REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
67. Di Ambang Perpisahan


__ADS_3

Setelah memastikan Tristan hanya sendiri di rumahnya, tidak ada Bang Herial atau siapapun, Bimasena mengarahkan kendaraannya ke rumah Tristan. Di sampingnya, Nadia duduk termenung.


Nadia akan bertemu Tristan. Tentu menjadi kekhawatiran tersendiri baginya.


"Kamu yakin, bisa bertemu Tristan? Aku tidak perlu menemani?" ia mengulangi lagi pertanyaan sebelumnya kepada Nadia.


"Sebaiknya aku bertemu Tristan Bim. Agar kami bisa berpisah secara baik-baik. Bukan hanya soal dokumen itu. Kamu nggak usah cemas, aku yakin Tristan tidak akan mengasariku."


Bukan hanya ia khawatir Tristan akan mengasari Nadia. Tapi hal yang paling dikhawatirkannya adalah,


"Kamu yakin tidak akan berubah setelah bertemu Tristan? Tidak akan kembali pada Tristan?" ia melirik wanita di sampingnya.


Nadia tertawa kecil. Lalu tangan wanita itu bergerak memegang tangannya yang memegang persneling mobil. Sejak kapan Nadia berani memegang-megang seperti itu? Satu kemajuan pada Nadia.


"Bim, langkahku sudah jauh. Mana mungkin aku berbalik arah. Kamu belum percaya padaku?"


"I dont know, I'm confused. Aku khawatir kamu berubah setelah bertemu Tristan. Mungkin karena takut kehilangan saja," desisnya. Entahlah, mengapa ia merasa kurang senang bila Nadia harus bertemu Tristan.


Cemburu? Memang benar ia cemburu.


"Bim, kamu lebih mengkhawatirkan daripada aku. Kamu seperti gula, yang dikelilingi semut wanita," seloroh Nadia. Tapi tidak mampu membuatnya tertawa.


******


Nadia berusaha menetralisir debaran jantungnya begitu Bimasena menepikan kendaraan tepat di depan rumah Tristan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi bila ia bertemu Tristan.


"Tidak ada ciuman untukku sebelum kamu masuk ke dalam?" lontar Bimasena yang membuatnya terhenyak. Bisa-bisanya di depan rumah Tristan Bimasena meminta dicium. Apalagi ia belum pernah mencium Bimasena duluan.


Nadia tidak menolak permintaan Bimasena, karena sejak tadi pria itu sepertinya memendam cemburu. Sangat berat melihatnya hendak bertemu dengan Tristan.


Ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu. Tapi ternyata pria itu tidak menyambutnya. Hanya menatap ke depan dengan wajah dingin. Sehingga wajahnya tidak bisa menjangkau wajah Bimasena.


Seperti inikah bila Bimasena cemburu? Ia belum pernah melihat wajah Bimasena seperti itu.


Apa ia harus menggeser badannya agar bisa menjangkau Bimasena?


Apa boleh buat, ia pun menggeser badannya. Bertumpu dengan lutut lalu mencium pipi Bimasena.


Pemilik mata cokelat itu malah meliriknya tajam. Lirikan yang menikam jantung.


Selang beberapa saat wajah itu melunak. "Masuklah. Ingatlah kalau aku menunggu di sini. Jangan lama-lama."


Ia mengangguk, tersenyum pada Bimasena. Lalu dengan langkah yang pelan turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah. Pintu rumah Tristan.

__ADS_1


Bagaimanapun juga ia merindukan rumah itu. Rumah yang sudah dihuninya bertahun-tahun. Rerumputan di taman mulai tinggi tidak pernah digunting. Beberapa bunganya sudah layu, tidak pernah disiram. Hatinya trenyuh melihat taman kecilnya bertabur dedaunan yang tidak pernah tersapu.


Pintu rumah itu terbuka dan ia melihat Tristan duduk di sofa. Namun ia tetap mengetuk pintu, tidak langsung melangkah masuk.


"Sejak kapan kamu mengetuk pintu rumahmu sendiri yang terbuka?" tegur Tristan.


Ia pun melangkah masuk dan duduk di depan Tristan.


Sejenak ia mengamati wajah suaminya yang berubah muram. Setelah sekian lama tidak melihatnya, rambut Tristan lebih panjang dari biasanya. Tristan tidak serapi sebelumnya lagi. Berantakan. Sama seperti kondisi rumah yang terlihat suram. Badan Tristan pun tampak lebih kurus.


Bagaimanapun juga hatinya menjadi sedih melihat kondisi Tristan.


Entah berapa menit mereka hanya saling diam. Sama-sama merenung. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak menyangka bila biduk rumah tangga yang telah dibangun, akan dihadapkan masalah seperti ini.


"Tidak bisakah kamu memaafkan aku?" Tristan mendahuluinya berbicara. Memecah kebekuan diantara mereka berdua.


Nadia yang menunduk, mengangkat wajahnya menatap Tristan.


"Maaf untuk apa Tristan? Aku yang harus minta maaf padamu. Karena aku yang bersalah."


Tristan tersenyum getir.


"Aku sadar, selama ini aku bukan suami yang baik bagimu. Tidak peduli, tidak memiliki sisi romantis, juga sering menyakiti kamu dengan sikap dan kata-kataku." Tristan menatapnya tajam, sehingga ia kembali menundukkan wajahnya.


"Aku yang salah. Karena selama ini hanya melihat sisi burukmu dan mengabaikan kebaikanmu padaku. Aku hanya melihat duri pada mawar, tapi mengabaikan warnanya yang indah serta wanginya." Ia terhenti sejenak, karena air matanya mulai menetes. Mengapa ia serapuh ini?


"Kesalahanku jauh lebih besar, karena aku telah mengkhianatimu. Ternyata aku bukan wanita yang setia dan mudah terjerat godaan," lanjutnya tanpa menatap Tristan. Sementara air matanya semakin deras membasahi pipi.


Tristan mendesah. "Aku tahu diri. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan Bimasena. Bimasena berada di atasku dalam segala hal. Sangat wajar bila setiap wanita tertarik padanya, termasuk kamu. Aku bisa mengerti itu."


Hatinya tersayat mendengar ucapan Tristan yang merendahkan diri terhadap Bimasena. Bagaimana caranya menjelaskan bila ia jatuh ke pelukan Bimasena bukan karena apa yang dimiliki pria itu. Namun karena perlakuan Bimasena padanya.


Belum sempat ia membalas ucapan Tristan, Tristan kembali menambahkan.


"Kamu sudah memikirkan matang-matang untuk berpisah?"


Nadia mengangguk lemah.


"Tidak bisakah kamu buka pintu maaf untukku dan kembali padaku? Lalu kita memperbaiki hubungan kita dari awal?" pinta Tristan.


"Bukan karena aku tidak memaafkan dan menerima sikapmu sehingga aku tidak ingin kembali padamu. Bukankah selama lima tahun meskipun kita penuh dengan kebekuan, tetapi kita tetap adem-adem saja sampai Bimasena datang?"


"Tapi aku tidak pantas lagi untukmu Tristan. Aku istri yang durhaka dan wanita pendosa. Bukan sekali saja aku khilaf bersama Bimasena. Tapi berkali-kali. Kamu pantas mendapatkan wanita yang baik." Ia tidak dapat lagi menahan isak tangisnya. Tersedu di depan Tristan.

__ADS_1


"Aku terima kamu apa adanya, aku akan abaikan apa yang telah terjadi. Tentang anak yang kamu kandung, bila saja itu adalah benih Bimasena, aku akan menerimanya. Memperlakukannya seperti anak sendiri," lirih Tristan.


Pria itu ikut menangis. Semakin melengkapi rasa bersalahnya. Mengapa mereka harus saling bertangis-tangisan seperti ini? Tidak seperti yang ia pikirkan sebelumnya.


"Aku tidak akan kembali Tristan. Seandainyapun aku gagal bersama Bimasena, aku tidak akan kembali. Karena wanita durhaka dan pendosa seperti diriku, tidak pantas bersanding dengan pria terhormat sepertimu," rintihnya. Sekarang ia berani menatap wajah Tristan.


"Baiklah kalau itu keinginanmu. Aku sudah mengumpulkan dokumen dan barang-barang pribadimu di atas tempat tidur. Masuklah di kamar. Periksalah, bila ada yang kurang, carilah di kamar. Kamu pasti masih ingat tempatnya di mana."


Ia pun berdiri dari sofa dan berjalan ke kamar. Duduk di sisi tempat tidur. Tristan menyusulnya dan berdiri di ambang pintu kamar.


Di atas tempat tidur, bukan hanya ada tumpukan dokumen. Juga terdapat tumpukan barang. Di lantai terdapat beberapa koper, yang mungkin berisi pakaiannya.


Ternyata Tristan bukan hanya mengumpulkan dokumen, tetapi juga seluruh barang-barangnya. Padahal ia hanya ingin mengambil dokumennya saja .


"Aku tidak akan membawa perhiasan ini Tristan. Simpanlah di sini." Ia terkejut karena kotak perhiasan beserta semua isinya yang berupa emas juga ada di atas tempat tidur itu.


"Kamu memang tidak akan membutuhkan emas itu. Karena dengan mudah kamu akan mendapatkan berlian dari Bimasena. Tapi bawalah, sekedar kenang-kenangan dariku. Bila kamu tidak menyukainya lagi, buanglah atau berikan pada yang membutuhkan," tangkas Tristan. Semakin membuat hatinya layu.


Dan ia lebih terkejut lagi melihat sertifikat rumah yang ia jadikan salon.


"Apa maksudnya ini Tristan?"


"Rumah kecil itu memang tidak akan ada nilainya dari apa yang akan kamu dapatkan dari Bimasena. Tapi aku sudah memberikan rumah itu padamu. Tidak mungkin aku mengambilnya kembali," pungkas Tristan.


Ternyata Tristan tidak sepelit anggapannya selama ini. Sekarang rasa bersalah semakin menyiksanya.


Namun yang membuat tubuhnya bergetar hebat dan tangisnya meledak adalah karena di tumpukan teratas dokumennya, Tristan meletakkan foto prewedding mereka. Di atas foto prewedding itu ada tulisan tangannya. Yang ia tulis sendiri setelah pesta pernikahan telah usai dan dihadiahkan kepada Tristan. Rupanya Tristan masih menyimpannya.



Sekarang ia memikul sesak, sesal dan perih. Hatinya tergores kesedihan.


Satu ucapan Tristan sebelum ia meninggalkan rumah itu, semakin menancapkan rasa haru dan pilu di hatinya.


"Aku ikhlaskan, bila kamu tidak bahagia bersamaku Nadia. Kamu berhak hidup bahagia. Semoga saja Bimasena bisa membuatmu bahagia. Tapi bila ternyata kenyataan berkata lain, maka kembalilah. Aku akan menunggumu."


Bagaimanapun mereka pernah melalui masa-masa yang indah berdua. Tertanam di hati sanubari dan akan menjadi satu kenangan.


Betapa pada saat itu, mereka tidak pernah tahu akan terhenti seperti ini. Kebersamaan selama lima tahun raib sudah seperti daun yang tertiup angin. Cinta berapinya dengan Bimasena telah menenggelamkan rumah tangganya bersama Tristan. Dan berakhir menjadi orang lain bagi satu sama lain.


Atas dasar apapun perpisahan selalu menyakitkan. Dari perpisahan itu seseorang mengetahui arti kehilangan.


Dan sekarang ... ia merasa kehilangan Tristan.

__ADS_1


*******


__ADS_2