
"Kok cepat pulang dari Amerika?" Sapaan yang kurang tepat Nadia layangkan kepada Bimasena.
Karena jawaban Bimasena atas pertanyaan itu, sudah melemparkan ia jauh tinggi di atas awan.
"Sebenarnya masih ada penerapan teknologi baru dalam pengeboran di Amerika yang harus aku lihat."
"Tetapi sebelum berangkat ke Amerika kemarin, ada orang yang berpesan padaku, jangan lama-lama. Aku merasa terbebani oleh pesan orang itu. Makanya aku tidak bisa lama-lama di Amerika."
"Lagian juga aku mengkhawatirkan orang itu. Karena selama tujuh hari ke depan, sepertinya ia akan tinggal sendiri di rumah. Tidak ada yang menjaganya."
Nadia mengetuk-ngetukkan kakinya, untuk memastikan bahwa kakinya masih berpijak pada bumi. Karena ia merasa diterbangkan tinggi ke atas mendengar kata-kata Bimasena.
Kata-kata yang sangat sederhana, tetapi mampu menyentuh hati. Membuatnya serasa menjadi wanita yang berharga.
"Kok kamu tahu Tristan ke Jepang?" tanya Nadia, sambil berusaha menghilangkan groginya.
"Komunikasiku dengan Tristan lancar Nadia," jawab Bimasena.
"Ia tahu kalau kamu kemari? atau setiap kemari?" tiba-tiba Nadia menjadi khawatir.
Bimasena menggeleng sembari tersenyum. "Nadia, kamu sepertinya tidak percaya padaku. Tidak mungkin aku mencelakakan kamu." Bimasena menatap mata Nadia dengan bersungguh-sungguh.
Nadia membalas tatapan Bimasena. Berusaha menyelami kedalaman hati melalui mata itu. Mencari kejujuran di sana.
Nadia pun mengangguk, yang bermakna bahwa ia bisa mempercayai Bimasena.
"Nadia, kalau kamu tidak keberatan, aku ingin mengajak kamu makan malam," ajak Bimasena.
"Aku? ... Makan malam? ... Berdua?" Entah mengapa ajakan itu sangat mengagetkan buatnya.
Pergi berdua bersama Bimasena? Apa kabar jantungku?
"Iya," sahut Bimasena singkat.
"Tapi ... " Nadia diliputi berbagai rasa. Malu, takut, risih, tapi sangat mau.
"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan Nadia," ucap Bimasena berusaha meyakinkan.
Akhirnya Nadia pun mengangguk. Ia tahu pria itu berkata benar
Maafkan aku Tristan. Kali ini aku kalah.
"Tapi aku mandi dulu ya?"
"Oke."
"Oh ya, masuk Bim!"
__ADS_1
"Aku tunggu di atas mobil saja Nadia. Di dalam kan tidak ada siapa-siapa. Bahaya. Bagi kamu," ucap Bimasena sambil tergelak.
Sambil tersenyum Nadia mencoba memaknai kata 'bahaya ' yang diucapkan Bimasena. Dan tanpa sadar wajahnya merona sendiri begitu membayangkan hal yang berbahaya apa yang kemungkinan dilakukan Bimasena padanya.
"Aku percaya kamu Bim," ujar Nadia mengulum senyum dengan wajah yang masih memerah.
"Aku tunggu di Mobil saja Nadia." Bimasena bersikeras.
"Oh ya, aku bawa sesuatu untukmu." Bimasena membuka pintu mobilnya dan mengambil sebuah paper bag yang bertulis sebuah brand ternama.
Baru melihat brand-nya, Ro***, Nadia sudah ragu untuk mengambilnya.
"Ini untuk aku?" ucapnya ragu.
Bimasena mengangguk sembari mengulurkan paper bag itu semakin dekat.
*******
Hal yang pertama dilakukan Nadia begitu masuk di kamar adalah membuka isi paper bag. Bagaimana tidak, baru melihat merk yang tertera di paper bag-nya jantungnya sudah berdebar.
Dengan tangan gemetar ia meraih kotak di dalam paper bag, membukanya, dan sama seperti perkiraannya, sebuah jam tangan mewah.
Mulut menganga, menatap takjub jam tangan itu. Ia lalu memasang jam tangan itu di tangannya. Sangat indah. Siapapun yang mengenakan jam ini, gengsinya akan naik berkali-kali lipat.
Jam tangan yang berbahan platinum. Bingkai cincin bertabur berlian. Pelat berwarna ice blue dengan beberapa permata safir.
Jam tangan yang prestisius dan berpresisi tinggi.
Oh Bima ...
*******
Bimasena tiduran pada jok mobil yang diatur dengan posisi rebah sambil mendengar lagu favoritnya. Ia sedang menunggu gadis, maaf bukan gadis, wanita (bahasa halus dari istri orang) yang sedang mandi dan berdandan di dalam rumah.
Bagaimana hatinya tidak senang, Akhirnya ia bisa melihat wajah yang dirindukan itu setelah berhari-hari di Amerika. Dan yang lebih menyenangkan lagi, wanita itu menerima ajakannya untuk makan malam.
Meskipun ia harus menunggu dalam waktu yang lumayan lama, namun ia tidak pernah menggerutu. Mungkin seumur hidupnya saat ini adalah saat paling ikhlasnya dalam menunggu seseorang. Karena ia paling tidak mau menghabiskan waktu untuk menunggu. Sebab baginya waktu itu sangat berharga.
Dan saat wanita itu keluar dari rumah dan mengunci pintu dari luar, ia segera turun dari mobil dan membuka pintu mobil untuknya.
Wanita itu seperti bidadari yang keluar dari rumah. Menggunakan dress selutut berwarna pastel, dengan rambut diikat tinggi di belakang, ia sangat anggun dan elegan. Ingin rasanya ... ah otak sudah mulai jorok.
"Kamu cantik sekali Nadia," puji Bimasena kepada Nadia.
Nadia hanya tersenyum, tidak menjawab. Tapi wajahnya merona.
*********
__ADS_1
Untuk pertama kalinya ia duduk di atas mobil sport di samping pria tampan itu. Apa ini sebuah keindahan? Kurang apalagi coba?
Tetapi ia harus mengembalikan oleh-oleh yang terlalu berlebihan itu dulu.
"Bim, Maaf. Aku tidak bisa menerima ini." Nadia menyodorkan kembali paper bag yang diberikan oleh Bimasena tadi.
"Kenapa? Nggak suka?" tanya Bimasena tanpa ada ekspresi tersinggung sama sekali seperti yang dikhawatirkan Nadia.
"Bukan tidak suka. Tetapi aku tidak layak dapat oleh-oleh semahal ini Bim. Harga Jam ini bahkan hampir sama dengan harga mobil, dan separuh harga rumahku. Tidak pantas untukku Bim. Aku bukan wanita high class yang menggunakan Jam mewah seperti itu," tolak Nadia dengan intonasi yang lembut.
"Mengapa kamu melakukannya untukku?" sambung Nadia.
Bimasena malah tertawa.
"Jam tangan prestisius untuk wanita yang berharga." Bimasena lalu meraih paper bag itu, mengeluarkan dan membuka kotaknya.
"Boleh pinjam tanganmu?" lanjut Bimasena.
Nadia mengernyit tidak mengerti.
"Iya, sekarang masih dipinjam. Kelak bila orangnya sudah dimiliki tidak perlu dipinjam lagi kan?" jelas Bimasena sambil mengurai senyum.
Dengan ragu Nadia mengulurkan tangannya dan disambut oleh Bimasena. Nadia terkesiap. Pria itu ternyata memasang jam tangan itu pada tangannya. Nadia menahan nafasnya saat jemari tangan Pria itu menyentuh tangannya dengan lembut.
Oh My Good. Begitukah cara Bimasena memperlakukan wanita? Sangat manis.
"Tanganmu dingin sekali, apa selalu begitu?" tanya Bimasena.
Oh tidak Bima, jangan tanyakan itu. Kamu yang membuat tangan dan tubuhku menggigil.
Nadia tidak menjawab. Ia hanya terpaku, tidak bisa mengalihkan pandangan dari Bimasena yang masih memegang tangannya yang dingin dan gemetar.
"Cantik nggak?" Bimasena memperlihatkan jam yang sudah melingkar di pergelangan tangannya.
"Cantik."
"Kamu suka?"
"Bima ... " Nadia mendesah ragu menatap mata tegas berwarna kecokelatan itu. Sangat mempesona. Lebih mempesona dari jam tangan yang ia pakai dan mobil yang ia tumpangi sekarang.
"Harga tidak penting, yang penting kamu suka. Jangan lepaskan jam itu lagi. Itu untukmu. Oke?" Sungguh Bimasena tidak memberinya pilihan.
Dengan lembut Bimasena meletakkan kembali tangannya di atas pahanya, membuat dada Nadia bergemuruh.
"Permisi!" Bimasena lalu meraih seatbelt dan memasangkannya tanpa menyentuhnya. Tindakan Bimasena membuat darahnya memanas. Ia kembali menahan nafas dan menggigit bibirnya dengan hati yang berdebar-debar.
Pria itu sangat bersemangat dan percaya diri. Mampu menghipnotis dirinya.
__ADS_1
"The Woman of My Dreams, Kita berangkat sekarang."
Ya ampun, Bima!