REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
125. Menjadi Nyonya Bimasena


__ADS_3

Tiga hal pertama yang perlu diketahui Bimasena begitu berpindah ke sebuah negara adalah: yang pertama, dimana letak sirkuit balap untuk menyalurkan hobby balapan mobil sport-nya.


Yang kedua, dimana club malam terbaik untuknya melepas penat, setelah mengurusi industri minyak bumi mulai dari eksplorasi, ekstraksi, pengilangan, transportasi melalui tanker minyak dan jalur pipa, sampai pemasaran produk minyak bumi.


Yang ketiga, potensi negara tersebut untuk mengembangkan bisnis energinya.


Tetapi setelah menikah dengan Nadia, hal pertama dan kedua sudah tidak begitu penting lagi baginya.


Entah mengapa ia tidak menggilai lagi mobil sport. Meskipun baru-baru ini ia batal mengambil alih rumah Danindra di Pantai Indah Kapuk demi menyelamatkan Audy R8 Grey-nya.


Sebab Danindra melancarkan proxy war padanya menggunakan pemain pengganti Nadia, demi memenangkan perang urat saraf siapa yang terhebat dengannya.


Licik dan tidak jantan!


Club malam, ia sama sekali tidak doyan lagi. Selepas bekerja ia segera pulang ke rumah. Berharap Glor belum tidur ketika ia pulang. Karena saat ia berangkat bekerja, Glor masih tidur, belum bangun.


Tentu ia ingin bercengkerama dengan keluarga kecilnya sebelum beristirahat malam. Nadia dan Glor lah tempatnya melepas penat.


Dirinya sendiri yang memilih Kanada sebagai negara untuk meningkatkan career path (jenjang karir)-nya. Tempatnya dipromosi menjadi Direktur Utama FreddCo Energy cabang.


Bukan tanpa sebab ia memilih Kanada.


Kanada memiliki kekayaan alam yang melimpah, seperti gas alam, minyak bumi, nikel, emas dan perak. Serupa dengan sektor tambang yang digelutinya.


Kanada juga menguasai cadangan uranium terbesar ke-2 secara global. Yang dapat digunakan sebagai sumber energi pembangkit listrik tenaga nuklir. Uranium berfungsi sebagai bahan reaktor nuklir.


Uranium sebagai bahan baku nuklir merupakan target bisnis energi selanjutnya setelah minyak dan gas alam.


Tetapi diluar perkiraan, ternyata iklim di Kanada tidak ramah bagi istrinya. Nadia alergi cuaca dingin. Sehingga ketika musim dingin, ia tidak bisa mengajak Nadia beraktivitas di luar ruangan.


Karena Alergi yang dialami Nadia, mereka tidak bisa mengikuti festival winterlude. Festival tahunan yang berlangsung di Ottawa ibu kota Kanada. Karena sebagian besar aktivitas festival tersebut berada di luar ruangan.


Oleh karena itu ia mengajari Glor sejak dini, sejak masih kecil agar bisa beradaptasi dengan segala cuaca. Supaya Glor memiliki daya tahan terhadap segala cuaca. Tidak seperti sang ibu, yang tidak tahan berada di udara panas, tetapi alergi udara dingin.


Akhir pekan adalah waktu untuk keluarga kecilnya. Karena Nadia tidak bisa beraktivitas di luar ruangan, ia membawa anak dan istrinya ke sebuah pusat perbelanjaan di Toronto.


CF Toronto Eaton Centre.


********


Sejak pindah dari Jakarta ke Toronto, Kanada, untuk pertama kalinya suaminya mengajaknya ke CF Toronto Eaton Centre, pusat perbelanjaan di Toronto.


Selama bermungkim di Kanada, ia lebih banyak tinggal di dalam rumah, sebab bertepatan dengan musim dingin.


CF Toronto Eaton Centre terletak di pusat kota Toronto. Mall tersebut terdiri dari empat lantai.


Langit-langit mall itu cukup menarik baginya. Dengan skylight yang indah memberikan pemandangan cuaca di luar ruangan. Beberapa angsa fiberglass digantung seolah terbang di sepanjang langit-langit mall.


Berbagai macam stores tersedia di CF Toronto Eaton Centre. Mulai dari toko pakaian seperti Banana Republic, Dynamite, Free People, Footlocker Eaton Center sampai restoran.


Meskipun baby sitter turut serta bersama mereka, namun suaminya mendorong sendiri stroller Glor berkeliling mall. Bila bosan berada di atas stroller, maka Glor akan turun dan berjalan sendiri, digandeng sang ayah.


Selain mencari kebutuhan rumah, ia mencari perlengkapan persalinan dan perlengkapan bayi.


Berkali-kali Bimasena menertawainya, karena tangannya memegang handphone untuk menghitung kurs dollar Kanada ke rupiah Indonesia setiap melihat label harga barang yang hendak dibeli.


Ia tidak ingin tertipu dengan 4, 5 atau 6 digit angka pada label harga yang terlihat murah. Tetapi bila dikonversi menjadi rupiah, harganya setara dengan jutaan bahkan puluhan juta rupiah.


"Nggak perlu aplikasi Mi, tinggal dikali sebelas ribu empat ratus aja," celetuk suaminya. Menyebutkan nilai kurs Canadian Dollar terhadap rupiah.


"Kalau ada aplikasi ngapain capek-capek berhitung pakai otak," sosornya, tidak setuju dengan saran suaminya.

__ADS_1


Jelas Bimasena tidak tahu bila matematika adalah pelajaran yang paling dibencinya. Karena ia sekelas dengan pria itu tak sampai setahun.


Jangankan mengalikan nilai dollar Kanada dengan sebelas ribu empat ratus rupiah. Dikali seratus rupiah pun ia butuh kalkulator. Otaknya tidak berfungsi maksimal untuk urusan hitung menghitung. Kali-kalian satu sampai sepuluhpun ia tidak hafal. Bagaimana bisa berhitung tanpa kalkulator?


Bimasena tertawa dan mencolek pinggangnya.


"Jangan Dad!" pekiknya, karena colekan suaminya menimbulkan sensasi geli.


"Cari diaper bag yuk, Dad," ajaknya, menarik lengan suaminya. Ia ingin mencari tas bayi multifungsi.


Tetapi yang membuatnya heran karena suaminya masuk ke dalam Louis Vuitton Store. Brand mewah untuk kalangan atas.


Store yang terlihat angker baginya, sehingga dulu ia tidak pernah memasuki store Louis Vuitton di Indonesia.


Bukan karena ada hantu di dalam store tersebut. Namun karena harga produknya yang lebih menyeramkan dari hantu.


"Cari tas kan?" seru suaminya melihatnya heran.


"Mana ada tas bayi di sini," protesnya.


"Apa salahnya bertanya dulu, nyonya," sahut suaminya dengan lembut. Dan memang benar, produk yang dicarinya tersedia di store itu.


Pelayan toko memperlihatkan beberapa produk tas untuk perlengkapan bayi. Ia meneliti salah satu diaper bag yang menarik perhatiannya.


Tangannya pun bergerak meraih handphone di dalam tas untuk menghitung harga dengan kurs rupiah.


"Setara tiga puluh juta rupiah," gumam Bimasena sebelum ia sempat membuka handphone.


Secepat itukah suaminya berhitung? Isi otak suaminya terbuat dari apa?


"Mahal!" pekiknya tanpa sadar.


Sebuah diaper bag brand Louis Vuitton dihargai tiga puluh juta rupiah. Padahal nantinya hanya diisi popok dan perlengkapan bayi. Terlalu mahal baginya. Meskipun ia memegang black card.


Bimasena tanpa pikir panjang mengambil tas tersebut dari tangannya lalu menyerahkan ke pelayan.


"Daaaad, nggak usah, yang lain aja, terlalu mahal. Tas itu hanya untuk diisi popok dan perlengkapan bayi bila bayi dibawa bepergian saja," desisnya pada suaminya. "Tas bayi Glor harganya hanya ratusan ribu rupiah," lanjutnya membandingkan tas brand LV tersebut dengan tas bayi milik Glor dulu.


"Ya nggak apa-apa. Kan untuk bayi kita." Bimasena menertawainya lalu berjalan mendorong stroller Glor menuju kasir. Meninggalkannya yang masih termangu.


"Lagian dulu Mommy beli tas Glor belum bersama Daddy kan?" Bimasena menoleh ke belakang, ke arahnya.


Ia berharap tidak terserang stroke di mall itu. Karena baru lima langkah berkeliling Mall, ratusan juta sudah melayang. Hanya untuk membeli perlengkapan persalinan serta perlengkapan bayi.


"Cukup Dad," jawabnya saat Bimasena bertanya barang apa lagi yang hendak dibeli.


Seandainya tahu suaminya tidak pernah memikirkan harga saat membeli sesuatu, lebih baik ia berbelanja perlengkapan persalinan dan bayi sendiri. Dengan begitu ia bisa lebih berhemat.


Meskipun keuangannya bersumber dari suaminya sendiri dan suaminya tidak pernah mengeluh, namun ia sangat menyayangkan bila mereka bergaya hidup mewah.


Akan lebih berarti bila selisih harga perlengkapan persalinannya dibagi kepada orang miskin dan anak yatim.


Ia tidak bisa melupakan bagaimana senyum gembira anak-anak di panti asuhan begitu ia datang membawa bantuan dan es krim untuk mereka.


"Mi, Aurel sudah membuat pos keuangan dari pemasukan Daddy tiap bulan. Pos-posnya itu dibagai untuk Mommy yang mengelola rumah tangga kita, untuk kebutuhan Daddy, untuk amal, untuk bisnis dan investasi, untuk operasional dan hal-hal yang tidak terduga," terang suaminya.


"Jadi pos untuk amal sudah ada. Mommy gak usah khawatirkan itu. Atau Mommy mau mengelola sendiri pos amal keluarga kita?" sambung suaminya.


Dengan segera ia mengangguk. Karena ia harus memastikan anggaran untuk amal keluarga mereka sampai kepada orang yang membutuhkan. Tidak salah alamat.


"Your heart is always full of affection and love while your hands are always caring for others (Hatimu selalu penuh dengan afeksi dan kasih sayang sementara tanganmu selalu mempedulikan orang lain)," tutur suaminya.

__ADS_1


"You have been a blessing in my life (Kamu adalah berkah dalam kehidupanku)," sambung suaminya, mengusap kepalanya, lalu mengecup keningnya.


"Apa artinya?" tanyanya, karena malu mendapat pujian dari suaminya.


Bimasena hanya tersenyum lalu menurunkan Glor yang mulai bosan dari atas stroller.


"Perasaan tadi catatan Mommy panjang banget. Kok barangnya hanya segitu?" Bimasena menunjuk asisten rumah tangga dan baby sitter yang membantu membawa barang belanjaan mereka.


"Mommy pesan online aja," jawabnya. "Kita cari makan, laper Dad," dalihnya. Demi menghemat pengeluaran. Karena suaminya tidak pernah berpikir panjang bila membeli sesuatu. Sementara harga produk di dalam mall tersebut baginya terlalu mahal.


Ya, dirinya bukan hanya belum bisa beradaptasi dengan musim dingin.


Tetapi ia belum bisa beradaptasi dengan statusnya sebagai Nyonya Bimasena.


Kakinya terasa gemetar bila harus melangkah menaiki tangga, menaikkan level demi menyejajari kelas Bimasena yang baginya terlalu tinggi.


Bimasena sering membuat kepalanya pening, karena dalam sekejap bisa menghamburkan puluhan bahkan ratusan juta rupiah untuk hal yang tidak begitu penting. Padahal dulu, bertahun-tahun bekerja pun dirinya belum tentu bisa menabung uang yang dihamburkan suaminya.


Setelah berkeliling mall, ia, suaminya dan Glor beserta para pelayan yang menyertai mereka, memasuki restoran Trattoria Mercatto. Sebuah restoran Italia yang terdapat di dalam mall. Yang menyediakan menu Pizza dan makanan khas Italia.


Sebelum pesanannya datang, ia memilih memberi asupan ASI terlebih dahulu kepada Glor, yang tidak pernah lelah berjalan dan berlarian mengelilingi Mall.


"Kalau ade bayi sudah lahir, Glor berhenti minum susu Mommy ya? Kan Glor udah besar," ucapnya kepada Glor yang sedang meminum ASI padanya sambil memainkan kaki.


Tapi Glor menggeleng, menunjukkan penolakan. "Mmmau," seru Glor.


Bimasena yang sedang bermain handphone di sampingnya terkekeh, lalu menimpali,


"Iya, Glor udah besar. Anak besar nggak boleh minum susu Mommy lagi. Susu Mommy diganti susu formula."


"Yang boleh minum susu Mommy hanya ade bayi dan Daddy."


**********


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu diberikan limpahan kesehatan dan rezeki dari Sang Pencipta.


Sebagai ucapan terimakasih atas dukungan readers, author akan memberikan gift berupa bunga artificial cantik kepada sepuluh readers dengan dukungan tertinggi yang dilihat pada episode terakhir.


Terima kasih atas segala dukungannya terhadap novel ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan readers.


Terus dukung author dengan vote, like dan komen.


Salam sayang pada kesempatan yang baik ini.


Author Ina AS


😘😘😘


**********


Setelah novel ini tamat, Author akan mengajak readers berkenalan dengan Bang Adam. Yuk dibaca, sudah tersedia beberapa bab.



Karya lain milik Author yang bisa dibaca di aplikasi NT antara lain:



Dan di *** App antara lain:

__ADS_1



__ADS_2