
Bimasena membawa Nadia dan Glor ke sebuah perumahan. Rumah yang ditempati ayah dan ibu tirinya serta adiknya sekarang.
Ayahnya berkali-kali menolak dipindahkan dari perumahan kumuh di tepi kali. Karena merasa menjadi ayah yang tidak bertanggung jawab kepada ia dan Karenina. Baru bersedia pindah ketika ia mengancam,
"Ayah, bila Ayah tidak ingin pindah dari rumah ini, Bima tidak akan datang ke rumah ini lagi. Bima tidak ingin menemui Ayah lagi. Karena Bima merasa gagal memberikan yang terbaik bagi Ayah."
Begitu tiba di rumah yang tergolong kelas premium tersebut, ia disambut dengan ramah ibu tirinya. Mengambil alih Glor dari gendongannya.
"Kakek, coba lihat siapa yang datang," seru ibu tirinya memanggil ayahnya.
Ia merangkul Nadia berjalan di belakang ibu tirinya menuju halaman samping tempat ayahnya berada. Ayahnya duduk di atas kursi roda, sedang memberi makan ikan di kolam.
Ia melengkapi taman samping dengan koleksi burung dan ikan, untuk memberi kesibukan kepada ayahnya, agar lebih semangat menjalani hidup meskipun dengan kaki yang lumpuh.
Setidaknya ayahnya tampak lebih hidup dan bersemangat sekarang. Tidak seperti saat pertama ia menemukan ayahnya.
"Jadi ini cucunya Kakek? Sini Nak, Kakek pangku." Ayahnya meraih Glorr dari ibu tirinya. Mendudukkan di pangkuannya.
"Cucu Kakek lucunya," ujar Ayahnya. Entah mengapa setiap kali ia datang menjenguk, pria itu selalu berlinang air mata.
Ia dan Nadia duduk di kursi taman yang berada di dekat ayahnya.
"Kapan kalian menikah? Menikahlah secepatnya. Agar bayi ini hidup dalam keluarga yang utuh," tanya Ayahnya setelah beberapa saat berbasa basi kepadanya dan kepada Nadia.
"Aku mau kembali ke Venezuela dulu Ayah. Bila pekerjaan di sana telah selesai, aku segera balik untuk melamar dan menikah dengan Nadia," ia menoleh ke arah Nadia yang tersenyum kepadanya.
"Pekerjaan itu tidak pernah ada habisnya Nak. Tinggal kita yang pandai-pandai mencari celah waktu. Ayah ingin melihat kamu menikah sebelum Ayah mati."
Dimana-mana ia berada selalu dihadapkan dengan pertanyaan kapan menikah. Apa mereka tidak tahu bila ia ingin menikahi wanita di sampingnya sejak masih di bangku SMA dulu?
********
Kencan? Rencananya seperti itu. Namun jangan berpikir akan ada makan malam yang romantis bila terdapat seorang bayi diantara mereka berdua. Tidak ada kesempatan bagi Bimasena dan Nadia untuk melakukan hal romantis
Terlebih baby Glor, sepertinya sengaja berulah. Sengaja menyibukkan dirinya yang sebentar lagi meninggalkan puteranya itu beserta sang ibu, kembali ke Venezuela.
Masih di atas kendaraan yang membawa mereka menuju restoran, Glor sudah BAB. Dirinya yang ingin menunjukkan kepada Nadia bila ia adalah calon suami serta ayah yang baik, mengambil alih pekerjaan yang biasa dilakukan oleh Nadia.
Meskipun begitu kaku, ribet, lama, membuatnya berkeringat, dan menjadi tertawaan Nadia, ia sukses mengganti diapers baby Glor.
Seharian dirinya yang langsung mengurusi baby Glor. Seperti memandikan, memakaikan baju. Kecuali menyusui, dikembalikan kepada sang ibu.
Seharian Glor terus berada di gendongannya kecuali saat minum susu dan tidur. Seakan Glor tidak rela berpisah dengannya dan ingin terus bermanja padanya, menangis bila turun dari gendongannya.
Begitupun saat makanan tersaji di hadapan mereka. Nadia hendak mengambil Glor di pangkuannya.
"Kamu makan duluan Bim, kita gantian menjaga Glor," ujar Nadia.
__ADS_1
Bahkan makan malam pun harus dilakukan secara bergantian.
"Udah kamu makan duluan aja. Aku yang jaga Glor," sahutnya, tidak ingin calon nyonya kelaparan.
"Aku bisa makan sambil menjaga Glor Bim. Kamu tidak bisa melakukannya," Nadia bersikukuh.
Akhirnya ia mengalah, memberikan baby Glor kepada ibunya.
Memang benar kata Nadia. Sambil menjaga Glor, sekali-kali Nadia menyuapi diri sendiri. Sulit membayangkan bagaimana Nadia melewati hari hanya berdua dengan baby Glor selama ini.
Melihat ia dan Nadia makan, baby Glor tidak berhenti memasukkan tangan ke dalam mulut. Seolah memohon agar dapat memperoleh jatah makanan.
"Glor udah mau makan ya Sayang? Belum waktunya," ia mengajak Glor berbicara karena puteranya tersebut terus menerus memandangi dirinya yang sedang menghabiskan daging steak.
"Hauw," oceh Glor menjawabnya.
"Kapan Mi Glor bisa diberi makanan padat?" tanyanya kepada Nadia.
"Lusa udah diperkenalkan dengan MPASI," jawab Nadia. Wanita itu bediri dari kursi menggendong Glor. Karena Glor selalu berusaha merebut makanan di atas meja.
"Atau gini aja Glor." Ia membuat penawaran kepada puteranya. "Kita tukaran. Daging steak punya Daddy buat Glor." Ia mengangkat piring yang berisi daging itu didekatkan kepada Glor, dan Glor berusaha meraih. "ASInya Glor buat Daddy," sambungnya.
Glor yang ia ajak berbicara mengapa Nadia yang menjadi merona wajahnya?
"Daddy udah kekurangan protein dan kalsium, lama nggak minum susu. Sepakat Glor? Kita tukaran ya?" matanya melirik Nadia dengan nakal.
Nadia mendekat menghantam bahunya dengan pukulan yang tidak meninggalkan rasa sakit sama sekali.
"Sistem kekebalan tubuh Daddy udah menurun karena kekurangan protein, Daddy jadi rentang sakit. Tulang Daddy juga mulai rapuh karena kekurangan kalsium. Gak kasihan sama Daddy, Glor? Kalau Glor nggak mau tukeran sama Daddy, Daddy pinjam ASInya semalam ya? Malam ini saja." Matanya kembali melirik ke arah Nadia yang sedang menggendong baby Glor.
"Ha ah," jawab baby Glor.
"Nah Glor setuju. Kita tos dulu Nak." Ia berdiri menggenggam tangan mungil puteranya sambil menyaksikan perubahan wajah wanita yang menggendong baby Glor itu, dari merah muda menjadi merah padam.
"Mami, tolong siapkan ASInya. Aku dan Glor udah sepakat."
Kali ini kuku Nadia menancap di lengannya, dan itu ... sakit.
Namun karena ia merupakan calon suami yang baik, tangan Nadia yang sudah melakukan tindak kekerasan kepadanya, ia genggam kemudian ia cium.
Lalu Nadia pun berubah menjadi patung kayu.
Belum juga puas bercengkerama dengan putera dan calon nyonya, si pengganggu sudah datang. Buaya berdasi. Siapa lagi kalau bukan ... Danindra.
Memang dirinya lah yang mengundang Danindra datang ke restoran tempat ia dan Nadia makan malam. Untuk memperkenalkan Danindra kepada Nadia yang akan menjadi parner bisnis Nadia. Sekaligus agar Danindra memberi bimbingan kepada Nadia bagaimana menggeluti bisnis property.
Tentu saja ia sudah memberi ultimatum terlebih dahulu kepada Danindra. Peringatan kepada Danindra agar tidak menggoda wanita kesayangannya. Atau ia akan meledakkan bom atom tepat di wajah pria tersebut.
__ADS_1
"Nggak mungkinlah, masa buaya darat makan buaya darat. Tetapi kalau terjadi, buaya darat kan juga manusia," jawaban Danindra yang membuatnya ingin menyeret pria itu di atas sirkuit menggunakan mobil sport.
Dan yang paling menyebalkan dari sosok Danindra adalah ketika dengan gaya bossy Danindra memerintahnya, "Bima, tolong jaga anak lu dulu! Gua mau berbisnis dulu dengan ibunya," ujar Danindra mengerling kepada Nadia.
Sekali lagi ia menunjukkan kepada Nadia bila dirinya merupakan seorang ayah dan calon suami yang baik. Dengan sabar menjaga anak sambil menyaksikan calon istri belajar pemasaran properti pada seorang buaya darat.
Breng sek.
"Sebelum berkecimpung dalam bidang ini, Nadia harus meng-upgrade pengetahuan tentang marketing property freelance terlebih dahulu," terang Danindra kepada Nadia dan didengarkan dengan sangat serius oleh wanita itu.
"Banyak hal yang harus Nadia ketahui misalnya tentang status dokumen properti, status tanah, akte jual-beli, sistem kredit bank, nilai investasi, dan masih banyak lainnya."
"Dalam waktu dekat developer kami akan melakukan training kepada marketing yang baru bergabung. Nadia harus ikut," lanjut Danindra. Yang dibalas anggukan oleh Nadia.
Matanya cukup awas memperhatikan mata Danindra, cara Danindra menatap Nadia. Karena tatapan mata bisa menunjukkan ketertarikan seseorang. Bahkan tatapan mata menunjukkan apakah seseorang menunjukkan rasa cinta atau nafsu.
Loh mengapa ia jadi berpikir sejauh itu? Seolah ia menyangsikan kesetiaan kekasih dan sahabatnya.
Ya, mungkin itu yang namanya cemburu.
Kali ini Danindra menang, bisa membuatnya cemburu.
Ternyata Danindra lebih cerdik dan lihai dari yang ia duga. Karena dengan licik menggunakan Nadia untuk menjeratnya.
"Nah kita uji kemampuan Nadia dulu," ucap Danindra pada Nadia. Begitu sopan menyebut nama Nadia, padahal terhadapnya hanya menggunakan sebutan lu-gua.
"Ini ujian pertama. Dan Nadia harus berhasil."
Bukan hanya Nadia yang serius mendengarkan Danindra. Ia juga penasaran tes apa yang hendak diberikan Danindra terhadap Nadia.
"Dia, calon suami lu," ucap Danindra kepada Nadia dengan tangan menunjuk ke arahnya. "Dia punya rencana membeli penthouse. Nah kalau kamu berhasil membujuknya, kamu dapat komisi sepuluh persen."
Sekarang ia mengerti mengapa Danindra begitu bersemangat ketika ia mengajukan Nadia untuk menjadi parner bisnis property Danindra. Karena Danindra hendak menjadikan dirinya sebagai target pemasaran produk terbatas. Dan Nadia digunakan untuk memuluskan rencana.
Breng sek.
"Bener Bim, kamu mau membeli penthouse?" tanya Nadia kepadanya dengan wajah berbinar.
Ia tahu mengapa wajah wanita itu jadi berbinar. Karena berharap atas komisi sepuluh persen yang didapat dari jeri payah sendiri. Wanita itu bahkan tidak berpikir bisa memiliki penthouse tersebut bila ia membelinya.
"Rencana," jawabnya singkat dengan tatapan menebar ancaman kepada Danindra.
"Kamu belinya lewat aku aja ya Bim?" seru Nadia dengan suara manja penuh harap kepadanya.
Nah, bila Nadia sudah bermanja seperti ini, es di kutub utara sekalipun akan meleleh.
"Harga penthouse itu 21,9 Milyar. Kalau calon suami Nadia jadi beli, Nadia untung dua kali. Pertama dapat komisi 2,19 Milyar. Yang kedua, jelas dapat penthouse-nya juga," Iblis itu kembali merayu calon istrinya.
__ADS_1
"Look at this bastard! (Lihatlah si berengsek ini) I will beat the **** out of you (Aku akan menghajarmu," umpatnya kepada Danindra yang dibalas dengan gelak tawa penuh kemenangan pria berengsek tersebut karena sukses mengalahkannya.