REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
117. Bahagia Untukmu


__ADS_3

Tak akan ada rindu, bila jarak tidak terpaut. Niscaya hati akan tenang, bila salam rindu tersampaikan. Tapi bagaimana Nadia tidak rindu?


Sudah dua purnama berlalu, sejak ia kembali dari negeri pabrik ratu kencantikan, sejak itu ia belum pernah mendengar suara maupun mendengar kabar dari pemilik nama yang selalu tersemat di dalam kalbu, Bimasena.


Pria itu semakin kuat menari-nari di alam pikirannya bersama dengan buncahan rindu.


Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu dan menjaga hati. Sampai datang waktu untuk bertemu kembali dan bersama.


Roda-roda waktu yang berputar menghadirkan kisah dalam tiap masa. Dan kini tiba masanya untuk Tristan.


Ia berdiri mematut bayangannya di dalam cermin. Menyempurnakan riasan dan penampilan. Mengenakan dress selutut berbahan tulle berwarna ungu muda. Pakaian seragam alumni SMAnya untuk pernikahan Tristan Atmaja, mantan suaminya dengan Triyasih.


Apa hendak dikata, pernikahannya dengan Tristan bubar karena skandal perselingkuhannya dengan Bimasena. Tetapi Tristan ternyata lebih dahulu membangun rumah tangga baru, karena hubungannya dengan Bimasena sering menemui kendala.


Mungkin seperti itulah Sang Pengatur Kehidupan menghukumnya. Karena mengawali dan melalui hubungan dengan cara yang salah dan menodainya dengan tinta dosa.


Tristan lebih dimudahkan jalannya oleh Sang Pencipta, untuk kembali menempuh biduk rumah tangga bersama seorang wanita terpelajar, setelah pernah terpuruk atas pengkhianatan yang ia lakukan.


Hari ini Tristan akan melangsungkan pernikahan dengan Triyasih. Disaat hubungannya dengan Bimasena tersendat dan tertatih-tatih.


Ia turut berbahagia begitu Tristan datang membawa undangan pernikahan kepadanya. Bagaimanapun Tristan pernah menjadi bagian dari hidupnya. Namun entah mengapa begitu berat untuk melangkahkan kaki menghadiri pernikahan Tristan Atmaja.


Gunjingan.


Kata itu yang memberatkan langkahnya. Ia yakin pasti akan menjadi bahan gunjingan keluarga Tristan maupun teman-temannya di acara resepsi pernikahan Tristan. Karena Tristan telah mendahuluinya menikah sedangkan hubungannya dengan Bima masih terseok-seok.


Sejak acara pernikahan Alfredo, ia tidak pernah menghadiri reuni ataupun acara yang akan mempertemukannya dengan teman-teman SMAnya. Buah dari kesalahan, mencoreng arang pada wajah sendiri.


Saat Tristan membawa undangan ke rumahnya, ia sempat mengobrol bersama Tristan. Perihal ditahannya Bimasena di Venezuela, dirahasiakan oleh FreddCo Energy dan pihak keluarga. Sehingga ia turut merahasiakan perihal tersebut kepada Tristan.


"Kapan kalian menikah?" tanya Tristan kepadanya setelah menyerahkan undangan berwarna merah hati.


"Kami belum ada jadwal, Tris. Pekerjaan Bimasena di Venezuela belum rampung," ia beralasan. Entah kapan pekerjaan yang ia maksud akan rampung.


Ia tahu Tristan menaruh curiga padanya.


"Kamu yakin, nggak ada masalah antara kamu dengan Bimasena, Nad? Bila ada masalah ungkapkan saja. Siapa tahu aku bisa membantu meskipun hanya sekedar saran saja," tawar Tristan dengan sangat bijaksana. Padahal Tristan merupakan objek penderita atas perselingkuhannya dengan Bimasena.


Tetapi ia menggeleng sambil tersenyum, seraya berkata, "Aku dan Bimasena nggak ada masalah, Tris. Kalaupun jadwal pernikahan kami molor, ini semata-mata hanya karena urusan pekerjaan Bima di Venezuela."

__ADS_1


Dengan berat hati ia berangkat bersama Bang Herial, Mpok Nana dan bayi tampannya, Glor Gerardo menghadiri resepsi pernikahan Tristan. Resepsi digelar Tristan pada sebuah hotel di Jakarta. Sebelumnya Tristan dan Triyasih telah menikah di kampung halaman Triyasih di Semarang.


Kehidupan dipenuhi dinamika yang tidak dapat ditebak. Saat ia masih terikat pernikahan dengan Tristan, mantan suaminya itu sangat mengagumi Hakimah. Namun setelah ia dan Tristan bercerai, Hakimah juga telah menjadi janda, Tristan malah menikahi Kakak perempuan Hakimah, Triyasih.


Mungkin Triyasih lebih cerdas dari Hakimah. Atau mungkin Hakimah belum bisa menerima Tristan.


Di atas panggung ia bisa melihat suasana romantis yang menyelimuti kedua pengantin. Tristan dan Triyasih. Pakaian pengantin yang mereka kenakan berwarna cokelat muda. Dekorasi ruangan tampak sederhana namun terkesan elegan.


Tristan telah menutup buku kenangan bersamanya dan mengikat janji suci dengan seorang yang baru.


Dalam hatinya turut merasakan kebahagiaan karena Tristan telah menemukan pelabuhan hati. Namun justru rasa rindunya kepada Bimasena semakin menggebu. Berharap ia dan Bimasena bisa segera menyusul Tristan bersanding di pelaminan.


Ia hanya bisa menghela nafas berat melihat sekumpulan orang berpakaian ungu muda pada salah satu sisi ruangan. Teman-teman alumni SMAnya. Apakah ia harus bergabung? Atau bersembunyi dari mereka? Seperti bagaimana selama ini ia menyisihkan diri dari teman-temannya itu.


Tapi kain dan warna pakaian yang sama, membuat ia tidak bisa bersembunyi. Dengan terpaksa ia berjalan menuju teman alumninya, karena beberapa tangan melambai ke arahnya, memanggilnya bergabung.


"Eh Nadia, kemana aja selama ini nggak pernah muncul?" sambutan pertama dari salah seorang teman wanitanya.


"Sibuk ngurus bayi." Ia menunjukkan Glor yang sedang ia gendong.


"Ini baby Glor ya, lucu banget. Pinjam dong," ujar Mithalia, memindah tangankan Glor dari gendongannya. "Wajahnya Bimasena banget," lanjut Mithalia tanpa tedeng aling-aling, membuat kupingnya memanas. Mithalia berkali-kali mencium wajah Glor dengan gemasnya. Namun Glor menunjukkan penolakan untuk dicium.


Dari Mithalia, Glor berpindah dari gendongan seseorang ke orang lain. Membuat Glor menangis karena merasa kurang nyaman digendong dan dicium oleh orang-orang yang asing bagi Glor.


Mungkin seluruh teman-temannya sudah tahu bila anak yang ia lahirkan adalah putera dari Bimasena bukan Tristan.


"Kamu sehat-sehat saja selama ini, Nadia?" sapa Janah. Hanya wanita itu yang sapaannya terasa menyejukkan.


"Kapan kamu dan Bimasena menyusul, Nad? Kemana Bimasena? Kok kalian berdua seperti menghilang?" celetuk Reina.


Hampir semua sapaan teman-temannya membuat kupingnya memanas. Karena menyinggung hubungannya dengan Bimasena dan membandingkannya dengan Tristan dan Triyasih yang sudah lebih dahulu menikah.


Dan momen yang paling mengharukan adalah saat ia dan Glor, Mpok Nana dan Bang Herial, naik ke panggung untuk memberi selamat kepada Tristan dan Triyasih. Ia bertemu mantan mertuanya lebih dahulu.


"Kenapa kamu nggak pernah datang ke rumah Papa dan Mama Nak? Meskipun kamu sudah tidak bersama Tristan, Papa dan Mama masih menganggap kamu seperti anak sendiri," sapa mantan Ibu Mertuanya.


"Datanglah ke rumah bersama Glor," lanjut ibu Tristan lagi.


"Iya ya Glor datang ke rumah Nenek Nak," sapa ibu Tristan kepada Glor, yang disambut senyuman oleh Glor.

__ADS_1


"Yayyaa," jawab Glor, mulai meniru apa yang didengar.


"Wah Glor udah besar, udah bisa jalan, Nak?" sapa mantan Ayah mertuanya.


"Glor udah bisa berdiri tanpa bantuan. Bisa berjalan dua tiga langkah tanpa pegangan, Pa," jawabnya.


Dan begitu tiba di hadapan Tristan, matanya berkaca-kaca.


Kehidupan itu misterius karena tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ia pernah berdiri berdampingan di pelaminan bersama pria di depannya. Namun seiring gulir waktu, pria di depannya kembali bersanding dengan wanita lain di pelaminan. Bermula dari kesalahannya.


"Selamat ya, semoga kalian akan dan selalu menjadi keluarga yang berbahagia. Aku turut bahagia untuk kalian," ujarnya pada Tristan. Mencium pipi kiri dan kanan Tristan.


Tristan sejenak menggendong baby Glor, lalu berpesan kepadanya,


"Segeralah menyusul. Jangan terlalu lama menjanda. Glor butuh sosok ayah."


*******


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu diberikan limpahan kesehatan dan rezeki dari Sang Pencipta.


Author mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi umat Muslim.


Sebagai ucapan terimakasih kepada dukungan readers, author akan memberikan gift berupa bunga artificial cantik kepada sepuluh readers dengan dukungan tertinggi yang dilihat pada episode terakhir.


Terima kasih atas segala dukungannya terhadap novel ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan readers.


Salam sayang dari


Author Ina AS


😘😘😘


*******


Novel Pesona Nada telah tamat dengan jumlah bab sebanyak 46 bab. Baca yuk 😁😁


__ADS_1



__ADS_2