REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
110. I Will Always Love You


__ADS_3

Bimasena beserta jajaran Direksi FreddCo Energy Venezuela tiba di sebuah strip club, Donatela Club. Selain untuk melepaskan penatnya pekerjaan dari aktivitas sehari-hari, juga untuk merayakan kesuksesan FreddCo Energy. Setelah FreddCo Energy Venezuela berhasil melaksanakan semua proses mulai dari penambangan minyak dan gas, pengolahan, sampai produk minyak dan gas selesai dikirim ke luar negeri.


Donatela Club merupakan salah satu tempat hiburan malam termewah di Caracas, yang menyajikan atraksi kehidupan malam, salah satunya menampilkan hiburan tari te lan jang.


Enam orang bodyguard (pengawal) turut serta bersama mereka untuk menjamin keamanan para direksi FreddCo Energy.


Klub malam Donatello menjadi klub terpanas di Caracas. Gambar-gambar perempuan berpakaian minim menari di sekitar tiang-tiang terpampang di dinding dalam klub tersebut.


Dengan dekor ruangan yang unik serta para tamu bergaya eksekutif, membuat orang betah berlama-lama bersosialisasi di klub malam itu.


Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke dalam klub yang menjadi favorit para model, ekspatriat, sosialita dan selebriti Venezuela karena harus merogoh kocek yang banyak.


Begitu mereka duduk di kursi, tidak sampai beberapa menit beberapa wanita cantik telah datang mendekati mereka.


Etika dalam pergaulan di dunia malam bagi mereka adalah memberikan kesempatan kepada orang yang tertinggi jabatannya sebagai orang yang pertama memilih wanita teman kencan.


Direktur Utama, Mr. Nicholas, yang memilih wanita penghibur terlebih dahulu.


Tidak tanggung-tanggung, Mr. Nicholas menarik dua wanita cantik sekaligus.


Membuatnya tergelak. Karena usia atasannya sudah berada pada angka 63. Ia tidak menjamin apakah Mr. Nicholas masih mampu mengimbangi dua wanita yang masih berusia muda tersebut.


Setelah itu Mr. Nicholas mempersilahkannya untuk memilih.


Tetapi ia mengangkat tangannya, yang berarti penolakan.


"No, thank you, " jawabnya.


"Why?" tanya Mr. Nocholas dengan kening mengerut.


"Maybe next time," terangnya, yang langsung dibalas oleh Mr. Nicholas dengan senyuman dan anggukan tanda mengerti, lalu mengangkat jempol untuknya.


Berkali-kali ia menolak setiap wanita mendekatinya. Meskipun ia tahu, tidak semua wanita yang datang padanya merupakan wanita penghibur.


Ia bukan type pria yang menyukai jajan sembarang tempat, karena high risk, terutama terhadap kesehatan.


Terlebih sekarang ia tidak ingin mencari masalah. Karena setiap malam tiba di Venezuela, Nadia di Jakarta berubah menjadi penyelidik. Selalu memastikan dirinya berada di mana, dengan siapa dan sedang berbuat apa.


Tentu ia tidak ingin gagal menikah. Usianya sudah tiga puluh dua tahun. Pertunangannya tinggal beberapa hari lagi akan terlaksana. Dan ia akan menikah dua bulan kemudian.


Ia yakin Danindra akan menertawainya, bila tahu ia sering memutar handphone -nya 360 derajat, untuk menampilkan view dimana tempatnya berada. Karena Nadia harus memastikan bila ia tidak sedang bersama wanita lain.


Kadang-kadang ia merasa geli sendiri. Namun terpaksa dilakukannya. Karena bila Nadia ngambek, bukan hanya tidak menjawab berpuluh-puluh panggilannya, namun ia kehilangan akses untuk berkomunikasi dengan baby Glor.


Ia hanya memesan red wine dan menikmati atraksi pole dance (tari striptis), gerakan tari sensual yang menentang gravitasi. Sekali-kali ia membalas pesan pada handphone -nya. Atau tertawa melihat satu persatu teman-temannya dari FreddCo Energy yang kehilangan kesetiaan pada pasangan.


Sebelumnya ia sudah menyampaikan kepada Nadia, bila ia hendak ke sebuah klub malam bersama teman-temannya.


Ia tersenyum sendiri mengingat ancaman Nadia tadi kepadanya.


"Awas ya kalau kamu main wanita!"


Padahal bila ia ingin, mudah saja melakukannya. Bahkan tanpa sepengetahuan Nadia.


Tapi ia tetap berusaha untuk setia. Karena ia sudah pernah menghancur leburkan rumah tangga Nadia. Tentu ia tidak ingin menambah dosa bila harus mengkhianati wanita tersebut. Sudah cukup ia membuat susah ibu dari puteranya itu.


"Makanya kalau aku meminta sesuatu jangan ditolak," balasnya kepada Nadia, yang belum pernah mengabulkan permintaan khususnya sampai saat ini.


"Gimana nggak ditolak, kalau kamu otaknya mesum melulu," kilah Nadia, berpura-pura cemberut kepadanya.

__ADS_1


Saat mengakhiri percakapan via video call dengan Nadia, ia mengirim foto Nadia yang tersimpan di handphone -nya kepada Nadia.


Foto yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi saat Nadia sedang tidur, ketika mereka berdua berada di rumah kost Nadia. Kala Nadia minggat dari apartemennya.


Foto Nadia dalam posisi berbaring dengan mata terpejam. Hanya mengenakan underwear polkadot.


Ia yakin di Jakarta, wajah Nadia sedang merah padam. Karena foto yang ia kirim berbeda dengan lukisan yang pernah ia pajang.


Pada lukisan yang ia pajang di dinding kamarnya, Nadia masih menutupi dada dengan tangan, serta mengenakan kalung safir.


Sedangkan pada foto yang ia kirim, merupakan foto sebelum ia memakaikan kalung pada wanita tersebut.


Dada wanita itu terekspos sempurna. Sangat indah dan menantang.


Ia tertawa mendapat pesan balasan dari Nadia.


Nadia :


Biiiiiiiiiim awas kamu ya! Badung ! Hapus foto itu.


Sangat menyenangkan menggoda ibu Glor.


Saat ini ia memiliki dua makhluk kesayangan yang menggemaskan, Nadia dan Glor.


Keinginan terbesar yang diidamkannya saat ini adalah ... saat ia berangkat tidur, dua orang itu akan berada di sampingnya. Dan ketika ia terbangun, maka wajah-wajah itulah yang pertama dilihatnya.


Bila saja ayah dan ibunya tidak menginginkan resepsi pernikahan mewah untuk ia dengan Nadia, di Jakarta dan di Amerika, maka ia tidak ingin menunggu jeda waktu dua bulan. Dua bulan terlalu lama untuknya yang sudah kebelet kawin.


Ia kembali meneguk red wine -nya. Namun situasi di dalam club tiba-tiba berubah. Musik yang mengirimi penari pole dance mendadak berhenti. Penari pole dance berlari turun dari panggung. Begitupun pengunjung club, berhamburan berlari keluar dari club.


Tanpa diperintah para bodyguard berdiri mengelilinginya dengan posisi membelakanginya, menyusun formasi melindungi.


Kelompok Mafia The King datang mencarinya.


Ia pun meminta kepada rekan-rekannya dari FreddCo Energy, juga Mr. Nicholas untuk meninggalkan tempat itu.


Sementara ia tetap duduk pada kursinya, berusaha menenangkan diri untuk mengurai ketegangan yang begitu saja menyergap dirinya. Menyadari bila ia dan bodyguard berada dalam situasi yang mengancam keselamatan.


Di depannya, bodyguard sudah saling berhadapan dengan kelompok The King, saling mengarahkan senjata.


Di belakang aggota kelompok The King, seorang pria duduk dengan menyilangkan kaki, memegang gelas bir dan menatap tajam ke arahnya.


Pria itu adalah ... pemimpin gangster The King, El Maro.


Bukan sekali ini saja orang itu menerornya. Ia sudah dua kali bertemu dengan El Maro.


Pemimpin The King tersebut melarangnya mengimpor naphta dari Peru, serta memintanya membeli naphta dari distributor yang menjadi penyokong dana geng kriminal tersebut.


Tentu saja ia menolak karena harga yang ditawarkan oleh distributor lokal sangat tinggi. Sementara ia harus memangkas biaya produksi agar perusahaan mendapat keuntungan.


Mengetahui ia mendapat teror dan berkonflik dengan kelompok kriminal The King, ayah tirinya memintanya untuk kembali ke Texas.


Namun ia menolak.


Ia tidak ingin menjadi pria pecundang, meninggalkan pekerjaan yang belum selesai, hanya karena ancaman pria yang kerjanya mengintimidasi orang, El Maro.


Ia membuka jasnya, sambil mencabut pistol Desert Eagle yang terselip di pinggangnya. Ia lalu menyembunyikan pistol tersebut di bawah jas yang ia letakkan di sampingnya.


Begitupun dengan army knife (pisau tentara) yang turut dibawanya. Juga ia sembunyikan di bawah jas. Agar ia tampak seperti seorang yang tidak bersenjata.

__ADS_1


Ia merasakan ketegangan tingkat tinggi. Karena saat ini beberapa nyawa terancam, terutama nyawanya yang menjadi target utama El Maro.


Apalagi jumlah bodyguard-nya tidak sebanding dengan jumlah anggota kelompok gangster The King. Yang setelah ia hitung berjumlah lebih dari sepuluh orang.


Seorang bodyguard -nya yang berbicara dengan pengawal El Maro, datang kepadanya dan berbisik,


"El te llama (dia memanggilmu)."


Ia hanya tersenyum sinis kepada El Maro menanggapi bisikan dari bodyguard -nya.


"Estoy esperando aquí (Aku menunggunya di sini )."


Pantang baginya diperintah oleh mafia itu. Ia menghormati orang lain yang menghormatinya. Tetapi ia tidak ingin kehilangan martabat dan harga diri hanya karena takut terhadap mafia tersebut.


Bilapun ia harus mati malam ini, tetapi ia mati karena melawan El Maro. Bukan selamat lantas dijajah oleh seorang bedebah bernama El Maro.


Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat bagaimana ekspresi kemarahan El Maro saat mendengar dari anggota kelompok bahwa ia menolak mendatanginya. Pria itu melempar gelas bir ke dinding dengan sangat keras.


Mereka berdua lalu saling menghunuskan tatapan.


Pertanda hal buruk akan terjadi.


Ia menyandarkan punggungnya di sofa. Kemudian mengambil handphone dan menghubungi nomor Danindra.


Danindra : I'm in a meeting, don't disturb (Aku sedang rapat, jangan ganggu). I'll call you later (Aku hubungi nanti).


Tetapi ia tidak peduli dengan aktivitas Danindra saat ini. Ia tetap menyampaikan pesannya kepada Danindra.


Bimasena : Ndra. Aku titip Nadia. Tolong bimbing dia dalam bisnisnya.


Danindra : Woi, Maksud lu apa?


Tanpa menjawab pertanyaan Danindra, ia memutus panggilannya. Karena El Maro sudah berdiri dari kursi, berjalan ke arahnya, disertai para anggota gangster di belakang pria tersebut.


Satu nomor penting lagi yang harus ia hubungi secepatnya sebelum ia menghadapi El Maro, untuk menuntaskan masalah dengan cara jantan. Laki-laki dengan laki-laki.


Nadia.


Nadia : Biiiim


Rasanya begitu haru, mendengar suara manja Nadia yang begitu senang menjawab panggilan teleponnya. Wanita itu tidak mengetahui apa yang terjadi padanya.


Bimasena : Mi amor, aku titip Glor.


Bimasena : Ingatlah selalu, aku sangat mencintaimu. Cintaku bukan hanya sampai akhir hidupku. Juga saat hidup setelah matiku.


Bimasena : Maafkan aku.


Nadia : Bim?


Ia mematikan handphone-nya tanpa menunggu jawaban Nadia.


Tanpa terasa setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Bukan karena takut menghadapi El Maro. Bukan karena gentar kepada The King.


Namun karena setelah malam ini ...


Mungkin ia tidak bisa memenuhi janjinya pada Nadia Humeerah lagi.


Mungkin ia tidak bisa bertemu bayinya lagi.

__ADS_1


Glor Gerardo.


__ADS_2