
Bagaimana Nadia tidak menangis, bila hatinya dirundung kesedihan yang mendalam. Baru beberapa hari mengalami kegagalan rumah tangga, kini diperhadapkan pada masalah baru.
Dirinya ternyata hanya seorang pengangguran.
Bukan wanita mandiri yang berdiri di kaki sendiri. Bukan!
Kepalanya hampir pecah memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup dengan puteranya setelah ia menyadari bila dirinya hanya karyawan bohongan di Titiana April & Partners.
Memang benar kata Tristan, dirinya memang bodoh. Semudah itu hidupnya dalam settingan Bimasena. Tidak pernah menyadari bila selama ini berada dibawah pengaruh pria tersebut.
Ibu Titiana atasan yang ia andalkan, rupanya bekerja untuk Bimasena. Jadi selama ini bukan Ibu Titiana yang menggajinya meskipun ia bekerja di Firma advokat itu, tetapi Bimasena.
Lily yang ia anggap seperti saudara, ternyata bukan karyawan Ibu Titiana. Tetapi Karyawan FreddCo Energy. Juga orang yang berada dibawah pengaruh pria itu juga.
Rumah di samping kiri dan di samping kanan rumah yang ia tempati, bukan rumah Lily. Kedua rumah tersebut sudah dikuasai oleh Bimasena.
Hidup yang penuh kejutan? Atau dirinya yang terlalu bodoh?
Dirinya yang terlalu bodoh jawabnya.
Dulu saat petugas pemungut PBB datang menangih PBB dan mengatakan bahwa rumah di samping kiri dan kanan rumahnya atas nama Nadia Humeerah, harusnya ia sudah curiga bila ada sesuatu yang tidak beres.
Tetapi begitulah bila masuk dalam golongan kaum pandir, tidak mampu mendeteksi sesuatu yang ganjil. Radarnya kurang mampu menangkap sinyal. Lemot, seperti itu yang dikatakan Tristan padanya.
Jangan pikir dirinya merasa bahagia bila Bimasena menghadiahkan dua rumah di samping rumahnya untuknya.
Sekarang yang ia inginkan bukan rumah, tetapi ia ingin memiliki pekerjaan. Agar tidak bergantung kepada siapa-siapa lagi.
Ia sudah memiliki pengalaman bagaimana pedihnya menggantungkan harapan terhadap seseorang.
Dulu ia punya orang tua yang mampu menghidupinya sehingga tidak perlu khawatir akan hidup kekurangan. Tetapi pada akhirnya kedua orang tua yang diandalkannya itu meninggalkannya untuk selamanya.
Ia punya kakak, Bang Herial yang ia pikir bisa mengayominya. Tetapi Bang Herial justru melempar beban ke bahunya yang begitu berat untuk dipikul.
Ia kemudian menitip hatinya kepada Tristan, menguatkannya dengan ikatan pernikahan. Tetapi tutur dan laku Tristan ternyata sering melukai perasaannya.
Kemudian Bimasena datang. Ia menggantungkan harapan kepada pria tersebut. Tetapi keadaan tidak berpihak dan berakhir dengan air mata.
Lalu ia mengenal Lily.
Dan mengenal Ibu Titiana.
Semua berakhir mengecewakan.
Sehingga ia tidak ingin menggantungkan hidupnya kepada siapa-siapa lagi. Meskipun kelak seandainya ia ditakdirkan masih memiliki jodoh, ia harus memiliki penghasilan sendiri.
Lalu sekarang apa yang harus ia lakukan?
Bagaimana caranya bisa mendapat pekerjaan kembali?
********
Saat Bimasena memarkir kendaraan di depan rumah Nadia sore itu, netranya menangkap bayangan Nadia di balik jendela kamar yang terbuka. Sehingga begitu ia turun dari mobil, ia langsung menghampiri Nadia yang berdiri di belakang jendela.
Mata sendu sembab Nadia menatap garang ke arahnya. Seakan ingin melahapnya.
"Kamu penjahat!" Sapaan yang cukup ramah dari wanita yang sama menggemaskannya dengan baby Glor.
Ia tersenyum membalas tatapan mata Nadia. Merasa geli sendiri dilabeli penjahat oleh Nadia.
Tangannya memegang teralis yang menjadi penghalang antara dirinya dan Nadia, lalu menengokkan kepalanya ke balik jendela.
Saat ia menengok ke dalam kamar, ia melihat baby Glor berguling dan mengoceh sendiri di atas tempat tidur. Bocah imut yang membuatnya mengerti arti berjuang dan kemana arah tujuan hidupnya.
"Glor, bukain pintu untuk Daddy dong." Ia justru mengajak Glor berbicara sambil melambaikan tangan dari sela teralis untuk menarik perhatian Glor.
"Kamu di teras saja. Nggak usah masuk," potong Nadia yang membuatnya tergelak. Sementara di dalam kamar, Glor yang menyadari kehadirannya, tersenyum dan mengoceh menyapanya.
Lihatlah betapa lucu puteranya. Bayi yang ramah. Tidak seperti ibunya yang galak.
"Bilangin Mami dong Glor, jangan kejam sama Daddy," ia terus mencandai Glor dari luar jendela. Berharap dapat meredam emosi Nadia.
"Kamu yang kejam. Kamu membodohi aku." Nadia malah menggunakan kata yang ia ucapkan untuk menyerangnya. Air mata meleleh membanjiri pipi wanita itu.
"Hey hey hey siapa yang membodohi kamu?" ia berusaha meraih tangan Nadia, tetapi Nadia menepis tangannya dan menjauh dari teralis besi sehingga tangannya tidak dapat menjangkau Nadia.
"Jangan merasa aku membodohi kamu, cobalah lihat dari sudut pandang berbeda. Apa yang aku lakukan adalah caraku menyayangi kamu."
"Menyayangi bagaimana? Kamu sudah membuat aku malu Bim. Tiap hari keluar rumah berlagak pekerja kantoran, ternyata hanya pekerja boongan. Pengangguran terselubung. Parahnya lagi, aku bahkan tidak menyadari orang-orang menertawakanku di kantor itu," sembur Nadia, dengan tangis yang begitu memilukan.
Meskipun baginya hal itu bukanlah sesuatu yang layak untuk ditangisi.
"Siapa yang menertawai kamu? Tidak ada yang akan berani menertawai kamu di kantor itu karena bila mereka melakukannya, mereka akan berhadapan dengan aku."
"Bukankah Ibu Titiana sekalipun memperlakukan kamu seperti seorang ratu? Mana berani bawahannya menertawakan kamu?"
Mungkin ia terlalu menghiperbolakan rayuannya. Tetapi bisa membuat Nadia terdiam merenungi ucapannya.
"Nadia, tolong buka pintu dulu. Aku perlu ke kamar mandi," ia berusaha membujuk Nadia dengan suara suara pelan.
"Kamar mandi di sebelah aja, di rumahmu sendiri. Bukannya kamu memiliki kuasa, mudah mendapatkan apa yang kamu inginkan?" sembur Nadia. Ternyata tidak mudah meluluhkan hati wanita itu bila sedang marah.
Mudah? Seperti apa mudahnya? Bila mudah dirinya tidak perlu berdiri di luar jendela menatap dua makhluk yang diperjuangkannya.
"Sepertinya aku tertular kamu deh. Bila kamu lihat aku, bawaannya pengen pipis melulu. Sekarang aku juga seperti itu," ia mengamati wajah Nadia untuk melihat reaksinya.
Kemudian menebar ancaman.
"Kalau kamu nggak buka, ya udah aku di pot ini saja." Ia menunjuk satu pot yang berisi bunga, entah bunga apa namanya.
"Atau pot yang itu?" Ia menunjuk satu pot lagi yang berisi bunga mirip bunga matahari, tetapi ukurannya lebih kecil dan berwarna putih. "Nggak bakalan mati bunganya kan?"
__ADS_1
Mulut Nadia membulat mendengar ucapannya.
"Kamu gila ya Bim, nggak tahu malu. Mau buang air di tempat terbuka. Dasar nggak punya etika. Seperti itu kebiasaan kamu di negara barat sana?" dengus Nadia dari dalam rumah. Mengomel sambil berjalan meninggalkan kamar. Tidak lama kemudian pintu ruang tamu terbuka.
Cukup mudah kan mengakali Nadia?
*******
Nadia menatap wajah Bimasena dengan ekspresi tidak percaya. Bagaimana bisa manusia setua itu tidak tertanam rasa malu di dalam sanubari, hendak buang air di halaman rumahnya yang tidak berpagar.
Bukankah pria itu sudah bergelar sarjana? Apa di Amerika sana tingkah orang-orangnya serupa Bimasena? Mungkin terlalu lama tinggal di benua Amerika membuat pria itu lupa pendidikan moral yang terkandung di dalam sila Pancasila.
Namun begitu melihat senyum culas pria itu saat melewati pintu, ia pun segera menyadari kebodohannya. Apalagi setelah itu Bimasena menutup dan mengunci pintu.
Air matanya tumpah kembali karena merasa Bimasena kembali membodohinya.
"Meskipun aku bodoh berhentilah membodohiku," pintanya dengan suara bergetar.
Pria itu berdiri sejenak di depannya, lalu sambil berjalan ke belakangnya pria itu berucap,
"Nadia, aku bukan pria bodoh yang akan mengejar wanita bodoh. Berhentilah mengatakan dirimu bodoh."
Tetapi aksi Bimasena kemudian membuatnya terhenyak. Karena tanpa ia duga pria itu melingkarkan tangan pada pinggangnya, menariknya ke belakang, sehingga ia jatuh ke belakang, terduduk di sofa.
Bukan duduk di sofa, tetapi duduk di atas paha pria itu.
Ya, dipangku pria itu.
Oh
Bagaimana ia tidak panik bila tangan kiri Bimasena melingkari pinggangnya dengan erat dan tangan kanan pria itu menariknya ke belakang sehingga punggungnya menempel dengan erat pada dada pria itu.
Kalau sudah begini, apa yang bisa dilakukanya lagi?
Ia sudah habis.
Sudah kalah perang.
Terlebih lagi merasakan wajah pria itu membenam di lehernya.
Tiba-tiba ia mengalami sesak nafas.
Sudah lupa apa yang terjadi tadi.
Lupa mengapa pipinya basah oleh air mata.
Ya, ia sudah mengalami ketidakmampuan untuk mengingat peristiwa sebelumnya.
"Siapa yang bilang kamu bodoh?" bisik Bimasena.
Hembusan nafas pria itu begitu hangat dilehernya. Membuat bulu-bulu halus pada kulitnya berdiri tegak seperti duri landak.
Memang siapa yang mengatakan bila dirinya bodoh? Tolong bantu ia menjawab pertanyaan itu. Karena duduk di atas pangkuan pria itu, dipeluk begitu erat, membuatnya lupa segalanya.
"Berhentilah mengatakan dirimu bodoh. Kamu tidak bodoh sayang. Dan aku tidak pernah membodoh-bodohimu."
"Aku akan marah bila sekali lagi aku mendengar kamu menyebut dirimu bodoh."
Sungguh ia tidak tahu topik apa yang sedang dibahas oleh pria yang sedang ia duduki.
Yang ia pikirkan sekarang, mengapa udara menghilang dan ruang tamu menjadi ruang hampa udara. Sehingga ia seperti berada di luar angkasa. Kesulitan bernafas dan melayang kemana-mana.
"Bukankah aku pernah mengatakan padamu saat pernikahan Alfredo, bila aku akan selalu ada untuk memastikan kamu bahagia tanpa mengganggu hubunganmu dengan Tristan?"
Alfredo sudah menikah ya? Kapan? Mengapa ia tidak ingat?
"Orang-orang yang kau temui adalah perwujudan diriku. Seperti itulah caraku menyayangimu. Karena terlarang untuk menemuimu."
Sekarang ia merasakan bibir pria itu menyentuh lehernya.
Tolonglah, ia tidak bisa bernafas lagi.
Badannya lemas gemulai kehilangan tenaga.
Jantung nakalnya menderu bergemuruh. Menikamnya dari dalam.
Perutnya yang masih terlipat dan belum kembali ramping membebani pikirannya.
Juga bra nya yang basah karena ASI. Atau sejumput area yang belum dicukur di bawah sana bukti bahwa ia tidak merawat diri.
Apalagi tangan pria itu kini mere mas-re mas perutnya. Tidak bisakah tangan itu berada di tempat lain saja yang tidak akan membuatnya semalu ini?
Ketegangan yang ia rasakan lebih kuat daripada seseorang yang berada di ujung peluru.
Tidak adakah cara yang lebih baik untuk membunuhnya daripada diperlakukan seperti ini?
Tetapi suara tangisan bayi dari dalam kamar mengembalikan kesadarannya.
Dengan segera ia melompat dari pangkuan Bimasena saat pria itu melonggarkan pelukan mendengar suara Glor menangis.
Ia memekik begitu melihat ke arah tempat tidur, dimana Glor sudah berada di tepi tempat tidur, nyaris terjatuh. Sekarang bayi itu tidak boleh ditinggal berlama-lama lagi di atas tempat tidur karena sudah kuat berguling.
Dengan segera ia menggendong Glor untuk menenangkan bayinya.
"Kamu sih, Glor hampir jatuh." Sekarang ia punya alasan lagi untuk menyerang Bimasena. Rasanya tadi belum puas meluapkan kekesalan pada pria itu. Apalagi tangan pria itu begitu nakal bermain-main di perutnya yang ingin disembunyikan.
Tetapi Bimasena bukan pria yang mudah terprovokasi. Pria itu mendekat dan berucap pelan dengan suara rendah. Tetapi ucapan pria itu membuatnya bergidik.
"Tapi belum jatuh kan? Kalau begitu gak perlu marah-marah mami cantik. Karena bila melihat kamu marah, kamu semakin menggairahkan di mataku. Animoku makin kuat. Ada yang meronta-ronta nih. Atau kamu sudah siap untuk hamil lagi?" Bimasena tersenyum culas padanya dengan mata menyipit. Membuat perutnya terasa mengeras dan menyempit. Angin panas menerpa wajahnya.
Sehingga ia tidak menolak saat Bimasena mengambil alih baby Glor dari gendongannya. Lebih baik pria itu sibuk bermain dengan bayi daripada sibuk memikirkan sesuatu yang ... bisa membuatnya hamil kembali.
__ADS_1
***
Ia duduk di tepi tempat tidur mengamati interaksi ayah ... eh Bimasena dengan Glor. Sudut hatinya menghangat, menatap haru bayinya. Bayi yang selama ini tidak ubahnya anak yatim.
Ada ikatan tak kasat mata yang cukup kuat antara Bimasena dan Glor. Keduanya begitu akrab berbincang dengan bahasa yang tidak dimengerti.
Tetapi
Pria besar dan pria kecil itu berkolaborasi mempermainkan dirinya.
"Glor jangan cengeng ya seperti Mami," seru Bimasena menatap nakal pada dirinya.
Disusul tawa Glor, ikut menertawakan ibunya sendiri.
Cengeng? Wanita mana yang tidak menangis bila mengalami nasib yang sama dengan dirinya?+
********
"Glor jangan cengeng ya seperti Mami," seru Bimasena menatap wanita yang duduk di tepi ranjang. Bermaksud mengajak Nadia bercanda bersama dirinya dengan Glor.
Tetapi yang diajak becanda bukannya tertawa. Ucapannya ternyata melukai hati Nadia. Malah membuat wanita itu menangis kembali.
"Ayolah Glor. Tanggung jawab loh. Kamu sudah membuat mami menangis," bisiknya pada Glor yang kembali disambut tawa oleh puteranya yang periang.
Ia lalu berjalan menghampiri Nadia, menarik kepala Nadia hingga wajah wanita itu membenam di perutnya.
"Hey, kenapa menangis lagi sayang? Aku minta maaf ya kalau ucapanku menyakiti hatimu."
Nadia tidak menganggapinya. Hanya terus terisak menyembunyikan wajah di perutnya.
Wanita ...
Untuk pertama kalinya ia bertemu dengan wanita yang begitu perasa seperti Nadia. Wanita yang mudah menangis, menandakan bahwa Nadia adalah sosok penyayang.
Namun ia tahu sesungguhnya yang membuat Nadia menangis bukan karena ucapannya. Tetapi karena Nadia tidak mampu mengungkapkan kesulitan hidup yang dialami kepadanya. Nadia hanya menyimpannya sendiri. Menyembunyikan perasaan di dalam batin.
Satu tangannya menggendong bayi yang ingin terus mengajaknya bercanda. Sementara satu tangannya membelai kepala ibu bayi yang sedang menangis.
Dua tugas dalam satu waktu.
Bermain bersama si bayi agar tidak menangis, sekaligus merayu ibu bayi agar berhenti menangis.
Tugas yang sangat mulia Bimasena.
Latihan menjadi seorang ayah dan seorang suami.
"Katakan, bila ada sesuatu yang ingin diungkapkan. Jangan dipendam sendiri."
Akhirnya Nadia bersuara.
"Aku ingin memiliki pekerjaan Bim," ucap wanita itu dengan suara bergetar.
Pekerjaan? Jadi hanya pekerjaan yang membuat wanitanya menangis? Ia ingin tertawa, tetapi menahan diri. Mencegah Nadia tersinggung.
"Kamu mau kerja apa? Mudah-mudahan aku bisa bantu."
Apa sih yang tidak bisa ia berikan kepada wanita yang telah melahirkan puteranya. Dunianya pun ia berikan apalagi hanya pekerjaan.
"Nggak tahu mau kerja apa dan cari kerja di mana." Sekarang Nadia menegadahkan wajah sendu menghadap ke arahnya. Meminta masukan darinya.
"Mau kerja di FreddCo Energy bersama Lily?"
Nadia menggeleng.
"Gini aja, aku buatkan klinik kecantikan profesional. Kamu yang kelola. Nanti kamu bisa mengeluarkan produk kecantikan dengam brand sendiri."
Ia merasa idenya sudah pas untuk Nadia yang pernah memiliki salon kecantikan.
Tapi sambutan Nadia tidak seperti yang ia harapkan.
"Aku nggak mau pekerjaan yang berhubungan denganmu. Aku ingin pekerjaan yang lepas dari pengaruhmu. Aku sudah trauma setelah bekerja pada Ibu Titi."
Ingin pekerjaan yang terlepas dari pengaruhnya, tetapi berharap padanya? Wanita ini semakin menggemaskan. Memaksanya untuk berpikir keras.
Tiba-tiba ia teringat Danindra.
"Bagaimana bila kamu bekerja di perusahaan developernya Danindra?"
Butuh karyawan ataupun tidak, wajib hukumnya bagi Danindra menerima orang yang ia sayangi bekerja di perusahaan milik ayah Danindra. Pantang baginya mendengar penolakan dari Danindra.
"Aku bekerja di Developernya Danindra, tapi kamu yang menggajiku seperti kejadian di kantor advokat Ibu Titiana?" Nadia menggeleng dengan tegas. "Tidak mau. Aku sudah trauma."
Mengapa Nadia selalu membuat hal yang begitu mudah menjadi rumit?
"Bagaimana kalau kamu menjadi independent marketing?" usulnya kembali, tanpa mempertimbangkan Nadia memiliki skill atau tidak.
"Apa itu?" tanya Nadia dengan begitu polosnya.
"Jadi marketing independen itu adalah pihak yang menjadi perantara dalam jual beli properti secara mandiri tanpa terikat dengan perusahaan. Tidak digaji oleh perusahaan. Penghasilan diterima dari komisi hasil penjualan rumah," paparnya sambil mengelus rambut Nadia yang masih mendongak ke arahnya.
"Jadi kamu tidak perlu khawatir bekerja dibawah pengaruhku lagi. Bagaimana?" lanjutnya.
Tidak mudah memulai karir sebagai agen properti independen, apalagi bagi wanita seperti Nadia.
Tetapi itu tidak penting baginya. Yang jelas wajah sendu wanitanya sekarang sudah berbinar bak puteri bulan. Senyum sudah terkulum dari bibir yang sedari tadi cemberut kepadanya.
Sungguh indah.
Senyum yang membuat si pemuja mampu melalui jalan terjal dan berisiko.
Nadia, dengan segala kehalusan perasaan yang dimiliki.
__ADS_1
Dewi pelipur hatinya.