REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
89. I don’t know why I miss you so well


__ADS_3

Hujan di awal pagi membuatnya merenung. Memang tidak mudah untuk mempertahankan rumah tangga. Meskipun Nadia sudah berusaha melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan sebaik-baiknya pasca prahara itu, ternyata belum cukup bagi suaminya.


Tristan menudingnya masih menyimpan perasaan dan mengharapkan Bimasena. Memang ia akui, rasa yang dimilikinya terhadap pria itu belum mati. Namun ia sudah berusaha untuk mengubur perasaannya terhadap Bimasena.


Tetapi tidak benar bila ia masih mengharapkan Bimasena. Bukankah dirinyalah yang pergi meninggalkan Bimasena?


Meskipun saat itu ia tidak kembali kepada Tristan, ia tidak akan mengharapkan Bimasena. Karena ia sangat tahu diri, bila dirinya sangat tidak pantas bersanding dengan pria itu.


Terlebih lagi saat ini, tidak mungkin ia kembali kepada Bimasena, karena ia telah sepakat dengan Tristan untuk menata kembali rumah tangga. Lalu mengapa Tristan masih belum percaya kepadanya?


Apakah salah satunya karena ia masih merawat bunga baby breath itu?


Sudah berhari-hari sejak pernikahan Alfredo, Tristan kembali dingin padanya. Tidak menunjukkan tanda kapan kebekuan mencair. Padahal ia tidak pernah merencanakan bertemu Bimasena di depan toilet.


Bagaimana cara meyakinkan Tristan bila ia tidak mengharapkan Bimasena lagi?


Apakah ia harus membuang bunga baby breath itu?


Baiklah bila itu bisa membuat Tristan percaya padanya.


Ia pun melangkah menuju kamar depan. Memandangi bunga baby breath yang diletakkan di dekat jendela. Tapi bunga itu membawa lamunannya kembali pada pria itu.


Beri aku satu kata yang bisa aku pegang, agar aku terus maju menerjang semua rintangan, ucapan pria itu padanya saat ulang tahun Mithalia.


The Woman of My Dreams, begitu Bimasena menyebutnya. Membuatnya melambung ke tempat tertinggi, hingga lupa ia berasal dari mana.


Namun mendadak wajahnya bersemu merah, begitu mengingat ucapan pria itu saat mereka berdua berdiri di belakang jendela apartemen,


Kamu harus merasakan bagaimana rasanya making love standing position, watched by the whole world.


Tidak, ia tidak boleh terus mengingat pria itu. Ia harus membuang jauh-jauh bayangan dan segala kenangan tentang dia.


Ia pun segera menyambar bunga baby breath. Dengan langkah tergesa keluar dari kamar, lalu keluar dari rumah, menuju tempat sampah di halaman rumah. Kemudian ia melempar bunga baby breath itu ke dalam tong sampah, dan memandangi sejenak bunga yang terserak.


Maafkan aku Bim.


Ya, segala tentang dia harus segera diakhiri. Demi memperbaiki hubungan rumah tangganya dengan Tristan.


Ia kemudian kembali ke dalam rumah. Namun baru dua langkah memasuki pintu rumah, ia menghentikan langkahnya. Karena tiba-tiba disergap rasa bersalah dan kehilangan.

__ADS_1


Dengan segera ia berbalik, setengah berlari menuju tong sampah. Memungut kembali bunga baby breath yang dibuang tadi. Mengisi kembali potnya dengan tanah. Lalu membawanya ke dalam rumah. Meletakkannya di dekat jendela di kamar depan. Menyemprotkan air pada bunga dan permukaan tanahnya.


Dengan mata berkaca-kaca ia memandangi bunga itu


Bim ... aku kangen.


********


Santiago de Leon de Caracas, nama lengkap Caracas, Ibukota Venezuela, tempat Bimasena berdomisili saat ini.


Kota dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. Suara tembakan tidak jarang terdengar di telinganya.


Seperti sore itu, di Avenida Casanova, jalan menuju hotel tempat tinggalnya ditutup oleh aparat keamanan. Karena terjadi tembak menembak antara aparat keamanan dengan salah satu geng ibukota yang dikenal warga dengan nama sebutan The King.


Ia baru saja pulang dari pabrik pengolahan minyak mentah di barat Caracas, untuk memastikan pasokan naphta yang dikirim dari Peru telah tiba di pabrik dan sudah dapat digunakan untuk melarutkan minyak mentah.


Aparat keamanan memintanya turun dari kendaraan dan mencari tempat berlindung bersama sopirnya. Demi keselamatan, tidak ada pilihan lain selain mengikuti instruksi petugas.


Hanya beberapa saat ia berlindung di belakang gedung CVI Mision Nevado El Rosal bersama sopirnya dan beberapa pengendara agar tidak terkena peluru nyasar, ia dilanda bosan. Sehingga ia meminta sopirnya untuk tetap berada di tempat itu menunggu situasi aman. Lalu membawa mobilnya pulang ke Hotel JW Marriott Caracas, tempat tinggalnya selama di Venezuela.


Sementara itu ia memilih mengambil jalan memutar melalui Avenida Guaicaipuro sambil berlari sore. Beruntung saat itu ia mengenakan sepatu sport dan pakaian casual. Meskipun menggunakan celana jeans ia tetap berlari menyusuri jalan Avenida Guaicaipuro.


Hitung-hitung, pulang ke hotel sambil berolahraga. Meskipun sepanjang jalan pulang ia tidak berhenti menggerutu. Merutuki pemerintah yang kehilangan kendali atas bagian-bagian Venezuela, akibat krisis ekonomi yang mendalam dan rusaknya supremasi hukum. Menyebabkan geng-geng lokal mengontrol wilayah dan menetapkan hukum mereka sendiri.


Apalagi ia berhasil menjalankan tambang dan industri minyak bumi di tengah situasi yang tidak kondusif. Membuatnya mendapat acungan jempol dari FreddCo Energy pusat.


Sejak tinggal di Caracas, kemana-mana ia mengantongi senjata genggam pistol Desert Eagle. Pistol semi otomatis itu merupakan hasil seludupan dari negara Polandia.


Kemampuan bela diri yang dimilikinya tidak ada artinya di Caracas, karena anggota geng dibekali dengan senjata api. Oleh karena itu, ia harus memiliki senjata yang lebih canggih untuk melindungi diri.


Selama ini ia tidak pernah takut mati.


Namun entahlah, mengapa sekarang ia begitu memperhatikan keselamatan dirinya. Bukan karena takut mati.


Tetapi bila ia mati saat ini, bagaimana nasib ... bayi yang akan lahir nanti ?


Sekarang ia merasa memikul tanggung jawab yang berat di pundaknya, karena bayi yang akan lahir itu.


Sial.

__ADS_1


Mengapa ia berpikir terlalu jauh? Belum tentu juga ibu bayi itu mau mengakui bila dirinya adalah ayah dari anak yang dikandung tersebut.


Ibu bayi itu?


Apa kabar dia?


Bayi itu, adalah alasan agar ia bisa bertemu ibu bayi itu lagi.


Oh tidak Bimasena, berhentilah.


Ia berusaha menyingkirkan bayangan wanita yang kembali mengganggunya.


Hampir tiga puluh menit ia berlari, sampailah di perempatan jalan Jalan Avenida Jose Marti. Beberapa saat berlari menyusuri jalan Avenida Jose Marti, ia mulai merasa kehausan.


Sehingga begitu melihat cafe di deretan pertokoan pinggir jalan Avenida Venezuela, ia pun segera berhenti dan masuk ke dalam cafe itu untuk beristirahat. Apalagi cafe itu tinggal satu blok dari hotelnya.


Di Cafe itu ia memesan jus parchita, minuman khas Venezuela yang dibuat dengan buah-buahan tropis. Minuman segar dan menyehatkan untuk mengganti kalorinya yang terbakar setelah ia berlari hampir satu jam.


Ia menikmati minuman tersebut sambil mengamati perkembangan harga minyak bumi dunia melalui handphone-nya. Kenaikan harga minyak dunia tentu saja memberi dampak positif bagi perusahaannya. Membuatnya bersemangat meningkatkan produksi minyak ditengah krisis ekonomi negara Venezuela.


Ia baru menyadari bila ada yang aneh di dalam cafe itu, begitu ia meletakkan handphone di atas meja.


Dari sekian orang pengunjung cafe, hanya dirinya sendirilah yang berjenis kelamin laki-laki. Artinya ia berada di tengah-tengah wanita.


Namun yang aneh baginya adalah ... mengapa semua wanita di dalam cafe itu berperut besar seperti .... wanita yang ia tunggui di depan toilet saat resepsi pernikahan Alfredo.


Apa otaknya sudah error karena terlalu sering memikirkan seorang wanita hamil di Indonesia, sehingga sekarang ia melihat semua wanita di sekelilingnya dalam keadaan hamil?


Berapa kali ia menggelengkan kepala, namun apa yang dilihatnya tetap tidak berubah, semua wanita di dalam cafe itu berperut besar. Kepalanya pun mendadak pening.


Mungkin otaknya yang error semakin parah, karena wajah semua wanita di dalam cafe, berubah menjadi wajah wanita yang ia hadang di depan toilet.


Apa ia sudah gila?


Ia pun berdiri, buru-buru membayar minumannya di kasir dan keluar dari cafe itu. Untuk memastikan bila otaknya tidak mengalami gangguan karena terus menerus memikirkan seorang wanita hamil, istri orang pula.


Begitu berada di luar cafe, ia baru mengetahui bila disamping cafe tersebut merupakan tempat kelas prenatal yoga. Sehingga wajarlah bila cafe itu banyak dikunjungi wanita hamil.


Akhirnya ia pun lega, karena tidak benar-benar gila.

__ADS_1


Tapi apa kabarnya wanita cantik yang sedang hamil di Indonesia?


Nadia ... I don’t know why I miss you so well (Aku tidak tahu kenapa aku sangat merindukanmu).


__ADS_2