
Emosi yang datang dari dalam jiwa membuncah begitu mengetahui Bimasena juga tidak mengikuti Lava Tour Merapi, serupa dengan Nadia. Ia pun meminta kepada sopir jeep untuk berhenti, dan menurunkannya di jalan. Lalu ia pulang sendiri ke hotel menggunakan angkutan umum yang ternyata jarang ditemui di kawasan Kaliurang.
Bila sebelumnya ia mencurigai sekaligus meragukan, sekarang ia sangat yakin bila istrinya bermain dengan sahabatnya sendiri di belakangnya.
Bibir yang digigit dan tangan yang dikepal, mendeskripsikan kekecewaan dan perasaan hati yang terluka.
Tristan yang begitu mengagungi kecerdasan, ternyata dengan mudah dibodohi oleh istrinya yang justru dianggap bodoh. Harga dirinya sebagai seorang lelaki dan suami terinjak-injak.
Kalbunya tidak berhenti mengutuk. Pada istri yang telah menusuknya dari belakang. Serta pada sahabat yang telah menjadi perusak rumah tangganya.
Apa yang akan dilakukannya bila ternyata menjumpai istrinya bersama Bimasena? Yang jelas saat ini ia telah kehilangan logika. Hanya emosi dan naf su yang meluap-luap.
Hal yang ia lakukan begitu tiba di hotel adalah menuju kamarnya. Dengan hati berdebar ia menempelkan access card pada platform magnet pintu.
Tetapi begitu membuka pintu, lampu kamar dalam keadaan padam. Ia tidak menemui siapapun di dalam kamar. Berarti Nadia berada di kamar Bimasena.
Ia pun kembali memeriksa daftar nama peserta reuni beserta nomor kamarnya masing-masing, yang di-upload oleh Afdal dalam sebuah aplikasi pesan group alumni mereka.
********
Setelah berdiskusi dengan Angga beberapa saat, akhirnya Alfredo bersama Angga dan Jana memutuskan kembali ke hotel menyusul Tristan.
"Kita kembali ke hotel. Aku khawatir hal buruk terjadi pada mereka bertiga," ujar Alfredo.
"Jana pindah ke jeep lain aja ya?"
"Aku ikut kembali ke hotel," sahut Janah.
"Balik ke hotel Pak!" Perintah Angga kepada sopir jeep.
Alfredo pun menghubungi Afdal, dan menyampaikan bahwa mereka batal mengikuti Lava Tour Merapi.
*******
Sinar matahari masuk melalui kaca jendela dan sliding door yang terbuka. Membawa kehangatan ke dalam kamar hotel yang ditempati Bimasena. Kamar itu jadi penuh cahaya, karena tirai jendela yang terbuka.
Pemandangan di luar yang terlihat dari atas tempat tidur Bimasena hanyalah langit dan awan. Tidak ubahnya berada di istana yang melayang di atas awan.
"Mau tinggal di apartemen atau rumah?" tanya pria yang dadanya menjadi sandaran punggungnya sekarang.
"Maksudnya?" Nadia malah balik bertanya dengan kepala yang menengadah ke belakang.
"Lebih senang tinggal di rumah atau di apartemen?"
"Rumah."
"Aku punya rumah di Pantai Indah Kapuk, Permata Hijau dan Kelapa Gading. Tiba di Jakarta kita tinjau. Mana rumah yang paling kamu senangi, kita tinggal di sana."
Ucapan Bimasena serta merta membuatnya terhenyak. Bukan karena rumah yang dimiliki Bimasena terlalu banyak dan berada di kawasan elite. Tetapi apa maksud kalimat, kita tinggal di sana?
"Maksud kamu, pulang dari Jogja kita tinggal bersama?" Nadia menegakkan tubuhnya lalu memutarnya menghadap ke arah Bimasena.
Bimasena menggeleng. "Ya enggaklah Nadia, kamu bercerai dulu dengan Tristan. Tapi kalau kamu mau tinggal denganku sekarang, nggak masalah. Aku lebih senang lagi. Tidak perlu mengkhawatirkan kamu lagi."
Matanya membelalak.
"Bim, itu kumpul kebo namanya. Tristan dan Abangku akan menggantung aku di monas," protesnya kepada Bimasena yang dengan enteng menyebut tinggal bersama.
"Ya udah, setelah kita menikah." Bukannya merasa bersalah, malah pria itu tergelak. Lalu merangkulnya. "Kok jadi pemarah sekarang? Jangan dibuat berlipat begitu wajahnya, jelek." Bimasena malah menggodanya.
"Kamu terlalu cepat membahas urusan rumah sih Bim."
"Hidup harus terencana Nadia. Jelas dan terperinci. Rencana hidup itu yang dijadikan pedoman dalam menjalani roda kehidupan. Dengan begitu, hidup akan lebih terarah."
Bimasena mendekatkan wajahnya, namun dengan segera Nadia memutar tubuhnya, kembali membelakangi Bimasena, untuk menghindari pertemuan bibir mereka. Bukannya tidak ingin, namun demi mencegah dirinya menjadi santapan Bimasena.
Namun akhirnya ia memutar kembali wajahnya menghadap Bimasena. Rupanya ia tidak rela kehilangan kesempatan merasakan bibir yang memabukkan milik pria itu.
Memandangi wajah Bimasena seperti melihat es krim di siang yang terik. Sangat menggugah selera.
Bila pandangan diarahkan lebih ke bawah sedikit, maka tampaklah kelompok otot dada dan lengan yang tidak bisa disembunyikan oleh singlet yang dikenakan pria itu. Sangat sexy dan memikat.
Bimasena seperti makanan yang sangat lezat. Membuat orang berasa lapar dan ingin menyantapnya.
__ADS_1
Mengapa justru dirinya yang ingin menyantap Bimasena? Jangan ganjen Nadia!
Ia tidak mengerti, mengapa berubah menjadi begitu nakal. Mungkin otaknya sudah bermasalah.
Apa tadi Bimasena sengaja membuka kaos surf, menyisakan singlet, sengaja untuk membuatnya ngiler?
Bukannya mendapat ciuman, pria itu menarik tubuhnya dengan lembut ke belakang, menyandarkan punggungnya di headboard tempat tidur, lalu bergerak ke depan menghadap ke arahnya. Membuat jantungnya kembali menabuh genderang.
Bimasena akan melakukannya sambil duduk begini? Tidak berbahayakah bagi wanita hamil?
Pria itu duduk di depannya menghadap ke arahnya. Sehingga kedua pahanya berada di pangkuan Bimasena.
Mata cokelat bercahaya menatap lekat ke arahnya. Penuh gairah.
Apa Bimasena akan menerkamnya? Belum apa-apa juga ia sudah meremang. Dadanya berdetak lebih cepat, kehilangan kendali.
Menolak atau pasrah? Tentu saja ia harus menolak. Meskipun pada akhirnya akan pasrah juga.
"Kita harus membicarakan apa yang akan kita lakukan begitu tiba di Jakarta," ujar Bimasena tiba-tiba.
Yah, ternyata Bimasena hanya ingin mengajaknya berbicara. Berarti otaknyalah yang menari erotis sedari tadi. Sungguh, ia telah kehilangan akal sehatnya.
"Apa yang akan kita lakukan?"
Bimasena menarik nafasnya dengan berat. Mimik wajahnya berubah menjadi serius.
Seperti inikah wajah pria itu bila sedang serius? Satu kalimat. Penuh wibawa dan semakin menggoda.
"Kamu harus siap-siap meninggalkan rumahmu. Begitu aku menemui Tristan, kamu harus pergi dari rumah itu. Aku khawatir kamu jadi sasaran kemarahan Tristan."
"Kamu tinggal di apartemen karena keamanannya lebih ketat. Setelah itu ajukan gugatan cerai pada Tristan. Setelah kalian bercerai, kita menikah."
Kalimat yang meluncur begitu saja dari bibir Bimasena tidak urung membuatnya sesak nafas. Sesungguhnya ia belum siap untuk menghadapi hal seberat itu.
"Ini memang berat untuk dilalui dan penuh tekanan Nadia. Jangan mencari dukungan. Karena tidak ada orang yang akan mendukung kita. Mereka akan melihat apa yang kita lakukan ini sebagai suatu kesalahan. Tetapi jalan yang kita tempuh untuk dapat bersama memang harus seperti ini. Terjal dan berliku."
"Tetapi kuatkan dirimu. Teguhkan langkahmu. Jangan berubah sikap di tengah jalan."
Bimasena seolah dapat membaca kekhawatiran dirinya.
"Aku akan melunasinya. Kamu jangan pikirkan itu dan jangan banyak berpikir. Aku juga memiliki pengacara yang akan mengurus perceraianmu. Kamu cukup tinggal di apartemen, jaga baik-baik kandunganmu. Semua akan beres. Percayakan padaku."
Tidak ada yang berat bagi Bimasena. Pria itu sangat optimis dan percaya diri. Tidak seperti dirinya, Baru memikirkan langkah yang akan ditempuh, ia sudah berkeping-keping menjadi potongan kecil. Belum melangkah, sudah kehabisan tenaga. Hanya karena memikirkan jalan yang harus di tempuh. Belum bertempur sudah kalah perang.
Mungkin benar kata Bimasena. Serahkan semua padanya. Ia tidak perlu memikirkannya.
Tapi apakah ia sudah siap meninggalkan Tristan?
Selama ini ia melalui hari-hari pernikahan yang dingin. Tidak ubahnya membangun rumah di kutub utara. Menjadi wanita yang tidak berarti di mata Tristan. Suaminya hanya mengagumi wanita lain.
Kehangatan dan perhatian itu justru ia dapatkan dari Bimasena. Bimasena membuatnya menjadi lebih berarti dan berharga.
Jadi ...
Ia harus menyiapkan hatinya, meninggalkan Tristan. Dan menerima tawaran hidup yang lebih baik dari Bimasena.
"Kamu bisa Nadia?" Bimasena mengelus pipinya. Sentuhan tangan pria itu membawa getaran di sekujur tubuhnya.
Ia mengangguk lemah. Terpaku memandangi Bimasena.
"Jangan berubah di tengah jalan ya?"
Ia kembali mengangguk.
Sekarang ia harus bisa mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.
*******
Bimasena tahu, Nadia masih bimbang. Nadia kesulitan menentukan pilihan. Wajah wanita itu tidak bisa berbohong
Jelas Nadia tidak punya keberanian untuk melewati jalan yang harus mereka tempuh. Memang tidak mudah. Ia mengerti, bagaimana beban yang dirasakan Nadia sekarang.
Para perempuan cenderung menggunakan perasaan daripada logika. Bisa jadi, Nadia akan ragu mengambil sikap karena merasa bersalah pada Tristan serta mengabaikan perasaannya.
__ADS_1
Oleh karena itu ia harus menuntun langkah Nadia.
Nadia tampak begitu tertekan. Sehingga ia memilih mengalihkan pembicaraan agar Nadia tidak mengalami stress.
"Sudah sarapan tadi?"
"Belum." Nadia menggeleng.
"Jam segini belum sarapan?"
"Males. Kalau pagi sering lemes," ucap Nadia lesu.
Tanpa perlu berdebat, ia segera menghubungi room service, memesan bermacam-macam makanan mulai dari roti, nasi sampai susu dan buah untuk Nadia. Yang membuat mulut wanita itu membulat.
"Bim, itu untuk aku semua?"
"Iya. Siapa lagi? Tadi aku sudah sarapan."
"Itu kebanyakan. Aku bisa gendut."
"Jangan pikirkan bentuk tubuhmu sekarang, pikirkan janin yang sedang kamu kandung. Oke?"
Ia hanya tertawa melihat Nadia meringis. Wanita dengan tubuh indah seperti Nadia jelas sangat menjaga asupan kalori tubuhnya. Dan sekarang ia meminta Nadia untuk banyak makan, yang jelas-jelas merupakan hal terlarang bagi Nadia.
Hal selanjutnya yang ia lakukan hanyalah merayu dan mencandai wanita itu. Agar Nadia tidak begitu tertekan bila mengingat rencana mereka selanjutnya.
Hal yang paling senang ia lakukan adalah, membuat wajah wanita itu merona.
Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Nadia. Mengarahkan bibirnya ke bibir manis itu. Nadia pun memejamkan matanya, yang berarti ia siap menerima.
Namun ia tidak pernah mendaratkan bibirnya ke bibir Nadia. Hanya tersenyum menatap wajah yang berharap dengan mata terpejam itu.
Sampai Nadia membuka matanya kembali karena sudah terlalu lama menunggu. Wajah Nadia memerah seketika, begitu tahu ia hanya menggodanya.
"Aku pulang," ancam Nadia dengan wajah penuh malu. Berontak dari pegangannya.
"Mau dicium? Kalau mau, katakan, cium aku sayang." Ia mengeratkan pegangannya pada lengan Nadia
"Nggak mau, siapa juga mau dicium." Nadia pura-pura marah. Seperti itulah Nadia. Nggak pernah mengaku, tetapi mau.
"Serius nih?"
"Serius," seru Nadia sambil tertawa.
Mereka berhenti saat petugas room service membunyikan bel. Ia pun segera beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu.
Kadang-kadang sesuatu terjadi di luar rencana. Tidak sesuai dengan perkiraan.
Yang berdiri di depan pintu bukanlah petugas room service yang membawa makanan yang ia pesan untuk Nadia.
Tetapi ... Tristan.
Menatapnya dengan pandangan berkobar, penuh amarah. Siap meledak.
"Mana istriku?"
*******
Readersku tersayang,
Apa kabarnya hari ini? Terima kasih atas kesabarannya menunggu UPnya novel ini.
Sekali lagi diingatkan, jangan mendekati selingkuh ya? π
Terima kasih atas segala apresiasinya.
Terima kasih telah bergabung dalam WAG dan Group Chat.
Terima kasih untuk readers kesayangan yang selalu memberi dukungan.
Semoga Tuhan memberi segala kebaikan untuk kalian.
Tetap dalam lindungan-Nya.
__ADS_1
Salam sayang dari Author Ina AS
πππ