
Bimasena sudah lama mengantongi alamat rumah ayah kandungnya. Namun karena rasa marah bila mengingat perlakuan ayahnya kepada ibunya, membuatnya enggan untuk menemui ayahnya.
Tetapi karena Nadia yang terus mendesaknya, akhirnya ia bersedia menemui ayahnya.
"Yang ngajarin kamu naik sepeda siapa?" tanya Nadia padanya.
"Ayah," jawabnya singkat.
"Yang ngajarin kamu bawa motor siapa?" tanya Nadia kembali.
"Ayah."
"Tidak adakah hal baik yang kamu ingat tentang ayahmu selain sikap buruknya kepada ibumu?" cecar Nadia.
Ia tidak menjawab pertanyaan Nadia. Hanya melambungkan pikiran ke masa lalu, saat ia masih kecil.
"Aku yakin, jauh di lubuk hatimu kamu ingin menemui ayahmu. Kamu rindu padanya. Jangan munafik Bim. Jangan turuti kesombongan hatimu."
"Atau kamu menunggu ayahmu tiada? Maka penyesalan tak berujung yang akan kamu rasakan."
Akhirnya ia mengalah kepada Nadia. Bersedia menemui ayahnya. Hanya karena Nadia sudah menangis.
Ia yang punya masalah dengan ayahnya mengapa Nadia yang menangis? Dasar wanita sensitif.
Namun saat ia mengajak Nadia untuk turut serta menemui ayahnya, ternyata Nadia menolaknya.
"Bim, bukannya aku tidak ingin bertemu ayahmu. Tapi kan aneh bila kamu memperkenalkan perempuan berperut buncit sebagai pacar pada ayahmu. Belum lagi bila ayahmu tahu bagaimana statusku, aku malu," tolak Nadia dengan halus.
Tetapi ia memiliki argumen sendiri, "Pada akhirnya orang tuaku harus tahu bagaimana keadaan kita. Tidak perlu ada yang ditutupi," pungkasnya.
Sehingga giliran Nadia yang mengalah
Dan kini wanita itu telah berada di sebuah outlet bakery, membeli oleh-oleh untuk calon ayah mertua. Sebelumnya juga, Nadia telah membeli buah di outlet buah.
*******
Sepanjang jalan menuju rumah ayah Bimasena, Nadia antusias mendengarkan Bimasena bercerita panjang lebar tentang keluarganya.
Bimasena menggunakan sopir untuk mengemudikan kendaraannya, sehingga mereka bisa duduk berdampingan di jok belakang mobil Mercedes hitam.
"Dulu ayah dan ibuku mengelola sebuah biro perjalanan wisata. Hampir setiap saat kami diajak berwisata mengikuti rombongan tour."
"Kadang-kadang ibuku menjadi guide untuk tamu-tamu tertentu. Saat itu ia mengenal daddy-ku."
"Kemudian prahara menimpa keluarga kami saat ayah menjalin hubungan dengan seorang wanita. Hampir tiap hari ayah dan ibu bertengkar. Hampir setiap bertengkar, ayah melakukan kekerasan fisik pada ibu. Berkali-kali aku melihat ibu ditampar, ditendang, dan dibanting oleh ayah."
"Beberapa kali aku marah dan mengajak ayah untuk duel, tapi aku dicegah oleh ibu. jangan sampai aku berdosa pada ayah karena masalah mereka katanya. Kami dilarang untuk turut campur masalah orang tua."
"Tidak lama kemudian perusahaan travel kami bangkrut, karena uangnya habis dikuras ayah untuk membiayai wanita itu. Bukan hanya membuat perusahaan gulung tikar, ayah juga menjual aset-aset keluarga, termasuk rumah yang sedang kami tempati."
"Keluarga kami pun mengalami goncangan ekonomi, sehingga ibu membuka usaha loundry untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Saat itu ayah sudah tidak dapat diandalkan lagi. Kami mengalami masa-masa yang sulit."
"Makanya, saat kita sekolah dulu kadang aku datang terlambat. Tidak pernah mengikuti ekstra kurikuler dan tidak pernah ikut ngumpul atau jalan bareng teman-teman. Karena aku harus membantu ibu mencuci pakaian, menyetrika, menjemur dan antar jemput pakaian ke langganan."
Hatinya trenyuh mendengar pengakuan kehidupan sulit yang pernah dijalani pria itu. Tangannya bergerak menggenggam tangan Bimasena. Tanpa terasa air matanya menetes.
"Akhirnya ibu menggugat cerai ayah, sementara ayah tidak berusaha mempertahankan rumah tangganya. Setelah bercerai tanpa sengaja ibu bertemu kembali dengan daddy-ku di sebuah rumah sakit."
"Mulai saat itu hubungan ibu dan daddy-ku semakin dekat sampai akhirnya menikah. Lalu kami diboyong daddy-ku ke Amerika. Di Amerika aku sempat mendengar berita bahwa wanita yang bersama ayah telah meninggalkan ayah karena ayah tidak mampu lagi membiayai gaya hidupnya. Jadi wanita yang menjadi istri ayah sekarang bukanlah wanita yang sama dengan sebelumnya."
"Ternyata ibu jauh lebih bahagia dengan pernikahan keduanya. Kadang aku iri melihat mereka. Mereka berdua penuh perhatian satu sama lain. Penuh kemesraan. Kemana ayah pergi ibu selalu mendampingi."
"Dulu aku berat hati untuk meninggalkan Texas dan kembali ke Indonesia, karena tidak ingin meninggalkan kehangatan keluarga kami. Aku tidak betah tinggal di Indonesia, selalu ingin pulang berkumpul dengan keluarga."
"Tapi sekarang sudah berbeda. Aku sudah berat hati meninggalkan Indonesia dan tidak betah berlama-lama di Texas. Semua karena kamu, Nadia."
Ia tersipu malu karena Bimasena menyisipkan rayuan dalam cerita tentang keluarganya.
"Ih kamu Bim, sempat-sempatnya merayu."
__ADS_1
"Aku serius Nadia. Kamu dan bayi di dalam kandunganmu yang menjadi tujuan hidupku sekarang." Bimasena menatapnya lekat-lekat.
Baru saja Bimasena membuatnya menangis karena mendengar kisah hidup pria itu, sekarang Bimasena membuatnya melambung tinggi. Begitu mudah perasaannya diombang-ambingkan. Seolah Bimasena mampu mengontrol jiwanya.
"Aku ingin, kamu bisa bahagia di pernikahan kedua seperti ibuku. Dan aku ingin, kita seperti mereka, kemana-mana selalu bersama dan memiliki keluarga yang hangat," lanjut Bimasena. Menggenggam tangannya dengan erat lalu dikecupnya.
Nadia tidak tahu harus berkata apa sehingga hanya menyembunyikan wajah yang tersipu di bahu Bimasena. Saat membenamkan wajah di bahu pria itu, ia mendapat kecupan di kening. Kelembutan yang mendalam sangat terasa dari ciuman tersebut. Menghanyutkan batinnya dalam suasana keindahan.
Beberapa saat kemudian bibir Bimasena bergerak ke bibirnya, sehingga kedua bibir menyatu. Tubuhnya terasa panas dingin, karena ciuman Bimasena yang awalnya lembut berubah menggelora.
Ia memejamkan mata demi menikmati luma tan halus yang bergantian kasar dari Bimasena. Ciuman penuh rasa. Dua lidah bertautan. Dua jiwa larut dalam keindahan.
Tapi ...
"Sudah sampai Pak." Seruan Suhardriyar menghempas mereka kembali ke bumi.
Ingatannya baru kembali, bila mereka tidak hanya berdua di dalam mobil. Tapi berempat. Ada Suhardriyar juga sopir Bimasena. Begitulah bila dua jiwa larut dalam asmara. Menganggap dunia hanya milik berdua.
Ia tidak habis pikir, bagaimana Bimasena sesantai itu tanpa rasa malu sama sekali. Sementara ia sudah tidak tahu harus di mana menyembunyikan mukanya.
*******
Bimasena tidak percaya melihat rumah ayahnya yang lebih reyot dari rumah kost yang pernah ditempati Nadia. Rumah ayahnya terletak di Kampung Tongkol yang berada di bantaran anak Kali Ciliwung.
Nadia memandang wajahnya dengan wajah menghakimi. Ia tahu maksud Nadia. Mengapa selama ini ia membiarkan ayahnya tinggal di tempat ini. Bagaimana bisa ia menghuni apartemen mewah sementara ayahnya hanya menghuni sebuah gubuk.
Tangannya menggandeng Nadia untuk masuk ke rumah reyot itu. Yang dindingnya terbuat dari papan dan seng berkarat. Namun baru di ambang pintu, langkah mereka terhenti, karena mendengar suara seorang wanita yang sedang marah dari dalam rumah.
"Sudah tidak kerja, pilih-pilih makanan lagi. Makan saja yang ada. Jangan merepotkan orang saja kerjamu. Kalau gak suka, gak usah dimakan. Biar mati saja sekalian."
Dadanya bergemuruh mendengar suara wanita tersebut.
Nadia mengetuk pintu, dan muncullah dari dalam rumah seorang wanita berusia lima puluh tahunan.
"Permisi Bu, betul ini rumah Pak Cakrawangsa?" tanya Nadia pada ibu itu. Sementara ia hanya berdiri mengedarkan pandangan ke dalam rumah.
Jiwanya bergejolak melihat kondisi rumah ayahnya. Selama ini ia tinggal di apartemen mewah sementara ayahnya tinggal di rumah yang tidak layak huni.
"Iya betul. Mas dan Mbak ini yang bagi-bagi uang kaget kemarin di kampung ini ya?" wanita berambut keriting itu sumringah menyembut kedatangan mereka.
"Saya istrinya Pak Cakrawangsa. Suami saya sudah lumpuh selama lima tahun. Hanya bisa tinggal di kamar. Sudah tidak bisa bekerja lagi. Anak kami sudah putus sekolah. Mudah-mudahan kami dapat uang kaget dari Mas dan Mbak untuk membantu meringankan beban kami."
Ia hanya bisa menggigit bibirnya menahan getir. Lumpuh selama lima tahun? Jadi selama ini ayahnya bergantung hidup pada istrinya.
Apakah pantas ia menghukum ayahnya dengan membiarkan ayahnya hidup seperti ini?
"Boleh aku bertemu Pak Cakrawangsa?" ucapnya lirih. Karena rongga dadanya bergetar menahan luapan sesal dan kesedihan.
"Silahkan mas!" Ibu itu mempersilahkan mereka masuk.
Ia dan Nadia masuk ke ruang tamu yang menyatu dengan dapur dan ruang makan. Lantai rumah hanya terbuat dari adukan semen yang di alas terpal. Kursi untuk tamu hanya kursi dari plastik yang sudah tua.
Seorang anak perempuan duduk di lantai sedang melipat pakaian, menatap ke arahnya. Ia tersenyum pada anak itu, dan anak itu membalas dengan senyum malu-malu.
Apa anak itu puteri ayahnya? Sekilas ia bisa melihat kemiripan anak itu dengan Karenina.
Ibu itu membuka tirai kamar yang dijadikan pengganti pintu. Di atas kasur yang tergelar di lantai, seorang lelaki tua sedang duduk memakan nasi berlauk kerupuk dengan tangan gemetar. Hanya nasi dan kerupuk. Yang membuat semakin perih hatinya, karena lelaki itu makan sambil berurai air mata.
Lelaki itu ... Ayahnya.
Ia bersandar di dinding karena tidak sanggup lagi memandang ke dalam kamar. Berusaha menahan air mata yang mendesak keluar. Di sampingnya, Nadia sudah berderai air mata.
Tetapi ia seorang lelaki. Tidak boleh menangis.
Betul kata Nadia.
Tidak adakah hal baik yang kamu ingat tentang ayahmu selain sikap buruknya pada ibumu?
Mengapa ia melupakan masa kecilnya yang indah bersama ayahnya. Saat ia jatuh dari sepeda, ayahnya yang memintanya untuk bangun dan berdiri.
__ADS_1
Ayo bangun Nak, anak lelaki tidak boleh menangis.
Padahal lutut dan tangannya sudah luka berdarah.
Mengapa ia lupa saat ia tenggelam di kolam renang, wajah ayahnya lah yang ia lihat di dasar kolam renang. Membawanya kembali ke permukaan.
Jangan takut berenang hanya karena kamu pernah tenggelam. Kelak kamu akan jadi perenang yang handal.
Begitu indah masa kecilnya. Lalu mengapa ia begitu tega melupakan ayahnya?
Tubuh tinggi kekar itu telah kurus kering dan membungkuk termakan usia dan penyakit. Rambut hitam legam ayahnya telah memutih. Sangat jauh berbeda saat terakhir melihatnya. Lima belas tahun yang lalu.
Kemana dirinya selama lima belas tahun?
Mengapa hatinya begitu angkuh dan sombong, hidup bergelimang materi namun membiarkan ayahnya hidup seperti ini?
"Ini ada Mas dan Mbak yang mau memberi kita uang kaget Bang," seru ibu itu.
Nadia sudah melangkah masuk ke dalam kamar sempit itu. Yang mungkin hanya berukuran 2 x 3 meter.
Lelaki tua itu mencoba tersenyum kepada Nadia.
"Silahkan duduk Nak, maaf rumah ini sangat kotor." Suara ayahnya pun sudah berubah. Rupanya kedua kaki ayahnya sudah lumpuh sehingga kesulitan untuk bergeser.
"Tidak usah, aku duduk di lantai saja," ujar Nadia duduk di dekat kaki lelaki tua itu. Sementara lelaki itu belum menyadari bila pria yang berdiri di ambang pintu adalah puteranya.
Dan saat ia melangkah masuk ke dalam kamar, lelaki tua itu menoleh padanya, tersenyum dan mengangguk hormat padanya.
"Maaf, rumah kami kotor Nak," ucap lelaki itu dengan suara serak.
Tapi sesaat kemudian lelaki itu tertegung menatapnya. Lalu tubuh lelaki itu bergetar hebat. Dengan terbata-bata menyebut namanya.
"Bi ... ma..."
Saat itu pun ia tidak mampu lagi menahan air matanya. Duduk bersimpuh lalu memeluk ayahnya.
"Maafkan Bima, Ayah."
Sesungguhnya ia malu pada Nadia, melihatnya menangis seperti anak kecil. Tetapi ia tidak mampu lagi membendung air matanya.
Tubuh kekar Ayahnya dulu sudah terlampau kecil buatnya. Sangat nampak bahwasanya Ayahnya telah melalui kehidupan yang pahit.
"Jangan menangis Nak. Anak lelaki tidak boleh menangis," ucap Ayahnya sambil terisak. Balas memeluk dirinya.
"Ayah bisa memaklumi bila kamu tidak pernah datang kepada Ayah. Karena salah Ayah sendiri. Tapi meskipun kamu melupakan Ayah, cinta dan kasih sayang Ayah tetap tercurah padamu. Ayah selalu merindukanmu."
Ucapan Ayahnya semakin membuat hatinya teriris.
Mengapa selama ini ia melupakan jerih payah Ayahnya? Mengapa melupakan tetesan keringat dan segala pengorbanan Ayahnya? Mengapa ia mengotori jiwanya dengan dendam yang pada akhirnya hanya berbuah penyesalan.
"Kaki Ayah tidak berfungsi lagi. Seandainya bisa, Ayah ingin Tuhan segera mencabut nyawa Ayah. Karena sekarang Ayah hanya merepotkan orang saja."
"Ayah jangan berkata begitu." Hatinya semakin perih mengingat suara ibu tirinya tadi yang memarahi Ayahnya.
"Ayah sangat rindu pada kamu dan Nina. Doa Ayah, Ayah bisa melihat kalian sebelum Ayah meninggal."
"Bima akan membawa Nina datang kepada Ayah," gumamnya.
"Oh ya, ini istrimu Nak?" tanya Ayahnya mengurai pelukan mereka. Mengulurkan tangan kepada Nadia.
Nadia pun tertunduk malu. Tetapi tetap menyalami tangan Ayahnya.
"Belum Yah. Baru calon istri. Namanya Nadia."
Ayahnya nampak terhenyak beberapa saat menatap wajah dan perut Nadia, namun kemudian tersenyum.
"Cepatlah kalian menikah, Nak. Ayah ingin melihat kamu menikah selagi Ayah masih hidup."
Mungkin ia harus berterima kasih kepada Nadia. Seandainya bukan karena Nadia, ia masih tetap dalam ego dan keangkuhan jiwanya, enggan bertemu dengan ayahnya. Bila saja ia tersadar kala ayahnya telah tiada, maka ia akan didera penyesalan seumur hidup.
__ADS_1
Terima kasih Nadiaku sayang.