REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
122. Your Imagination


__ADS_3

Dari balik jendela kamar villa, Bimasena mengamati para tamu undangan di halaman Villa yang belum sepenuhnya bubar.


Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat ayah kandungnya yang duduk di kursi roda mengobrol dengan Karenina, ayah tirinya yang berdiri dikelilingi para petinggi FreddCo Energy, serta ibunya yang mengobrol dengan ibu tirinya.


Ia sudah melepas jas dan kemeja pengantinnya, menyisakan singlet dan celana panjang. Kini ia berdiri di belakang jendela sambil menyesap kopi, mengamati tamu-tamu di halaman Villa.


Di luar sana pemandangan hutan, sawah dan sungai amat indah memanjakan mata. Namun pemandangan di dalam kamar jauh lebih indah. Melihat istrinya sedang rebahan menyu sui baby Glor yang mulai rewel sebab mengantuk setelah mereka bertiga makan siang.


"Memang benar kata Danindra. Aku seorang pengecut dan pria berengsek," desisnya memecah keheningan. Sehingga Nadia menoleh kearahnya dengan kening mengerut, tidak paham atas maksud ucapannya.


Ia meletakkan gelas kopinya di atas meja lalu berjalan menuju tempat tidur dan ikut berbaring bersama istri dan puteranya. Glor berada di tengah, di antara dirinya dan Nadia.


"Aku menyukaimu sejak kita SMA. Tetapi karena takut ditolak, tidak berani menerima kenyataan, aku hanya memendam sendiri perasaan sampai pindah ke Amerika. Itu yang namanya pengecut."


"Baru memiliki keberanian dan kenekatan saat kamu telah menjadi istri orang lain. Itu yang namanya berengsek."


"Andai saja dari awal aku punya keberanian, mungkin Glor bukan anak pertama, tetapi anak ke sebelas, Glor punya sepuluh orang kakak," gumamnya, membuat Nadia melongo.


"Sebelas?" pekik Nadia, lalu tertawa tertahan, agar tidak mengganggu baby Glor yang hampir terlelap.


Baby Glor memang sengaja diupayakan segera terlelap. Sebab ada urusan tertunda yang harus ia selesaikan dengan Nadia. Urusan yang sangat penting baginya dan tidak boleh ditunda-tunda lagi.


"Aku tiap tahun melahirkan dong," sambung Nadia terkekeh.


Wanita itu sudah tidak risih lagi menyu sui di depannya, berbeda dengan sebelumnya yang selalu membelakanginya setiap menyu sui Glor.


"Jadi karena Glor nggak jadi punya sepuluh orang kakak, Glor harus punya sepuluh orang adik," pungkasnya, menatap wajah Nadia untuk melihat reaksi istrinya.


Seketika Nadia batuk serupa orang tersedak, padahal istrinya tidak sedang makan apa-apa.


"Biiiiim!" pekik istrinya.


"Apa? Bim?" ia mengernyit kepada Nadia. Karena ia tidak ingin Nadia memanggilnya dengan sebutan 'Bim' lagi sejak mereka menikah.


"Daaaad. Aku nggak bisa kalau sepuluh. Daddy nggak tau gimana rasanya melahirkan. Taunya bikin doang," sungut Nadia.


Taunya bikin doang?


Kebetulan, ia sedang ingin bikin. Sedari tadi menunggu Glor terlelap.


Tetapi Nadia menanyakan hal yang lain.


"Dad, kenapa pesawat yang kami tumpangi kemarin bertulis Glor?"


Ia berbalik menghadap Nadia dan Glor, tidur dalam posisi miring, menyanggah kepala dengan tangan.


"Iyalah, pesawat itu kan punya jagoan Daddy." Matanya menatap bangga pada puteranya yang sudah terlelap, namun belum melepas pu ting susu Nadia.


"Dad, Glor masih kecil. Belum ngerti apa-apa soal pesawat. Glor lebih senang pesawat kertas yang bisa terbang di dalam kamar ketimbang pesawat beneran. Berapa budget yang Daddy harus keluarkan untuk membeli pesawat itu? Kayak beli permen aja," hembus Nadia, ia tanggapi dengan tertawa ringan.


Memang benar apa yang dikatakan istrinya. Puteranya belum mengerti apa-apa soal pesawat. Sehingga bila tujuannya memberi hadiah untuk menyenangkan hati Glor, maka misinya boleh dikatakan gagal.


"Pesawat itu hadiah dari FreddCo Energy pusat atas kesuksesanku menghidupkan kembali FreddCo Energy Venezuela yang sudah mati suri. Karena pesawat itu sudah menjadi milikku, maka aku hadiahkan untuk putera tersayangku," jelasnya.


"Atau mommy -nya Glor pengen pesawat yang bertulis Humeerah juga ya?" tawarnya pada Nadia.


Tetapi Nadia menggeleng. "Nggak mau, buang-buang duit."


"Trus nanti kita tinggal di Venezuela, Dad?" lanjut Nadia, membuka topik berbeda kembali.


Ia pun menjawab pertanyaan Nadia.


"Misiku untuk melebarkan sayap bisnis FreddCo Energy di Venezuela belum selesai. Aku pantang meninggalkan pekerjaan yang belum selesai."


"Tapi kondisi saat ini telah berbeda. Keamanan anak dan istriku lebih penting dari kejayaan FreddCo Energy."


"Kemauan keras dan jiwa penaklukku melunak karena kalian, Mommy dan Glor," ungkapnya. "Kita tinggal menunggu negara mana penugasanku selanjutnya."


Sebelum Nadia membuka topik lain lagi, ia melepaskan pu ting Nadia dari mulut mungil puteranya.


"Glor udah tidur, Mi. Kita ke kamar sebelah," ajaknya. "Panggil suster untuk menemani Glor di kamar ini."


********


"Glor udah tidur, Mi. Kita ke kamar sebelah," ajak suaminya kepadanya. "Panggil suster untuk menemani Glor di kamar ini," tambah suaminya.


"Kok di kamar sebelah, di sini aja," imbuhnya. "Kamar ini kan cukup luas." Pandangan matanya bergerak mengelilingi ruangan.


"Nanti Glor terbangun," dalih Bimasena.


"Yang penting kita nggak berisik kan?" sosornya. Tapi justru membuat Bimasena tergelak.


"Yang selalu berisik itu siapa?" Bimasena melirik nakal kepadanya. Membuat ia terusik akibat malu.

__ADS_1


"Emang aku berisik ya?" ia ingin memastikan kepada Bimasena mengenai dirinya.


Apa karena de sa han dan le ngu han ia dikatakan berisik oleh Bimasena?


Bimasena kembali terbahak, seraya beranjak bangun dan menatapnya. "Nggak, kamu nggak berisik kok, Mi. Hanya saja aku sedang ingin yang gaduh sekarang," ujar Bimasena lalu berjalan menuju pintu.


"Aku tunggu di kamar sebelah, Mi," pungkas pria itu dengan volume suara yang lebih tinggi.


Sedang ingin yang gaduh? Yang seperti apa maksudnya? Making love sambil menabuh genderang?


Kok nggak nunggu malam sih? Dimana-mana yang ada malam pertama, bukan siang pertama.


Ia sama sekali tidak mengerti. Menghadapi Bimasena tidak ubahnya dirinya seperti orang awam. Padahal harusnya dirinya yang menjadi guru bagi pria tersebut. Karena ia telah menikah selama bertahun-tahun sebelum ia menikah dengan Bimasena.


Tetapi mengapa keadaan bisa terbalik seperti itu? Padahal Bimasena adalah pria lajang. Bimasena bertindak bak seorang guru, dan dirinya seolah murid baru.


Tetapi kali ini ia ingin menjadi Nadia yang berbeda.


Ia ingin memberi warna yang lain. Bukan dalam posisi pasif menunggu serangan dari Bimasena seperti sebelumnya. Tetapi ia juga harus aktif dan sedikit agresif tentunya. Bisa mengimbangi ritme permainan pria itu.


Bukankah ia tidak perlu malu lagi pada Bimasena karena pria itu sudah berstatus suaminya?


Sebelum menyusul suaminya ke kamar sebelah, ia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu di kamar mandi. Tidak ingin memiliki celah yang menjatuhkan percaya dirinya di hadapan Bimasena.


Setelah itu ia mengenakan gaun tidur berbahan silk bertali renda, berwarna hijau sage. Ia mengenakan gaun tidur berpotongan terbuka meskipun hari masih siang.


Dengan penampilannya ia berharap bisa menggoda dan membakar suaminya.


Setelah memakai wewangian dan memanggil baby sitter untuk menjaga Glor, ia menyusul suaminya ke kamar sebelah.


Harusnya ia tidak perlu mengetuk pintu kamar karena yang berada di dalam kamar adalah suaminya. Tetapi ia tetap melakukannya di atas rasa canggungnya.


"Lama banget sih," Bimasena menariknya masuk lalu segera menutup pintu dari dalam.


Kemudian melekatkan punggungnya di belakang pintu dan mengurungnya dengan tubuh pria itu. "Sengaja ya pengen nguji kesabaran?" bisik pria itu, mengangkat dagunya sehingga wajahnya menengadah menghadap wajah Bimasena.


Suara Bimasena terdengar erotis, membuatnya meremang seketika. Tetapi ia tetap mengingat misinya, Bimasena tidak boleh mendominasi.


"Aku mandi dulu sayang," ucapnya menantang mata cokelat suaminya yang menjadi gelap diselubungi awan gairah.


Yang jelas kali ini ia tidak ingin mati kutu menghadapi Bimasena. Tidak boleh menjadi boneka yang diperlakukan semaunya dan menuruti segala fantasi pria tersebut seperti sebelumnya.


Ia harus menjadi pengendali di malam pertamanya sebagai istri Bimasena.


Entah keberanian dari mana datangnya, tangannya bergerak membuka singlet yang dikenakan suaminya. Bimasena membantunya dengan mengangkat tangan ke atas agar ia mudah meloloskan singlet putih tersebut.


Suaminya tersenyum senang melihat kemajuannya. Tidak lagi menjadi patung kayu nan kaku.


Tangan suaminya bergerak liar mencengkeram gaun yang ia gunakan di bagian dada, lalu berbisik erotis,


"Buka sendiri atau aku sobek?"


Seketika matanya memelototi Bimasena. Apa ia perlu menjelaskan berapa tabungan yang ia kuras untuk membeli pakaian tidur itu?


"Jangan disobek! Ini sutera. Mahal."


Tetapi ucapannya malah membuat Bimasena terbahak, dan tanpa ia duga pria itu menyentakkan tangan yang membuat renda yang menjadi tali gaun tidurnya terkoyak dan putus.


"Biiiiim!" jerit protes keluar dari mulutnya pada pria yang telah merusak gaun tidurnya.


Baru saja ia hendak mengomel, mulutnya sudah di bungkam oleh bibir pria itu.


Kedua tangannya disatukan di belakang tubuhnya.


Ya, ia baru menyadari bila seperti inilah alur yang diinginkan suaminya begitu rasa kesalnya mulai terbakar oleh gairah pria itu.


Jiwanya hanyut dalam bi ra hi yang terpendam akibat ciuman panas Bimasena.


Tapi ingat tujuan awal!


Dirinya yang harus menjadi pengendali. Tidak boleh larut dalam permainan Bimasena.


Ia menarik tangannya dari cekalan tangan Bimasena di belakang tubuhnya dan menyudahi ciuman panas itu.


Dengan keberanian yang tersisa ia membuka celana panjang yang digunakan suaminya. Entah seperti apa tampak wajahnya. Yang ia rasakan wajahnya dipanaskan oleh nyala api malu.


Apalagi Bimasena diam menunggu apa yang hendak ia lakukan. Menikamnya dengan tatapan mata cokelat tegas. Membuat jantungnya berdebar tak terkendali dan tangannya gemetar.


Mengapa ia jadi gemetar seperti ini hanya karena membuka celana panjang suaminya?


Secara perlahan ia berjongkok untuk mengeluarkan kaki suaminya dari celana panjang yang digunakan saat pernikahan itu. Sehingga yang tersisa pada tubuh suaminya hanya boxer.


Lalu ia kembali berdiri memegang celana panjang itu dan melemparnya begitu saja ke samping sembari menantang tatapan mata cokelat.

__ADS_1


Ingat Nadia! Jadi pengendali!


Bimasena mengurai senyum tipis dalam posisi diam menunggu. Memberi kesempatan kepadanya untuk melanjutkan aksinya. Mungkin pria itu sudah paham apa maksud hatinya.


Tapi ... ia sudah tidak tahu bagaimana cara melanjutkannya. Dirinya mendadak terkena brain fog akibat tikaman mata cokelat. Ia kehilangan kemampuan untuk berpikir.


"Lanjut!" perintah suaminya.


"Lanjut apa?" ia merasa kembali menjadi orang bodoh. Aura pria itu begitu mendominasi.


"Lanjut buka!" perintah Bimasena dengan suara berat menahan hasrat.


Ia melirik ke arah bawah yang dimaksud suaminya, ke arah boxer. Begitu melihat sesuatu yang menonjol, nyalinya ciut seketika.


Bukannya ia lupa niat awalnya menjadi pengendali, tetapi keberaniannya raib entah kemana.


"Nanti, belum waktunya," kilahnya dengan suara tercekat. Kembali menjadi patung kayu yang berdiri kaku.


"Lanjutkan apa yang kamu inginkan, Sayang. Sesuatu yang dimulai harus dituntaskan." Mata Bimasena menyipit menyiratkan rasa lapar dan dahaga, menahan gejolak untuk segera menerkam.


Ia menggeleng, lalu segera menyembunyikan wajah malunya pada dada suami.


"Nggak jadi, Dad. Malu," ungkapnya, menggosokkan wajah yang memanas pada dada berotot itu.


"Apa yang kamu rencanakan? Teruskanlah!" bisik pria itu mendekapnya.


"Nggak ada," singkatnya. Tidak mungkin ia berterus terang pada pria itu mengenai niatnya yang ingin mengendalikan permainan.


Malu.


"Baiklah, sekarang buka celanaku atau buka sendiri gaunmu, Mi?" Kalimat itu diucapkan begitu lembut di telinganya, sembari mengelus rambutnya, tetapi mengandung ancaman yang bisa membinasakan.


Pilihan yang sulit.


"Buka sendiri gaunku," ucapnya seperti orang terhipnotis. Aktivitas di daerah otaknya sudah berubah dari tujuan awal. Kini sepenuhnya lakunya dalam kendali Bimasena.


"Baiklah, naik ke atas tempat tidur dan buka gaunmu di sana!"


Bimasena melepaskan dekapan dan melepasnya berjalan sendiri menuju tempat tidur. Tetapi belum mencapai tempat tidur ia sudah menghentikan langkahnya. Karena matanya menangkap adanya benda-benda aneh yang terpasang di dalam kamar.


"Apa itu?" ia membalikkan badannya dan bertanya pada Bimasena. Padahal sesungguhnya ia tahu benda itu apa.


Tiga buah kamera yang diletakkan di atas tripod pada setiap penjuru ruangan.


"Kamera," singkat Bimasena.


"Mengapa ada kamera di dalam kamar ini?" berondongnya.


"Untuk merekam aktivitas kita di dalam kamar," sahut Bimasena enteng.


"Aktivitas yang mana?" semburnya.


"Ya aktivitas sejak kamu memasuki kamar, dan aktivitas kita selanjutnya sampai aku mematikan kamera."


"Untuk apa?" matanya memelototi wajah suaminya.


"Untuk menyimpan kenangan malam pertama kita, juga sebagai bahan evaluasi aktivitas ranjang kita."


Jawaban suaminya serta merta membuat mulutnya membulat. Tidak percaya atas apa yang dipikirkan suaminya. Baru menyadari bila aksinya membuka pakaian suaminya telah direkam oleh salah satu kamera.


"Biiiiim, aku nggak mau," tolaknya.


"Kok badungnya kamu nggak hilang-hilang ya? Aktivitas seperti itu kok mau didokumentasikan? Bagaimana bila tersebar? Ih kamu nggak punya malu ya?" cecarnya.


"Ngapain malu? Kalaupun tanpa sengaja videonya tersebar, kan kita kan sudah suami istri. Nggak ada yang salah kan?"


Jawaban suaminya membuat kepalanya puyeng seketika. Sehingga dengan cepat ia hendak kabur keluar kamar, demi menghindari kenakalan suaminya. Tapi lengannya keburu dicekal oleh Bimasena.


"Mau kemana?" Bimasena memeluknya dari belakang, sangat erat sehingga ia kesulitan bergerak.


"Aku nggak mau Bim. Memang aku bintang film bo kep yang harus didokumentasikan? Otak kamu kok me sum banget sih?" sergahnya, menoleh ke belakang.


Ia tidak percaya apa yang dilakukan suaminya. Hendak membuat film hubungan suami istri mereka. Bertingkah seolah pemain film por no. Apa otak Bimasena masih normal?


"Entahlah, sejak menemukan Mommy kembali, bukan hanya hatiku yang penuh cinta. Otakku juga me sum melulu karenamu," goda Bimasena yang diikuti oleh remasan tangan.


"Jangan, Dad," pintanya dengan rengekan. Mulai putus asa menghadapi fantasi Bimasena.


Fantasi se ksual memang penting dalam hubungan suami istri untuk meningkatkan kepuasan se ksual. Tetapi bila saat melakukannya, ia diawasi dan direkam oleh kamera, tidak ubahnya ia ditonton oleh seluruh dunia.


Tentu saja ia merasa risih dan malu.


Suaminya membalik badannya sehingga mereka berhadapan.

__ADS_1


"Mi, sedari tadi tiga kamera itu telah merekam. Jangan sampai merekam adegan kejar-kejaran dan pemaksaan. Mommy naik sendiri ke atas ranjang atau Daddy lempar?" ancam Bimasena, tersenyum licik padanya.


__ADS_2