REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
64. Apa Ada Pria yang Bernasib Sama Seperti Dirinya?


__ADS_3

"Biiiiiiim, aku nggak mau!" pekik Nadia. Bulu kuduknya berdiri, karena pria menawan di depannya berubah menjadi raksasa yang menyeramkan.


"Soup-nya telah habis dan manusia telah kekenyangan. Apa selanjutnya yang dilakukan raksasa?" Bimasena semakin menakutinya.


Ia melepas selimut yang membungkus tubuhnya, lalu turun dari tempat tidur, menjauh secepatnya dari Bimasena dengan berlari ke arah pintu. Tetapi kunci pintu kamar Bimasena menggunakan kunci pintu elektronik yang hanya dapat diakses dengan sidik jari, atau keypad memakai PIN. Sehingga langkahnya terhenti di pintu.


Nadia memperbaiki lilitan handuknya. Hanya menggunakan handuk dan baju kaos tipis tanpa pakaian dalam, bisa menjadikannya mangsa yang empuk bagi Bimasena.


Sementara di atas tempat tidur Bimasena tertawa dengan culasnya. Apakah ia akan bermain kucing tikus dengan Bimasena?


"Biiiiiiiim, aku tidur di kamar sebelah. Nggak mau di sini."


Pria itu tidak menjawabnya, hanya memperbaiki posisi duduknya. Duduk di pinggir tempat tidur memamerkan senyum dan tatapan yang mampu mengerdilkan iman.


Yakinkah ia ingin tidur di kamar sebelah? Setelah sekian lama merindukan pria itu, akankah ia melewatkan kesempatan bersamanya?


Oh tidak. Iblis kembali menggodanya. Ia tidak boleh kalah.


"Biiiiim PIN nya." Ia sendiri tidak percaya mendengar suaranya semanja ini. Sementara tangannya memegang handuk seerat-eratnya, jangan sampai terjatuh di depan pria itu.


Bimasena bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekatinya. Jantung bereaksi, mengetuk-ngetuk dari dalam. Saat pria itu makin dekat, jantungnya sudah merangkak keluar dari dada.


"Apa aku terlihat sedemikian menyeramkan, sampai kamu lari dariku seperti itu?" Mata pria itu menyipit.


Menyeramkan? Bagaimana bisa wajah seperti itu menyeramkan. Justru ini yang dikhawatirkan, sebentar lagi ia akan terhipnotis wajah tampan itu.


Bimasena mengangkat dagunya dengan lembut, sehingga wajahnya menengadah ke atas. Mereka saling bertatapan.


Tatapan pria itu sangat rapuh. Tetapi mampu membuat kedua kaki Nadia menjadi layu.


"Apa kamu tidak rindu padaku?" desah pria itu, suara terseksi yang pernah ia dengar.


Tidak rindu? Bagaimana bisa ia tidak rindu pada pria itu.


Aura panas telah menyelimuti kamar. Aura yang ditimbulkan oleh kerinduan dan gejolak hasrat yang tertahan.


Bagaimana bisa menyangkal, bahwa ia sangat membutuhkan pria ini.


Kalau sudah begini ia harus apa lagi?


Dua bibir telah menyatu. Menjalarkan gelombang yang membawa rasa hangat ke dasar hati. Tangan yang tadinya memegang handuk, bergerak mencengkeram lengan pria itu. Dua tubuh saling menempel, tak ingin tersekat jarak. Karena jalan yang ditempuh untuk sampai ke saat ini, tidaklah mudah.


Deru nafas saling bersahutan. Ia bisa merasakan, tangan Bimasena yang meremas rambutnya dan satu lagi bergerak di punggungnya.


Di luar sana hujan semakin deras. Jangan tanya, bagaimana caranya ia berpindah dari belakang pintu. Ia sendiri tidak tahu tiba-tiba sudah terbaring di atas tempat tidur, di bawah pria itu.


Apakah ia berjalan, atau terbang ke tempat tidur? Entahlah. Ia lupa.


Pagutan bibir semakin bergelora. Seperti gelora hujan yang mengguyur kemarau. Jiwa yang kering kerontang karena rindu, tidak akan tumbuh hanya dengan sekedar ciuman panjang.


"Biiiim ... " mulutnya mendesah saat ciuman Bimasena beringsut ke bawah. Nafasnya semakin tidak beraturan. Garukan wajah tidak bercukur itu pada lehernya sangat lezat terasa.


Posisi Nadia yang berbaring menghadap ke atas memudahkan akses Bimasena menjelajah


"Biiiiiim .... " Ia kembali merengek, karena tidak mampu menahan cumbuan yang membawa getaran dahsyat dalam dirinya.


"Kenapa sayang?" Bimasena beringsut pelan, menyejajarkan wajah mereka. Ibu jari Bimasena menyapu bibir bawahnya. Nafas wangi pria itu menghangatkan wajahnya.

__ADS_1


Tatapan pria itu mengandung keinginan yang sangat kuat. Seperti musafir yang mendamba mata air. Pria itu begitu rapuh menahan hasratnya. Serapuh dirinya, yang mendamba terulang kembalinya momen yang penuh kelembutan di sofa, ataupun momen saat ia dibuat babak belur di jok belakang mobil.


Tetapi mata hatinya yang suci melihat beberapa sosok bertanduk menari-nari menabuh gendang mengelilingi mereka. Berpesta merayakan maksiat yang hendak tercipta. Sehingga ...


"Biiiim, perutku kram," rengeknya.


Pria itu tersentak dan segera menggulingkan tubuh ke samping


"Maaf sayang, apa tadi aku terlalu kuat menindih perutmu?" Suara Bimasena terdengar serak penuh penyesalan. Tangan pria itu bergerak ke perutnya.


Nadia menggeleng.


"Kita ke dokter." Seketika Bimasena beranjak bangun, sehingga ia buru-buru mencegah. Tidak menyangka Bimasena akan sepanik ini.


"Ini sudah tengah malam Bim, mana ada praktik dokter yang terbuka."


"Kalau begitu kita ke rumah sakit ibu dan anak saja. UGDnya tetap buka kan?"


"Biiiim, aku kan gak punya baju. Masa pakai baju begini ke rumah sakit. Kramnya juga gak terlalu kok. Biasa saja." Entah alasan apa lagi yang masuk akal bisa ia kemukakan.


"Nadia, kamu jangan anggap sepele kram perut. Aku akan menyesali diriku bila terjadi apa-apa dengan kandunganmu sementara kamu berada di dekatku. Kita berangkat sekarang."


"Biiiim, kramnya udah hilang. Aku cuma butuh istirahat sekarang."


Entah mengapa, terhadap Bimasena ia kebanyakan merengek ataupun bermanja. Apa ia masih waras?


Ia begitu risih, karena Bimasena meneliti wajahnya. Apa pria itu bisa mengetahui bila ia hanya berbohong? Sekedar alasan untuk menghentikan aksi Bimasena selagi iblis belum mengalahkannya.


Bimasena menghembuskan nafas berat. Ekspresi wajahnya tak terdefinisikan. Mungkin seperti itulah ekspresi seorang pria yang hasratnya sudah sampai di ubun-ubun, tiba-tiba dikandaskan. Dipatahkan di tengah jalan. Hasratnya tidak tersalurkan.


Ia mengamati wajah pria itu. Bimasena mencoba menetralisir diri. Menghembuskan nafas dengan kasar. Namun akhirnya secara perlahan-lahan wajah Bimasena melembut. Pria itu lalu mencium keningnya.


Bimasena menarik selimut menutupi tubuhnya.


Bukankah dia sangat pengertian?


"Aku tidur di kamar sebelah Bim. Kita belum menikah, nggak boleh sekamar. Aku juga gak boleh tinggal di apartemen kamu. Kita belum boleh tinggal serumah." Akhirnya ia bisa mengutarakan apa yang mengganjal hatinya.


Tetapi Bimasena tergelak mendengar ucapannya.


Memang dimananya yang lucu?


"Kamu tidur di sini, aku tidur di sebelah. Soal nggak boleh serumah, kita bicarakan besok. Juga soal urusan perceraianmu dengan Tristan."


"Tidurlah." Sekali lagi Bimasena menciumnya, lalu melangkah turun dari tempat tidur. Mematikan lampu kemudian melangkah keluar dan membuka pintu. Tetapi sebelum menutup pintu itu, Bimasena berucap,


"PIN pintunya, tanggal, bulan, tahun, malam saat di sofa."


Telinga dan pipinya kembali memanas mendengar ucapan pria itu.


Apa perlu hal memalukan itu dicatat dalam buku sejarah?


********


Rasa lapar di perutnya, membangunkan Bimasena pagi itu. Saat matanya terbuka, ia baru mengingat bila ia tidur di kamar sebelah.


Bukan hanya perutnya yang lapar. Semua yang ada pada dirinya juga ikut lapar. Penyebabnya adalah karena kebutuhan biologis yang tidak terpuaskan.

__ADS_1


Berharap dengan hadirnya bidadari itu di apartemennya, akan terjadi percintaan yang indah dan mengesankan sepanjang semalam. Tidak disangka ia berakhir, menuntaskan sendiri di kamar mandi. Dan tidur di kamar yang terpisah pula.


Nadia bahkan berpura-pura kram perut untuk menolaknya. Meskipun sudah terlanjur basah wanita itu tetap berusaha menjaga agar mereka tidak melanggar norma.


Persetan dengan norma bila hasrat sudah bergejolak. Untung saja semalam ia mampu mengendalikan diri, hanya karena mengingat wanita itu sedang hamil.


Seandainya Nadia tidak hamil, ia akan menghukum wanita itu karena telah menjatuhkannya dari tebing sebelum mencapai puncak tertinggi. Bila perlu dilakukan dengan paksaan, biar wanita itu kesulitan berjalan setelahnya.


Ia beranjak bangun dari tempat tidur. Berjalan menuju meja makan karena perut minta diisi. Tetapi meja makan masih kosong. Maid-nya belum selesai menyiapkan sarapan rupanya.


Ia pun melangkah ke dapur, hendak mencari makanan yang instant untuk dimakan. Namun baru di ambang pintu ia menghentikan langkahnya.


Ia melihat pemandangan yang menyejukkan mata pagi ini. Nadia dengan baju kaos semalam dan handuk yang dijadikan bawahan, sedang beraksi memasak di dapur. Mungkin memasak mie goreng.


Akhirnya ia hanya berdiri di ambang pintu menonton, tanpa Nadia sadari karena membelakanginya.


Melihat Nadia memotong-motong sayur, sosis dan menumis bumbu merupakan tontonan yang sangat istimewa bagi seorang bujangan sepertinya.


Mungkin seperti inilah kenikmatan yang dirasakan seorang pria yang sudah berumah tangga. Melihat istri menyiapkan makanan untuknya. Apalagi aroma masakan yang tercium sangat menggugah selera.


Tiba-tiba ia jadi kebelet nikah.


Apa ada pria yang bernasib sama seperti dirinya?


Ngebet nikah, tapi calon masih berstatus istri orang lain. Mengenaskan bukan?


*******


Apa ada pria yang bernasib sama seperti dirinya?


Tristan mengoleskan selai pada roti tawar. Beberapa hari ini, hampir setiap hari ia hanya sarapan dengan roti. Karena tidak ada Nadia lagi yang menyiapkan sarapan untuknya. Matanya nanar menatap kompor yang tidak pernah berasap lagi.


Ia menggigit roti yang berasa hambar meskipun telah diolesi dengan selai strawberry yang manis.


Kenangan di awal pernikahannya dengan Nadia menjelma. Saat senyum Nadia masih mengembang sempurna. Saat mereka masih sering bercanda bersama.


Entah apa yang salah dengan dirinya. Ia terlalu cepat jenuh dengan Nadia. Kecantikan ternyata tidak berarti apa-apa, bila tidak ditunjang dengan kecerdasan intelektual. Nadia berubah menjadi wanita yang membosankan.


Ia sudah menyadari, bila selama ini sikapnya salah terhadap Nadia. Berkali-kali membuat wanita itu meneteskan air mata. Merubah sifat periang dan percaya diri yang dimiliki Nadia, menjadi wanita pendiam, suka termenung dan kehilangan percaya diri.


Haruskah ia meminta maaf pada Nadia?


Mungkin yang dikatakan oleh Hakimah itu benar.


Bila suami kurang perhatian, bisa jadi istri akan mencari perhatian pada orang lain. Atau mungkin seorang suami pernah menyakiti hati istrinya dengan bermain hati dengan wanita lain, sehingga istrinya menaruh dendam dan membalas berselingkuh.


Tetapi pembalasan yang dilakukan Nadia itu teramat kejam. Dalam sekejap bisa mematikan.


Telepon dari Bang Herial tadi pagi semakin melengkapi rasa sakitnya.


Nadia kabur bersama Bimasena.


Hatinya semakin terhimpit oleh rasa malu, marah, sepi, pedih dan perih. Semarah-marahnya ia pada Nadia, sebodoh-bodohnya Nadia, namun hatinya terasa sepi tanpa Nadia di rumah ini.


Terlebih lagi, wanita idaman hati, Hakimah, hendak menikah dengan pria lain. Semakin lengkaplah penderitaannya.


Sekarang ia belajar bersabar menahan kemarahan dan kekecewaan. Karena bila menuruti emosinya, ingin rasa hatinya membunuh Bimasena. Lalu melihat Nadia menangis kehilangan karenanya.

__ADS_1


Tetapi ia pria yang berpendidikan. Tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu. Sekarang ia harus memikirkan bagaimana cara membawa Nadia kembali. Karena Bang Herial ternyata tidak dapat diandalkan.


__ADS_2