
Sejak bermukim di Kanada, suaminya telah membawa Nadia menjelajah beberapa kota di negara bagian Amerika Serikat. Menambah pengetahuannya mengenai peradaban dunia.
Diantaranya, Los Angeles, kota yang terkenal dengan industri filmnya, di California. Di sana suaminya mengajak ia, Glor dan baby Frey mengunjungi Disneyland serta Universal Studio Hollywood.
Ia tidak pernah menyangka bisa berfoto dengan layar bukit Hollywood. Tanda yang sangat dikenal oleh seluruh dunia yang menyukai film Hollywood.
Lalu Kota Metropolitan terpadat di dunia, New York. Ia telah melihat ikon Kota New York secara langsung. Patung Liberty yang menjulang setinggi 93 meter di Upper New York Bay.
Namun yang paling ia senangi dari kota New York adalah, Kota New York merupakan salah satu dari empat pusat mode dunia. Dimana empat ibu kota mode yang berkuasa hingga hari ini adalah Paris, Milan, London, dan New York sendiri.
Di New York, suaminya mengajaknya mengunjungi Madison Avenue. Tempat sejumlah store mewah yang terletak di daerah Manhattan. Tempat ini merupakan surganya barang branded. Berbagai merk seperti Hermes, Gucci, Chanel dan Prada semua tersedia lengkap.
Merek jalan berdua layaknya orang pacaran, penuh dengan keintiman emosional. Glor dan baby Frey mereka tinggal di hotel bersama baby sitter.
"Kita pacaran dulu, nikmati bagaimana rasanya pacaran. Kita kan nggak pernah merasakan bagaimana rasanya pacaran," gumam suaminya. Menggandeng tangannya menelusuri jalan mode di Madison Avenue.
"Trus sebelum nikah apa namanya?" bantahnya, mengingatkan suaminya bila mereka tidak serta merta menikah begitu bertemu.
"Itu bukan pacaran, itu selingkuh namanya." Ucapan tanpa disaring meluncur begitu saja keluar dari mulut suaminya.
Ia merasakan wajahnya berubah. Pipinya macam pipi udang yang matang setelah direbus di dalam air mendidih.
Suaminya mengingatkannya pada masa-masa dimana dirinya menanggung tuduhan pengkhianatan, setelah pangeran tampan berkuda abu-abu datang menghampirinya. Menawarkan petualangan baru dalam hidupnya. Ia percaya dan menyambut uluran tangan sang pangeran. Meletakkan nama sang pangeran dalam tempat terbaik di hatinya.
Tetapi apa tidak ada kata lain yang lebih sopan selain kata 'selingkuh'? Tak urung tangannya mencubit lengan suaminya. Yang hanya ditanggapi dengan ringisan lalu gelakan tawa.
Tangan Bimasena yang tadinya menggandeng tangannya berganti merangkulnya. Merapatkan jarak tubuh sehingga udara di penghujung musim dingin tidak berani menggigitnya.
Kelemahannya sebagai seorang wanita adalah adrenalinnya terpacu saat melihat diskon. Pandangannya jadi terang benderang. Ia jadi kalap berbelanja. Apalagi bila diskon atau potongan harganya tergolong besar.
Kapan lagi datang ke tempat ini? Ia harus memanfaatkan momen berbelanja dengan Mr. B. sehingga ia tidak perlu membuat dompetnya menjerit.
Entah mengapa azas pemanfaatan istri pada suami masih tinggi dimilikinya. Padahal dompetnya sudah tebal oleh berbagai card. Suaminya juga tidak pernah menyebut limit angka untuk membatasi belanjanya. Justru ia yang menerapkan limit sendiri karena kasihan melihat suaminya yang membanting tulang dari pagi sampai malam.
__ADS_1
"Rencana mau pacaran, ternyata hanya dijadikan asisten," keluh suaminya, karena tangan suaminya sudah menenteng beberapa paper bag.
"Sini aku bantu, Dad," ia mengulurkan tangan meminta sebagian paper bag pada suaminya.
"Nggak usah. Barbel aja bisa aku angkat apalagi cuman ini. Silahkan lanjut nyonya penggemar diskon."
Ia hanya tertawa mendengar olokan suaminya. Memang benar ia belum puas berbelanja. Suaminya hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya memborong barang diskon.
"Daddy butuh apa?" Ia baru menyadari, sedari tadi ia hanya berbelanja kebutuhan untuk dirinya dan anak-anaknya. Melupakan asisten merangkap bos yang sabar mengekorinya serta mengangkatkan kantong belanjaan di belakang.
"Nggak ada," geleng suaminya. "Mommy aja."
"Mommy jadi nggak enak, sudah ngabisin duit untuk keperluan mommy sendiri, Dad." Rupanya ia masih memiliki rasa malu terhadap suaminya.
"Jangan khawatir, rekening nggak bakal goyang kalau hanya digunakan membayar tumpukan barang diskon ini. ****** ***** Daddy lebih mahal," sindir suaminya.
"Mommy kan sayang Daddy, makanya beli yang murah-murah," godanya pada suaminya, berhenti berjalan sejenak lalu mencium dada suaminya, yang lebih mudah dijangkau ketimbang harus berjinjit mencium bibir tipis Mr. B.
Beraksi kata suaminya?
Sampai saat ini ada ketimpangan yang besar antara ia dan suaminya dalam hal ini. Apalagi ia tumbuh di atas tanah yang menganut norma dan kultur yang masih kental, dimana se ks itu sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, terlebih bagi seorang wanita.
"Mesum!" Satu kata terlontar dari bibir karena merasa sungkan membicarakan hal tabu tersebut.
"Mi, se ks bukan lagi hal yang asing untuk dibahas oleh pasangan suami istri. Perlu komunikasi dua arah tentang relasi sek sual suami dan istri. Kita harus terbuka. Kehidupan se ksual tak hanya memerlukan sekedar kebugaran fisik, tapi juga komunikasi yang baik."
"Kualitas hubungan intim harus dijaga. Mommy harus terbuka dan jujur, misalnya Mommy ternyata nggak puas pada Daddy, atau Mommy ingin lebih sering bercinta lagi, atau Mommy ingin mencoba gaya yang baru misalnya," terang suaminya panjang lebar.
"Ih kok jadi Mommy sih, pasti Daddy ya? Yang ternyata nggak puas pada Mommy. Ingin lebih sering bercinta lagi. Ingin mencoba gaya baru. Iya kan?" cecarnya. Karena ia merasa apa yang diucapkan Bimasena lebih merupakan ungkapan perasaan suaminya sendiri.
Tetapi angka up to 50% di sebuah store dengan label dua huruf C yang saling memunggungi dan bertaut, lebih menarik perhatiannya ketimbang membicarakan hal tabu.
"Dad, sini Dad!" Ia menarik lengan suaminya untuk memasuki store tersebut dengan senyum yang melebar.
__ADS_1
"Ternyata istriku seorang sport shopper."
"Maksudnya?"
"Pemburu diskon yang bermental kuat seperti atlet," terang suaminya.
Membuatnya terkekeh karena memang benar adanya.
"Tapi anak Daddy jangan dibelikan pakaian diskon semua dong," protes suaminya penuh penekanan.
Suaminya juga telah membawanya ke Texas, untuk mengunjungi ayah dan ibu mertuanya. Yang tinggal di sebuah mansion yang mewah. Rumah besar yang bisa membuat orang baru seperti dirinya tersesat di dalamnya.
Kedatangan keluarganya disambut begitu hangat oleh mertuanya. Ibu mertuanya teramat rindu pada cucu-cucu. Padahal sejak mereka tinggal di Kanada, hampir setiap saat kedua mertuanya datang berkunjung untuk menengok Glor dan baby Frey.
Pada titik tertentu, meskipun ia melihat kilauan emas di negeri orang, namun tanah tempatnya dilahirkan dan di besarkan, selalu memanggil rindunya kembali.
Dan momen yang paling yang ia tunggu adalah memenuhi kerinduan hati,
Pulang ke Indonesia.
Setelah ekspor minyak FreddCo Energy Kanada telah selesai, mereka berkesempatan untuk pulang ke Indonesia selama satu minggu.
Tetapi mereka pulang bukan dalam rangka cuti suaminya. Mereka pulang karena Bimasena hendak memulai investasi dalam energi terbarukan di Indonesia, sebagai persiapan transisi bahan bakar fosil.
Suaminya telah membuat sebuah perusahaan baru di Indonesia yang fokus menggarap bisnis Energi Baru Terbarukan. Karena Indonesia kaya akan sumber energi terbarukan seperti energi matahari dan energi angin. Bekerja sama dengan perusahaan BUMN Pertamina Power. Kedua perusahaan akan memulai eksplorasi dan pengembangan EBT khususnya Solar PV.
Sementara di Kanada suaminya bersama dengan ayah tirinya masih menjajaki kemungkinan melebarkan sayap FreddCo Energy ke industri produksi dan pengayaan uranium. Mereka sangat berhati-hati dalam bisnis ini. Karena selain membutuhkan biaya investasi yang tinggi, industri ini juga memiliki reputasi yang buruk.
Ahli strategi energi.
Begitu orang FreddCo Energy menyebut suaminya.
**********
__ADS_1