
Dengan hati terluka dan air mata yang tidak terbendung, Tristan mendengar penuturan istrinya.
"Apa selama ini aku berarti bagimu? Apa selama ini kamu menganggapku ada? Aku hanya perempuan bodohmu Tristan. Aku berdiri di sampingmu, tetapi kamu mengagumi wanita lain. Di rumah ini aku hanya menjadi pembantu rumah tanggamu. Bukan istrimu," tutur Nadia dengan suara serak dan terisak.
"Kamu tidak pernah menghargai aku Tristan. Sikapmu sendiri yang telah mengikis segala perasaanku padamu. Kamu sendiri yang telah meruntuhkan pondasi cintaku padamu," lanjut Nadia kembali.
"Kamu malu kan memiliki istri seperti aku. Hanya tamatan SMA dan tidak memiliki wawasan yang luas? Kamu bahkan malu mengenalkankan aku pada teman-temanmu. Aku tidak pernah berharap kamu bangga memiliki aku, tetapi setidak-tidaknya kamu bisa menghargai aku."
Sekarang gilirannya yang berbicara setelah mendengar ungkapan perasaan Nadia.
"Kamu tahu sendiri kan? Aku bukan pria romantis Nadia. Kalau menurut kamu aku mengagumi wanita lain, apa atas dasar itu kamu mengkhianati aku? Kamu berselingkuh dengan temanku? Apa yang kamu lakukan jauh lebih kejam Nadia, bukan hanya mengkhianati aku, tetapi juga menginjak-injak harga diriku," ucapnya dengan nafas memburu menahan luapan emosi.
Ia mengakui dirinya salah. Mungkin selama ini kurang perhatian kepada istrinya. Mungkin ucapannya juga sering menyakiti hati istrinya. Atau mungkin Nadia telah bosan dengan kehidupan rumah tangga mereka. Sehingga mudah tergoda dengan pesona Bimasena.
Pantaskah kesalahan yang dilakukan Nadia ia maafkan? Seumur hidup ia tidak akan pernah bisa melupakan pengkhianatan Nadia.
Tetapi ucapan Nadia selanjutnya membuatnya seperti reaktor nuklir yang hendak meledak. Membinasakan segala-galanya.
"Aku salah Tristan. Maafkan aku. Wanita seperti aku tidak pantas menjadi istrimu. Terlebih lagi sekarang aku hamil. Mungkin dari Bimasena."
"Jadi ... ceraikanlah aku Tristan!"
********
Nadia memandangi punggung Tristan, yang berangkat ke kantor tanpa menyentuh sarapan yang telah ia siapkan. Ia bisa memahami, bagaimana kecewa, emosi dan terlukanya Tristan.
Bagaimanapun sebagai seorang istri, hatinya juga sakit, melihat kesedihan Tristan. Terlebih lagi Tristan berangkat ke kantor mengenakan masker untuk menutupi lebam di wajahnya.
Mungkin mulai sekarang, ia harus bersiap-siap. Ia yakin Tristan akan menceraikannya.
Kepalanya mendadak pening begitu memikirkan perihal itu. Bila Tristan menceraikannya, maka ia akan kehilangan salon sebagai sumber penghasilannya. Ia tidak dapat lagi membayar angsuran kredit di bank. Rumah peninggalan orang tuanya yang dengan gigih dipertahankan, akan disita oleh bank. Dan bagaimana dengan biaya sekolah para ponakannya?
Ia harus memikirkan pekerjaan apa bisa dilakukan selanjutnya. Melamar kerja mengandalkan ijazah SMA? Perusahaan apa yang bisa menerimanya? Sementara di dalam rahimnya sudah bersemayam janin yang kelak akan lahir dan membutuhkan biaya.
Siapa yang bisa membantunya mendapat pekerjaan?
Bimasena?
Ia tidak ingin lagi berharap pada pria yang datang sekedar uji kemampuan menaklukkan istri orang. Hanya mencari tantangan. Begitu puas, Bimasena pasti akan meninggalkannya.
Beban yang dipikulnya bertambah berkali-kali lipat. Sementara bahunya begitu rapuh. Sehingga ia berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya di sana. Berharap ia segera tertidur. Dan tidak pernah bangun kembali. Karena dunianya penuh dengan penat.
Tetapi sofa kembali mengingatkan kejadian malam itu. Ia sangat yakin, benih yang tertanam di dalam rahimnya saat ini, mulai tumbuh saat Bimasena melakukannya di sofa pada malam itu.
Mengingatnya membuat hatinya semakin perih. Betapa mudahnya Bimasena mengobrak-abrik jiwanya, mengombang-ambingkan perasaannya. Jatuh dalam pusaran permainan asmara pria itu. Yang melakukan hal yang sama pada beberapa wanita yang lain.
Sekarang ia hancur menjadi debu yang berserakan. Tidak ada yang bersisa. Rumah tangga, pekerjaan, dan rasa malu yang ia harus tanggung seumur hidup. Semua karena imannya yang terlalu lemah.
Mungkin bila waktu bisa diulang kembali, ia tidak akan pernah mendatangi reuni. Agar tidak bertemu Tristan juga Bimasena. Karena reuni inilah yang membawa petaka baginya.
Apakah ia menyesal mengenal Bimasena? Entahlah. Namun dari lubuk hati yang paling dalam, ia telah jatuh cinta pada pria itu. Ia menyayangi pria itu melebihi rasa sayangnya pada Tristan. Tetapi kini ia telah kecewa. Ternyata Bimasena bukanlah pria yang tepat untuk menggantungkan harapan.
Belum juga ia tertidur, petaka kembali menghampiri dirinya. Karena melakui kaca jendela ia bisa melihat sebuah Mobil Audy R8 grey menepi tepat di depan rumahnya.
Apa ia tidak sedang bermimpi? Bagaimana bisa dalam keadaan yang genting seperti ini, pria itu berani datang ke rumahnya? Bagaimana bila Tristan mengetahui kedatangan Bimasena? Perang dunia ketiga bisa pecah di Jakarta.
Dengan panik ia segera beranjak bangun dari sofa. Apalagi melihat sosok tinggi itu turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumahnya.
Ia sudah membuka pintu, meski pintu belum diketuk.
"Kenapa kamu datang kesini Bim? Apa kamu belum puas berantem dengan Tristan?" Mungkin ia bukanlah tuan rumah yang baik, yang menyambut tamu dengan sopan. Nafas memburu seperti melihat hantu. Hatinya diliputi kegelisahan.
__ADS_1
Tetapi tamunya justru lebih tidak sopan lagi. Tanpa dipersilahkan, menerobos masuk ke dalam rumah. Menutup pintu dan menguncinya dari dalam pula. Membuatnya semakin panik. Bagaimana bila Tristan tiba-tiba pulang?
Tanpa merasa bersalah pria itu malah duduk di sofa. Sangat tenang, tidak terlihat rasa takut seperti yang ia rasakan. Mungkin jiwa manusia itu terbuat dari batu.
"Apa-apaan sih Bim?" protesnya. Ia merasa sangat ketakutan dan tertekan dengan sikap Bimasena. Bila Tristan mengetahui hal ini, pertikaian akan menjadi semakin besar.
"Mengapa kamu tidak ingin menjawab panggilanku? Mengapa tiba-tiba berubah?" Bimasena memberondongnya dengan dua pertanyaan sekaligus. "Kamu nggak mau ikut bersama aku lagi?"
"Ikut denganmu? Bergabung dengan Zoya, Aulia dan Aurel?" Ia membalas ucapan Bimasena dengan posisi tetap berdiri di tempatnya untuk menjaga jarak dari Bimasena.
Bukannya terkejut, Bimasena malah tergelak. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jadi kamu cemburu?"
Bereng sek bukan? Saat ia sudah emosi dan hampir menangis, Bimasena malah menertawainya. Menganggapnya cemburu pula. Membuat anak singa di dalam dirinya terbangun, rasa ingin menerkam dan mencakar-cakar Bimasena.
"Jadi karena itu kamu marah? Kamu pasti dengar dari Alfredo kan?"
"Nadia. Jangan terlalu percaya pada orang. Karena tidak ada yang akan mendukung hubungan kita. Mereka akan selalu berusaha agar kamu kembali kepada Tristan, dan menggagalkan hubungan kita," terang pria itu.
"Mengapa menyalahkan mereka. Justru aku bersyukur, mendapat informasi lebih cepat dari Alfredo tentang siapa dirimu," ucapnya sembari menelan kejengkelan.
"Nadia! Aku tidak memiliki hubungan spesial dengan Zoya dan Aulia. Terlebih Aurel, murni hanya sekretarisku. Tapi bila kamu kurang suka, aku akan mengganti aurel dengan sekretaris laki-laki atau wanita yang sudah tua."
"Kalau nggak punya hubungan spesial mengapa sering party bareng Zoya? Mengapa sering berkencan dengan Aulia?" Sekarang ia ingin mencakar-cakar Bimasena.
"Bukan hanya karena Party dan makan malam bareng lantas bisa dikatakan memiliki hubungan spesial. Kalau aku punya hubungan khusus dengan Zoya atau Aulia, ngapain aku kejar-kejar kamu?"
"Karena kamu suka tantangan Bim," selanya.
Bimasena tertawa sinis. "Aku memang menyukai tantangan Nadia. Tetapi otakku masih normal untuk berpikir bila hal yang seperti ini dianggap sebuah tantangan."
"Kamu pikir aku tidak punya hati mau merusak rumah tangga orang? Teman sendiri pula. Apa kamu pikir aku tidak malu, mesti berkelahi seperti anak kecil karena seorang wanita?"
"Kalau bukan karena aku sayang dan cinta kamu, aku nggak akan pernah melakukan hal-hal gila semacam ini."
"Kamu juga bohongin aku," ucapnya dengan suara serak. Hampir menangis.
"Bohong kenapa?"
"Kamu masih ikut balapan kan?"
"Iya kalau itu memang benar. Aku masih ikut balapan. Tetapi hanya dua kali sejak kamu melarang. Tapi aku janji, tidak akan melakukannya lagi kalau kamu tidak menyukainya."
Tidak ada gurat kebohongan yang ia lihat dari wajah pria itu. Atau memang Bimasena pandai berbohong?
Mungkin Bimasena sudah bosan dicecar terus menerus olehnya, sehingga buru-buru ingin mengakhiri perdebatan mereka.
"Sudahlah Nadia, kalau kamu nggak percaya padaku dan tidak ingin lagi melakukan apa yang sudah kita rencanakan. Tapi jangan abaikan janin yang ada di kandunganmu. Bersiaplah. Kita ke dokter obgyn."
"Untuk apa?"
"Ya periksa kandunganmu. Selama ini kamu tidak memperlakukan dirimu seperti orang hamil kan?."
"Nggak usah. Aku bisa sendiri."
"Baiklah kalau kamu tidak ingin berangkat ke dokter bersamaku. Aku telepon Tristan agar mengantarmu ke dokter," desis Bimasena sembari mengambil handphone-nya.
"Jangan Bima," Nadia memekik. "Jangan menyulut perang yang lebih besar lagi. Aku bisa mati berdiri karena kamu."
"Ikut aku ke dokter atau aku telepon Tristan," ancam pria itu.
"Baiklah, aku ikut kamu ke dokter," jawabnya dengan wajah bersungut-sungut.
__ADS_1
Ia lalu beranjak ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya. Mencari pakaian yang serasi dengan kemeja biru laut yang dikenakan Bimasena.
Lah mengapa harus diserasikan? Memang mereka suami istri yang berangkat ke kondangan?
Begitu tiba di luar, ia melihat Bimasena tersenyum penuh kemenangan.
Lihatlah pria itu! Dalam keadaan segenting ini masih bisa tertawa dan tersenyum.
Dan begitu berada di atas mobil Bimasena, ia harus menahan nafasnya sejenak, saat tangan pria itu bergerak memasang safety belt-nya. Padahal ia bisa melakukannya sendiri. Bahkan sangat mudah dilakukan.
Perhatian kecil yang sangat berarti. Untuk wanita yang hidup di gurun sahara seperti dirinya. Padahal ia masih ingin marah soal Zoya, Aulia, Aurel dan balapan pada Bimasena. Amarahnya mendadak tercekat. Niatnya untuk menerkam dan mencakar-cakar Bimasena pun menguap.
Setelah pria itu memasangkan safety belt untuknya, tangan Bimasena berusaha menjangkau sesuatu di jok belakang. Lalu memberikan padanya sebuah wadah yang berisi potongan buah, kacang-kacangan serta susu UHT dalam kemasan kotak.
"Ini aneka buah potong dan kacang-kacangan yang baik untuk ibu hamil muda. Makanlah. Ini susunya. Kamu harus minum susu ini, karena banyak mengandung asam folat dan zat besi. Asam folat penting untuk mencegah cacat lahir pada otak dan saraf bayi."
Ia bahkan tidak pernah memikirkan makanan apa yang harus ia konsumsi sebagai perempuan hamil, tetapi Bimasena sudah memikirkannya.
Apa ia masih bisa marah kalau Bimasena seperti ini? Semua amarah dan kecewanya pada pria itu gugur ke bumi berganti rasa haru.
Ia melirik wajah pria itu yang kini mengemudikan kendaraannya.
Lebam pada pelipis kirinya bekas pukulan Tristan semakin membuatnya haru. Karena awalnya Bimasena tidak pernah melawan Tristan, memasrahkan diri menjadi sasaran kemaran Tristan. Sampai ketika Tristan menampar wajahnya, barulah Bimasena marah dan menghajar Tristan.
"Kenapa Nggak pakai masker?" Ia ingat bagaimana Tristan tadi mengenakan masker untuk menutupi wajah lebamnya.
"Untuk apa?"
"Biar lebamnya nggak kelihatan."
"Kenapa harus ditutupi? Kita harus menerima segala konsekuensi dari apa yang kita lakukan," jawab pria itu tanpa menoleh ke arahnya.
Ia pun diam, tidak tahu harus menjawab apa.
"Stop," ucapnya saat kendaraan mereka melewati sebuah apotek.
"Mau beli apa?" tanya Bimasena mengernyit ke arahnya
Ia turun dari mobil tanpa menjawab pertanyaan Bimasena. Lalu kembali ke atas mobil membawa sebuah krim di tangannya.
Ia membuka tutup krim, lalu mengoleskannya ke pelipis Bimasena. Tetapi tangannya mendadak gemetar karena Bimasena menoleh ke arahnya, menatap wajahnya lekat-lekat dengan mata cokelat tegas saat ia mengoleskan krim. Sehingga ia buru-buru menutup kembali tube krim, lalu duduk menghadap ke depan untuk menghindari tatapan menikam jantung itu.
Tetapi tangan Bimasena bergerak, meraih tangan kanannya, lalu mengecupnya dengan lembut. Satu getaran menyergapnya ketika ia merasakan bibir lembut di tangannya, menimbulkan desiran-desiran pada aliran darahnya.
Oh Tuhan ...
Lilin kecil yang angkuh meleleh seketika. Hanya karena hangat hembusan nafas pria itu ditangannya.
Nadia kembali diluluh lantakkan Bimasena, pria penghancur segala logika. Ia telah tersesat di jalan yang telah diciptakan pria itu, dan tidak tahu lagi jalan untuk kembali.
*******
Readersku tersayang,
Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga tetap dalam limpahan kesehatan dan kebahagiaan.
Terima kasih atas segala apresiasi dan dukungannya terhadap novel ini.
Salam sayang dari Author Ina AS
πππ
__ADS_1