REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
55. Rasa yang Terlampau Besar


__ADS_3

Nadia memakan potongan buah dengan lahap. Sejak kejadian kemarin di Kaliurang, ia bahkan lupa untuk makan. Hanya makan sepotong roti yang diberikan Alfredo untuknya. Dan kali ini ia baru merasakan lapar. Melihat potongan buah yang begitu lezat, bersamaan dengan suasana hatinya yang mulai membaik pada Bimasena.


Apalagi pria di sampingnya sibuk mengemudi sambil berbicara dengan seseorang melalui smartphone menggunakan handsfree. Ia tidak perlu makan dengan gaya anggun kan? Toh Bimasena tidak memperhatikannya.


Sambil meminum susu dan memakan buah, ia menguping obrolan Bimasena.


"Kami sudah melakukan survei siesmik dan pemboran tiga sumur di lepas pantai Maluku. Namun, kami belum temukan kandungan hidrokarbon."


"Jadi FreddCo Energy belum bisa memutuskan kelanjutan pengembangan blok tersebut, karena masih melakukan evaluasi. Tetapi jangan khawatir, kami tetap pada komitmen, tahap eksplorasi selama tiga tahun di Maluku sesuai kontrak kerja."


"Besok saya akan meninjau Blok Mandar, lanjut ke Maluku."


"Ke Meranginnya setelah kembali dari Amerika. Minggu depan saya akan ke Amerika menyelesaikan peralihan saham sebelum Rapat Umum Pemegang Saham. Lagian juga di Merangin gak ada masalah lagi."


Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan Bimasena. Yang ia tahu Bimasena hendak pergi.


Bimasena akan pergi?


Tiba-tiba ia merasa akan menghadapi segala sesuatu sendirian. Ia sudah kehilangan selera pada potongan buah dan kacang yang disiapkan Bimasena untuknya.


"Kamu mau pergi Bim?" tanyanya begitu Bimasena mengakhiri pembicaraan di telepon.


"Besok berangkat ke Sulawesi Barat, Lanjut ke Maluku. Aku pulang cepat kok. Paling lama juga dua hari."


"Lalu kamu ke Amerika?" ucapnya lirih sambil melirik ke samping.


Bimasena tersenyum, lalu tangan kiri pria itu mengelus rambutnya. "Jangan khawatir Nadia, tidak mungkin aku akan meninggalkanmu lama-lama dalam kondisi seperti ini. Kalau aku tetap harus berangkat, kamu selalu dalam pengawasanku."


Mungkin Bimasena melihat gurat cemas di wajahnya. Meskipun ucapan Bimasena sedikit menghibur, namun tetap saja ia jadi takut bila, Bimasena pergi.


"Tadi malam ada kaca yang pecah dan kamu memekik, Tristan nyakitin kamu lagi?"


Pertanyaan Bimasena membuatnya terkesiap, bagaimana pria itu bisa mengetahuinya?


"Kamu tahu dari mana?"


"Nadia, aku kan sudah bilang. Kamu dalam pengawasanku."


Apa Bimasena menaruh CCTV yang memantau rumahnya? Atau memiliki mata-mata?


Ia baru ingat, di samping kanan rumahnya yang beberapa bulan ini kosong, sudah memiliki penghuni baru. Seorang pria. Tapi tidak mungkin pria itu menjadi mata-mata Bimasena.


Juga di samping kiri rumahnya ada Lily yang juga baru masuk. Tetapi tidak mungkin Lily mengenal Bimasena. Atau ada orang yang ditugaskan khusus oleh Bimasena memantau rumahnya?


"Siapa yang mengawasiku?" tanyanya penasaran.


"Kamu nggak perlu tahu. Apa yang dilakukan Tristan padamu tadi malam?"


"Ia melempar gelas ke lantai," jelaslah ia tidak boleh mengatakan yang sesungguhnya. Demi mencegah amarah Bimasena kembali tersulut.


"Tristan tidak bertindak kasar padamu?" Bimasena mengulangi pertanyaannya.


Nadia menggeleng, demi menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun ia yakin, Bimasena tidak mempercayainya.


Terbukti dari Bimasena yang tertawa sumbang sambil menggelengkan kepala.


Bimasena memarkir kendaraannya di basement Rumah Sakit Ibu dan Anak. Seperti biasa, pria itu membuka pintu mobil untuknya dan menggandeng tangannya menuju lift. Ia berjalan sedikit lebih di belakang dari Bimasena sambil mengamati tangannya dalam genggaman tangan yang lebih besar.


Di atas lift, mereka hanya berdua. Sehingga Bimasena tidak mengarahkannya ke pojok seperti sebelumnya agar tidak berhimpitan dengan orang lain.

__ADS_1


Tapi saat keluar dari lift, Bimasena melingkarkan tangan kiri di pinggangnya. Sentuhan tangan pria itu di pinggangnya menimbulkan getaran di sekujur tubuhnya. Bukankah ini pertanda buruk? Mengapa tubuhnya begitu cepat bereaksi hanya karena tangan pria itu di pinggangnya.


Membuat ia tidak tahu bagaimana cara berjalan yang normal. Terlebih lagi banyak mata yang melihat mereka di ruang tunggu Poli Klinik KIA itu. Bagaimana bila ada yang mengenalinya?


Bimasena memintanya duduk di sebuah kursi kosong. Ternyata Aurel, sekretaris Bimasena sudah terlebih dahulu berada di sana. Membuat janji dengan dokter obgyn. Sehingga mereka tidak perlu lama menunggu untuk mengantri.


Ia jadi penasaran. Sejauh mana Bimasena melibatkan sekretarisnya itu untuk hal-hal yang bersifat pribadi dan rahasia seperti ini? Inikah yang dinamakan profesional?


Nadia menyadari, banyak mata di ruang tunggu yang memperhatikan mereka. Apa orang-orang itu mengetahui bila mereka pasangan selingkuh? Atau makhluk yang duduk di samping kanannya yang terlalu menawan dibandingkan dirinya?


Apa mungkin orang-orang itu tahu bila ia mengenakan gaun yang harganya ratusan ribu sementara pria di sampingnya mengenakan kemeja jutaan rupiah?


Ia pun segera membalik sling bag yang ia bawa. Agar merk-nya tidak terlihat. Karena pasangannya membawa handbag puluhan juta.


Seperti langit dan bumi. Itulah mereka. Mungkin


Hanya satu yang bisa membuatnya menandingi Bimasena. Jam tangan yang ia kenakan (itupun hadiah dari Bimasena). Bimasena menggunakan merk yang sama.


Matanya tidak berhenti melirik Bimasena yang sibuk berbicara melalui handphone. Pria itu sangat menarik dan elegan. Sementara dirinya? Mungkin Aurel lebih serasi dengan Bimasena.


"Sudah gilirannya Pak," Aurel menghampiri mereka.


Ia yang baru saja mengalami krisis percaya diri, mendadak menjadi seorang princess, karena Bimasena yang lebih dahulu berdiri mengulurkan tangan untuknya, untuk membantunya berdiri, meskipun ia bisa berdiri sendiri.


Dan saat berjalan masuk ke dalam ruang pemeriksaan, Bimasena kembali melingkarkan tangan di pinggangnya.


Mungkin tangan pria itu memiliki hantaran listrik statis. Atau atom di dalam kulit Bimasena kelebihan elektron. Sehingga ia merasa tersengat oleh tangan itu. Akibatnya ia menderita gangguan irama jantung. Juga gangguan pernafasan.


Segala rasa bercampur jadi satu. Bangga, berbunga, malu, takut, entah rasa apa lagi namanya.


Tetapi saat berada di ruang pemeriksaan wajahnya tidak berhenti memerah.


"Pertama," jawabnya sambil melirik Bimasena yang tersenyum kepadanya.


"Oh pertama. Sudah berapa tahun menikah dengan Bapak baru hamil?"


Ia kembali melirik Bimasena, tidak tahu harus menjawab apa.


"Lima tahun. Lebih. Hampir enam tahun," Bimasena yang menjawab dengan mantap. Tetapi membuat wajahnya memanas.


"Anak mahal. Lama dinanti-nanti. Pakai program kehamilan ya?"


Nadia berhadapan dengan seorang dokter obgyn. Tetapi tidak ubahnya berada di depan petugas kepolisian, yang sedang dimintai keterangan sebagai seorang saksi. Mungkin sebentar lagi ditingkatkan statusnya menjadi tersangka.


"Nggak pakai program apa-apa, Dok," Bimasena kembali yang menjawab. "Hanya ganti gaya dan ganti tempat, Dok." Gurauan yang membuatnya berasap.


Apa Bimasena hendak menceritakan soal sofa dan mobil kepada dokter? Tangannya bergerak mencubit lengan pria itu, yang hanya dibalas senyum nakal oleh Bimasena.


Dokter Rahayu tertawa mendengar jawaban nyeleneh Bimasena.


"Nggak ada riwayat keguguran?"


"Nggak ada Dok," ia segera menyela. Agar Bimasena tidak mendahuluinya menjawab.


Saat ia berbaring melakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk memonitor perkembangan janin, hatinya jadi terharu. Bukan hanya karena melihat citra janin yang sudah lama diimpikan, pada layar monitor. Tetapi juga karena melihat bagaimana antusias dan senyum Bimasena melihat citra itu.


"Nah, ini dia nih bayi yang lama ditunggu-tunggu. Panjangnya sekitar 8,5 cm. Seukuran buah kiwi lah. Usia janin 14 minggu. Janinnya sehat."


"Jenis kelamin dok?" tanya Bimasena.

__ADS_1


"Jenis kelamin belum bisa terdeteksi di usia janin 14 minggu. Nih kepalanya sudah lebih bulat. Janinnya juga sudah banyak bergerak, tetapi karena ukurannya masih kecil, belum bisa dirasakan oleh ibunya."


"Ini sudah masuk trisemester dua, resiko keguguran sudah jauh lebih rendah," lanjut dr. Rahayu.


"Boleh berhubungan intim ya Dok?" pertanyaan Bimasena membuat wajahnya kembali memerah. Semakin kesal melihat Bimasena yang tersenyum licik padanya.


Di taruh di mana malunya pria itu ?


"Boleh, tetapi tetap hati-hati. Gairah dan hormon se ks ibu juga meningkat pada usia kehamilan 14 minggu. Jadi ibunya sudah bisa menikmati hubungan intim."


Bukan memerah lagi, tapi wajahnya kini sudah terbakar. Mungkin bila saja pria yang mendampinginya adalah pasangan sah, ia tidak perlu secanggung dan semalu ini.


Dan begitu mereka pulang dari rumah sakit ibu dan anak, Bimasena mengajaknya makan siang di sebuah restoran tradisional, khas indonesia.


Matanya membelalak begitu Bimasena membuat piring didepannya menggunung oleh tumpukan laut dan sayur.


"Sirloin banyak zat besinya, bayam mengandung asam folat, telur kaya protein, semua penting untuk ibu hamil." Pria itu menjelaskan sambil sesekali menyuapinya, demi mencegah protesnya.


"Kan tadi udah diberi suplemen, gak harus makan sebanyak ini kan Bim?" keluh Nadia, berusaha merayu Bimasena. Agar sedikit lebih berperikemanusiaan memberinya makanan.


Makanan sebanyak ini sama dengan lima kali porsinya. Apa Bimasena ingin mengubahnya menjadi seekor sapi?


"Nggak usah pikirkan bentuk tubuh, yang penting janin yang kamu kandung sehat." Belum juga ia protes, Bimasena sudah mengetahui kegelisahannya.


Apa mereka seperti sepasang kekasih?


Sepertinya tidak. Ia tidak ubahnya anak kecil malas makan yang dipaksa untuk makan.


Meskipun mengesalkan, namun membawa kebahagiaan tersendiri baginya. Karena momen itu membawanya kembali kepada masa ia kecil, yang penuh perhatian dari ayah dan ibunya. Saat ayah ibu melakukan segala upaya, membujuknya, hanya agar ia bersedia untuk makan.


Dan sekarang perhatian itu yang telah lama hilang itu, ia temukan lagi dari ... Bimasena.


Apa lagi yang harus ia ragukan pada pria ini?


Bimasena tersenyum penuh kemenangan, saat berhasil membuatnya menghabiskan isi piring di depannya. Padahal untuk bernafaspun ia sudah kesulitan, akibat kekenyangan.


Saat mereka keluar dari Restoran, ternyata Bimasena membawa dua bungkusan makanan.


"Untuk siapa?" tanyanya kepada Bimasena yang meletakkan bungkusan itu di jok belakang.


"Untuk kamu, buat makan malamnya. Biar nggak perlu masak lagi."


"Kok dua?"


"Untuk kamu dan Tristan kan? Masak kamu makan sendiri."


Ia hanya bisa menatap Bimasena yang mulai mengemudikan kendaraannya keluar dari tempat parkir, tanpa dapat berkata-kata lagi. Bagaimana Bimasena masih perhatian pada Tristan setelah kejadian kemarin?


Tapi pertanyaan dalam benaknya dijawab sendiri oleh Bimasena.


"Nadia. Lepas dari semua yang terjadi, Tristan adalah sahabatku. Saudaraku. Aku telah berbuat sadis kepada saudaraku. Aku menikam saudaraku, sama halnya aku menikam diri sendiri."


"Kamu tahu semua karena apa?"


"Karena rasa sayang dan rasa ingin memilikimu yang terlampau besar."


Ia melirik wajah pria yang sudah mengisi relung hati di sampingnya. Sejenak mata mereka saling bertautan, kemudian mata Bimasena kembali fokus ke depan.


Tetapi ucapan pria itu selanjutnya membuatnya tersentak.

__ADS_1


"Di mana alamat rumah abangmu? Aku ingin menemuinya."


__ADS_2