REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
48. Kaliurang Reunion (3)


__ADS_3

Bimasena memberi perintah, "Masuklah ke kamar mandi! Tampun urine di sini! Kita lakukan pregnancy test. Sepertinya kamu hamil."


Nadia pun membelalak seketika.


Dengan segera ia berjongkok, menutupi apa yang seharusnya tidak dilihat Bimasena.


"Handuk!" Teriaknya pada Bimasena. Mana tahu ia hanya diminta buang air kecil. Tahu seperti itu nggak mungkin ia mengizinkan membuka bawahannya dari luar sampai ke dalam.


Yang lebih mengesalkan lagi karena Bimasena menertawainya. Mungkin Bimasena bisa menebak apa yang ada di otaknya. ya, memang ia sangat memalukan.


Lelaki itu berjalan masuk ke dalam kamar mandi lalu keluar membawa handuk untuknya.


Ia sudah lupa, sudah berapa bulan tidak datang bulan. Tapi ia tidak pernah memedulikan. Siklus menstruasinya memang tidak pernah teratur sejak ia haid untuk pertama kalinya.


Menurut dokter, ia menderita ketidakseimbangan hormon. Ketidakseimbangan hormon estrogen yang memengaruhi kesuburan dan siklus haid dengan hormon progesteron yang membantu mengatur sistem reproduksi dalam mempersiapkan terjadinya kehamilan, termasuk siklus haid. Yang berdampak pada ketidak teraturan menstruasi dan terhadap kesuburan. Menyebabkan ia sulit untuk hamil.


Dan sekarang Bimasena akan melakukan pregnancy test hanya karena ia berwajah pucat dan terlambat haid beberapa bulan. Ia memang tidak pernah jujur kepada Bimasena, mengenai ketidak teraturan haidnya.


"Mana test pack-nya?" Ia meminta alat uji kehamilan kepada Bimasena.


"Aku akan melakukannya sendiri," jawab pria itu.


Sudah hampir empat tahun ia tidak pernah melakukan uji kehamilan lagi. Ia melakukannya hanya pada awal perkawinan.


Lagian Tristan juga sepertinya tidak memedulikan soal keturunan. Mungkin karena Tristan tahu ia mengalami ketidakseimbangan hormon, sehingga yakin bahwasanya ia sulit memiliki keturunan atau mandul.


Setelah menampung urine-nya pada tabung kecil, Nadia memperbaiki handuk yang melilit di pinggangnya sebelum ia keluar dari kamar mandi dan memberikan tabung plastik itu kepada Bimasena.


Nadia memperhatikan pria itu merobek plastik yang berisi strip alat test pack, lalu mengeluarkan isinya dan mencelupkannya ke dalam tabung plastik.


"Kamu sudah biasa yang Bim melakukan tes kehamilan? Lincah benar." Kelincahan Bimasena jelas membuatnya curiga, lelaki itu sudah sering melakukannya pada wanita yang pernah berhubungan dengannya.


"Nggak juga. Kan bisa baca keterangan cara menggunakannya. Nggak sulit kan?" kilah Bimasena, masih mencelup strip kedalam tabung plastik.


Namun ia tetap tidak percaya bila Bimasena tidak pernah melakukan test pack pada teman wanita sebelumnya. Toh Bimasena sudah mengaku bila dia memiliki kehidupan yang bebas.


Dan saat Bimasena mengangkat strip uji kehamilan, pria itu tersenyum penuh arti. Lalu memperlihatkan strip tersebut kepadanya.


Ada dua garis merah muda yang terlihat di sana.


Apakah ia ... hamil?


Ia masih tidak percaya. Dan meminta Bimasena mengulangnya lagi pada strip uji kehamilan yang baru. Bimasena pun menuruti keinginannya.


Hasilnya masih sama. Dua garis merah muda.


Ia pun tak kuasa menahan air mata harunya. Tidak percaya ia bisa hamil. Tuhan baru saja memberinya anugerah yang luar biasa.


"Selamat," ujar Bimasena. Merengkuhnya ke dalam pelukan. Ia bisa merasakan keningnya dicium oleh Bimasena dalam waktu yang sangat lama.


Ia masih tidak percaya. Semoga ini bukanlah mimpi. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini. Kebesaran Tuhan menyelimutinya. Air mata bahagia mengalir di pipinya.


Akhirnya ia diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi seorang Ibu. Yang selama ini hanyalah mimpinya saja. Keinginannya untuk memiliki bayi segera terwujud.


Tuhan mengabulkan doanya agar bisa segera hamil kala ia sudah hanyut dalam kepasrahan. Saat ia menyerahkan urusan soal keturunan sepenuhnya kepada Tuhan .


"Begitu tiba di Jakarta kita check ke dokter," ujar Bimasena.


Tiba-tiba membuatnya dilanda rasa khawatir.


"Memang hasilnya bisa berubah ya Bim kalau kita check ke dokter?"


Betapa bodohnya dirinya. Bertanya kepada seorang pria yang masih bujangan. Apa bedanya bertanya arah kepada orang buta.


Tetapi Bimasena ternyata orang buta yang sok tahu.


"Nggak, kita check kesehatan kandunganmu sayang," jawab Bimasena. Begitu sangat menenangkannya.


Tetapi tidak dengan yang terjadi kemudian.


Bimasena melepaskan pelukannya. Lalu menatapnya dengan pandangan yang sangat serius.


"Nadia, kita harus membicarakan kelanjutan hubungan kita." Mata Bimasena menatap dalam-dalam matanya.


"Maksud kamu?"

__ADS_1


Apa ia terlalu bodoh sehingga tidak bisa menebak apa yang diinginkan pria itu?


"Kita tidak mungkin sembunyi-sembunyi terus seperti ini kan? Aku yakin, janin yang kamu kandung sekarang adalah darah dagingku. Dan ketika bayi itu lahir nanti, sebaiknya kita sudah memiliki hubungan yang resmi."


Nadia terkesiap, karena ia terlalu bahagia dengan hasil uji yang positif. Ia terlalu senang akan menjadi ibu. Sampai lupa memikirkan siapa ayah anak yang dikandungnya.


Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi ... Memiliki hubungan yang resmi dengan Bimasena.


Ia tidak pernah berpikir sejauh itu, meskipun sudah memiliki hubungan yang sangat jauh dengan Bimasena.


Ia tidak pernah berpikir untuk meninggalkan Tristan dan menikah dengan Bimasena. Karena ia hanya menikmati hubungannya dengan Bimasena.


Dan sekarang ia dihadapkan pada masalah yang sesungguhnya.


"Bagaimana caranya?" otaknya mendadak lemot. Tidak bisa digunakan untuk berpikir.


"Kamu bercerai dengan Tristan dan kita menikah sebelum bayi itu lahir," tegas Bimasena.


"Aku akan menemui Tristan, membicarakan hubungan kita," lanjut pria itu lagi.


Pandangannya tiba-tiba berkunang-kunang mendengar penuturan Bimasena. Kepalanya mendadak pusing. Ia merasa sekelilingnya seperti berputar-putar dan ia pun kehilangan keseimbangan.


*******


"Aku akan menemui Tristan, membicarakan hubungan kita," tuturnya kepada Nadia yang membuat wanita itu tersentak dan membelalak. Bereberapa detik kemudian tubuh Nadia limbung.


Beruntung ia masih bisa menangkap tubuh wanita itu sebelum terjatuh. Bimasena lalu mengangkat tubuh Nadia ke atas bed.


Seperti yang ia duga, Nadia tidak akan mampu menghadapi kenyataan. Nadia tidak memiliki mental yang tangguh, sementara jalan yang harus mereka lalui tidaklah mudah, bahkan teramat berat. Terjal dan berliku.


Tidak seperti dirinya. Ia sudah siap perang. Persenjataannya sudah lengkap. Namun ia harus ekstra hati-hati. Karena bila ia ceroboh, maka Nadia yang akan menjadi korban.


"Kamu kenapa sayang?" tanyanya dengan suara lembut kepada Nadia, begitu ia membaringkan Nadia di atas tempat tidur. Sementara ia duduk di sisi tempat tidur.


Beberapa kali Nadia memejamkan matanya, lalu membukanya lagi. Berulang-ulang.


"Kamu akan mengatakan semuanya pada Tristan?" tanya Nadia dengan gurat wajah penuh kecemasan.


"Iya," jawabnya mantap.


"Kapan?"


"Tristan akan membunuhmu Bim," Nadia mulai terisak. Nampaknya ia sangat ketakutan. "Juga akan membunuhku."


Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Ia tidak pernah gentar Tristan akan membunuhnya. Karena Tristan tidak akan mampu melakukan itu.


Tetapi yang sangat ia khawatirkan adalah, bila Tristan menyakiti Nadia. Dan melampiaskan kemarahan padanya kepada Nadia.


"Donโ€™t be worried too much (Jangan terlalu khawatir). Everything will be fine (Semuanya akan baik-baik saja)."


"Serahkan semua kepadaku."


Mengapa wanita itu selalu membuatnya iba? Iba karena sikap suaminya, iba karena beban keluarga yang dipikulnya, kasihan melihat segala ketakutannya. Dan sekarang, baru saja Nadia merasa bahagia karena hasil test pack yang positif, sekarang ia kembali ketakutan akan apa yang akan dihadapinya.


"Kamu serius padaku Bim?"


Pertanyaan yang terlontar dari wanita itu membuatnya terhenyak. Ia lalu merebahkan tubuhnya di samping wanita itu, lalu membalikkan tubuhnya sendiri dan tubuh Nadia sehingga mereka berhadapan.


"Jadi sampai saat ini kamu masih meragukan aku? Masih belum percaya kepadaku?" Tangannya bergerak menghapus air mata Nadia.


"Kamu tidak akan meninggalkan aku nanti Bim?" tanya wanita itu lirih, air mata tidak berhenti mengalir dan jatuh di atas bantal. Sekarang Nadia sudah berani menatap matanya. Tentu saja mencari kejujuran di dalam matanya.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu Nadia. Tidak akan pernah," pungkasnya.


"Banyak wanita cantik yang berlomba-lomba mendapat perhatian dari kamu. Kamu yakin bila nanti kamu tidak akan tergoda?" Nadia masih saja ragu kepadanya.


"Mungkin seribu kalimat aku ucapkan pun tidak akan membuat kamu percaya Nadia. Jadi katakan, apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya? Atau apa yang harus aku jaminkan kepadamu?"


Wanita itu hanya diam saja tidak menjawabnya.


"Katakan, katakan sayang!"


Sekarang ia menantang Nadia. Apapun akan ia lakukan untuk Nadia. Terlebih lagi ia sangat yakin, bahwa janin yang tumbuh di dalam rahim Nadia adalah benihnya. Ia sangat yakin itu.


Tetapi wanita itu malah menggeleng lemah.

__ADS_1


"Aku percaya padamu Bim," tutur Nadia dengan suara lemah.


"Kamu berhak mendapat hidup yang lebih baik Nadia. Aku akan berikan itu padamu."


Tangannya bergerak mengelus bibir nan ranum itu.


"Kamu siap sayang?" Gilirannya bertanya kepada Nadia.


"Siap apa?" tanya Nadia dengan wajah bengong.


"Melangkah bersamaku, menghadapi segala rintangan, demi masa depan bersama?"


Wanita itu kembali mengangguk lemah.


"Apapun yang terjadi, jangan lepaskan pegangan tanganmu kepadaku. Aku akan menuntun langkahmu."


Untuk kesekian kalinya Nadia mengangguk. Dan ia berharap Nadia bisa teguh pendirian. Tidak hanya sekedar mengangguk saja.


"Begitu tiba di Jakarta aku akan menemui Tristan. Setelah itu kamu ajukan gugatan cerai, pengacara aku yang siapkan. Setelah semua selesai kita menikah."


"Aku ingin mendampingimu saat melahirkan nanti."


"Aku ingin menjadi lelaki pertama yang menggendong bayi yang kamu lahirkan."


*********


"Aku ingin mendampingimu saat melahirkan nanti."


"Aku ingin menjadi lelaki pertama yang menggendong bayi yang kamu lahirkan."


Ucapan pria itu membuatnya melambung. Menjadikannya wanita yang sangat berarti. Wanita yang dibutuhkan. Perasaan penuh kasih dirasakannya.


Apa ia masih harus ragu kepada Bimasena?


Namun otaknya tidak bisa berpikir lagi. Karena merasakan bibir pria itu menyentuh bibirnya.


Jantungnya mendadak berdebar kencang. Lebih cepat dari tiap detak jarum detik jam.


Bimasena mulai merapatkan tubuhnya. Pria itu mengambil seluruh nafasnya. Membuatnya terengah-engah.


Terlebih lagi tangan pria itu bergerak membelai penuh kelembutan. Tubuhnya gemetar. Ia mendesah lalu melayang bebas.


Berbagi cinta seperti ini. Tidak ingin semuanya cepat berlalu. Biarlah waktu berhenti saat ini. Agar mereka tetap seperti ini.


Ia akan memasrahkan dirinya pada Bimasena. Mengikuti langkah pria itu.


Ke gunung.


Ke lembah.


Ke hutan.


Ke gurun.


Ke sungai dan ke laut.


Kemanapun pria itu membawanya.


*******


Hi readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini? Semoga kalian tetap dalam limpahan kesehatan dan kebahagiaan dari Tuhan.


Tidak henti-hentinya author ingatkan. Jangan mendekati selingkuh. Jangan mendekati zina.


Terima kasih atas apresiasi dan segala dukungannya terhadap novel ini.


Salam sayang dari Author Ina AS


๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Fb : Ina AS


Ig : inaas.author

__ADS_1


WAG :


https://chat.whatsapp.com/JB9i40xRo5i4lMIXnkG8lC


__ADS_2