
Dengan setengah berlari, Bimasena memasuki lobby sebuah hotel bintang lima dan masuk ke dalam lift. Ia mengakses lantai meeting room.
Pagi ini jadwal meeting-nya bersama Pemerintah Provinsi Maluku dan kepala SKK Migas, terkait pengeboran lanjutan, setelah pengeboran ekplorasi di Kepulauan Aru berhasil menemukan minyak.
Ia terlambat karena keasyikan menonton wanita cantik yang sedang masak pagi-pagi. Juga bercanda dengan wanita cantik itu saat sarapan membuatnya lupa waktu.
Beruntung begitu tiba di meeting room, yang hadir baru Direktur Utama, Direktur Hulu serta beberapa staf FreddCo Energy.
"Maaf terlambat Pak." Bimasena mengangguk hormat kepada Direktur Utama, lalu duduk di samping Direktur Hulu.
"Party sampai pagi lagi yah jadi terlambat?" tegur Direktur Utama kepada Bimasena.
Bimasena tersenyum lalu menjawab,
"Nggak Pak, bantuin istri dulu ngurusin anak-anak jadi terlambat."
Selorohan Bimasena kontan disambut tawa oleh orang-orang yang hadir di meeting room.
"Ngaco kamu, makanya jangan lama-lama membujang. Biar ada yang ngurusin kalau pagi-pagi. Gak perlu terlambat lagi." Direktur Hulu menepuk bahu Bimasena.
Sesungguhnya ia sudah mulai jenuh dengan rutinitas hariannya. Bekerja di kantor, ke laut atau ke hutan mencari minyak, menghadiri rapat. Ia juga sudah bosan dengan party ke sana kemari, atau nongkrong di cafe bersama teman gaul.
Sekarang yang diinginkannya adalah memiliki keluarga kecil. Ada istri dan anak yang akan menyambutnya setiap pulang kerja. Atau bila akhir pekan tiba, ia akan berjalan-jalan maupun liburan bersama istri dan anaknya.
Tapi kapan? Sementara ia harus menunggu Nadia bercerai terlebih dahulu. Jalan yang harus dilaluinya masih panjang.
Mengapa juga ia jatuh cinta pada istri orang. Seandainya Nadia masih single, tidak perlu menunggu waktu, nanti malam ia akan menikahinya.
Selang beberapa saat ia datang, Wakil Gubernur Maluku juga datang dan rapat pun dimulai.
"Pemerintah Provinsi Maluku akan mendukung investasi minyak dan gas bumi yang dilakukan oleh FreddCo Energy di Kepulauan Aru." Ucapan Wakil Gubernur Maluku yang sempat tertangkap di kepalanya.
Ia kurang begitu memperhatikan rapat yang membosankan itu. Terlebih lagi Direktur Utama dan Direktur Hulu FreddCo Energy sudah hadir mewakili perusahaan.
Di bawah meja tangannya sibuk bermain handphone. Chatting dengan wanita yang menunggunya pulang ke apartemen.
Tahu bagaimana rasanya bila ada yang menunggu kamu pulang?
Ia tidak perlu menyombongkan diri pada orang yang sudah berkeluarga. Karena di apartemen, ia ditunggu oleh istri orang. Tapi sudah membuatnya sangat bahagia dan tak sabar untuk segera pulang.
"Pak Bimasena mungkin ada yang ingin disampaikan?" lontar Direktur Utama, sehingga ia kembali fokus pada rapat.
Ia memperbaiki posisi duduk sebelum berbicara.
"Terima kasih atas kesempatannya. Dua bulan yang akan datang, kami akan melakukan pengeboran lanjutan pada tiga titik lepas pantai Aru. Untuk itu kami butuhkan dukungan dari pemerintah setempat."
"Jika wilayah eksplorasi migas tersebut mulai berproduksi, maka akan memungkinkan penambahan produksi migas di wilayah Maluku."
"Keuntungan bagi Pemerintah Maluku sendiri pastinya ketika sumur itu mulai berproduksi, sebagian dari hasil penjualannya itu akan menjadi income untuk dana bagi hasil Migas Aru."
" ........ "
Begitu selesai berbicara, tangannya kembali bermain ponsel di bawah meja. Menggoda Nadia.
Bimasena:
Siapkan alasan yang masuk akal. Kram perut aku nggak terima lagi.
Nadia:
Alasan? Untuk apa?
Bimasena:
Karena nanti aku akan melanjutkan yang tertunda semalam.
Nadia:
Biiiiiiim, kamu jangan nakal iiiih.
Nadia:
Pokoknya aku pindah ke kamar kosong, nggak mau tidur di kamarmu. Kamu kembali ke kamarmu.
Bimasena:
Nggak masalah.
Nadia:
Kita harus buat aturan. Kalau kamu melanggar, aku pindah dari apartemen ini.
Bimasena menahan tawa demi melihat pesan Nadia yang mengancamnya. Sekali-kali matanya memperhatikan peserta rapat yang sedang berbicara.
Nadia:
Bim, janji dulu. Kamu nggak boleh masuk ke kamarku.
Bimasena:
Baik. Aku janji. Tapi kamu boleh ke kamarku kan? 😆
Nadia:
Nggak, aku juga nggak boleh ke kamar kamu.
Bimasena:
Baiklah kalau itu keinginan kamu. Apa sih yang tidak kuberikan?
Nadia:
Jangan ingkar ya.
Nadia:
Biiiiim, kamu pulang jam berapa?
Bimasena:
Kenapa? Udah kangen ya?
Nadia:
Uh geer.
__ADS_1
Nadia:
Iya, aku kangen Bim ☺
Ia tersenyum sendiri di ruang rapat itu membaca pesan dari Nadia.
Bimasena:
Aku usahakan pulang secepatnya. Tapi kamu jangan tunggu aku makan malam ya. Karena nanti malam ada jadwal makan malam dengan Menteri Ekonomi dan Sumber Daya Mineral.
*******
Nadia baru menyadari, Bimasena termasuk orang yang gerak cepat. Bukan karena menjelang siang, Aurel sudah datang membawakannya beberapa lembar pakaian, pakaian dalam, sendal, sepatu dan tas. Juga susu dan makanan untuk ibu hamil.
Tetapi karena begitu Aurel pulang, seorang pengacara yang bernama Pak Novrianto datang menemuinya. Ditugaskan oleh Bimasena untuk mengurus perceraiannya dengan Tristan.
"Mbak Nadia silahkan isi blangko gugatan ini." Pak Novrianto mengulurkan beberapa lembar kertas padanya.
Ia mengambil blangko itu, membaca isinya dengan kening berkerut, lalu bertanya kepada Pak Novrianto.
"Pak, gimana nih. Aku nggak membawa apa-apa ke tempat ini. KTP aku nggak bawa. Nomor KTP juga nggak hafal Pak. Semua tertinggal di rumah."
Pak Novrianto tersenyum padanya. "Apa Mbak Nadia nggak bisa mengambilnya? Dokumen yang kita butuhkan untuk mengajukan gugatan cerai antara lain surat nikah asli, fotocopy KTP, fotocopy KK."
"Jika gugatan cerai disertai dengan gugatan harta bersama, dokumen perlu dilampiri dengan beberapa bukti kepemilikan, seperti sertifikat tanah, BPKB, STNK, atau kuitansi jual beli."
Nadia hanya bisa mendesah. "Pak, aku tidak akan mengajukan gugatan harta bersama. Tetapi beri aku waktu untuk melengkapi dokumen yang dibutuhkan."
Belum juga mengajukan gugatan ia sudah terkendala.
Bagaimana caranya mengambil surat-surat penting di rumah Tristan? Apa Tristan mau menyerahkan kepadanya?
Ia harus membicarakannya terlebih dahulu dengan Bimasena.
Bimasena baru tiba di apartemen hampir jam sembilan malam. Senyum pria itu dan ciuman yang diberikan Bimasena pada pipinya membuat segala kegundahan hatinya sepanjang hari sirna seketika.
Nadia berada di ruang tengah, menunggu Bimasena yang sedang mandi di kamar. Ia tidak akan menyusul Bimasena ke dalam kamar, dan juga tidak akan mengizinkan Bimasena masuk ke dalam kamarnya. Tentu ia tidak akan membiarkan dosa itu kembali tercipta.
Ia membuka tirai jendela yang sangat besar. Melihat pemandangan malam Kota Jakarta dari lantai teratas apartemen sungguh indah. Ia baru mengerti, mengapa Bimasena memilih unit pada lantai tertinggi tower apartemen.
Lampu-lampu berkilauan dari gedung pencakar langit. Menyatu dengan bintang-bintang yang berkelipan di langit malam. Alangkah romantisnya, bila ia dan Bimasena menghabiskan waktu malam ini menikmati pemandangan kota yang indah.
Jantungnya berdebar kala ia mendengar suara pintu kamar Bimasena terbuka lalu tertutup kembali. Pertanda pria itu telah selesai mandi.
Selang beberapa detik pria itu telah melintasi ruang tengah menuju dapur.
Mulutnya membulat, karena Bimasena menggunakan celana model drawstring pants yang pada bagian pinggang terdapat tali yang berfungsi sebagai pengikat, tetapi pria itu bertelanjang dada. Tidak memakai baju.
Apa maksud Bimasena tidak memakai baju? Apa Bimasena berniat macam-macam lagi?
Hatinya kembali was-was, risih dan gelisah.
Pokoknya ia harus konsisten, tidak boleh memasuki kamar Bimasena. Juga Bimasena tidak boleh masuk ke kamarnya.
Ia tidak boleh tergoda dengan dada dan lengan berotot yang dipamer pria itu. Tidak boleh.
Nadia tidak menoleh begitu mendengar langkah kaki Bimasena dari belakangnya berjalan mendekat. Matanya tetap menatap ke luar. Karena ia mencegah dirinya tergiur oleh makhluk lezat di belakangnya.
Tetapi ternyata kedua bola matanya bergerak sendiri ke sudut kanan.
"View -nya bagus kan?" seru pria itu dari belakangnya.
Jantungnya berhenti berdetak mana kala tangan kiri Bimasena melingkar di pinggangnya. Sementara tangan kanan pria itu memegang flute glass yang berisi minuman berwarna merah yang ia tidak tahu apa namanya.
Fungsi otaknya sebagai pusat kendali tubuh menjadi kacau. Ia kesulitan bernafas, kesulitan berbicara, karena Bimasena mencium puncak kepalanya dalam waktu yang lama.
Seperti berada di atas perahu yang berayun-ayun, ia mulai terhanyut. Kepalanya bersandar pada dada pria itu.
Oh Bima ...
Saat tangan kiri pria itu bergerak mengelusnya perutnya naik turun, kedua kakinya melunak. Nyaris kehilangan keseimbangan.
Alam bawah sadarnya bekerja. Tangannya menyambar gelas di tangan kanan Bimasena. Berniat meneguk habis isi gelas itu agar ia tidak terhanyut arus yang diciptakan Bimasena.
Tetapi tangan kanan Bimasena mencegah saat gelas itu sudah menyentuh bibirnya.
"Jangan. Mana ada wanita hamil minum wine. Itu alkohol. Wanita hamil itu minumnya susu khusus ibu hamil."
Apa ada yang salah pada dirinya? Bahkan suara pria itu demikian menggoda.
"Aku ingin minum susu ibu hamil Bim," pintanya dengan suara yang tercekat. Cobaannya untuk menghalau godaan pria itu terlampau berat.
"Tunggu di sini, aku buatkan. Jangan kemana-mana!" Bimasena mengambil gelas berisi wine di tangannya lalu pergi ke dapur.
Ia bisa bernafas dengan lega sejenak saat pria itu berjalan ke dapur.
Tadi ia ingin menikmati pemadangan malam kota Jakarta bersama Bimasena. Tetapi saat Bimasena berada di dekatnya, ia malah menjadi tak karuan.
Apa tidak lebih baik ia kabur saja ke dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam selagi Bimasena membuat susu untuknya di dapur?
Namun ia kesal dengan dirinya sendiri. Mengapa tidak ingin beranjak dari tempat itu. Tubuhnya tidak bisa bekerja sama dengan kepalanya.
Saat otak di kepala memerintahkan untuk segera kabur, tubuhnya malah berdiam di tempat itu, menunggu dan penasaran apa yang hendak dilakukan Bimasena padanya.
Benar-benar kacau.
Selang beberapa menit pria itu datang membawa segelas susu di tangannya. Menyodorkan padanya. Ia menerima gelas itu, lalu duduk di sofa sebelum meminumnya.
Nadia menjauhkan pandangan dari Bimasena. Jelaslah ia risih melihat Bimasena yang bertelanjang dada.
Tapi mengapa saat meminum susu matanya melirik ke arah pria itu, lalu hatinya berdecak mengagumi. Ingin rasanya menelusuri dada berkotak-kotak itu dengan jari jemarinya.
Lihatlah! Semua bagian tubuhnya telah berkhianat kepadanya.
"Nadia, kantorku bisa dilihat dari sini." Seru pria itu menatap ke luar jendela.
Saat otaknya memperingatkan anggota tubuh agar jangan terpengaruh oleh pria itu, kakinya malah berdiri melangkah ke samping pria itu.
Nah tuh kan?
"Mana?" Ia ikut melempar pandangan keluar jendela.
Bimasena menunjuk satu arah, "Lihat gedung yang jauh itu, yang ada huruf 'F' nya.
Ia pun tersenyum dan mengangguk begitu melihat gedung dengan huruf 'F' itu. Tapi setelah itu ia terkesiap karena tiba-tiba Bimasena bepindah ke belakangnya lalu memeluknya dari belakang.
__ADS_1
Haruskah ia berontak? Sementara pelukan ini sangat hangat, nyaman dan menentramkan. Merasa begitu terlindungi berada dalam pelukan pria itu.
Matanya terpejam, karena menikmati pelukan pria itu lebih indah daripada melihat pemandangan Jakarta malam hari.
Bisakah selamanya seperti ini?
Tak ada kata yang terucap. Hanya pelukan yang semakin erat. Ia menyandarkan punggung dan kepala pada dada Bimasena. Memasrahkan keseimbangan tubuhnya pada tubuh kokoh pria itu.
Kedua tangannya memegang tangan kiri pria itu yang melingkar di perutnya. Sementara tangan kanan pria itu mengelus lembut pipinya, menjalarkan rasa hangat ke setiap bagian tubuhnya.
Nadia yakin, bintang-bintang di luar sana memandang iri pada mereka.
Mengapa segala resah jadi sirna begitu berada dalam pelukan pria itu? Mengapa semua menjadi indah?
Ia sudah tersesat di dalam ruang Bimasena. Menikmati ketersesatan dan tak ada keinginan lagi untuk mencari jalan pulang.
Entah sudah berapa lama ia berada dalam pelukan pria yang juga membisu di belakangnya. Mereka berdua menikmati hening, saling berbicara dengan bahasa kalbu.
Apa yang dipikirkan oleh Bimasena?
Tetapi ia bisa mendengar deru nafas pria itu sudah berubah lebih berat dan menjadi lebih cepat.
Ia meremang karena merasakan pria itu menegang. Tangan pria itu mulai bergerilya ke tempat yang tidak seharusnya.
"Biiiiim," desahnya berusaha mencegah tangan Bimasena.
"Kenapa sayang? Ada alasan lain lagi selain kram perut dan mau minum susu?" Suara pria itu tertahan.
"Kamu mau ngapain?"
"Melanjutkan yang tertunda semalam," kata Bimasena dengan mantap.
"Tapi kamu udah janji tadi, gak akan masuk kamarku dan aku juga gak boleh masuk kamar kamu," rengeknya.
"Makanya kita akan lakukan di sini."
Ucapan pria itu membuatnya tersentak.
"Apa?"
Sekarang ia kesal pada Aurel. Baju apa yang dibawakan Aurel untuknya. Dengan mudah Bimasena membuatnya melorot ke bawah.
"Bim, jangan! Pelayan kamu bisa melihat kita. Orang di tower seberang juga bisa melihat kita."
Apa Bimasena lupa mereka berada di mana? Di belakang jendela ruang tengah. Maid dengan bebas masuk ke ruangan ini. Semua yang terjadi di ruangan ini direkam oleh kamera CCTV.
Ia juga bisa melihat orang di jendela apartemen tower sebelah yang menyala lampunya. Jelas mereka juga bisa terlihat dari seberang sana.
"Kamu sudah melarang aku masuk ke dalam kamar. Jadi aku ingin melakukannya di sini. Aku ingin semua orang melihat kita bercinta di sini. Di belakang jendela. Sambil berdiri."
Bisikan Bimasena membuatnya sesak nafas. Ingin rasanya ia kabur, tetapi juga penasaran bagaimana rasanya.
"Kamu pernah melakukannya sambil berdiri?" bisikan erotis di telinganya membuat bulu-bulu di permukaan kulitnya berdiri.
Ia menggeleng, karena memang belum pernah.
"Baiklah, kamu harus merasakan bagaimana rasanya making love standing position, watched by the whole world."
Adakah yang mengerti apa yang dikatakan Bimasena? Apakah kalimat itu tidak terlalu vulgar?
Akal sehatnya masih berfungsi. Mulutnya masih menentang. Tapi mengapa tubuhnya sudah pasrah dengan apa yang dilakukan pria itu.
"Bim, apa kamu sudah gila?" Suaranya nyaris habis demi menahan leguhan.
Bercinta di belakang jendela kaca yang transparan? Bukan ini maksudnya menolak Bimasena masuk ke dalam kamarnya.
"Iya, aku sudah gila. Kamu yang sudah membuatku gila Nadia." Suara pria itu sudah serak, penuh keinginan, tetapi terdengar sangat sexy.
Sekali lagi, ia jatuh ke dalam jurang dosa. Jurang dosa yang penuh keindahan dan kegilaan.
Bukan Bimasena yang gila. Namun dirinyalah yang gila. Membiarkan pria itu melakukannya di tempat ini. Menjadi tontonan seluruh dunia.
Di mana rasa malu yang ia miliki?
Bukankah ia selalu luluh lantak terhadap pria itu?
Saat rasa malu, bahkan iman yang dimilikinya terdegradasi ke tingkat terendah, ia sudah lupa berada di mana. Hanyut dalam cumbu mesra yang berbalur birahi cinta.
Bintang gemintang di luar sana semakin terang. Seolah membelalakkan mata melihat mereka yang dimabuk gairah di belakang jendela kaca.
Deru nafas saling memburu. Desa han, leguhan dan erangan tak terhindarkan lagi. Peluh semakin deras membasahi dua tubuh yang polos.
Cinta terlarang yang tumbuh sudah membutakan logika. Dua tubuh menyatu, memadukan kasih dan hasrat yang bergelora. Tak kuasa menahan tekanan hasrat.
Bimasena kembali membawanya terbang melayang. Melayang menggapai indahnya langit ketujuh. Melumatkan rindu yang selalu meronrong jiwa.
Malam ini, dunia milik mereka berdua. Yang lain hanya menonton.
Berakhir dengan raga yang mengejang, saling terpuaskan. Kedua tubuh merosot ke lantai setelah menggapai kenikmatan. Bibir saling berpagut. Tubuh saling berdekapan. Tak ingin terpisahkan lagi.
A night to remember.
******
Readersku tersayang,
Bagaimana kabarnya hari ini?
Semoga tetap dalam curahan kesehatan dan kebahagiaan.
Tidak berhenti Author ingatkan.
Jangan menanam bibit selingkuh, jangan sampai tumbuh tidak terkendali.
Jangan mendekati zina.
Novel ini sekedar hiburan semata. Bukan untuk ditiru. Mudah-mudahan ada nilai positif yang bisa dipetik meskipun seujung kuku.
Terima kasih atas segala apresiasi dan dukungannya.
Salam sayang dari Author Ina AS
😘😘😘
Facebook: INA AS
__ADS_1
IG : inaas.author
GC: Ina As