
Sedih, bahagia, terharu, lega.
Itulah yang dirasakan Bimasena setelah bertemu dengan ayahnya.
Namun ada satu hal yang membuatnya terpukul.
Beberapa hari kemudian, ia datang kembali mengunjungi ayahnya. Bermaksud untuk memindahkan ayahnya bersama ibu tiri dan adiknya yang merupakan saudari seayahnya ke hunian yang lebih layak.
Namun ternyata ayahnya menolak pindah ke rumah Bimasena di Permata Hijau. Ayahnya juga menolak tawaran Bimasena untuk merenovasi rumah yang ditinggali ayahnya sekarang.
Orang itu harus berdiri di atas kaki sendiri Nak. Karena kemampuan Ayah terbatas, maka Ayah harus menerima hidup dalam keadaan seperti ini.
Meskipun membuatnya kecewa karena merasa menjadi anak yang tidak berguna, namun ungkapan ayahnya itu menjadi sentilan bagi dirinya. Karena karir cemerlang dan harta yang ia miliki sekarang tidak lepas dari pengaruh ayah tirinya. Hanya dengan bekal kemampuan yang ia miliki, belum tentu ia bisa hidup seperti sekarang.
Ayah tidak butuh bantuan materi dari kamu. Yang Ayah butuhkan hanyalah bisa melihat kamu dan Nina karena Ayah telah lama merindukan kalian. Bila sempat, sering-seringlah datang menengok Ayah, Nak. Jangan siksa Ayah dalam kerinduan.
Ternyata dirinya masih memiliki hati. Karena masih terasa perih mendengar permintaan sederhana ayahnya.
Mungkin ia tidak ingat bagaimana ayah menimangnya. Tapi ia ingat bagaimana ayah mengajarkannya perjuangan. Ia ingat bagaimana ayah mengajarkan agar bisa bangkit berdiri saat terjatuh.
Mengapa selama ini ia melupakan bahwa ia hidup karena tetes keringat ayahnya?
Mengapa selama ini ia melupakan bahwa ia hidup karena lelah nafas ayahnya?
Tetapi begitu melihat ratap ayahnya yang dahaga merindunya dan Karenina, mampu meredam amarah dan segala keangkuhan jiwanya.
Kini ia berdiri di depan apartemen yang ditempati Nadia, melihat apartemen yang menjulang dengan pongahnya. Membandingkan dengan rumah reyot ayahnya.
Bagaimana bisa ia hidup berfoya-foya di dalam gedung mewah, sementara ayahnya menderita di sana di bantaran Anak Kali Ciliwung?
Betapa kotor jiwanya yang membiarkan belasan tahun berlalu tanpa menemui ayahnya.
Begitu tiba di dalam unit Nadia, ia segera menghubungi adiknya, Karenina.
Bimasena : Bila punya waktu, pulanglah ke Indonesia. Aku akan mengajakmu menemui ayah.
Ia sudah menduga bagaimana reaksi adiknya.
Karenina : Apa? Kakak udah lupa bagaimana sikap ayah pada kita dulu?
Bimasena : Apa kamu sudah lupa siapa yang mengajari kamu berjalan? Siapa yang mengantar jemput kamu ke sekolah? Siapa yang membanting tulang mencari nafkah untuk kebutuhan hidup kita?
Bimasena : Jangan hanya ingat tahun-tahun terakhir bersama ayah. Tapi ingat juga waktu-waktu sebelum itu.
Ia hanya bisa mendengus kecewa mendengar penolakan adiknya.
"Ayah udah pindah?" sapa Nadia yang baru muncul dari dalam kamar membawa kain yang sementara dia rajut dari benang berwarna grey. Hobby baru Nadia beberapa hari ini untuk mengisi waktunya senggang. Nadia belajar merajut lewat youtube.
"Ayah menolak pindah. Nggak mau juga kalau rumahnya aku renovasi," keluhnya.
"Berarti ayah memegang prinsip. Jangan terlalu dipaksa Bim. Dibujuk pelan-pelan aja."
"Untung saja ayah bersedia dibawa ke dokter. Juga menerima tawaranku untuk membiayai sekolah Amelia."
*********
Nadia menolak Bimasena datang ke apartemennya hari ini. Meminta Bimasena menunggunya di apartemen pria itu.
Hari ini adalah hari ulang tahun Bimasena yang ke tiga puluh satu.
Ia datang ke unit Bimasena membawa kue ulang tahun dan sebuah hadiah yang ia sudah siapkan untuk Bimasena.
Tidak ada suprise party.
Mereka akan merayakan ulang tahun Bimasena, hanya berdua dengan sederhana.
Bimasena bahkan sudah tahu ia akan datang membawa kue ulang tahun.
Pria itu sudah duduk manis di sofa menunggunya. Mengenakan kaos berwarna putih dan celana pendek kaos khas rumahan. Sederhana, namun sangat atletis. Terlihat sangat segar. Terlebih lagi senyuman pria itu menyambutnya, sesejuk air es di siang bolong.
Setelah meletakkan kue ulang tahun dan kotak hadiah di atas meja tepat di depan Bimasena, ia duduk di samping Bimasena, lalu mencium pipi pria itu.
"Selamat ulang tahun sayang," lontarnya. Rasa malu mewarnai ekspresinya.
Sejak kapan ia berani memanggil sayang pada Bimasena?
"Terima kasih sayangku," jawab Bimasena, menatapnya dengan mata cokelat tegas. Kata sayang pria itu mengembuskan kebahagiaan ke dalam relung hatinya.
Bimasena lalu menoleh ke arah kue ulang tahun.
"Kue buatan sendiri ya?" Bimasena menunjuk kue ulang tahun sederhana yang dibawanya.
"Kok tahu?"
__ADS_1
Bimasena hanya tertawa tanpa menjawab.
"Kamu menghina kue ulang tahun buatanku?" Ia berpura-pura cemberut. Padahal ia menyadari sendiri, tampilan kue berwarna cokelat buatannya sangat menyedihkan. Tidak memiliki nilai estetika sama sekali.
Bimasena kembali tertawa, lalu merangkulnya.
"Nggak, masa menghina sih. Sejelek-jeleknya kue buatanmu, tetap saja aku lebih suka kue buatanmu daripada kue dari cake shop," kilah Bimasena.
"Tuh benar kan, kamu bilang sendiri kalau kue buatanku jelek," dengusnya.
"Nggak kok sayang, kue kamu cantik. Secantik orangnya," Bimasena berusaha menghiburnya. Tapi sesaat kemudian kembali tertawa dengan tawa yang lebih keras. Jelas-jelas menertawakan kuenya.
Matanya mulai berkaca-kaca. Karena merasa usahanya tidak dihargai.
"Eh ini hadiah untukku ya?" Pria itu buru-buru mengalihkan karena melihat wajahnya yang berubah mendung.
"Iya," jawabnya.
Bahkan Bimasena sudah bisa menebak hadiah ulang tahun yang akan ia berikan lebih dahulu.
"Pasti selimut rajutanmu kan?"
"Kok tahu?"
"Ya tahu dong."
Bimasena membuka kotak hadiah, dan mengeluarkan selimut tipis abu-abu hasil rajutannya.
"Jangan dihina!" Ia memberi warning terlebih dahulu pada Bimasena. "Bikinnya lama tau."
Tapi kali ini Bimasena sangat manis, tidak menjengkelkan seperti sebelumnya.
"Terima kasih sayangku," pria itu mengecup pipinya, lalu menyelimuti kaki mereka berdua dengan selimut itu. Tidak jelas, selimut itu yang memberikan rasa hangat pada kakinya atau karena berdua dengan Bimasena di bawah selimut.
"Kamu kan sudah memberi bunga baby breath agar aku tidak kesepian bila kamu bepergian keluar kota dan keluar negeri. Kalau kamu bepergian, bawalah selimut rajut itu, agar kamu selalu ingat aku dan tidak pernah melupakan aku."
"Aku tidak mungkin melupakanmu Nadia. Tapi boleh aku minta satu hal dari kamu?" Bimasena merangkulnya.
"Minta apa?"
"Kamu akan marah besar. Tetapi kalau kamu sayang padaku, kamu pasti bisa mengerti dan mengizinkan aku," harap Bimasena.
"Ada apa Bim?" desisnya dengan hati yang diliputi rasa cemas. Matanya memandang curiga pada Bimasena.
"Kamu janji dulu, tidak akan marah."
"Tergantung." Ia mengharapkan penjelasan dari pria itu.
"Ya udah kalau kamu mau marah, kamu nggak perlu tahu."
Karena hatinya diliputi rasa keingin tahuan yang sangat kuat, ia berjanji pada Bimasena tidak akan marah.
Bimasena lalu mengajaknya ke dalam kamar. Dengan hati berdebar, ia mengikuti Bimasena melangkah ke dalam kamar.
Bagaimana bila ia mendapati seorang wanita lain di dalam kamar? Apa yang harus ia lakukan?
Jelaslah ia akan mengamuk lalu pergi meninggalkan Bimasena.
Masa bodoh dengan janji tidak akan marah. Masa bodoh dengan rasa cinta begitu mendalam yang ia rasakan terhadap pria itu.
Bimasena menyilahkannya masuk ke dalam kamar setelah membuka pintunya. Begitu masuk ke dalam kamar ia mengedarkan pandangannya ke semua penjuru kamar, namun tidak menemukan keberadaan seorang wanita. Ia pun bisa bernafas lega sejenak.
Tidak ada yang berubah dari kamar pria itu. Kecuali sebuah lukisan berukuran besar terpasang di dinding. Lukisan wanita dalam posisi tiduran yang nyaris telanjang. Memperlihatkan sisi sensualitas dan sangat erotis.
"Ih kamu cabul banget sih Bim, majang lukisan telanjang di kamar," sergahnya pada Bimasena.
Sebagai wanita timur, ia bergidik dan tidak senang melihat lukisan wanita hampir telanjang tersebut. Bahkan matanya begitu risih melihat lukisan tersebut.
Tapi mungkin bagi Bimasena yang besar di negara barat, sudah terbiasa melihat lukisan maupun patung telanjang. Karena di barat, perempuan dihadirkan sebagai objek seni yang mewakili keindahan dunia. Keindahan yang paling tinggi adalah keindahan tubuh perempuan.
Bimasena hanya menanggapinya dengan senyum licik.
Ia kembali melirik lukisan wanita yang berbaring hanya menggunakan underwear. Wanita dalam lukisan itu hanya menutupi dada dengan tangan, dadanya nyaris terlihat semua.
Namun ada yang ganjil dalam lukisan tersebut. Karena perut wanita dalam lukisan itu membuncit.
Ia juga sangat mengenali cincin pada jari tangan yang menutupi dada, serta kalung permata biru yang dikenakan di leher wanita tersebut.
Kedua alisnya pun bertaut.
Dengan segera ia mengalihkan pandangannya ke wajah wanita dalam lukisan, memperhatikan dengan seksama wajah wanita itu.
__ADS_1
...dan ......
"Biiiiiiiiimaaaaaaa," teriaknya dengan memanjangkan kata.
Suaranya menggelegar di dalam kamar. Padahal tanpa berteriakpun Bimasena tetap mendengar.
Wajahnya memanas, darahnya mendidih.
"Siapa itu?" pekiknya pada Bimasena. Tangannya menunjuk lukisan di dinding.
"Calon ibu anakku," jawab Bimasena dengan liciknya. Tertawa pula.
"Turunkan lukisan itu Bim!" berangnya pada Bimasena.
"Kamu nakal. Nakal. Nakal." Seumur hidup untuk pertama kalinya ia menyerang pria membabi buta dengan pukulan bergantian dengan cubitan seperti ini.
Ia tidak percaya, bagaimana bisa lukisan dirinya yang hampir telanjang, terpasang di dinding kamar Bimasena. Padahal ia tidak pernah ingat kapan dirinya dilukis.
"Huuusss jangan ribut. Barbar banget sih. Tadi kan kamu sudah janji tidak akan marah," imbuh Bimasena, menahan tangannya agar berhenti memukul.
Namun karena ia bergerak ke arah lukisan untuk menurunkan lukisan tersebut, Bimasena menariknya lalu mengurung tubuhnya dengan tangan dan tubuh pria itu di dinding.
"Bagaimana bisa aku ada dalam lukisan itu Bim?" suaranya lantang.
"Dari fotomu. Aku minta pelukis melukis fotomu," mata cokelat itu menyipit, menatapnya penuh gairah.
"Kapan aku berfoto telanjang seperti itu?" Bahkan ia tidak pernah merasa berfoto sensual dan erotis seperti di dalam lukisan.
"Aku ambil diam-diam. Saat kamu tidur di rumah kost itu." Kedua tangan Bimasena masih mengurungnya di dinding karena ia hendak menurunkan lukisan tersebut.
Mulutnya semakin menganga. Tidak habis pikir betapa usil pria di depannya.
"Kamu ... badung. Nakal. Jahil. Aku belum pernah bertemu orang senakal kamu Bim. Lukisan itu gak lucu Bim," ketusnya disertai tangan yang turut memukul.
"Amatilah baik-baik lukisan itu sayang. Nilai artistiknya sangat tinggi. Simbol keagungan feminitas. Dalam keadaan tidurpun kamu tetap berpose cantik."
"Artistik apaan. Pakai cela na da lam polkadot bukan renda dibilang artistik. Dari mana kamu belajar seni? Kamu alumni teknik, kerjanya di tambang melulu. Jangan sok tahu soal seni."
Sprei batik yang digunakan di rumah kost itu pada lukisan diubah menjadi sprei berwarna polos. Tapi cela na da lam polkadot yang ia gunakan tetap saja dilukis polkadot.
****** ***** yang ia beli dengan harga sepuluh ribuan. Kini diabadikan dalam lukisan. Sementara cela na da lam mahalnya hanya dirobek pria itu dan berakhir di tong sampah.
"Turunkan lukisan itu Bim!" Sekuat tenaga ia mendorong Bimasena. "Kamu pikir aku nggak malu, ada dalam lukisan telanjang. Kamu senang ya aku dilihat orang telanjang begitu? Kamu sudah gila, sableng, gak waras."
"Yang lihat kan aku sendiri karena lukisannya di dalam kamar pribadiku. Bukan di ruang tamu. Lagian juga gak sepenuhnya telanjang kan? Artis juga banyak yang foto maternity seperti itu," Bimasena beralasan.
"Bim, saat aku masih jadi model, aku menolak foto dan fashion show pakai bikini, sekarang kamu foto dan lukis aku seperti itu." Ia begitu ingin mencekik leher pria yang mengurungnya itu.
"Nadia bisakah kau bersikap lebih tenang dan melihatnya dari sisi positif. Dengar baik-baik. Begitulah kalau seorang pria memuja wanita. Bisa melakukan hal gila."
Ia merasakan tangan pria itu membungkus lengannya untuk menenangkannya.
"Kamu sayang nggak sama aku? Jawab!" Tangan pria itu bergerak dari lengannya ke telapak tangannya, menautkan jari-jari mereka.
"Sayang," jawabnya singkat. Matanya menghindari tatapan Bimasena yang sangat menghipnotis. Agar ia tidak jatuh ke dalam pusaran yang diciptakan pria itu.
"Kalau kamu sayang, pasti kamu izinkan aku memajang lukisan itu. Aku hanya ingin melihat kamu setiap waktu."
Ia sangat mengerti, kalimat yang diucapkan pria di depannya adalah teknik seorang pria memasang jeratan. Tetapi nalurinya mengatakan bahwa ia harus bersikap defensif, kali ini tidak boleh luluh pada keinginan gila Bimasena.
"Emang gak ada cara lain membuktikan rasa sayang selain lukisan telanjang itu?"
"Aku inginnya lukisan itu. Tapi kalau kamu nggak ingin mengabulkan permintaanku, ya udah, turunkan aja lukisannya. Bakar saja." Bimasena berdiri tegak dan berhenti mengungkung pergerakannya. Memberinya ruang untuk bergerak. Tidak ada lagi senyum atau sisa tawa pada bibir pria itu. Sorot mata yang terpancar penuh ancaman.
Nah kalau sudah begini ia harus bagaimana? Untuk pertama kalinya ia melihat Bimasena merajuk. Ia juga tidak sampai hati mengecewakan pria itu. Apalagi hari ini adalah hari ulang tahun Bimasena.
"Baiklah, kamu boleh pajang lukisan itu. Tapi kamu harus janji, nggak ada orang lain yang boleh masuk kamar selain pelayan yang membersihkan kamarmu," ucapnya pelan dengan wajah yang masih cemberut. Ia mengalah meskipun tidak ikhlas.
Akhirnya Bimasena tersenyum. Senyum penuh kemenangan yang sebenarnya sangat menawan. Tapi kali ini menjengkelkan baginya.
"Anak pintar," gumam Bimasena, mengelus pipinya. Lalu bibir pria itu mendekat ke bibirnya. Menciumnya dengan penuh gairah.
Bimasena memanggilnya anak pintar? Bukankah mereka seumuran? Atau Bimasena menganggapnya anak kecil yang dengan mudah dikendalikan?
Memang benar, ia tidak ubahnya anak kecil. Karena ia kembali jatuh. Jatuh dalam kenyamanan pelukan yang mampu menenangkan syaraf-syaraf paniknya. Terikat oleh dua bibir yang saling bertaut.
Mengapa begitu gampang ia luluh terhadap semua keinginan pria itu? Bahkan untuk keinginan yang tidak masuk akal pun.
Mungkin karena passion yang sangat kuat, terpancar secara alami dari pria itu. Kekuatan daya tarik pria itu membuatnya menjadi wanita yang tidak bisa berpikir secara normal.
Tadi ia teramat kesal pada Bimasena. Tetapi kini ia lebih kesal kepada dirinya sendiri.
Kesal karena mulutnya yang tadi memuntahkan kata-kata kasar kepada pria tersebut, kini mulut itu sibuk memuntahkan desa han tertahan. Lagi-lagi karena pria itu. Karena tangan nakal pria itu yang memberi sensasi merinding.
__ADS_1
Apa ada wanita seperti dirinya dengan mudah diluluh lantakkan seperti ini?