik pesawat, naik bus lagi," desah Bimasena dengan nada cemas.


Nadia hanya tersenyum di dada Bimasena. Kekhawatiran Bimasena membuatnya bahagia. Toh selama ini tidak ada yang mengkhawatirkan dirinya.


Apa perlu membuat Bimasena terus khawatir bila itu membahagiakan?


"Selama ini nggak ada keluhan?"


"Lemas saat pagi dan sore. Mual."


"Kok nggak pernah ngomong sih?"


Nadia tidak menjawab pertanyaan Bimasena dan lebih memilih merapatkan wajahnya pada dada pria itu. Mencium wangi maskulin tubuh Bimasena, ibarat aroma therapy yang sangat menenangkan.


"Sampai sekarang kamu masih tertutup padaku," keluh pria itu.


"Aku takut, apa yang aku ceritakan nggak ada yang penting buat kamu Bim." Akhirnya ia mengatakan hal yang selalu mengganjal hatinya. Selalu menciutkan percaya dirinya. Pendidikan, harta, status perkawinan dan status sosial, membuat ia tidak ubahnya remahan roti bagi Bimasena.


Ia mendengar Bimasena mendesah.


"Nadia, segala sesuatu menyangkut kamu penting buatku."


Ia kembali diam dan menyembunyikan wajah pada dada Bimasena.


"Janin tiga bulan itu seperti apa ya?" lontar pria itu penasaran. Bimasena melepaskan pelukannya, lalu meraih handphone dari atas nakas.


Bimasena membuka aplikasi mesin pencari dan memasukkan keyword-nya. Ia yang ikut penasaran memperbaiki posisi kepalanya, tidur berbantal lengan Bimasena.



Sumber: www.enfa.co.id


Ia tersenyum melihat gambar janin dalam handphone Bimasena.


"Sudah punya kaki, tangan, jari, telinga, hidung," ujar Bimasena. "Kira-kira laki apa perempuan ya?" Lanjut pria itu.


Ia hanya tersipu mendengar pertanyaan Bimasena. Baginya laki-laki atau perempuan sama saja. Yang terpenting adalah ia bisa memiliki anak.


Namun saat mereka sedang senang-senangnya melihat berbagai gambar janin tiga bulan, sebuah notifikasi dari group chat alumni membuat mereka berdua terusik.


Sebuah pesan dari Mithalia pada group alumni.


Mithalia:


Bima dan Nadia kemana ya? Kok nggak ikut bergabung di rooftop. Jangan-jangan punya acara sendiri.


Seketika itu juga Nadia melonjak bangun. Dengan segera ia turun dari tempat tidur, mengambil celana denim dan pakaian dalamnya yang diletakkan Bimasena di atas meja.


"Nadia, hati-hati. Kamu sedang hamil," seru Bimasena menyusulnya bangun dari tempat tidur.


"Kok Mitha ngomong gitu sih? Jangan-jangan Mitha sudah tahu?" ucapnya sambil mengenakan pakaian dalam dengan tergesa-gesa.


"Nggak, kamu nggak usah panik begitu Nadia."


"Aku duluan ke rooftop ya Bim, kita jangan bersamaan," ujarnya begitu selesai mengenakan kembali celana denim serta sweater-nya.


"Kamu jangan tergesa-gesa gitu Nadia, keep calm. Ingat kamu sedang hamil."

__ADS_1


Tetapi seperti itulah Nadia, tidak mengindahkan ucapan Bimasena. Karena panik, gegabah dan tergesa, tanpa memastikan keamanan medan, ia keluar begitu saja dari pintu kamar Bimasena.


Begitu membuka pintu, ia dikejutkan dengan Alfredo yang sudah berdiri tepat di depannya.


Ia sudah tersedot ke dalam kegelapan dan tidak bisa lagi bisa bersembunyi dalam kegelapan. Aib yang ditutupi sudah terbuka.


Lehernya seakan-akan tercekik, tak ada suara tak ada udara. Ia sama-sama kaget dan hanya saling menatap dengan Alfredo.


Beruntung Bimasena segera menyelamatkannya. Saat ia sudah berdiri di bibir jurang dan hampir terjatuh.


"Nadia meminjam charger," ucap Bimasena dari balik punggungnya, menjawab wajah penuh tanda tanya Alfredo.


"Permisi," dengan segera ia berpamitan, meninggalkan Bimasena dan Alfredo menuju Rooftop. Tanpa berhenti merutuki keteledorannya. Keluar begitu saja dari kamar Bimasena. Mudah-mudahan Alfredo percaya dengan alasan yang dikemukakan Bimasena.


**********


Alfredo menutup pintu kamar dan masuk ke dalam kamarnya. Lalu menarik kursi dan duduk di atas kursi itu.


"Bim, berhentilah. Kamu tahu kan bagaimana risikonya bermain-main dengan istri orang. Banyak wanita di luar sana yang bebas kalau kamu ingin bermain-main," ujar Alfredo dengan tatapan menghakimi.


Bimasena hanya tersenyum kecut dan duduk di sisi tempat tidur.


"Aku nggak sedang bermain-main. I'm serious and ... I can't stop."


"Jangan melewati batas Bim! Kamu sudah lepas kendali. Persaudaraan alumni kita bisa hancur karena ulah kamu."


Memang benar apa yang dikatakan Alfredo. Ia sudah melewati batas. Tetapi ia sudah melangkah dan tidak akan berbalik lagi.


"Suatu saat, aku, Nadia dan Tristan akan menghilang dari group. Jangan karena kami kalian bubar. Lanjutkanlah apa yang sudah berjalan. Ini adalah masalah pribadi kami."


"Tristan sudah tahu?"


"Belum. Begitu tiba di Jakarta aku akan memberi tahu semuanya kepada Tristan."


"Betul kamu serius kepada Nadia?" Alfredo tidak berhenti mencecarnya.


"Yeah, I'm serious," jawabnya dengan sungguh-sungguh.


"Apa sih yang menarik dari Nadia sampai kamu bertindak di luar nalar? Kalau cantik, banyak yang lebih cantik."


Memang benar, dulu wanita itu pernah memanah kalbunya. Sejak ia bertemu kembali, Nadia masih membawa anak panah yang sama, kembali menancap di kalbunya. Dan kini wanita itu menjadi obsesinya.


******


Kedatangan Nadia yang terlambat di rooftop seolah menjadi perhatian. Membuatnya kikuk sehingga segera ke meja makan untuk mengambil makanan. Setelah mengambil makanan, ia bergabung di meja Kamila serta Janah, daripada harus bergabung dengan Mithalia yang menatapnya dengan curiga.


Nadia berharap semoga ia yang salah merasa, mata-mata kaum hawa yang duduk di meja Mithalia dan Reyna menatapnya seolah tengah menggunjingnya.


Mungkin bangkai yang ia tutupi dengan daun jati sudah mulai membusuk. Ibarat menyembunyikan sebilah pedang, akhirnya akan menggores dan melukai. Hanya tinggal menunggu waktu. Bom waktu akan meledak dengan ledakan terdahsyat.


Yang membuatnya sedikit bernafas lega, karena dari dalam restoran, ia melihat suaminya berdiri di pinggir kolam renang bersama beberapa teman pria. Tristan masih bersikap wajar, seperti biasanya. Sehingga mungkin, ia tidak perlu terlalu cemas.


Hatinya kembali riang saat melihat Bimasena muncul dari dalam lift bersama Alfredo. Dari lift Bimasena langsung menuju meja makan mengambil makanan. Sementara Alfredo bergabung dengan teman pria di samping kolam renang.


Pria itu sempat melempar senyum ke arah mejanya. Entah tersenyum kepadanya, Janah atau Kamila.


"Oppss, senyumnya gila," seru Janah. Ternyata bukan hanya Mithalia dan Reyna yang mengagumi Bimasena. Ataukah semua wanita lajang mengagumi pria itu?


Ah sangat mengkhawatirkan.


Namun selanjutnya makanan yang ia telan sudah tidak bisa turun melewati lehernya. Karena Bimasena ternyata turut bergabung di mejanya. Duduk pada kursi tepat di sampingnya.


Bukankah tindakan Bimasena ini mengundang perang yang terlalu dini? Mengundang gunjingan?


Atau Bimasena sengaja melakukannya?


"Kalian udah makan?" sapa Bimasena kepada Kamila dan Janah.


"Udah, silahkan makan Bim," jawab Kamila.


Terlebih tiba-tiba saja Mithalia berdiri dari kursinya dan menghampiri mereka. Berdiri di samping Bimasena.


"Kalian berdua dari mana saja sih? Kok lama baru bergabung?" tanya Mithalia dengan pandangan menuduh pada mereka berdua.

__ADS_1


"Dari kamar," jawab Bimasena mendahuluinya sambil memakan potongan kari ayamnya.


"Kamar siapa?" lanjut Mithalia dengan pandangan sinis kepadanya.


Mungkinkah Mithalia sudah curiga? Sepertinya.


"Ya kamar masing-masinglah, pertanyaan kamu juga sih," Bimasena yang kembali menjawabnya, merasa terusik dengan pertanyaan kurang sopan dari Mithalia.


Tetapi selanjutnya baik wajahnya maupun wajah Mithalia sama-sama memerah karena tindakan Bimasena.


"Kamu nggak coba udang tepungnya?" tanya Bimasena kepadanya.


Ia menggeleng.


Dengan serta merta Bimasena memindahkan beberapa udang goreng tepung ke dalam piringnya. Tanpa peduli ada Mithalia yang berdiri di sampingnya.


Sikap Bimasena yang tidak mengenal situasi bisa membunuhnya. Memberikan perhatian di depan teman-temannya terutama Mithalia. Apa lelaki itu tidak berpikir? Atau sengaja membongkar hubungan mereka pelan-pelan?


Ia memang tidak mengambil banyak makanan untuk mengurangi asupan kalori. Tetapi hampir semua lauk Bimasena berpindah ke piringnya.


Bagaimana menelan semua lauk yang ada di piringnya? Sementara sikap Bimasena sudah membuat lehernya tercekat.


"Udah Bim, kebanyakan," keluhnya ketika Bimasena masih memindahkan potongan ayam kari ke piringnya.


Jikalau mereka sedang makan malam berdua, tentulah sangat senang mendapat perhatian seperti itu dari Bimasena. Tetapi Bimasena melakukannya di depan mata Kamila, Janah dan Mithalia. Mengapa tidak sekalian mencekik lehernya saja?


Ia bisa kembali bernafas, karena setelah menghabiskan makanannya, Bimasena pamit bergabung dengan teman pria di samping kolam renang. Barulah lauk di piringnya bisa dilahapnya satu persatu.


Dan sebuah pesan masuk dari Bimasena membuatnya tersenyum.


Bimasena:


Habiskan makanannya sayang, aku tidak ingin anakku kelaparan.


Setelah makan mereka berkumpul di samping kolam renang.


Melalui pengeras suara Afdal menyapa para alumni.


"Selamat malam teman-teman. Terima kasih telah jauh-jauh datang ke Yogyakarta. Semoga liburan akhir pekan kali ini menyenangkan buat teman-teman."


"Silahkan menikmati dinginnya malam di Kaliurang tanpa pasangan, kecuali buat Tristan dan Nadia."


"Besok pagi setelah sarapan, pukul 08.00 kita berkumpul di depan hotel. Kita akan mengikuti Lava Tour Merapi. Mengeksplorasi keindahan Merapi dengan menggunakan mobil jeep."


Tidak tanggung-tanggung layanan yang diberikan oleh Afdal. Para peserta reuni menyambut dengan senang, tidak terkecuali dirinya. Lumayan menambah koleksi foto untuk akun sosial medianya. Lagian ia belum pernah mengikuti tour semacam ini.


Tetapi pesan yang dikirim Bimasena padanya membuyarkan keinginannya untuk bersenang-senang.


Bimasena:


Kamu nggak boleh ikut lava tour sayang. Beresiko untuk perempuan hamil.


Apa? Kapan lagi ia bisa mengikuti tour semacam ini bila bukan sekarang?


Nadia:


Jadi aku tinggal sendiri di hotel?


Bimasena:


Aku temani.


Seperti inikah jadi perempuan hamil?


Mesti banyak makan dan tidak boleh bersenang-senang?


*******


Readersku tersayang,


Apa kabarnya? Semoga selalu mendapat limpahan kesehatan dan kebahagiaan dari Sang Pencipta.


Terima kasih atas segala dukungannya pada novel ini.

__ADS_1


Salam sayang dari Author Ina AS


😘😘😘


__ADS_2