REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
79. Yang Telah Pergi


__ADS_3

Baru saja Nadia hendak menikmati mie ayam, sarapan paginya bersama Tristan, bel pintu berbunyi. Sehingga ia bangkit dari duduknya melangkah ke ruang tamu dan membuka pintu.


Namun alangkah terkejutnya begitu ia membuka pintu, melihat siapa yang berdiri di depannya.


Kaki dan seluru sendi-sendi tubuhnya mendadak lemas. Jantungnya memompa darah lebih cepat, namun tak ada aliran darah yang sampai ke wajahnya yang berubah pucat laksana rembulan kesiangan.


Nafasnya terhenti oleh tikaman mata cokelat tegas itu. Degub begitu cepat berdetak, seolah ingin meloncat keluar. Ia nyaris terkena serangan jantung.


"Bim!" serunya dengan suara tercekat. Gelombang kecemasan merambat dalam dirinya.


"Aku ingin bertemu denganmu juga Tristan, Nadia," lontar Bimasena, memandangnya dengan tatapan yang sulit untuk ia artikan.


Ia diam terpaku dengan mata berkaca-kaca menatap wajah menawan itu. Saling menautkan pandangan dengan bibir yang sama-sama membisu. Hanya tatapan mata yang saling berpelukan melepas dahaga rindu dan hati yang saling bicara.


Entah berapa lama mereka saling menatap, sampai Tristan tiba-tiba mengagetkannya, menarik tangannya ke belakang. Sehingga ia berdiri sejajar dengan Tristan menghadap ke arah Bimasena.


"Ada perlu apa Bima?" tanya Tristan dengan wajah dingin tidak bersahabat.


"Boleh aku masuk?" tanya Bimasena.


Ia dan Tristan bahkan tidak menyilahkan Bimasena memasuki ruang tamu, tetapi pria itu tetap melangkah masuk meskipun hanya berdiri satu langkah dari ambang pintu.


Setelah diam sejenak, akhirnya Bimasena menyampaikan maksud kedatangannya.


"Aku mau minta maaf kepada kalian berdua. Karena aku adalah bajingan yang telah mengganggu rumah tangga kalian. Kalian nyaris berpisah karena aku. Maafkan aku sekali lagi." Bimasena mengembuskan nafas, mata cokelat itu menatapnya bergantian dengan Tristan.


Nadia hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan perih hatinya. Pria itu datang merendahkan diri, menyamakan diri dengan bajingan. Padahal baginya dia adalah pria yang sangat berharga. Yang pernah memberi warna dalam hidupnya.


Bimasena melanjutkan kembali. "Sekaligus aku ingin pamit kembali ke Amerika. Agar kalian bisa hidup damai dan tenteram seperti sebelum aku hadir dalam kehidupan kalian."


Bimasena kembali ke Amerika? Mengapa ia merasakan kehilangan yang berlapis-lapis. Bukan hanya kehilangan hatinya, bahkan ia merasa kehilangan nyawanya. Sehingga ia tidak mampu menahan sesenggukan karena tangisnya.


"Namun aku mau meminta satu hal pada kalian," sambung Bimasena. Menjeda sebentar, lalu melanjutkan lagi, "Tentang anak yang dikandung Nadia."


"Bima, aku sudah katakan sebelumnya, jangan pernah mengklaim anak yang dikandung istriku," hardik Tristan, menampakkan wajah yang kurang bersahabat dengan kehadiran Bimasena.


"Aku bukan mau mengklaim Tristan. Tapi anak itu harus memiliki kejelasan siapa ayahnya yang sebenarnya. Kamu sudah tahu kan bagaimana cara membuktikannya. Dan aku yakin, kamu sendiri ingin membuktikannya." Bimasena memberikan argumennya.


"Kalian jangan khawatir. Bila saja hasil tes DNA menyatakan bahwa anak itu adalah darah dagingku, aku tidak punya niat untuk merebutnya dari Nadia. Aku tidak mungkin memisahkan seorang anak dari ibunya, kecuali kalian menginginkannya."


"Aku hanya ingin kalian memberi ruang bagiku untuk menafkahi hidup anakku, sebagai bentuk tanggung jawab seorang ayah. Itu saja yang aku minta. Aku yakin, kalian adalah pasangan yang bijaksana."


"Sekali lagi aku minta maaf pernah memasuki kehidupan kalian. Semoga kalian bahagia."


Arah pandangan Bimasena kemudian terfokus kepada Tristan, lalu menegaskan satu hal.


"Tristan, perlakukan Nadia sebaik-baiknya," pesan Bimasena dengan tegas kepada Tristan, kemudian mata pria itu melirik sesaat padanya. "Karena aku menyayanginya."


Rongga dadanya terasa sesak mendengar pesan Bimasena kepada Tristan. Pesan itu akan terus bersemayam di jiwanya.


"Aku pamit," lanjut pria itu. Lalu dia berbalik dan melangkah ke luar rumah.

__ADS_1


Hatinya menjerit pilu menatap punggung pria itu menjauh dari pandangannya. Ia tidak pernah merasakan lara hati seperti ini. Kisah cintanya bersama Bimasena telah menyeretnya ke lautan duka terdalam bersama dengan perginya pria itu.


Membuat matanya berkunang-kunang, lalu perlahan pandangannya mulai mengabur dan berubah gelap. Kemudian ia tidak merasakan apa-apa lagi.


Saat membuka matanya, ia menemukan dirinya terbaring di atas sofa. Pada sofa yang berada di sampingnya, Tristan duduk bermain ponsel. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi sehingga ia bisa tertidur di sofa.


"Tadi saat dia pergi, kamu pingsan," Tristan memberitahu meskipun ia belum bertanya.


Saat dia pergi?


Aliran pilu kembali menyemburat di dadanya mengingat pria yang tadi pergi. Setiap tarikan nafas selalu menyebut nama pria itu. Perih teramat perih.


Belum lagi ia merasa tidak nyaman terhadap Tristan. Tidak mampu menyembunyikan perasaan kehilangannya atas Bimasena.


Ia telah menempuh badai atas nama cinta. Namun ternyata ia tak mampu menahan gelombang yang menghadang. Ia hanyut terseret derasnya air takdir. Yang membawanya kembali pulang kepada Tristan.


Bimasena bukan hanya pamit padanya dan pada Tristan. Juga pamit pada group alumni SMA mereka di sebuah aplikasi pesan.


********


Untuk pertama kalinya Nadia mengunjungi dokter obgyn bersama Tristan. Namun ia tidak mengunjungi dokter Rahayu lagi. Tidak mungkin ia mengunjungi dokter Rahayu bersama pria yang berbeda dari sebelumnya, yang sama-sama mengaku sebagai suami, sehingga ia memilih dokter Anna.


"Usia kandungam sudah 32 minggu. Bayi di dalam perut ibu sudah sebesar kol yang besar. Beratnya sekitar 1,4 kilogram, panjangnya sekitar 41 sentimeter.


"Paru-paru dan saluran pencernaan bayi mulai terbentuk dengan matang."


"Kira-kira sembilan minggu lagi ibu dan bapak sudah bisa berjumpa dengan si kecil," papar dokter Anna tersenyum kepada mereka.


"Bayinya sehat dokter?" tanya Tristan yang berdiri di sampingnya.


Meskipun lebih banyak diam, datar dan kurang menunjukkan antusias, ia sudah bersyukur dengan kehadiran Tristan dalam pemeriksaan kehamilannya. Sehingga ia tidak merasa sendiri dalam menjalani kehamilannya setelah Bimasena pergi.


********


Setengah purnama telah terlewati sejak Bimasena pergi. Namun lara hati belum juga menguap. Jiwa yang merapuh karena sakit dan rindu yang tidak kasat mata.


Senja telah berganti.


Sekarang yang tertinggal hanyalah kenangan indah yang semu. Berapa waktu yang harus ia habiskan untuk mengobati hatinya? Berapa waktu yang ia butuhkan untuk membunuh rindunya? Karena bayang pria itu tersimpan rapi, bertahta dalam singgasana di lubuk hati terdalam.


Tapi bagaimana ia bisa melupa? Bila orang yang berkaitan dengan Bimasena tiba-tiba datang siang itu di rumahnya.


"Ada apa Aurel, ada yang bisa aku bantu?" tanyanya begitu ia mempersilahkan aurel untuk duduk di ruang tamu.


"Maaf mengganggu Mbak Nadia. Aku membawa titipan dari Pak Bimasena. Mohon diterima. Tidak ada maksud apa-apa dari Pak Bimasena terkait dengan ini. Pak Bimasena hanya mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Mbak Nadia." Aurel menyodorkan sebuah amplop cokelat berukuran A4 kepadanya.


Wajahnya memerah mendengar ucapan Aurel. Karena ia mengira Bimasena mengirim lukisan setengah vulgarnya kepadanya. Sebab tidak ada barang apapun miliknya yang tertinggal di apartemen Bimasena. Semua yang ia gunakan adalah pemberian Bimasena. Tidak ada yang ia bawa pergi kecuali bunga baby breath.


Oleh karena itu ia tidak membuka amplop itu di depan Aurel. Tidak mungkin ia memperlihatkan lukisan tidak senonoh itu kepada Aurel. Ia juga harus memusnahkan lukisan itu sebelum Tristan pulang dari kantor.


Ia baru membukanya setelah Aurel pamit pulang. Namun kemudian keningnya berkerut begitu mengeluarkan isi amplop. Karena isinya bukan lukisan seperti yang ia kira. Isinya beberapa buah kunci rumah dan kunci kendaraan serta dokumen.

__ADS_1


Begitu melihat isi dokumen itu tangannya gemetar. Karena dokumen itu merupakan dokumen rumah yang terdiri dari sertifikat asli, surat roya dari bank, dan sertifikat penyertaan.


Sekarang ia mengerti, bila rumah orang tuanya yang telah disita bank, telah dilelang oleh bank. Bimasena membeli rumah itu melalui lelang kemudian menyerahkan kepadanya lewat Aurel.


Surat-surat kendaraan dari mobilnya yang telah disita oleh debt collector, juga ada dalam amplop cokelat itu. Yang berarti mobil itu telah dilunasi oleh Bimasena di perusahaan pembiayaan.


Tubuhnya pun bergetar hebat, lalu tangisnya pecah. Mengapa Bimasena masih memberi perhatian padanya disaat ia berjuang keras untuk melupakan pria itu?


Bima, aku sudah merelakan kamu.


Aku sudah merelakan rumah itu.


Aku sudah merelakan mobil itu.


Mengapa kamu membeli rumah dan mobil itu kembali untukku?


Padahal aku telah mengecewakanmu.


Padahal aku yang telah mengingkari janji kita. Padahal aku yang telah meninggalkanmu.


Tolong jangan bunuh aku dengan rasa bersalah. Karena sakit kehilangan ini sudah terlalu keras menikam hati setiap waktu. Aku sudah berdarah-darah.


Bagaimana aku bisa melupakanmu, bila saja kamu terus meninggalkan kenangan yang tak mampu aku lupakan?


Berapa lama kamu akan mengurung hatiku Bim? Seumur hidupku?


Sampai kapan rindu ini akan menyiksaku? Sampai aku mati?


Tahukah kamu Bim, bila hatiku sudah hancur saat kamu pergi ?


Aku sayang kamu Bim. Aku ridu kamu.


Kepada siapa ia menuturkan kalimat-kalimat itu?


Hanya kepada dirinya sendiri.


Karena ia sudah berjanji kepada Tristan, juga pada dirinya sendiri, untuk tidak membuka ruang komunikasi lagi terhadap Bimasena.


*******


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini?


Semoga tetap dalam curahan kesehatan dan kebahagiaan selalu.


Maafkan karena jadwal UP dari novel ini yang sangat nyebelin.


Terima kasih atas segala apresiasi dan dukungan terhadap novel ini.


Salam sayang dari

__ADS_1


Author Ina AS


😘😘😘


__ADS_2