REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
98. Pria Yang Membuatnya Sekarat


__ADS_3

Mata Nadia membelalak melihat foto pada layar handphone Bimasena.


Foto Bimasena bersama seorang bayi yang telungkup di dada pria itu.


Bagaimana ia tidak mengenal bayi itu? Bila ia menyusui makhluk kecil tersebut siang dan malam.


Masih belum percaya dengan foto yang dilihatnya, ia menggeser layar handphone itu ke kiri.


Berkali-kali.


Lagi-lagi memperlihatkan foto-foto Bimasena bersama seorang bayi. Bayi yang sama.


Mulai saat bayi itu berumur satu, dua, tiga, empat dan lima bulan. Dengan berbagai pose di berbagai tempat.


Bagaimana baby Glor bisa bersama ayahnya ... eh bukan ... bersama Bimasena, tanpa sepengetahuannya?


Mulutnya membulat dengan sorot mata meminta penjelasan kepada Bimasena atas apa yang ia lihat pada handphone milik pria tersebut.


"Kamu dan Glor adalah alasanku untuk kembali ke Indonesia," terang pria itu.


Salahkah bila ia merasa menjadi wanita yang berharga? Ataukah apa yang didengarnya hanyalah bujuk rayu semata?


Tapi bukan itu jawaban yang diinginkannya.


"Bagaimana kamu bisa bersama anakku tanpa sepengetahuanku?" Matanya menyelidik wajah Bimasena.


"Apapun akan dilakukan seorang ayah untuk bertemu dengan buah hatinya," papar pria itu.


Sekarang otaknya berpikir keras menduga-duga. Bagaimana caranya Glor dan Bimasena bertemu.


"Ibu Titiana?" Akhirnya ia mengaitkan hubungan Ibu Titiana dengan pria di depannya.


"Nggak penting caranya bagaimana, yang jelas kamu tahu, aku tidak pernah mengabaikan baby Glor."


Ia kembali menggeser layar handphone Bimasena ke kiri untuk melihat foto-foto baby Glor bersama pria di depannya.


Dan yang membuatnya terkesiap adalah ... karena ia menemukan foto baby Glor bersama Ibu Imelda, juga seorang wanita dan seorang pria bule. Yang setahunya merupakan saudari dan ayah tiri Bimasena.


"Ibumu tahu tentang Glor?"


"Iya tahu," tangkas Bimasena.


"Dia bilang apa?" selanya karena hati diliputi rasa penasaran.


"Yang jelas ibu senang punya cucu baby Glor."


Bimasena lalu menerangkan kepadanya,


"Nadia, ibuku bukan tidak suka sama kamu. Namun tidak setuju dengan jalan yang kita tempuh. Makanya aku ingin memperbaiki semua kesalahan yang kita lakukan. Menempuh jalan yang tidak menyimpang seperti sebelumnya."


Apa itu berarti Ibu Imelda tidak akan keberatan bila ia kembali bersama Bimasena? Mungkin percaya dirinya yang terlalu berlebihan. Ia tidak boleh berharap lagi bila tidak ingin berakhir dengan kekecewaan seperti sebelumnya.


Tiba-tiba ia teringat seorang wanita yang pernah ia lihat di media sosial bersama Bimasena.


Dengan segera tangannya bekerja membuka galery foto pria itu. Tangannya gemetaran karena beraksi tanpa meminta izin pemilik handphone itu.


Toh Bimasena tidak mengetahui bila ia sudah keluar dari folder foto yang diberi nama My Baby. Sekali-kali matanya melirik ke arah pria yang masih sabar berdiri di depannya. Tindakan yang tidak ubahnya seorang maling di siang hari.


Namun pria itu membuatnya tersentak, "Kamu cari apa?" tegur pria itu padanya sambil tersenyum dengan sorot mata penuh tuduhan. Dirinya laksana maling tertangkap basah.


Rupanya Bimasena curiga bila dirinya sedang mencari informasi lain. Untung saja Bimasena hanya tertawa kecil lalu berucap, "Nggak apa-apa, lanjutkan saja.


Pria itu lalu beranjak duduk di sofa. Duduk menyilangkan kaki dengan sangat elegan.


Tapi ucapan pria itu sama sekali tidak elegan. Mendatangkan rasa malu dan membuatnya semakin kesal pada pria tersebut.


"Kamu tahu, melihat file handphone tanpa sepengetahuan pemilik itu melanggar hak privacy ? Mengakses sistem elektronik orang lain dengan sengaja dan tanpa hak merupakan perbuatan melawan hukum. Juga melanggar norma kesopanan."


Dengan segera ia menghampiri pria itu dan menyerahkan handphone itu kembali dengan wajah memanas.


Ketika otaknya berpikir Bimasena hendak menerima handphone dari tangannya, ia sama sekali salah. Justru ia terperanjat karena tidak menduga bila pria itu ternyata memegang lalu menarik tangannya dengan lembut.


Seperti mendapat kejutan listrik dari tangan pria itu. Tidak menyebabkan luka bakar, namun mengganggu kinerja jantung dan sel saraf otaknya.


Beruntung gerak refleksnya masih berfungsi. Ia menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman pria tersebut. Menyebabkan handphone yang ia pegang jatuh ke lantai karena terkejut.


Lalu ia mundur beberapa langkah untuk mengatur ritme pernafasannya yang menjadi kacau hanya karena sentuhan tangan pria itu. Tidak peduli handphone yang jatuh di lantai.


Handphone itu dipungut dari lantai oleh pemiliknya sendiri tanpa berdiri dari kursi. Lalu berucap kepadanya,


"Mau lihat isinya?" tanya Bimasena padanya, "Duduk di sini, kita lihat sama-sama." Bimasena menepuk paha sendiri, lalu menyambung ucapan, "Tanyakan apapun yang membuatmu penasaran."

__ADS_1


Apa? Bimasena memintanya duduk di atas paha pria itu?


Belum duduk saja fungsi kerja tubuhnya sudah kacau.


Bila ia duduk di pangkuan pria itu, ia yakin sistem sarafnya akan melemah yang berujung dirinya akan jatuh pingsan.


"Aku nggak mau lihat apa-apa," kilahnya di atas kesombongan diri. Juga untuk menutupi rasa nervous yang luar biasa.


Bukan hanya membohongi Bimasena. Juga membohongi diri sendiri yang sangat penasaran dengan isi handphone pria itu.


Wanita mana yang tidak ingin duduk di pangkuan Bimasena? Ia tidak akan melupakan sensasi-sensasi yang begitu memabukkan saat bersentuhan kulit dengan pria itu.


"Masa sih?" Mata pria itu menyipit. Bimasena ternyata pandai memancingnya. Sangat licik.


"Nih, lihat saja isinya. Tapi izinkan aku melihat baby Glor di kamar ya?" tawar pria itu sambil menyerahkan handphone kepadanya.


Tetapi tidak boleh ada tawar menawar bagi pria yang duduk di sofa itu.


"Tamu hanya boleh menginjakkan kaki sebatas ruang tamu saja. Lewat dari itu melanggar norma kesopanan."


Ia merasa lega bisa membalas Bimasena. Yang sudah membuatnya malu tadi dengan menganggapnya melanggar norma kesopanan karena mengintip isi handphone tanpa izin.


Tetapi pria itu malah tertawa.


Dasar tidak punya malu.


"Serius nih nggak mau lihat isinya?"


Ia tidak ingin jatuh pada perangkap pria licik nan menawan itu sehingga ia menolak dengan memasang wajah tidak bersahabat.


"Nggak. Ngapain aku kepoin urusan orang," sahutnya. "Aku cuman ingin tahu apa kamu pernah mengajak Miss Venezuela itu menemui anakku."


Ia baru menyadari ketololan dirinya karena setelah mengucapkan kalimat itu Bimasena malah tergelak menertawainya. Ia tidak tahu, harus kesal pada dirinya sendiri atau pada pria itu.


Tanpa menghentikan tawa Bimasena kembali berdiri menghampirinya. Namun ia mundur sampai tertahan oleh dinding demi menjaga jarak dari pria itu.


"Jadi kamu cemburu pada Daniela?" tanya pria itu.


Rona panas menyebar pada wajahnya.


Lihatlah pria di depannya, men-judge dirinya dengan begitu percaya diri.


"Siapa yang cemburu? Aku hanya gak senang kamu menemui anakku tanpa seizinku apalagi mengajak orang lain," semprotnya terhadap pria yang berkali-kali membuatnya malu hati.


"Anakku," bantahnya. Ia tidak boleh jatuh kembali pada pesona pria yang memiliki tubuh sempurna itu.


Tetapi selanjutnya ia sudah gentar terhadap pria tersebut. Karena pria itu mencondongkan tubuh ke arahnya dengan satu tangan bertumpu pada dinding, mengurungnya, menyebabkan jaraknya dengan pria itu semakin dekat.


"Anak kita," bisik Bimasena mengulangi, penuh intervensi. Pria itu menundukkan wajah sehingga semakin mendekat ke wajahnya.


Membuat nafasnya tercekat. Namun tetap memberanikan diri mendongak, menantang mata cokelat itu. Sembari menginstuksikan otaknya agar tidak berfantasi dengan pria di depannya.


Mata cokelat yang menatapnya dalam-dalam menjadi alat pacu yang cukup kuat pada jantungnya. Menyebabkan jantungnya berdegup lebih kencang dan lututnya terasa bergetar. Ralat, bukan bergetar, tapi gemetar.


Telapak tangannya yang sudah berkeringat dingin hanya bisa mencengkeram tepian dasternya.


"Iya anak kita," gumamnya dengan sangat tertekan, nyaris tanpa suara. "Tapi kumohon jangan begini Bim."


Ya ia mengalah karena merasa sangat tertekan dengan jarak tubuhnya dengan tubuh Bimasena tinggal beberapa centimeter. Begitupun wajah mereka berdua.


Bagaimana bisa seorang pria yang begitu tampan tetapi ternyata lebih kejam dari penjajah Belanda. Karena sangat menikmati bila ia dalam keadaan tertindas seperti ini. Tidak menyentuhnya, tapi mengekang pergerakannya.


Aroma wangi berkelas tubuh pria itu membuatnya semakin risih. Karena membandingkan dengan tubuhnya yang berbau susu basi.


Ketegangan yang ia rasakan membuat tubuhnya memberikan respon fight-or-flight. Meningkatkan produksi urin di ginjalnya, dan mendesak untuk segera keluar.


"Bim, aku mau pipis," rengeknya dengan wajah mendongak dan mengiba.


Mungkin sejarah mencatat Genghis Khan dan Adolf Hitler sebagai manusia terkejam sepanjang sejarah. Tapi baginya Bimasena lebih kejam dari dua manusia tersebut, karena tidak mengindahkan rengekannya. Tetap menerornya dengan tatapan mematikan.


Punggungnya sudah melekat seperti cicak pada dinding demi menjaga jarak dari Bimasena.


Sekarang ia sudah kritis dibawah intimidasi pria tersebut.


Mengapa pria itu tidak mencium atau memeluknya sekalian untuk memberikan rasa nyaman daripada menyiksanya seperti ini?


Namun ia bersyukur, masih memiliki malaikat kecil, sebagai penolong dan pelindungnya.


Bunyi oek-oek, tangisan bayinya dari dalam kamar pertanda lapar, menghentikan teror pria tersebut.


Saat Bimasena mengalihkan pandangan ke arah kamar, dengan segera ia melesat meninggalkan pria itu menuju kamar.

__ADS_1


Begitu tiba di dalam kamar, ia berbaring di samping baby Glor, dengan posisi tidur menyamping untuk me nyu sui bayinya.


Sekarang ia bisa bernafas lega, setelah nyaris terbunuh oleh pria kejam di luar kamar.


Sambil me nyu sui bayinya, ia berusaha meredakan ketegangan yang menyergapnya. Ia berkali-kali mencium kening bayinya yang telah menyelamatkannya dari pria tampan bermental penjajah tersebut.


Tapi kelegaannya hanya bersifat sementara, karena ia melakukan sebuah kelalaian. Tidak menutup dan mengunci pintu kamar. Ia baru menyadari saat mendengar langkah sepatu bergerak mendekat.


Saat menyadari sang pemilik sepatu sudah berdiri di belakangnya, ia hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar. Karena jantungnya kembali memompa darah dengan tidak terkendali.


Gerak refleksnya selalu bisa diandalkan disaat terjepit. Tangannya refleks menarik selimut bayi untuk menutupi da danya, yang mengakibatkan baby Glor juga ikut tertutup selimut.


"Nadia, Glor nanti sesak nafas," protes pria yang berdiri di belakangnya.


Mana mungkin ia memperlihatkan da danya pada pria tersebut.


"Kalau nggak mau Glor sesak nafas, kamu keluar dari kamar ini dong," ancamnya, menemukan senjata yang ampuh untuk mengusir pria itu keluar dari kamar.


Ternyata senjatanya sama sekali tidak ampuh.


Pria itu sudah kehilangan norma kesopanan. Malah menyingkap selimut yang ia gunakan untuk menutup da danya dengan dalih Glor akan sesak nafas.


Ia dikalahkan oleh pria itu. Malah dirinya merasakan malu yang luar biasa. Karena pria itu bisa melihat apa yang tidak pantas diperlihatkan dan sudah berusaha ia tutupi.


Apa orang itu tidak tahu bila dirinya juga mengalami sesak nafas karena menjadi tontonan saat me nyu sui bayi?


"Nggak usah malu gitu deh, bukankah aku lebih duluan dari Glor?" Pria itu terkekeh, menertawai dirinya.


Lihatlah betapa mengesalkan pria itu. Tapi mengapa dirinya mendamba seperti seseorang yang kecanduan obat terlarang?


Kunci rasa malunya berfungsi maksimal. Rasa malu yang membuat tekanan darahnya menjadi naik dan detak jantungnya meningkat.


Terlebih lagi kini pria itu sudah duduk di belakangnya.


"Apa kabar jagoannya Daddy?" sapa Bimasena kepada baby Glor dari belakangnya, tanpa merasa berdosa.


Daddy ? Jadi seperti itu panggilan Glor kepada Bimasena nanti?


Mengapa suara pria itu terdengar begitu sensual? Membuat nafasnya tersangkut dan semua bulu-bulu di permukaan kulitnya berdiri.


Baby Glor yang menyadari ada orang lain, berhenti me nyu su. Menanggapi sapaan pria di belakangnya dengan ocehan ba bi bu yang disertai senyum menggemaskan.


Bayi yang tadi menolongnya untuk terlepas dari pria itu, justru asyik bercanda dengan pria yang kini duduk di belakangnya.


Penyiksaan yang ia rasakan semakin sempurna manakala ia merasakan paha pria itu rekat di punggungnya. Lalu tangan pria itu mulai menyebrangi tubuhnya demi mengusap kepala baby Glor.


"Panggil Daddy," imbuh Bimasena kepada baby Glor.


"Bibbi," celoteh baby Glor menanggapi Bimasena.


Baby Glor bahkan tidak pernah berhenti tersenyum dan tertawa setiap Bimasena berbicara kepadanya.


"Besok Glor bersama Daddy dan Mami main keluar ya?"


Entah ucapan itu Bimasena tujukan kepada Glor atau kepada dirinya.


"Wawwa," balas baby Glor kepada Bimasena.


Sekarang ia menjadi patung kayu di antara pria besar dan pria kecil yang saling berinteraksi.


Ternyata baby Glor dan pria di belakangnya tidak ubahnya copy paste. Bukan hanya mata dan wajah mereka yang mirip.


Ayah dan anak itu, eh ralat ... pria besar dan pria kecil itu juga memiliki sifat yang sama. Senang bersenang-senang di atas penderitaan dirinya.


Begitu banyak pikiran yang berputar-putar di dalam kepalanya.


Dan penderitaannya semakin sempurna manakala pria itu telah berani memarkir tangan di atas pinggangnya. Menjalarkan gelombang yang mencabik-cabik dirinya.


Ya, ia sudah sekarat.


********


Hi readersku tersayang,


Mohon maaf karena lama menunggu UP nya novel ini. Sebab Author sedang menulis beberapa novel yang on going.


Semoga ada nilai yang bisa dipetik dari novel ini. Dan bisa memberi hiburan bagi readers.


Terima kasih atas segala dukungannya.


Salam sayang dari

__ADS_1


Author Ina AS


😘😘😘


__ADS_2