REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
70. The Blue Sapphire


__ADS_3

Ayah tiri, Ibu dan Karenina telah berada di Dallas-Fort Worth International Airport untuk menjemput Bimasena sesaat sebelum pesawat yang ditumpanginya landing.


Sesibuk-sibuknya ayah tirinya, namun tetap meluangkan waktu untuk menjemputnya. Karena mereka satu sama lain selalu memprioritaskan kepentingan keluarga.


Menjadikan setiap anggota keluarga sebagai orang yang paling penting dan berarti. Karena dasar sebuah keluarga adalah cinta. Keluarga akan bahagia bila setiap anggota keluarga saling mencintai. Seperti itulah orang tuanya mendidik.


"How are you? (Apa kabar?)" sapa Ayahnya saat memeluknya.


"I'm fine, Daddy," jawabnya singkat.


"What’s wrong with you, Bimasena? I don’t think you’re all right (Kamu kenapa, Bimasena? Ibu pikir kamu tidak baik-baik saja)," tanya Ibunya. Apa dirinya terlihat seperti orang galau? Ataukah hanya kecemasan berlebihan dari ibunya?


"Aku baik-baik saja Bu." Ia tidak ingin berlama-lama membahas keadaan dirinya.


Dari Bandara Dallas-Fort Worth International mereka menuju sebuah restoran barbeque untuk makan siang.


"Kirain udah datang berdua ke Texas. Tetap saja datang sendiri. Emang di Indonesia Kakak nggak laku ya?" Obrolan menggerahkan mulai dibuka oleh Karenina. Mungkin adiknya ini masih perlu belajar sopan santun.


"Mana mungkin cakep begini nggak laku. Kecuali orang Indonesia sudah rabun," ujarnya membanggakan diri sambil mengunyah daging yang telah dipanggang.


Setelah selesai makan siang, ia dan ayahnya menuju FreddCo Energy pusat untuk menyelesaikan pemindahan hak atas saham FreddCo Energy dari pemegang saham lama kepada dirinya, serta perubahan susunan pemegang saham.


Ia dan ayahnya baru kembali ke rumah pada malam hari.


Begitu ia sudah siap untuk tidur, pintu kamarnya diketuk. Ia sudah tahu siapa yang mengetuk dan ada misi apa.


Yang mengetuk adalah ibunya. Datang ke kamarnya untuk membahas masalah klasik, mengapa masih bujangan sampai sekarang?


"So, where are we going to start? (Jadi, dari mana kita mulai ?"Ibunya bersiap mewawancarai.


"Memang belum ada wanita yang memikat hatimu Nak? Usia mu sekarang udah 31 tahun," resah Ibunya sembari memijat kakinya. Betapa nyaman sentuhan seorang ibu, jikalau tidak disertai dengan pertanyaan yang menggerahkan.


"Aku sudah punya pacar Bu. Namanya Nadia," ungkapnya. Cukup itu saja informasi yang boleh diketahui ibunya. Informasi yang sangat pendek tapi sudah mampu membuat wajah orang tua itu berseri-seri.


Sebenarnya ia sudah berencana mendiskusikan masalah Nadia pada daddy dan ibunya.Tapi karena sikap Nadia sejak pulang dari rumah Tristan berubah dan meragukan, membuatnya membatalkan niatnya tersebut.


"Kapan kamu kenalkan Nadia pada kami? Kalau tidak sempat diajak ke Texas, biar kami yang ke Indonesia. Sekalian melamar Nadia," seru Ibunya penuh semangat.


"Nggak perlu buru-buru Bu, ada urusan yang harus kami selesaikan terlebih dahulu," kilahnya.


"Urusan apa? Nadia masih kuliah?"


Ah ibu, seandainya hanya karena kuliah, malam ini juga ia bisa menikahi Nadia.


"Bukan Bu. Pokoknya urusan nikah Ibu nggak perlu cemas. Bila sudah saatnya aku akan beritahu daddy dan Ibu kok." Ia memperbaiki posisi tidurnya. "Bu, aku lelah. Boleh aku istirahat dulu?" Hanya itu alasan yang bisa menghentikan ibunya mengorek keterangan lebih jauh.


Keesokan paginya ia mengikuti rapat pemegang saham FreddCo Energi pusat bersama ayahnya dan beberapa pemegang saham lainnya.


Karena handphone-nya dalam mode silent, ia tidak mengetahui bila Nadia sudah meneleponnya sebanyak empat kali. Ia baru menjawab telepon Nadia pada panggilan kelima.


Bimasena : Halo! Nadia!


Nadia : Kamu tega Bim ...


Suara Nadia lebih terdengar seperti rintihan. Apa Nadia menangis?


Bimasena : Sebentar ya Nadia, selesai rapat kita bicara.


Tetapi ternyata Nadia tidak menerima alasannya.


Nadia : Kamu pergi begitu saja meninggalkan aku sendiri di apartemen tanpa pamit. Kamu tega.


Suara tangis Nadia pecah di seberang sana.


Ia hanya bisa mendengus. Betul-betul perempuan itu terkadang membingungkan. Minta jangan diganggu. Tidak pamit karena tidak ingin mengganggu, malah marah.


Bimasena : Nadia, aku hanya memberi ruang dan waktu untukmu berpikir. Untuk memikirkan dengan jernih. Melangkah lebih lanjut denganku atau kembali pada Tristan. Karena aku sudah melihat keraguan padamu sejak kamu kembali dari rumah Tristan.


Ternyata argumen yang ia kemukakan kurang tepat, malah semakin menambah tangis Nadia.


Nadia : Kamu jahat. Kamu sudah membawaku sejauh ini, tiba-tiba masih memintaku berpikir untuk kembali kepada Tristan? Kamu jahat Bim.


Wanita.


Selalu ingin dimengerti.


Tetapi tidak pernah mengungkapkan keinginannya. Memaksa seorang pria berpikir keras agar pikiran dan keinginannya bisa terbaca. Mungkin sebaiknya pria itu memiliki kemampuan supranatural yang bisa membaca pikiran orang.


Bimasena : Nadia aku masih rapat, nanti aku hubungi kembali ya.

__ADS_1


Nadia : Tidak perlu, kamu tidak perlu menghubungiku lagi. Aku akan pergi dari tempat ini. Aku tidak ingin bersama-sama siapa pun lagi. Aku bisa hidup sendiri. Tidak denganmu, juga tidak dengan Tristan. Maafkan sudah merepotkanmu.


Nadia memutus sambungan telepon secara sepihak.


Oh tidak Nadia. Sayangku. Kenapa kamu sensitif sekali.


Ia pun segera menghubungi satu nomor.


Bimasena : Nadia ngambek. Hendak keluar dari apartemen. Ikuti kemanapun pergi. Jangan sampai kehilangan. Jaga keamanannya. Dan jangan sampai Nadia mengetahui kamu mengikutinya. Bisa semakin marah dia.


Untuk pertama kalinya ia mengenal wanita yang sangat sensitif bernama Nadia. Entah itu memang sifat asli Nadia atau hanya bawaan seorang perempuan hamil karena neurotransmiter yang mengendalikan suasana hati menjadi terganggu.


Ia masih tetap tinggal selama seminggu di Texas untuk menyelesaikan urusan peralihan saham. Tetapi ia sudah tidak tenang berkumpul bersama keluarganya. Karena di Indonesia, Nadia sangat memprihatinkan.


Nadia pergi tidak membawa apapun yang ia berikan. Tinggal di kost-kostan kecil yang sudah reyot. Rumah kost Nadia berada di lingkungan kumuh yang tidak memenuhi standar kesehatan lingkungan. Nadia juga membeli makanan murah di pinggir jalan yang tidak memenuhi syarat gizi seimbang.


Tentu saja ia mengkhawatirkan kesehatan Nadia dan bayi yang dikandung.


Sehingga ajakan ibunya untuk liburan bersama keluarga ke Swiss begitu urusan peralihan saham selesai pun ditolaknya. Ia buru-buru pulang ke Indonesia.


Dari bandara Soekarno-Hatta ia bertolak langsung menuju rumah kost Nadia.


"Dua hari ini Mbak Nadia keluar mencari pekerjaan. Hari pertama Mbak Nadia memasuki beberapa salon kecantikan. Hari kedua memasuki beberapa butik. Mungkin lamaran pekerjaannya semua ditolak," terang Suhardriyar, salah satu orang yang ia tugasi memantau keadaan Nadia.


Hatinya trenyuh mendengar Nadia keluar untuk mencari pekerjaan. Semakin kasihan karena semua lamaran pekerjaan Nadia ditolak.


Ia sangat mengetahui bagaimana kemampuan Nadia. Dari knowledge (pengetahuan) , skills (keterampilan), dan abilities (kemampuan), semua dibawah rata-rata. Terhadap fresh graduate yang minim pengalaman pun bisa jadi Nadia gagal bersaing.


Lalu apa yang menarik dari Nadia yang membuatnya bertindak di luar logika?


Jawabannya adalah kecantikan dan segala kekurangan Nadia.


Kecantikan Nadia membuatnya jatuh cinta dan kekurangan Nadia membuatnya sangat sayang pada wanita itu.


Begitu mobil yang dikemudikan sopirnya memasuki halaman sebuah rumah kost reyot, bersamaan itu pula Nadia keluar dari kamarnya. Hanya mengenakan daster.


Dari dalam mobil ia bisa melihat wajah Nadia yang berbinar begitu melihat mobilnya datang. Tetapi begitu ia turun dari mobil dan tersenyum pada Nadia, Nadia memasang wajah hendak menangis kepadanya.


Lihatlah bagaimana drama seorang wanita!


Nadia hanya mematung pada tempatnya. Namun begitu ia berjalan mendekat, bibir Nadia sudah tertarik ke samping, membuat lengkungan ke arah bawah. Air matanya mulai jatuh satu persatu.


Tapi Nadia berjalan mundur, masuk kembali ke dalam kamarnya sambil berucap, "Kamu jahat."


Nadia hendak menutupinya dengan pintu, tetapi tangannya sigap menahan pintu.


"Nadia tunggu!" Ia ikut masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu dari dalam.


"Kenapa datang kemari?" Nadia sudah mewek.


"Untuk menjemput kamu kan?"


"Ngapain dijemput? Bukannya kamu minta aku untuk kembali pada Tristan?" hardik Nadia.


Bukankah kalimat meminta Nadia berpikir melanjutkan hubungan dengannya atau kembali pada Tristan berbeda maknanya dengan meminta Nadia kembali pada Tristan?


Tapi ia tahu masalahnya bukan disitu. Sehingga daripada berdebat dengan Nadia, lebih baik ia mengalah. Menghadapi wanita yang sedang marah butuh ilmu tersendiri. Jangan meniup seruling pada daun telinga yang tuli.


Karena yang diinginkan seorang wanita bila sedang marah adalah perhatian. Wanita menginginkan sang pria meminta maaf, memeluk dan menghujani dengan cinta. Sebab wanita merupakan sosok yang memiliki perasaan lembut dan mudah tersentuh.


"Baiklah kalau kata-kataku menyakiti kamu, aku minta maaf. Kita pulang sayang!" Ia mencoba membujuk Nadia sambil memegang tangan wanita itu.


"Pulanglah sendiri, aku nggak ....."


Daripada mendengar Nadia mengomel, lebih baik menyumbat mulut wanita itu dengan ciuman. Memeluk dengan erat sampai Nadia tidak bisa bergerak.


Awalnya Nadia melawan dan meronta. Tapi hanya sebentar. Setelah itu Nadia sudah pasrah. Meskipun tidak membalas ciumannya.


"Kita pulang sayang?" bisiknya kepada Nadia, setelah melepaskan pagutan bibirnya karena Nadia sudah sesak nafas.


Tapi Nadia menggeleng sehingga ia kembali melu mat bibir Nadia dengan gemasnya.


*******


Nadia berbaring di atas tempat tidur, berbantal paha Bimasena yang duduk di atas tempat tidur bersandar pada dinding.


Paha Bimasena terasa keras di kepalanya. Tapi tetap saja, lebih nyaman tidur berbantal paha pria itu daripada berbantal busa empuk.


Apalagi tangan Bimasena terus mengelus rambutnya, meskipun pria itu sibuk berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya.

__ADS_1


Rasanya sangat nyaman, aman dan terlindungi.


Belaian lembut dan tulus di rambutnya membuatnya merasa sangat istimewa. Rasanya ingin menghentikan waktu. Karena tidak ingin kenyamanan hati ini cepat berlalu.


Tetapi kenyamanan dan keamanannya terusik. Karena begitu memutus sambungan telepon, Bimasena membuka baju sampai singlet. Sehingga pria itu bertelanjang dada.


Nadia pun buru-buru bangun dari paha Bimasena.


"Kamu mau ngapain, kenapa buka-buka baju segala Bim?" protesnya pada Bimasena.


"Gerah Nadia, apa kamu nggak rasa kamar ini panas seperti api Neraka?" keluh pria itu. Keringat membanjiri wajah dan dadanya.


Memang Bimasena pernah ke Neraka? Kalau panas api Neraka seperti panas kamar ini, mustahil orang takut Neraka.


"Dasar orang kaya, nggak bisa panas sedikit udah keringatan." Ia tidak bisa menahan tawanya melihat Bimasena seperti cacing kepanasan. Kipas angin kecil tidak banyak membantu bagi Bimasena.


"Aku sudah terbiasa terkena panas matahari di RIG Nadia. Tapi nggak gerah seperti di kamar ini. Kamar ini pengap, karbon dioksidanya lebih banyak dari oksigennya."


Ia kembali berbaring berbantal paha Bimasena sambil menertawai pria itu.


Tapi pria itu terlalu sibuk. Kembali menelpon seseorang membahas urusan pekerjaan. Sehingga ia hanya memejamkan mata menikmati belaian tangan Bimasena pada rambutnya. Berharap bisa segera tertidur.


Tapi ... malam ini mereka berdua di dalam kamar kost bersama Bimasena.


Apa ia yakin, Bimasena tidak akan nakal padanya?


Tiba-tiba saja ia meremang padahal Bimasena hanya membelai rambutnya.


********


Nadia terbangun dari tidurnya oleh rasa kegerahan dan karena merasa terhimpit ke dinding. Begitu ia membuka matanya, ia dan Bimasena sudah berbaring berdampingan di atas tempat tidur yang berukuran untuk satu orang itu.


Bimasena menguasai tiga perempat lebar tempat tidur, sehingga ia terhimpit ke dinding dengan posisi miring menghadap Bimasena.


Tapi ia kemudian tersenyum.


Kok ia suka dengan kegerahan ini?


Kok ia suka terhimpit diantara Bimasena dan dinding?


Otakmu jangan ca bul Nadia!


Matanya jadi terang benderang menikmati wajah tampan itu saat tertidur.


Lihatlah bibir pria itu, lihatlah dadanya, Lihatlah lengan dan perutnya. Bagaimana iman tidak porak poranda?


Keringat yang membanjiri kening, leher dan dada Bimasena semakin membuat pria itu terlihat sexy. Ingin rasa menyeka keringat itu dengan tangannya. Tapi khawatir malah membangunkan Bimasena.


Sehingga ia menyeka keringatnya sendiri. Yang juga membanjiri lehernya.


Tapi tangannya merasakan benda aneh pada lehernya.


Ia terkejut begitu menyadari benda di lehernya sebuah kalung berwarna putih dengan liontin permata berbentuk oval berwarna biru tua yang dikelilingi permata kecil berwarna putih.


Semakin terkejut begitu menyadari pada jari manisnya juga melingkar cincin putih dengan permata yang warna dan bentuk, sama dengan liontin kalungnya.


Kapan Bimasena memakaikan kalung dan cincin ini padanya?


**********


Readersku tersayang,


Bagaimana kabarnya hari ini?


Semoga tetap dalam curahan kesehatan dan kebahagiaan.


Mohon maaf karena waktu UP novel ini yang gemesin.


Tidak berhenti Author ingatkan.


Jangan mendekati selingkuh.


Jangan mendekati zina.


Novel ini sekedar hiburan semata. Bukan untuk ditiru. Mudah-mudahan ada nilai positif yang bisa dipetik meskipun seujung kuku.


Terima kasih atas segala apresiasi dan dukungannya.


Salam sayang dari Author Ina AS

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2