REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
100. Penjajah Hati


__ADS_3

Nadia tidak mengerti ada apa dengan dirinya. Hatinya ingin menahan pria itu berlama-lama di rumahnya. Ia belum puas menatap wajah, tubuh dan mendengar suara pria itu.


Tetapi sikap Bimasena yang menggerahkan membuatnya ingin agar pria itu segera pulang dari rumahnya.


Bagaimana tidak, tatapan pria itu mengurungnya di dalam sangkar, lalu melesatkan tatapan-tatapan yang membuatnya tidak tahu harus berbuat dan berbicara apa. Bahkan ia tidak tahu bagaimana cara duduk yang elegan. Yang dipelajarinya dulu saat menjadi seorang model.


Duduk dengan memasang jarak dari pria itu ternyata bukan strategi yang cermat. Karena ia justru diberondong peluru dari netra cokelat, dengan teknik menembak paling jitu.


Pria itu datang hanya untuk menertawainya. Berkali-kali tertawa melihat dirinya yang salah tingkah hanya karena bidikan mata cokelat sang penembak jitu.


Begitu bahagia pria itu melihat dirinya susah.


Pria yang kejam.


Tetapi saat pria itu pamit, mengapa ia belum rela dia pulang?


"Aku akan mencari baby sitter yang membantu kamu mengurus baby Glor. Biar kamu nggak terlalu capek mengurus Glor."


Tidak jelas maksud pria itu, menawarkan atau menegaskan kepadanya.


Tiba-tiba terlintas dalam benaknya, apa menurut Bimasena karena ia kecapekan mengurus baby Glor menyebabkan ia tidak bisa merawat diri lagi? Menjadi semok dan jauh dari kata berpenampilan menarik lagi? Sehingga pria itu menawarkan bantuan baby sitter?


Wajar bila dirinya tersinggung.


"Nggak perlu repot-repot. Aku nggak pernah merasa lelah mengurus Glor. Justru kamu yang membuat aku lelah," sungutnya, menghunuskan tatapan paling sinisnya.


"Jadi kamu lelah karena aku? Lelah menanggung rindu?" lontar Bimasena lalu tergelak.


Lihatlah betapa menyebalkan pria itu. Untung saja ia tidak meletakkan asbak lagi di atas meja tamu. Karena sejak Glor lahir, rumahnya menjadi area bebas rokok. Bila ada asbak, ia jamin asbak itu akan melayang ke wajah menyebalkan pria tersebut.


"Aku nggak pernah rindu padamu, jangan geer deh. Aku lelah karena sampai sekarang kamu belum juga pulang."


"Betul nih, kamu lelah karena aku belum pulang?"


"Iya," jawabnya. Meskipun ia menyesal atas kalimat sebelumnya yang meluncur begitu saja dari mulut tanpa ia tepis. Khawatir Bimasena tersinggung.


Dan mungkin benar pria itu tersinggung.


"Ya udah. Kalau kehadiranku membuat kamu lelah aku pulang sekarang."


Sekarang hatinya diliputi kecemasan.


Ingin minta maaf, gengsi.


Ingin mencegah agar Bimasena jangan pulang dulu, malu.


"Aku pulang ya?"


Ia tahu, Bimasena bertanya karena berharap ia menahan Bimasena untuk pulang. Sama dengan hatinya, yang belum ingin pria itu meninggalkan rumahnya. Meskipun malam telah larut.


Tetapi mengapa kepalanya mengangguk? Pertanda setuju pria itu pulang dari rumahnya.


Rupanya fungsi koordinasi antara hati dan kepalanya tidak terjalin dengan baik lagi. Sudah semrawut. Tidak ada kesatuan tindakan antara hati dan kepala dalam mengejar tujuan bersama.


Hatinya kalang kabut saat pria itu berdiri dari kursi. eronta-ronta agar tangannya mencegat tangan pria itu. Karena kepala tidak bisa diajak bekerja sama.


Ternyata tangannya memiliki prinsip yang sama dengan kepala.


Sekarang, harga diri di atas segalanya untuk pria itu.


Beruntung ia masih memiliki kaki yang peka terhadap hati. Mengikuti langkah pria itu menuju pintu. Bila perlu mengikuti sampai ke kendaraan pria itu yang terparkir di depan rumah.


Saat berada di depan pintu, Bimasena tiba-tiba berhenti lalu berbalik menghadap ke arahnya. Sehingga ia menabrak pria itu.


Tidak ada cidera pada tubuhnya akibat tabrakan tersebut. Tapi mengapa jantungnya berantakan? Apalagi ia merasakan satu tangan pria itu berada di punggungnya.


Apa Bimasena hendak memeluknya? Atau hanya menahan punggungnya agar ia tidak jatuh?


Ia pun segera mundur satu langkah. Kaki ikut-ikutan mengkhianati hati yang menginginkan tetap berdiri di tempat, karena ingin merasakan pelukan yang sudah lama ia tidak rasakan.


"Udah, tutup pintunya," perintah Bimasena kepadanya.


"Kamu pulang aja dulu."


Tiba-tiba otaknya cemerlang, memiliki akal untuk menahan Bimasena.


Ya, dengan mengajak pria itu berdebat.


"Kamu sudah lupa, bila aku tidak akan pulang sebelum kamu menutup pintu dan mematikan lampu ruang tamu lalu masuk ke kamar?" Bimasena mengingatkan kebiasaan lama.


Sekarang ia merasa berhasil memancing pria itu untuk berdebat.


"Aku nggak mau diatur sama kamu," ketusnya. Ketus? Tapi kok intonasinya begitu manja?


Tetapi selanjutnya yang terjadi tidak sesuai dengan rencana. Karena bukan meladeninya berdebat, pria itu malah menerbangkannya jauh ke atas, ke tempat yang dipenuhi kebahagiaan.

__ADS_1


Ya, pria itu mengusap rambutnya dari depan ke belakang.


Penuh kasih sayang (menurutnya).


Tiga kali.


Membuat kakinya seakan tidak berpijak pada lantai lagi. Segala keangkuhannya mencair.


Berharap bisa menyelesaikan malam dengan indah bersama pria itu.


"Mi, kamu sudah melalui hari yang melelahkan," tutur pria itu.


Tunggu dulu, apa ia tidak salah dengar, apa benar Bimasena memanggilnya ... mami ?


Sebutan yang mampu mengisi hatinya dengan kegembiraan.


Salahkah bila ia berharap bisa melalui hari yang penuh warna dan menjemput harapan bersama pria di depannya.


"Kamu istirahat ya?" Jemari pria itu beralih ke pipinya. Sapuan jemari pria itu menghangatkan hatinya yang suram. Sesuatu menyentak-nyentak di dalam sana.


Ia mengangguk, menunjukkan dirinya sebagai anak manis yang penurut.


"Kamu sudah menyelesaikan hari dengan baik. Besok, kita akan melalui hari yang baru. Tutup dan kunci pintu, matikan lampu dan masuklah di kamar istirahat. Jangan lupa, cium glor untukku," ucap pria itu sambil mengelus-elus pipinya dengan ibu jari.


Ia sudah tidak merasa malu lagi meskipun pipinya sudah gembung, tidak setirus dulu.


Karena Bimasena sudah mengambil dan membunuh semua kesedihan, kemarahan, begitupun rasa tidak percaya dirinya.


Ia mengangguk lagi.


Bukankah ia anak yang manis? Calon istri yang baik.


"Besok aku datang lagi."


Betapa Bimasena mengerti kerisauan hatinya dan jiwanya yang merindu.


Tetapi selanjutnya ia menjadi tak karuan. Karena wajah yang terpantul dengan indah itu, secara perlahan mendekat ke wajahnya. Membuat hatinya berdebar sangat kencang.


Saat wajah pria itu dalam jarak yang sangat dekat, ia mendongakkan wajah dan menutup matanya. Demi menyiapkan area pendaratan terbaik dan ternyaman buat pria itu. Berharap ciuman yang indah akan menjadi santapan penutup bagi malamnya.


Ia merasakan hembusan nafas hangat nan wangi pria itu jatuh pada wajahnya. Hal yang begitu lama ia rindukan. Bibirnya yang terkatup sedikit terbuka untuk menyambut bibir pria itu.


Ia menggeliat manakala bibir Bimasena menyentuh bibirnya. Secara spontan kedua tangannya mencengkeram pinggang pria itu.


Tapi ...


Yang ia rasakan bukan *******, namun sapuan pada bibirnya.


Ia pun membuka sedikit matanya, untuk melihat apa yang menyentuh bibirnya.


Ternyata ... hanya ibu jari pria itu.


Ia pun membuka matanya lebar-lebar untuk meminta penjelasan.


Namun pria itu malah terkekeh.


"Kamu ingin dicium?" tanya Bimasena dengan begitu licik. Sukses mempermalukan dan menjatuhkan martabatnya.


Ia pun mendengus kesal, lalu menepis tangan Bimasena dari wajahnya dengan kasar.


Bimasena kembali tergelak melihatnya kesal. Jelas pria itu senang karena kembali berhasil mempermainkan dirinya yang begitu bodoh ini.


"Siapa yang mau dicium? Jangan kegeeran kamu." Tangannya mendorong dada pria itu dengan keras, lalu segera menutup pintu serta menguncinya.


Ia bersandar di belakang pintu menahan rasa kesal terhadap pria itu.


Pria itu sukses. Sukses mempermalukannya sepanjang malam.


Hatinya dipenuhi sumpah serapah. Tidak akan pernah membiarkan lagi pria itu menyentuhnya, meskipun sekedar memegang tangan, apalagi mencium bibirnya.


Apa mungkin?


Entahlah. Ia juga kurang yakin.


Ia kemudian menyibak kain gorden, untuk melihat di mana pria mengesalkan itu, karena ia belum mendengar bunyi mesin kendaraan.


Ternyata penjajah itu masih ada di luar sana, bersandar pada pintu mobilnya. Begitu melihat dirinya di balik jendela, Bimasena menunjuk ke arah kamar. Isyarat memintanya masuk ke kamar.


Sekarang ia punya ide lagi.


Ia tidak akan masuk ke kamar. Untuk membuktikan keseriusan omongan pria itu, tidak akan pulang sebelum ia masuk ke dalam kamar.


Ia akan menyiksa penjajah itu. Berdiri sampai pagi di luar sana.


Sehingga ia menggeleng.

__ADS_1


Sebagai jawaban yang berarti penolakan. Berharap pria itu kesal seperti dirinya.


Tetapi Bimasena malah tertawa.


Be reng sek bukan?


Lihat saja, ia akan membuat pria di luar berdiri berjam-jam. Ia tidak akan mengikuti perintah masuk kamar meskipun Bimasena menangis darah.


Pria itu kemudian mengambil handphone, ternyata menghubunginya. Memberi isyarat kepadanya agar menjawab panggilannya.


Namun ia kembali menggeleng. Membiarkan handphone-nya terus berdering di dalam kamar.


Ia tetap saja berdiri di balik jendela, mengibarkan bendera perang pada Bimasena. Perang emosi.


Rupanya pria itu tidak ingin kalah perang. Berdiri santai melipat tangan di dada. Tidak berhenti menghubunginya, membuat handphone-nya terus menyanyi-nyanyi di dalam kamar. Sembari tersenyum culas kepadanya. Entah apa yang dipikirkan otak pria itu.


Ia membalas senyum pria itu dengam senyum dan tatapan sinis. Berharap hujan turun dari langit, menyiram pria di luar. Jangan dikira ia akan patuh dan mengalah.


Tetapi sekarang ia mengerti, mengapa pria itu terus menerus menderingkan handphone-nya. Rupanya bunyi handphone itu membangunkan baby Glor. Membuat baby Glor menangis karena terganggu bunyi berisik handphone.


Di luar sana pria itu tertawa penuh kemenangan mendengar suara tangisan nyaring baby Glor.


Mengapa juga baby Glor sering memberi dukungan kepada ayahnya ... ralat ... kepada pria itu?


Tidak ada pilihan baginya kecuali mengalah, mematikan lampu lalu masuk ke dalam kamar berbaring dan me nyu sui baby Glor. Dan membiarkan pria itu pulang membawa kemenangan.


Seperti itulah penjajah, menggunakan cara-cara yang curang dalam menangani perlawanan yang cukup keras. Untuk memenangkan perang.


Saat baby Glor sudah tenang dan tertidur, handphone-nya kembali berdering.


Oleh penjajah itu.


Ia menjawab panggilan itu dengan niat untuk melanjutkan peperangan. Namun apa daya ia lebih dahulu terkapar dihajar senjata mematikan.


"Belum tidur sayang?"


Suara merdu dan kata sayang yang membuat kekesalannya menguap begitu saja. Seperti kemampuan sinar matahari menguapkan air laut yang asing. Mengubahnya menjadi air hujan yang tawar.


"Belum."


"Glor udah tidur?"


"Udah."


"Kamu tahu kenapa aku tidak menciummu tadi?"


Bagaimana cara menjawabnya? Akhirnya ia jawab dengan gelengan kepala meskipun ia tahu, Bimasena tidak melihatnya.


"Kalau bibirku menyentuh bibirmu tadi, maka aku yakin, tidak akan pulang sebelum membuat adik untuk baby Glor, di belakang pintu."


Ia harus ngomong apalagi? Mengapa juga ia selalu bersyak wasangka terhadap Bimasena, padahal niat pria padanya sebenarnya baik.


"Kamu di mana?" Tentu saja membahas masalah ciuman merupakan yang tabu sehingga ia mengganti topik.


"Masih di jalan."


"Mau ke mana?" berondongnya. Kembali lagi menaruh syak di hatinya.


"Pulang, ke apartemen."


Ia pun lega atas jawaban pria itu.


"Kamu istirahat ya? Jangan anggap sepele kelelahan. Bisa menurunkan daya tahan tubuh yang memicu berbagai penyakit."


Nah kalau sudah diberi perhatian seperti ini, ia berasa tidur di atas awan.


"Aku tidur bila kamu sudah tiba di apartemen," tegasnya, tetapi dengan suara manja.


Tentu saja ia harus memastikan keselamatan pria itu di jalan. Dan yang terpenting, meyakinkan diri sendiri bahwa pria penuh pesona itu betul-betul pulang ke apartemen, tidak berlabuh di dermaga lain.


********


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini?


Semoga kita semua tetap diberi kesehatan, keluasan rezeki serta umur yang berkah dari Yang Maha Mengatur.


Mohon maaf karena terlalu lama menunggu UP nya novel ini. Tiada lain karena kehidupan di real life juga menuntut perhatian lebih. Jadi mohon pengertiannya.


Author juga termasuk type author yang lambat dalam menulis 😁. Bila masih belum berkenan di hati, maka tidak akan memaksakan up nya novel.


Terima kasih atas segala dukungannya.


Salam sayang dari

__ADS_1


Author Ina AS


😘😘😘


__ADS_2