
Nadia merasa tidak percaya dengan apa yang baru terjadi. Apa yang dilakukan Bimasena kepadanya dan dimana melakukannya.
Kini Bimasena duduk di balik kemudi, mengemudikan kendaraan untuk mengantarnya pulang ke rumah. Pria itu mengemudi sambil bersenandung riang. Jelas, dia sangat senang, karena sudah mendapatkan apa yang diinginkan. Menyalurkan semua hasrat yang menggebu.
Tetapi apa pria itu tidak lelah? Seperti dirinya kini yang babak belur dan sangat lelah. Setelah dimangsa habis-habisan Bimasena. Bimasena seperti singa lapar, sangat buas dan rakus.
Dan ia tidak ubahnya keledai bodoh. Hanya pada bagian awal saja berusaha menolak, melarang dan menghentikan Bimasena. Tapi dalam beberapa saat, ia sudah memasrahkan tubuhnya diapakan saja Bimasena.
Dan yang lebih memalukan lagi ...
Apa perlu mengatakannya? Bila ia justru me-nik-ma-ti dijadikan santapan Bimasena.
Sangat memalukan kan?
Lalu setelah itu pura-pura marah kepada Bimasena. Kan malu kalau Bimasena tahu bila ia menikmati aksi pria itu.
Tetapi ada yang membuatnya kesal.
Yang membuatnya kesal adalah ... underware yang ia gunakan dirobek Bimasena. Seenaknya saja pria itu main robek. Apa sih susahnya melepas pelan-pelan?
Branya juga ditemukan berada di bawah sepatu Bimasena.
"Nggak usah digunakan, sudah kotor," ucap Bimasena seraya melempar keluar bra-nya ke tong sampah yang ada di tempat parkir melalui jendela mobil.
Matanya membelalak memandangi bra barunya yang berakhir di tong sampah.
Lihatlah ulah pria itu! Padahal ia masih bisa mencucinya setiba di rumah. Bayangkan, sepasang pakaian dalam mahal, hanya sekali pakai.
Apa Bimasena tahu, berapa pelanggan salon yang harus dilayani agar mampu membeli pakaian dalam itu?
Sehingga ia pulang tanpa pakaian dalam sama sekali. Makanya ia memilih duduk di belakang, ketimbang duduk di samping Bimasena tanpa pakaian dalam. Sangat jelas pada bagian dada bila ia tidak menggunakan bra. Mudah-mudahan Tristan tidak memperhatikannya sebentar.
Seandainya tahu Bimasena akan memaksanya melakukan itu, mending ia memilih dari awal bertemu Bimasena di hotel saja. Agar ia lebih tenang dan nyaman berduaan dengan Bimasena.
Karena sepanjang waktu tadi, saat menjadi santapan Bimasena, ia dilanda kekhawatiran. Mereka bisa kepergok orang karena mobil yang bergoyang laksana gempa 9 skala richter.
"Kamu kok nggak bangunin aku Bim, ini sudah jam 12 malam. Tristan bisa murka," protesnya pada Bimasena karena setelah dimangsa Bimasena, ia tertidur kelelahan. Bimasena malah mengelus-elusnya sehingga ia semakin terbuai.
"Enggak tega bangunin kamu sayang, tidurmu lelap banget," jawab pria itu dengan lembut.
"Kamu lebih tega aku dicekik Tristan?"
"Jangan katakan kalau Tristan mencekik kamu, karena bila Tristan melakukan itu, aku akan membunuhnya Nadia."
Ucapan Bimasena membuatnya terhenyak. Apa pria itu serius dengan ucapannya?
"Entar begitu tiba, aku nggak langsung pulang. Aku tungguin kamu. Kalau Tristan ngasarin kamu, aku akan masuk menemui Tristan," ujar Bimasena.
Masuk menemui Tristan? Apa pria itu tidak berpikir apa yang dikatakannya?
Serius. Sekarang justru ia lebih takut kepada Bimasena daripada Tristan.
Dengan kunci yang ia miliki, Nadia bisa masuk tanpa harus mengetuk pintu. Seperti maling, ia melangkah dengan pelan agar tidak membangunkan pemilik rumah. Begitupun saat membuka pintu kamar. Dilakukan dengan sangat pelan, agar tidak menimbulkan bunyi derit.
"Dari mana saja kamu?"
Tetapi suara Tristan mengagetkannya.
"A aku dari mall. Bawa anak-anak salon." Nadia sudah mempersiapkan alasan.
"Kamu tahu ini sudah jam berapa malam?" Tristan berdiri dari kursi, menghampirinya yang masih berdiri di ambang pintu.
"Maaf, aku ... " Belum selesai ucapan Nadia Tristan langsung memotong ucapannya.
"Dasar istri dungu tidak punya adab. Keluar! Kamu tidur di luar saja." Tristan mendorong jidat Nadia. Lalu mendorongnya keluar kamar.
__ADS_1
Nadia hanya ternganga memandangi pintu dibanting dengan keras oleh Tristan. Tetapi ia berusaha memaklumi. Karena kesalahannya kepada Tristan teramat besar. Amarah Tristan kepadanya nilainya hanya sebutir debu dibanding dosanya kepada Tristan.
Tetapi pendosa macam apa dirinya? Mengapa ia sudah tidak menyesal atas dosa yang ia lakukan bersama Bimasena. Ia membenci dirinya, mengapa menyukai menjadi tempat penyaluran hasrat pria itu.
Bimasena mengajarinya berpetualang. Memberinya pengalaman tidak lazim yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dengan Tristan, namun sangat menarik. Makan malam romantis, dan pertemuan-pertemuan yang mendebarkan.
Kejadian di belakang pintu, sofa dan di atas mobil, hanya satu kata untuk Bimasena. Luar biasa.
*******
Bimasena memarkir mobilnya tepat di depan rumah kosong sebelah kanan rumah Nadia. Menunggu kabar dari Nadia. Bagaimanapun ia cemas pada Nadia, Tristan akan marah dan bertindak kasar pada wanita itu, karena tidak biasa pulang selarut ini.
Bagaimana bila di dalam Tristan sudah mencekik Nadia dan ia tidak tahu? Sehingga ia menunggu kabar dari Nadia untuk memastikan keamanannya sebelum ia pulang.
Notifikasi pesan berbunyi, ia segera membacanya.
Nadia:
Bim, kamu masih di luar?
Bimasena:
Iya. Apa Tristan marah padamu?
Nadia:
Marah.
Bimasena:
Tapi Tristan nggak mengasari kamu kan?
Nadia:
Nggak. Aku cuman dilarang tidur di kamarnya.
Bimasena:
Baguslah.
******
Apa bagus?
Sambil berbaring di kamar sebelah Nadia menghubungi nomor Bimasena.
Nadia : Kok bagus sih?
Nadia melayangkan protes kepada Bimasena.
Bimasena : Ya bagus, karena kamu tidak sekamar dengan Tristan. Pisah kamar aja terus.
Nadia : Ih kamu kok jahat Bim?
Bimasena : Jahat? Apa kamu tahu bagaimana rasanya memikirkan kamu sekamar dengan Tristan? Ah Nadia.
Bagaimana rasanya? Apa Bimasena cemburu? Kok ia jadi senang Bimasena cemburu.
Bimasena : Aku masih di dekat rumahmu. Mau pulang ke Apartemen dulu.
Apa? Bimasena masih di dekat rumah? Jadi pria itu menunggunya sampai ia berkabar?
Bimasena : Begitu tiba kita video call ya. Belum puas lihat kamu tadi.
Ya Tuhan, Bimasena membuatnya terbuai.
__ADS_1
Nadia : Hati-hati Bim. Jangan ngebut ya.
Dan sekarang ia senang Tristan melarangnya masuk ke kamar. Dengan begitu ia dan Bimasena bisa leluasa video call sampai pagi.
Tetapi wajahnya sudah kusut sekarang. Ia harus menyegarkan wajahnya sebelum Bimasena melakukan panggilan video call padanya. Dengan segera ia mengambil handuk di lemari. Lalu melepaskan gaunnya di depan cermin.
Namun tiba-tiba ia tersentak kaget. Begitu melihat dadanya penuh dengan bercak merah. Ia melongo tidak percaya. Melihat Bimasena meninggalkan begitu banyak jejak pada dadanya. Apa pria itu sengaja? Menabuh genderang perang terhadap Tristan?
"Bim kamu sengaja?" protesnya pada Bimasena saat pria itu melakukan panggilan video call padanya.
"Sengaja apa?"
Bagaimana ia bisa marah bila melihat senyum pria itu?
"Dadaku?" rengeknya manja.
Hanya karena senyum, marahnya berubah jadi manja.
"Kenapa dadanya? Coba lihat!" tanya pria itu dengan sangat nakalnya.
"Apa? Lihat? Nggak mau," jawabnya dengan wajah memerah. Bukan karena Bimasena sudah pernah melihatnya lantas dengan mudah ia akan mempelihatkannya lagi pada Bimasena.
Bimasena malah menertawainya.
"Kamu tahu mengapa aku meninggalkan kissmark sebanyak itu? Agar kamu menjaga tubuhmu dari pandangan Tristan. Aku tidak ingin Tristan melihat tubuhmu, apalagi melakukan seperti yang aku lakukan tadi," ucap pria itu dengan sangat serius.
Bimasena melarang ia dengan suaminya ...
Mengapa dunianya sekarang jadi terbalik seperti begini?
Tapi wajah yang mengagumkan dan sikap menyenangkan pria itu padanya, melenakannya, membuatnya mampu bertahan mengobrol berjam-jam dengan pria itu, sampai hari hampir pagi. Begitu berat rasanya menyudahi panggilan video call Bimasena.
******
Aurel sedang berada di apartemen, di dalam kamar Bimasena, mengemasi pakaian milik atasannya yang hendak dibawa ke Australia.
Lihatlah dirinya! Apa ada seorang sekretaris seperti dirinya yang mengurusi sampai hal pribadi atasannya?
Sebenarnya Bimasena tidak pernah memintanya melakukan sampai hal yang terlalu pribadi seperti ini, tetapi ia melibatkan diri dengan sukarela dan senang hati. Agar bosnya sangat bergantung kepadanya sampai hal-hal terkecil.
Apalagi kalau bukan berharap sesuatu yang lebih dari Bimasena. Bukan soal keuangan, karena Bimasena pria yang sangat royal kepada siapa saja. Tetapi karena ia berharap mendapat perhatian dan hati Bimasena.
Namun yang terjadi tidak sesuai harapan. Atasannya malah jatuh cinta kepada seorang wanita, istri orang pula.
Meskipun demikian ia yakin atasannya hanya sedang bermain-main kepada Nadia. Karena Bimasena typical pria yang menyenangi hal-hal yang mampu memacu adrenalin. Senang bermain-main dengan sesuatu yang menantang. Seperti memacu mobil sport di sirkuit.
Dan sekarang Bimasena sedang tertantang menaklukkan Nadia yang merupakan istri teman sendiri. Batasannya hanya sampai ketika Nadia takluk. Setelah itu ia yakin Bimasena akan meninggalkan Nadia, dan memilih wanita terbaik untuk dijadikan istri.
Aurel tidak begitu mengkhawatirkan Nadia. Karena hubungan lebih lanjut Bimasena dan Nadia merupakan sebuah ketidak mungkinan. Ia lebih mengkhawatirkan Zoya, puteri seorang pemilik Bank atau Aulia puteri seorang menteri yang semuanya mengincar atasannya.
Ia sadar, dirinya bukan siapa-siapa. Tetapi ia memiliki hubungan yang hangat dengan Tante Imelda, ibu dari Bimasena. Tante Imelda menitip Bimasena kepadanya, untuk memperhatikan kesehatan, makanan serta kebutuhan Bimasena lainnya. Kelak bila masanya tiba, ia yakin akan mendapat dukungan dari Tante Imelda.
Aurel merasa senang dengan batalnya Nadia ikut mereka ke Australia. Padahal bosnya sudah memintanya untuk memesan tiket dan mengurus visa untuk Nadia. Dengan begitu tidak perlu ada Nadia diantara mereka berdua.
********
Hi Readersku tersayang,
Apa kabarnya? Baik-baik saja kan?
Mohon maaf jadwal update novel ini, novel (Tak Bisa) Ke Lain Hati dan novel Pesona Nada, sangat terlambat dari biasanya. Semata-mata karena adanya hal-hal di dunia nyata yang menyita cukup banyak waktu. Mohon pengertiannya π
Terima kasih atas segala dukungannya.
Salam sayang dari Author Ina AS
__ADS_1
πππ