
Bimasena?
Mengapa ia bisa berada di tempat ini?
Siapa yang memberi tahu alamat salon saya?
Untuk apa ia datang kemari? Sekedar untuk creambath? Ah rasanya tidak mungkin.
“Bima?” sapa Nadia.
Sungguh ia tidak tahu dengan kalimat apa ia harus menyapa Bimasena.
Bimasena tersenyum padanya, lalu berkata,
“Selesaikan saja dulu. Saya tunggu di luar,” ucap Bimasena lalu beranjak ke ruang tunggu.
Nadia merasa lega saat Bimasena beranjak ke ruang tunggu, ia bisa mengatur nafasnya sejenak dan berusaha menormalkan degup jantungnya yang mendadak berpacu karena kedatangan tamu tak terduga.
Apa yang harus aku lakukan?
Melayani permintaan Bimasena untuk creambath?
Tapi aku tidak melayani pelanggan lelaki.
Bahkan seandainya aku melayani pun, aku tidak akan mampu menyentuh Bimasena.
Meski hanya bagian kepalanya saja.
Karena sudah bisa dipastikan, tanganku akan gemetar.
Atau mungkin seperti tersengat listrik bila menyentuhnya.
Alangkah tidak elok dipandang, bila aku terlihat gugup olehnya.
Duh….
Setelah meminta Adriani untuk melanjutkan hair spa wanita yang sempat tersiram air olehnya, ia pun keluar untuk menemui Bimasena.
Pria itu sedang sibuk berbicara lewat ponselnya dengan menggunakan bahasa asing. Raut mukanya sangat serius. Keningnya berkerut. Bahkan tidak menyadari kehadiran Nadia di dekatnya karena terlampau seriusnya. Mungkin urusan yang sangat penting pikir Nadia.
Dengan setelan jas casual berwarna abu-abu tua, kemeja putih dan dasi biru, pria tampan itu semakin terlihat berkelas. Nadia memperhatikan bagaimana cara pria itu berbicara dengan seseorang lewat ponsel. Seolah-olah memberikan kesempatan kepada Nadia untuk mengagumi dirinya.
Begitu menyadari Nadia sudah berdiri di sampingnya, Bimasena segera menghentikan percakapannya di ponsel.
“Sudah selesai?” tanya Bimasena.
__ADS_1
“Belum, sudah ada karyawan yang menangani,” jawab Nadia sambil mengurai senyum untuk menetralisir kegugupan.
Beberapa saat hanya melihat Nadia terus berdiri kikuk, Bimasena pun menunjuk sofa di depannya, dengan maksud agar Nadia duduk di sofa itu.
Nadia kembali merutuki ketololan dirinya.
Dirinya yang tuan rumah, mengapa Bimasena yang memintanya untuk duduk pada sofa miliknya sendiri.
Bukan karena Bimasena berlagak seperti tuan rumah, namun karena ia hanya berdiri bengong, tidak tahu mesti ngomong apa dan berbuat apa, membuat Bimasena mengambil alih kendali yang seharusnya berada pada dirinya sebagai tuan rumah.
“Kok bisa sampai di sini?”pertanyaan pertama yang dilontarkan Nadia begitu duduk di depan Bimasena.
Bukannya menjawab pertanyaan Nadia, Bimasena malah balik bertanya, “Kamu sudah sehat?”
Membuat Nadia mengernyit, kurang paham maksud Bimasena,
“Memang kapan saya sakit?”
“Loh tadi malam di group kamu bilang nggak enak badan?”
“Oh itu?” ucap Nadia tersipu. Bagaimana ia bisa melupakan isi chat yang ia tulis sendiri?, ah bodohnya dirinya.
“Tadi malam aku hanya kecapean.”
“Katanya kamu mau creambath ya?” buru-buru Nadia mengalihkan pembicaraan.”Tapi dengan karyawanku saja ya?, soalnya aku tidak pernah melayani pelanggan pria.”
Buru-buru ia menggeleng, “Nggak, cuman risih aja”
“Baguslah,” ujar Bimasena sembari tersenyum, yang tidak bisa diartikan oleh Nadia.
“Kita ngobrol saja.”
“Ngobrol?” Nadia mengulangi kata yang diucapkan Bimasena. Oh tidak, Bimasena akan mengajaknya ngobrol? Mengapa ngobrol dengan Bimasena berasa seperti suatu beban yang berat.
“Iya, kamu sibuk ya?” Bimasena balik bertanya.
“Eh enggak. Tahu darimana alamat salonku?”
“Mithalia,” jawab Bimasena singkat.
“Oh Mitha, kok nggak datang sama Mitha?”
Bimasena tidak menjawab pertanyaan Nadia, seolah ia tidak ingin membahas Mithalia. Bimasena malah memutar pandangannya ke sekeliling ruangan, seolah-olah sedang memberikan penilaian.
“Karyawan kamu banyak juga ya?” tanya Bimasena.
__ADS_1
“Nggak, cuman delapan orang kok.”
“Tapi pelanggan lancar?”
"Nggak juga, sekarang kan salon kecantikan banyak banget. Terlebih lagi untuk perawatan kulit, orang kebanyakan datang ke klinik dokter estetika. Kami kebanyakan melayani perawatan rambut saja, rias, manicure pedicure, pijat refleksi, body spa,” jawab Nadia.
“Bagaimana strategi pemasaran yang kamu lakukan?” tanya Bimasena kemudian.
Nah ini yang menjadi kekhawatiran Nadia bila harus mengobrol dengan Bimasena. Ia khawatir tidak bisa mengimbangi topik pembicaraan Bimasena, karena ia menyadari kelemahannya. Kendalanya pada wawasannya yang tidak luas.
Bagaimana Nadia harus menjawabnya? Pertanyaan yang sangat susah, sama susahnya dengan soal matematika zaman SMA dulu. Semakin menunjukkan kepandiran dirinya di depan Bimasena.
Wajar bila Tristan mengeluh, ia terlalu minim pengetahuan, meskipun terkait dengan profesi yang ia geluti sendiri.
Selama ini ia tidak pernah memikirkan strategi pemasaran. Ia hanya berjalan begitu saja, setelah melakukan usaha maka hasilnya ia percayakan kepada Tuhan. Yang penting salonnya tetap berjalan. Bisa menunjang hidupnya dan hidup para karyawannya.
Ia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Bimasena.
Melihat Nadia kesulitan untuk menjawab pertanyaannya, Bimasena berusaha menormalkan situasi untuk mengurangi kerikuhan Nadia.
“Maksud saya, bagaimana membangun brand Nadia Salon agar dikenal masyarakat dan brand itu kuat. Hal itu butuh strategi pemasaran. Kamu harus bisa menganalisis, dimana letak kekuatan dan kelemahan salonmu.”
“Contoh, kekuatan salonmu terletak pada sumber daya manusianya yang memiliki skill yang bagus yang sudah dibekali dengan kursus dan pelatihan yang tepat. Trus kelemahannya dimana? Kamu harus tahu itu. Kalau saya melihat, kelemahan salon kamu salah satunya pada lokasi yang kurang strategis serta tempat parkir yang kurang mendukung. Lokasi bisnis dan fasilitas yang sediakan itu berpengaruh kepada kemajuan usaha.”
“Konsep pelayanan juga harus jelas. Misalnya Nadia Salon merupakan salon kecantikan khusus wanita yang menyediakan perawatan untuk memanjakan kaum wanita, sehingga tidak memberikan pelayanan bila Bimasena yang datang,” selain berusaha menjelaskan dengan bahasa yang dianggapnya mudah, Bimasena juga menyisipkan candaan agar Nadia tidak terlalu tegang.
Karena beberapa kali Bimasena memperhatikan, Nadia gelagapan atau salah tingkah bila berkomunikasi maupun bertemu dengannya. Dan saat ini Nadia terlihat tegang.
Nadia pun tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan mendengar kalimat terakhir Bimasena. Salonnya bukannya tidak melayani pelanggan pria, hanya dirinya saja yang tidak ingin melayani pelanggan pria.
Sementara Bimasena hanya ingin dilayani olehnya.
“Kok mulutnya ditutup Nadia? Kalau ingin tertawa, tertawa lepas saja. Kamu lebih menyenangkan bila rileks. Kita pernah hampir satu tahun sekelas. Sedikit banyak aku mengenal kamu.” Ucapan Bimasena ini kembali membuat Nadia salah tingkah.
“Eh kamu tersinggung ya nggak dilayani creambath? Maaf ya, tapi sejak aku buka salon memang aku nggak mau
melayani pelanggan pria. Meskipun itu teman. Bukan juga karena Tristan. Cuman karena risih saja. Tapi karyawanku bisa kok kalau kamu mau,” ucap Nadia dengan nada khawatir Bimasena tersinggung mendapat penolakan darinya.
“Nggak usah khawatir gitu Nadia, aku malah senang kamu menjaga dirimu, nggak melayani pelanggan pria. Jangan sampai aku atau pria lain bisa datang setiap hari ke sini untuk mendapat perawatan namun ternyata ada maksud
tersembunyi di belakangnya.”
“Aku datang ke sini justru karena aku khawatir dengan chat kamu semalam di group. Tapi syukurlah, kamu sehat-sehat saja. Intinya aku cuman ingin bertemu dengan kamu. Nggak masalah, mau dilayani apa enggak, yang penting kamu baik-baik saja, dan aku sudah melihat kamu.” tutur Bimasena sambil menatap mata Nadia lekat-lekat.
Kalimat yang sangat sederhana. Namun tak urung membuat Nadia terkesima dan melambung. Ya, ia betul-betul melayang mengarungi mega-mega.
__ADS_1
Hatinya berdebar tak karuan. Darahnya berdesir karena kalimat dan tatapan itu. Senyumnya pun mengembang.
Meskipun ia sama sekali tidak tahu apa makna dibalik ucapan itu.