REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
121. Lembar Baru


__ADS_3

Mungkin Nadia membutuhkan pasokan nyawa unlimited, serupa permainan game. Karena kejutan-kejutan yang diberikan oleh Bimasena, nyaris membuatnya kehabisan nyawa.


Baru saja melaksanakan pertunangan, esoknya sudah harus terbang ke Bali untuk melaksanakan pernikahan secara private. Yang hanya dihadiri tidak lebih dari 30 orang tamu undangan.


"Awalnya pernikahan direncanakan dilaksanakan di Amerika bulan depan. Tetapi tiba-tiba Pak Bimasena melakukan perubahan mendadak."


"Pak Bimasena tidak ingin mengulur waktu lagi. ingin secepatnya menikah dengan Mbak Nadia," terang Aurel yang datang menjemputnya di rumahnya. "Alasannya, Pak Bimasena yang tahu sendiri."


"Tapi aku belum memiliki baju!" protesnya kepada Aurel yang menjadi tangan kanan Bimasena untuk urusan ini.


"Gaun pengantin sudah disiapkan Mr.HT, Mbak," pungkas Aurel.


"Bagaimana kalau tidak muat? Aku kan belum fitting," selanya. Tentu ia tidak ingin sepanjang waktu menahan nafas seperti saat pertunangannya kemarin.


"Mbak Nadia nggak perlu khawatir. Mr. HT sudah menunggu di Bali untuk persiapan gaun pernikahan Mbak Nadia dan Pak Bima," imbuh Aurel yang dapat meredakan sedikit kecemasannya.


"Daddy -nya Glor di mana?" tanyanya kepada Aurel. Karena selepas acara pertunangan mereka semalam, pria itu menghilang tanpa ada komunikasi dengannya. Tahu-tahu Aurel datang memintanya berangkat ke Bali untuk acara pernikahan. Bagaimana ia tidak bingung?


"Pak Bimasena akan menyusul ke Bali," jawab Aurel.


Bang Herial, Mpok Nana, Lily dan seorang baby sitter ternyata telah lebih dahulu tiba di Saphire Precious Lounge yang terletak di kawasan Terminal 1 Bandara Soekarno Hatta. Lounge ini melayani keberangkatan dan kedatangan penerbangan private jet.


"Kita akan menggunakan private jet," beber Aurel yang membuatnya terperanjat. Karena merupakan pengalaman pertamanya menumpangi jet pribadi. Selama ini ia hanya melihat jet pribadi dari unggahan para artis papan atas melalui akun sosial media.


Meskipun Aurel sudah menyiapkan baby sitter untuk Glor, ia tetap menggendong sendiri puteranya saat mereka hendak naik pesawat.


Sebuah kendaraan layanan khusus mengantar mereka menuju pesawat yang akan membawa mereka ke Bali. Begitu turun dari mobil, ia memandangi sejenak pesawat yang akan mereka tumpangi.


Sebuah private jet berwarna grey dengan desain stylish. Warna kesukaan Bimasena.


Tetapi kemudian ia terhenyak. Namun bukan warna grey itu yang membuatnya terhenyak.


Ia terhenyak setelah membaca tulisan pada badan pesawat. Pada badan pesawat terdapat sebuah tulisan dengan empat huruf kapital.


G L O R


"Ini pesawat punya siapa?" berondongnya pada Aurel yang banyak tahu mengenai Bimasena.


Aurel tersenyum padanya sembari mencubit pipi montok bayi yang ia gendong.


"Punya anak cakep ini dong. Hadiah ulang tahun yang ke satu dari Daddy," jelas Aurel yang membuat mulutnya menganga. Tidak bisa memercayai bila Glor mendapat hadiah pesawat hanya karena berulang tahun.


Ia tahu Bimasena masuk dalam kategori orang kaya. Tetapi ia tidak menduga Bimasena mampu membeli sebuah pesawat.


Bukan pesawat mainan.


"Kamu serius Aurel? Nggak becanda? Pesawat ini dibeli bukan disewa?"


"Buat apa becanda Mbak?" balas Aurel tertawa. "Mbak Nadia meragukan kemampuan Pak Bimasena membeli private jet ?"


"Daddy -nya Glor salah satu pemegang saham FreddCo Energy. Keluarganya pemegang saham mayoritas. Dan FreddCo Energy Indonesia yang anda lihat, hanya bagian kecil dari jaringan FreedCo Energy yang tersebar di semua negara penghasil minyak," papar Aurel.


Padahal Glor belum mengerti arti hadiah private jet. Bila saja diminta memilih, tentu saja Glor memilih pesawat mainan yang berbahan plastik daripada pesawat beneran.


Ia berdecak kagum begitu memasuki kabin pesawat. Desain interiornya begitu mewah. Menampilkan semua teknologi terbaru dan fasilitas kenyamanan. Bahkan juga tersedia dapur mewah berlantai batu yang tersaji aneka makanan.


Apa ia sedang bermimpi melihat kemewahan yang tersaji di depan mata?

__ADS_1


Tetapi sayang, pria yang ia tunggu-tunggu tidak menumpang pesawat yang sama dengannya.


Begitu tiba di Bandara Ngurah Rai, sebuah mobil menjemput mereka dan membawa mereka ke daerah ubud. Ke sebuah hotel mewah.


Tiba di hotel, ia disibukkan dengan fitting gaun pengantin.


Mr. HT mendesain sebuah wedding dress model mermaid berwarna putih untuknya.


Lagi-lagi ia bermasalah pada ukuran gaun yang menjadi sempit karena sedikit perubahan bentuk tubuhnya. Tetapi ia tidak perlu khawatir karena dengan cepat Mr. HT dapat memodifikasi gaunnya. Ia tetap bisa terlihat langsing dalam balutan baju mermaid itu.



Sampai ia kembali ke kamar untuk tidur, ia belum pernah bertemu dan berkomunikasi dengan Bimasena. Mungkinkah Bimasena beserta keluarga menempati hotel yang berbeda?


Karena terlalu sering diberi kejutan, hatinya tidak berhenti deg-degan. Ia dilanda stres menjelang pernikahannya. Ia cemas bila terjadi sesuatu yang akan menghalangi pernikahannya dengan Bimasena.


Terlebih lagi sampai saat ini ia belum bisa berkomunikasi dengan pria itu. Padahal ia sangat mengharapkan kehadiran Bimasena saat ini untuk menenangkan dirinya.


Satu hal lagi yang membuatnya cemas.


Malam pertama.


Meskipun bukan hal baru baginya dan Bimasena, namun ia dilanda cemas tidak bisa menyenangkan Bimasena pada saat malam pertama. Karena ia tidak sempat menjalani perawatan kecantikan pranikah. Padahal seorang pengantin layaknya merawat tubuh sebelum menikah.


Semua karena kejutan-kejutan yang dibuat Bimasena membuatnya kurang persiapan.


********


Pernikahan mereka di laksanakan di sebuah villa di Ubud.


Ia mengira konsep outdoor pernikahan mereka berlatar pantai sebagaimana ciri khas Bali. Namun ternyata lokasi pernikahan yang dipilih oleh Bimasena adalah di Ubud.


Ia duduk di sebuah kursi bersama Glor menanti calon pengantin pria datang. Matanya menyapu setiap undangan yang duduk di kursi kayu.


Jumlah undangan sangat terbatas.


Hampir sebagian besar undangan yang duduk berwarga negara asing. Mungkin para kolega Bimasena yang datang dari luar negeri.


Ada pasangan yang ia kenal diantara para orang asing itu. Pasangan Tristan dan Triyasih. Alfredo dan pasangan. Juga Danindra bersama seorang wanita cantik. Ia pun melempar senyum dan mengangguk kepada pasangan-pasangan tersebut.


Rombongan keluarga pengantin pria akhirnya tiba. Hatinya lega melihat sosok dengan setelan jas berwarna grey berada di antara keluarga.


Calon mempelai pria.


Tetapi begitu sang calon mempelai pria melempar senyum kepadanya, ia buru-buru menundukkan wajah tanpa bisa menyembunyikan rasa groginya.


Bagaimana caranya mengusir grogi setiap berjumpa dengan pria itu?


Masa yang dinanti telah tiba.


Semua perasaan bercampur menjadi satu. Senyum yang tersungging di bibir mengutarakan perasaan hatinya yang berbinar bahagia.


Pancaran pesona mata cokelat yang memikat. Membuat setiap waktu dirinya selalu terpesona. Hingga ia dibutakan rasa cinta.


Sumpah terucap pada bibir pemilik mata cokelat itu. Untuk bergandengan tangan dan berjalan bersama melalui jalan panjang pernikahan. Menghadapi seluruh waktu di dunia bersama. Berlandaskan rasa cinta, saling menghormati dan saling menjaga.


Janji suci pria itu menggetarkan sukmanya. Merayap sampai ke urat-urat nadinya. Kini ia telah membuka lembaran baru dalam hidupnya dan menutup lembaran-lembaran lama yang usang. Tidak mudah untuk mencapai tahapan ini. Mereka harus melalui jalan terjal yang berliku.

__ADS_1


Hatinya berdebar kencang dibawah hujaman tatapan romantis sang mata cokelat, kala tangan pria itu melingkarkan cincin kawin pada jari manisnya.


Lalu sebuah ciuman hangat berlabuh pada keningnya.


"Istriku," bisik pria itu menghangatkan jiwanya.


Istriku. Satu kata yang nilainya lebih besar dari dunia. Yang berarti pria di depannya telah menjadi suaminya.


Apakah ia sedang bermimpi?


Atau mimpinya jadi nyata?


Mimpinya sederhana. Tidur di samping pria itu di setiap malamnya. Dan melihat wajah pria itu disetiap ia terbangun kala pagi. Pria yang datang memberi warna dalam hidupnya yang suram. Membuat hatinya berhenti dalam pengaguman.


Ia dan Bimasena yang menggendong Glor berdiri di atas pelaminan, menyambut satu persatu tamu yang datang menyampaikan ucapan selamat.


Tetapi yang menjadi perhatiannya adalah momen ketika dua sahabat lama bertemu. Tristan dan Bimasena.


"Selamat Bro. Aku percaya kamu bisa menjaga Nadia dengan baik. Jangan melakukan kesalahan seperti yang aku lakukan. Dia wanita yang baik. Semoga kalian menjalani pernikahan dengan bahagia," pesan Tristan pada Bimasena. Keduanya saling berjabat tangan dengan erat.


Di belakang Tristan dan Triyasih, menyusul Danindra dan teman wanitanya. Tetapi ucapan selamat Danindra justru membuat pipinya merah padam.


"Selamat untuk pernikahan kalian. Sepertinya Ramo Verde Prison (penjara di Caracas) sudah berbuah hasil ya?" Danindra melirik nakal ke arahnya yang dibalas dengan gelak tawa oleh Bimasena.


Danindra mengesalkan, tetapi Bimasena jauh lebih mengesalkan. Ia menghunuskan tatapan kesal pada pria yang telah menyandang status sebagai suaminya.


"Aku bukan pemain bola, tetapi tendanganku ke arah gawang selalu terukur dan akurat. Pasti menghasilkan gol," ujar Bimasena membanggakan diri. Sehingga tangannya bergerak mencubit pinggang Bimasena.


Ketika matahari mulai meninggi, Bimasena pamit pada para tamu undangan, dengan mengucapkan beberapa kalimat melalui microphone dari atas pelaminan.


"Terima kasih telah meluangkan waktu hadir di hari istimewa kami. Terima kasih atas doa-doa dan ucapan selamat kepada kami. Kami sangat senang bisa berbagi kebahagian dengan kalian pada hari ini. Harapan yang terbaik dari kami untuk kalian semua. Terima kasih."


Ia, Bimasena dan Glor meninggalkan para undangan. Berjalan bergandengan tangan melewati taburan bunga di atas rumput hijau menuju villa yang disiapkan untuk bulan madu mereka.


Ia telah menemukan cintanya. Berharap cinta yang tumbuh diantara mereka selalu bersemi tanpa terbatas musim.


Semoga hari ini menjadi awal dari kehidupan bersama yang panjang dan bahagia untuk mereka.


*******


Readersku tersayang,


Dengan penuh kerendahan hati, Author mengucapkan selamat merayakan Idul Fitri bagi yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin.


Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu diberikan limpahan kesehatan dan rezeki dari Sang Pencipta.


Sebagai ucapan terimakasih atas dukungan readers, author akan memberikan gift berupa bunga artificial cantik kepada sepuluh readers dengan dukungan tertinggi yang dilihat pada episode terakhir.


Terima kasih atas segala dukungannya terhadap novel ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan readers.


Terus dukung author dengan vote, like dan komen.


Salam sayang pada kesempatan yang baik ini, di hari yang fitri, untuk readers dari,


Author Ina AS


😘😘😘

__ADS_1


FB: ina as


ig : inaas.author


__ADS_2