
Bagaimana Nadia tidak banjir air mata, bila saat mengemas barangnya dan barang baby Glor untuk pindah ke rumah peninggalan orang tuanya, Tristan mencegahnya.
"Nadia, kamu dan Glor jangan tinggalkan rumah ini. Aku yang akan pergi dari sini. Aku sedang mencari kontrakan di dekat kantor. Bila sudah dapat, aku keluar dari rumah ini. Rumah ini milikmu," tutur Tristan.
Tristan mengeluarkan pakaiannya dari travel bag dan mengembalikan kembali travel bag itu ke atas lemari, tempat penyimpanannya.
Tetapi jelaslah ia tidak bisa menerima kebaikan Tristan. Wanita macam apa dirinya bila sudah mengkhianati dan menyakiti hati suaminya, kini hendak menguasai rumah suaminya pula saat hendak berpisah.
"Tidak Tristan, aku akan kembali ke rumah ayah dan ibu. lagian rumah itu kosong. Ini rumah kamu, bukan harta gono-gini," ia berusaha menolak dengan halus.
Tetapi Tristan tetap bersikukuh.
"Anggaplah ini tanda mata dariku Nadia. Begitupun perhiasan, semua untuk kamu. Depositoku kita bagi dua, karena aku harus membeli rumah lagi."
"Meskipun nilainya tidak ada apa-apanya dibanding harta yang kelak akan kamu peroleh dari Bimasena, kumohon terimalah, sekedar kenang-kenangan bila kita pernah bersama," sambung Tristan yang membuat mulutnya membulat.
"No no no Tristan. Aku berpisah dengan kamu bukan karena aku akan kembali pada Bimasena. Tetapi aku tidak ingin melihatmu tersiksa lagi dengan keadaan ini. Aku ingin melihat kamu bahagia."
Dengan cepat Tristan menyela perkataannya.
"Begitupun aku Nadia, aku memutuskan berpisah bukan karena aku tidak menyayangimu. Bukan karena aku menginginkan wanita lain. Tidak mudah melepasmu dari hidupku. Tetapi karena aku memikirkan Glor."
"Glor harus tumbuh disisi kedua orang tua kandungnya, agar kelak Glor tidak bingung dengan kerumitan yang terjadi pada aku, kamu dan dia."
"Glor sebaiknya memiliki kehidupan yang normal seperti anak-anak lainnya. Jadi, kalian harus bersama, terikat dalam pernikahan demi Glor. Apalagi kamu masih mencintainya." Tristan mengucapkannya dengan tegas.
Tetapi ia menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju.
"Bimasena sudah bahagia di sana. Dia tidak tahu apa-apa tentang Glor, dan aku tidak ingin dia tahu. Aku tidak ingin mengganggunya. Aku yakin, aku bisa hidup berdua saja dengan Glor."
Tristan kembali memotong ucapannya.
"Bimasena punya pengaruh yang kuat. Sampai sekarang ia tidak pernah melepaskan kamu Nadia. Mungkin kamu tidak menyadari, bila kamu berada di dalam lingkungannya dan dibawah pengaruhnya," terang Tristan, membuatnya bingung.
Ia mengamati wajah Tristan dengan tatapan tidak mengerti. Hatinya bertanya-tanya apa maksud dirinya dibawah pengaruh Bimasena? Apa karena ia belum bisa melupakan pria itu? Lalu berada dalam lingkungan Bimasena seperti apa maksudnya? Apa karena ia melahirkan putera dari pria itu?
"Aku tidak perlu menjabarkannya saat ini Nadia. Kelak kamu akan tahu, bila ia punya pengaruh yang kuat dan tidak pernah melepasmu." Tristan mengetahui rasa penasarannya.
"Tris! Yang aku inginkan saat ini, dia bahagia dengan wanita yang pantas untuknya, dan kamu akan menemukan wanita yang tepat untukmu serta bahagia bersama wanita itu. Aku? Memiliki baby Glor sudah merupakan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Aku akan melanjutkan hidup berdua saja dengan Glor."
__ADS_1
Tristan kembali mendebatnya. Mengucapkan kalimat yang membuat sesak dadanya serta memancing air matanya.
"Nadia, Glor harus tumbuh dalam keluarga yang utuh. Kondisi keluarga punya pengaruh besar terhadap mental seorang anak, jangan abaikan itu!" Kalimat yang diucapkan Tristan penuh penekanan.
"Bersatulah dalam ikatan pernikahan dengan dia, dan bangun keluarga yang harmonis. Bagaimanapun kecewanya aku pada kamu dan dia, tetapi aku ingin melihat kamu bahagia. Aku ingin melihat Glor bahagia."
Bukan hanya karena hendak bercerai membawa lara hati padanya. Tetapi perkataan dari Tristan membuat hatinya berdarah-darah. Tidak selayaknya ia menerima kebaikan dari Tristan, karena ia adalah orang yang pernah menikam hati suaminya sendiri.
Ia telah menghancurkan cita-cita tetap bersama hingga maut memisahkan, yang diikrarkan pada hari yang sama saat mengucap janji suci pernikahan.
Tetapi Tristan yang sedang berjuang menyulam sobekan hati, masih memberinya perhatian tulus.
Pantaskah dirinya yang hina ini menerimanya?
Sementara dirinya telah melakukan pengingkaran janji pernikahan?
Salah satu tonggak yang mereka lalui sebagai bagian dari proses perceraian adalah dengan mengunjungi orang tua Tristan, juga Bang Herial dan Mpok Nana, meminta restu untuk berpisah.
"Kalian yakin, tidak bisa mempertahankan rumah tangga kalian lagi?" tanya Ibu Tristan dengan suara bergetar dan wajah penuh harap. "Jangan semudah itu mengucapkan kata cerai!"
Ibu Mertuanya itu sedang menimang baby Glor. Mengira kedatangannya dan Tristan adalah untuk menengok mereka, sangat tidak menyangka bila kedatangannya ternyata meminta restu untuk bercerai.
Begitupun saat mereka menemui Bang Herial dan Mpok Nana. Mpok Nana memberi mereka nasihat dan pertimbangan panjang lebar sambil menggendong baby Glor. Sementara ia, Tristan dan Bang Herial duduk bertiga di kursi tamu.
"Dik, kalian jangan mempermainkan pernikahan. Pernikahan itu bukan sekedar hitam di atas putih, untuk melegalkan hubungan badan. Bukan permainan rumah-rumahan anak kecil. Lantas bila bosan ataupun kecewa dengan pasangan serta merta kalian mengucapkan cerai."
"Pernikahan adalah bagaimana kalian bisa bertahan melawan badai rumah tangga dan menghadapi konflik-konflik yang muncul. Setiap masalah dalam perkawinan harus diselesaikan dengan baik. Perceraian itu bukan jalan keluar, tetapi merupakan sebuah bencana."
Ia menyimak nasihat Mpok Nana dengan kepala tertunduk. Karena di depannya Bang Herial memasang wajah garang sambil mengisap rokok.
Tristan mengeluarkan argumennya untuk menanggapi Mpok Nana.
"Kami sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tangga kami, Bang, Mpok. Tetapi kami tidak dapat melanjutkannya lagi. Perpisahan merupakan jalan terbaik untuk aku, Nadia dan Glor. Setelah bercerai kami juga akan tetap mempertahankan hubungan baik diantara kami."
Mpok Nana mendesah kecewa mendengar argumen Tristan. Sementara Bang Herial tetap dengan wajah garang, terus menerus mengisap rokoknya. Ia tahu bila Bang Herial sedang menahan diri untuk tidak menerkam dan mencabik-cabiknya.
"Apa kamu tahu bagaimana menjadi seorang janda, Nadia?" tanya Mpok Nana padanya seolah kehabisan kata.
"Aku nggak tahu karena aku belum pernah Mpok. Tapi aku siap menjadi janda dan mengasuh baby Glor sendiri," ujarnya sambil memandang ke arah Mpok Nana yang sedang mengayun-ayunkan baby Glor dengan lembut didalam gendongan.
__ADS_1
Ia menghindari bertemu mata dengan Bang Herial karena sorot mata kakak kandungnya itu sarat dengan intervensi.
Sementara itu Bang Herial sama sekali tidak memberikan pertimbangan ataupun nasihat kepada mereka. Abangnya hanya mematikan puntung rokok di dalam asbak, lalu beranjak pergi meninggalkan mereka dengan wajah kecewa.
Bang Herial melangkah keluar rumah tanpa pamit. Tidak lama kemudian, terdengar raungan knalpot motor Bang Herial dengan suara yang menggelegar.
Tidak mudah menemui orang tua Tristan maupun Bang Herial dan Mpok Nana untuk meminta restu berpisah. Tetapi lebih tidak mudah lagi melihat Tristan mengumpulkan pakaian dan barang pribadi, memasukkanya ke dalam bagasi mobil, bersiap untuk meninggalkan rumah itu.
"Maaf Tristan, aku nggak bisa tinggal di rumah ini. Aku juga akan pergi dari rumah ini. Bukan karena aku tidak ingin menerima pemberianmu. Tetapi rasa bersalah akan terus menyiksaku seumur hidup bila aku tetap tinggal di rumah ini," ucapnya dengan suara serak dan terisak memandang Tristan yang sudah bersiap untuk pindah dari rumah itu.
"Tetaplah tinggal Nadia, karena tidak mungkin selamanya kamu akan tinggal di rumah ini. Suatu saat kamu akan menghuni rumah yang jauh lebih baik," cegah Tristan penuh harap.
"Aku nggak bisa Tristan." ia menggeleng.
"Tolonglah Nadia. Berilah aku kesempatan menjadi pria yang berarti di saat-saat terakhir hubungan kita." Tristan memelas padanya, sehingga dengan berat hati ia mengabulkan permintaan pria itu.
"Bolehkah aku menggendong Glor sebelum aku pergi?" pinta Tristan.
Ia mengangguk dan menyodorkan baby Glor dalam gendongannya kepada Tristan.
Tristan menggendong baby Glor dengan agak rikuh. Sangat wajar bila Tristan secanggung itu, karena belum pernah punya pengalaman menjadi seorang ayah.
Hampir setengah jam Tristan menggendong baby Glor, meninabobokkan baby Glor dengan sangat kaku. Namun mampu membuat air matanya mengalir dengan sangat deras.
Dan puncaknya adalah saat baby Glor sudah terlelap dalam gendongan Tristan. Tristan menyerahkan baby Glor dan pamit kepadanya.
"Aku pergi Nadia. Jaga diri baik-baik, juga bayi Glor," pesan Tristan, memandangnya dengan tatapan sendu.
Ia mengangguk, tetapi tidak mampu mencegah tangisnya agar tidak mengeluarkan suara.
Tristan meraihnya dalam dekapan, namun tidak begitu rapat karena ada baby Glor di antara mereka. Ia pun menangis tersedu-sedu di bahu Tristan.
Beberapa saat setelah itu, Tristan pergi dengan kalimat pamungkas,
"Sampai jumpa di pengadilan Nadia."
Kebersamaan yang telah terbangun sejak mengucapkan ikrar kesetiaan dalam ritual perkawinan telah berakhir. Menyisakan luka dan trauma yang akan terus membekas dalam lubuk hati.
Kini ia harus merajut sisa-sisa asa dalam pekatnya malam dan berhenti meratapi hidup. Karena esok, ia akan menyongsong pagi bersama Glor Gerardo, malaikat kecilnya.
__ADS_1