REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
53. Lara dibalik Rasa


__ADS_3

Mungkinkah lebih baik ia yang mati?


Tetapi Nadia tidak punya nyali. Bagaimana bila ia melompat lantas tidak mati? Atau bila ia mati, maka Tuhan akan menjadikannya kayu bakar api neraka? Tidak ada pilihan yang tepat baginya.


Ia merasa tidak mampu lagi menjalani hidup. Apakah ia bisa menanggung malu? Apakah ia kuat terus-terusan melihat Bimasena dan Tristan beradu fisik seperti tadi?


Ia tidak mampu.


Perang tidak akan berhenti, antara Tristan dan Bimasena. Boleh jadi kejadian tadi hanya permulaan. Akan ada perang lain yang lebih dahsyat.


Bahkan ia tidak tahu harus melakukan apa selanjutnya. Kembali ke rumah bersama Tristan? Pergi bersama Bimasena? Atau memilih hidup sendiri saja?


Ia takut untuk menjalani hidup. Tetapi lebih takut lagi untuk mati. Sehingga ia berhenti menoleh ke bawah. Dan hendak kembali ke kamar Janah.


Namun saat ia membalikkan badannya, langkahnya terhenti. Karena pria berwajah musim semi telah berdiri di depannya.


Sejak kapan Bimasena berdiri di belakangnya?


Ingin rasanya memeluknya. Tetapi bisa mendatangkan petaka baru bila dilihat orang. Sehingga ia hanya berdiri terpaku menatap wajah Bimasena.


"Jangan pernah lakukan itu. Kalau kamu tega meninggalkan aku, jangan tega pada anak yang ada di kandunganmu. Ia berhak hidup Nadia," tegas pria itu. Mata cokelat itu memandanginya lekat-lekat.


"Aku gak kuat Bim. Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya sambil terisak.


"Kamu harus kuat Nadia. Jalan yang kita tempuh memang tidak mudah. Semangati dirimu."


"Apa yang harus aku lakukan?" Ia kembali mengulang pertanyaannya.


"Aku akan meminta Alfredo menemanimu pulang ke rumahmu, agar Tristan tidak menyakiti kamu. Kumpulkan semua dokumen pribadimu. Dokumen pribadi akan kita butuhkan nanti. Setelah itu tinggalkan rumahmu. Tidak perlu membawa apapun selain dokumen pribadi. Apartemen sudah siap. Jangan takut, kamu tetap dalam pengawasanku."


"Kembalilah ke kamar Janah! Alfredo menunggu di sana. Pulanglah ke Jakarta bersama Alfredo! Tristan sudah pulang tadi." Lanjut Bimasena. "Aku menyusul. Aku tidak akan pernah berada jauh dari kamu saat ini." Pria itu berusaha meyakinkannya.


Bimasena mengangkat dagunya, lalu mencium keningnya dengan lembut. Membuatnya kembali terisak. Karena langkah selanjutnya demikian berat.


Ia kemudian melangkah dengan tergesa menuju lift. Sebelum ada mata yang mengenali mereka. Turun tiga lantai dimana kamar Janah berada.


*********


Alfredo tidak habis pikir, harus ikut repot atas ulah nakal sahabatnya Bimasena. Berlagak seperti bos, Bimasena memintanya mengawal Nadia pulang ke rumahnya. Untuk memastikan keamanan Nadia dari ledakan emosi Tristan.


Ia pun seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, menurut saja. Padahal meskipun seorang bos, Bimasena bukan bosnya.


Padahal sangat wajar bila Tristan marah. Siapa yang tidak marah bila istrinya berselingkuh? Bila dirinya yang menjadi Tristan, ia akan membakar istrinya hidup-hidup. Lalu melemparnya ke permukaan tanah, dari lantai sepuluh sebuah gedung.


Tristan telah pulang lebih dahulu dari mereka. Tentu saja Tristan tidak ingin wajah babak belurnya terlihat oleh teman-teman, sehingga buru-buru meninggalkan hotel.


Bimasena hendak pulang berbarengan dengannya. Namun ia dan Angga mencegah Bimasena.


"Jangan menambah masalah Bim," cegah Angga saat Bimasena ngotot pulang bersamanya dan Nadia.


Ia melirik Nadia yang duduk di sampingnya, di atas pesawat. Memandang keluar jendela dengan pandangan hampa.


Ia mencoba untuk menasehati istri Tristan di samping kanannya. Agar kembali ke jalan yang seharusnya. Bukan menempuh jalan menyimpang bersama Bimasena.


"Nadia, atas dasar apapun kamu lakukan itu bersama Bimasena, tidaklah benar. Meskipun kamu membuat dalih yang tepat, tidak ada pembenaran atasnya. Bahkan seandainyapun Tristan menyakiti kamu," ucapnya lirih pada Nadia, agar tidak terdengar oleh penumpang di sebelah kirinya.


*******


Nadia hanya bisa menggigit bibirnya, mendengar nasehat dari Alfredo. Memang benar apa yang diucapkan Bimasena,


Jangan mencari dukungan. Karena tidak ada orang yang akan mendukung kita. Mereka akan melihat apa yang kita lakukan ini sebagai suatu kesalahan. Tetapi jalan yang kita tempuh untuk dapat bersama memang harus seperti ini. Terjal dan berliku.

__ADS_1


Alfredo, yang ia tahu sering bersama Bimasena, juga tidak mendukung hubungan mereka.


"Begitu tiba di rumah, minta maaflah pada Tristan. Kalau perlu bersujud di kakinya. Mungkin ia masih memendam amarah. Tetapi aku yakin, nanti Tristan akan luluh juga. Dan memaafkan kamu," Alfredo kembali melanjutkan.


Pria itu menarik nafas, lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Jangan tergoda oleh Bimasena. Dia temanmu, temanku juga. Tetapi aku tidak percaya Bimasena serius terhadap kamu Nadia. Kamu belum mengenal Bimasena, kamu tidak mengetahui bagaimana pergaulannya."


Nadia mengarahkan pandangannya pada wajah Alfredo. Rasa penasaran muncul, juga keinginan untuk mencari informasi dan kebenaran mengenai Bimasena.


"Bimasena itu pecinta tantangan Nadia. Kamu tahukan ia pembalap?"


Ya, ia sudah lama tahu bila Bimasena memiliki hobby balapan. Tetapi ia sudah pernah melarangnya. Apa Bimasena tidak mengindahkan larangannya?


"Ia masih balapan?" tanyanya penasaran.


"Iya masih. Nggak pernah berhenti. Malahan hampir tiap minggu."


Ia ikut menghembuskan nafas kasar seperti Alfredo tadi. Ternyata pria itu membohonginya.


Nadia memang hanya sekali melarang Bimasena, setelah Bimasena kecelakaan motor trail saat melakukan off road bersama Alfredo. Ia tidak pernah tahu bila Bimasena masih mengikuti balapan. Meskipun dengan mobil sport dan dilakukan di atas sirkuit. Tetapi tetap saja sangat berbahaya bagi keselamatan jiwanya.


"Kamu tahu bagaimana kehidupan Bimasena dengan teman-teman Crazy Rich-nya? Mereka sering berpesta. Dikelilingi wanita cantik dan kaya. Kita tidak satu dunia dengan Bimasena, Nadia."


"Satu lagi. Bimasena seorang petualang dan memiliki gaya hidup bebas."


Nafasnya semakin berat. Hatinya mendadak nyeri.


"Zoya, puteri pemilik Bank CBA, sering berpesta dengan Bima. Setahuku, Bimasena juga beberapa kali berkencan dengan Aulia puteri seorang menteri. Dan apa kamu yakin, Aurel, sekretaris cantiknya itu, hanya melayani Bima untuk urusan pekerjaan?"


Zoya. Aulia. Aurel.


Ucapan terakhir Alfredo menyesakkan dadanya. Semakin menggores hatinya. Indahnya sebuah harapan terseret arus keputus asaan. Awan hitam menyelimuti hatinya. Sungguh, dirinya bukanlah siapa-siapa.


Siapa lagi kalau bukan dirinya sendiri. Yang begitu mudah percaya pada pria petualang dan penikmat tantangan. Tapi semua telah terjadi.


Sekarang ia harus bagaimana lagi? Ia sudah gagal menggapai harapan sebelum melangkah. Padahal ia sudah terlanjur jatuh ke dalam lumpur dosa.


Kini ia merasa putus asa. Ribuan mimpi di kepalanya untuk hidup bahagia bersama Bimasena menguap seketika.


Keadaan sudah menjeratnya. Langkah semakin berat karena ia harus menghadapi kenyataan yang berat. Rumah tangga yang telah berantakan karena perselingkuhannya. Ia telah mencoreng wajahnya sendiri, sehingga ia malu bertemu dengan orang.


Bagaimana bila abangnya mengetahui masalahnya? Mungkin akan menghukumnya lebih kejam dari yang Tristan lakukan.


Ah Bimasena,


Pria itu datang memberinya asa. Mengajarinya melukis pelangi, agar hidup lebih berwarna. Namun ternyata dibalik rasa, tersembunyi lara. Dan kini hanya lara yang tersisa.


********


Ia dan Alfredo baru tiba di Jakarta lewat pukul sembilan malam. Dari Bandara, Alfredo mengantarnya pulang ke rumah. Sepanjang jalan menuju rumah, handphone-nya tidak pernah berhenti bergetar. Panggilan dari Bimasena. Tetapi ia sudah mengabaikannya. Hati sudah terlanjur kecewa.


Kemudian Bimasena menghubungi Alfredo. Namun ia tetap tidak ingin berbicara dengan Bimasena.


"Berhentilah mengganggu Nadia, Bim. Aku akan bawa dia kembali ke suaminya. Berhenti mengganggu rumah tangga mereka." Dengan kesal Alfredo memutus sambungan telepon dengan Bimasena.


Sekarang ia adalah wanita yang tidak memiliki harga diri. Tidak tahu mesti kemana membawa langkah. Bertahan pada Tristan tidak mungkin. Pergi bersama Bimasena? Sementara ia tidak percaya lagi pada pria penghancur sejuta logika itu.


Semakin mendekati rumah, ia semakin tidak tenang. Karena masa penghukuman hampir tiba. Dan ia akan menerima hukuman yang sebenar-benarnya dari Tristan.


Rencana yang ia susun dengan Bimasena tinggal rencana. Bimasena tadi memintanya hanya untuk pulang mengambil dokumen pribadi, lalu pergi. Tetapi ia tidak akan melakukan itu lagi. Ia pulang, sembari memasrahkan dirinya. Menjadi pelampiasan amarah Tristan.

__ADS_1


Tristan hanya diam saja saat ia dan Alfredo datang. Namun begitu Alfredo pulang, Ia terpekik kaget, karena sebuah gelas melayang ke wajahnya. Lalu jatuh di lantai dan pecah berkeping-keping.


"Tristan! Jangan!" Ia melangkahi pecahan gelas, lalu berjalan mundur ke dalam kamar. Karena Tristan mendekatinya dengan pandangan menyala.


"Sudah berapa lama kamu selingkuh dengan Bimasena?" hardik Tristan.


"Nggak tahu," jawabnya ketakutan. Ia memang tidak tahu harus berhitung dari mana. Karena hubungan terjalin begitu saja, tanpa tahu bagian mana yang dikatakan awal hubungan mereka.


Langkahnya terhenti karena tertahan dinding kamar. Sehingga Tristan semakin dekat. Dan akhirnya berdiri tepat di depannya.


Tiba-tiba Tristan mencekik lehernya, membuat ia kesulitan bernafas.


"Kamu pernah tidur dengan Bimasena?" bentak Tristan.


Ia mengangguk ketakutan.


Satu tamparan mendarat di pipinya, membuatnya memekik. Rasa panas menjalar di pipi.


"Berapa kali?" geram Tristan.


"Du du a kali," jawabnya terbata.


Satu tamparan kembali mendarat di pipinya. Lebih keras dari sebelumnya. Sangat perih, bukan hanya di pipi. Tetapi juga di hati.


"Dasar perempuan pezina!" Tristan melepaskan cekikannya, lalu tergesa masuk ke kamar mandi. Kemudian terdengar suara air yang mengalir.


Nadia pun melorotkan tubuhnya ke lantai. Duduk bersandar dengan lemas pada dinding kamar.


Ia seakan dijatuhkan ke dalam ke jurang yang paling dalam. Seolah ditarik ke dalam palung lautan terdalam. Hingga ia kehabisan udara untuk bernafas.


Air mata membanjiri, menganak sungai pada pipinya. Rasa sedih mengakar di dalam hati. Berharap bahagia kan datang, malah ia hancur lebur menjadi puing yang berserak. Ia kehilangan kepercayaan kepada Bimasena, pria yang datang menawarkan harapan, sekaligus kehilangan pegangan pada Tristan.


Beberapa saat kemudian Tristan muncul dari kamar mandi dengan rambut basah. Ternyata suaminya mengguyuri kepalanya dengan air. Mungkin untuk meredakan emosi.


Tristan turut duduk di lantai. Menghadap ke arahnya. Air mata mengalir pada wajah suaminya yang lebam.


Tristan menangis?


"Apa salahku? Mengapa kamu lakukan itu padaku?" tanya Tristan dengan suara parau.


Ya, Sudah saatnya, mengungkapkan segala kekecewaannya pada Tristan. Ia pun berucap dengan suara serak.


"Apa selama ini aku berarti bagimu? Apa selama ini kamu menganggapku ada? Aku hanya perempuan bodohmu Tristan. Aku berdiri di sampingmu, tetapi kamu mengagumi wanita lain. Di rumah ini aku hanya menjadi pembantu rumah tanggamu. Bukan istrimu."


"Kamu tidak pernah menghargai aku Tristan. Sikapmu sendiri yang telah mengikis segala perasaanku padamu. Kamu sendiri yang telah meruntuhkan pondasi cintaku padamu."


*******


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini. Jangan galau ya.


😁😁😁


Terima kasih atas segala apresiasi dan dukungannya terhadap novel ini. Yang ingin berkomunikasi dengan author, dipersilahkan lewat GC ataupun WAG.


Salam sayang dari Author Ina AS.


😘😘😘


Yang ingin membaca kisah lain,

__ADS_1



__ADS_2