REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
83. Let Him Fly


__ADS_3

Tristan menyeka keringat yang mengalir di dahi dan lehernya. Akhir pekan ini ia membakar kalori dengan membersihkan kamar mandi, bukan bersepeda.


Menciptakan kamar mandi yang benar-benar bersih terasa seperti tugas yang berat, merupakan tugas rumah tangga yang paling merepotkan. Karena selama ini ia jarang mengerjakannya. Sebelumnya selalu dikerjakan oleh Nadia.


Tetapi kondisi perut istrinya yang semakin membesar, sudah membatasi ruang gerak istrinya tersebut. Apalagi semakin banyak keluhan yang dialami Nadia. Mulai dari insomnia, sakit punggung sampai kram kaki.


Mereka tidak perlu cemas dengan keluhan tersebut. Karena hanya merupakan pengaruh kehamilan Nadia.


Nadia ternyata sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi menertawakannya.


"Tris, apa perlu sebasah itu hanya untuk membersihkan kamar mandi saja?"


Ya memang ia sudah basah dari atas sampai ke bawah. Rambut dan bajunya basah karena keringat, sementara celananya basah karena cipratan air.


"Ini tugas paling nyebelin Nadia. Mending ngepel seluruh rumah tiga kali sehari," sungutnya.


"Bekerja itu harus ikhlas, gak boleh bersungut-sungut," olok Nadia. Sekarang adalah masa dimana Nadia dengan alasan hamil, bisa membalas dendam padanya. Melimpahkan semua pekerjaan rumah yang sulit padanya.


Sepertinya Nadia ingin bermain-main dengannya. Namun ia sedang tidak tertarik meladeni Nadia.


Daripada memandang Nadia yang tertawa mengoloknya, ia tetap konsentrasi pada pekerjaannya agar cepat selesai.


Ia menumpahkan cairan pembersih ke dalam toilet, lalu menyikat kloset menggunakan sikat khusus.


Tetapi bau karbol cairan pembersih yang menyengat hidung membuat kepalanya pusing.


"Nadia, kalau kamu sudah melahirkan nanti, tugas ini kembali kepada kamu ya?" keluhnya, namun justru membuat Nadia semakin tertawa.


Bertahun-tahun Nadia membersihkan kamar mandi, namun Nadia tidak pernah mengeluh. Sekarang ia sudah mengakui bahwa dirinya bukan hanya kaku, namun tidak peka.


"Trus yang jaga bayi siapa?" sahut Nadia.


"Aku aja yang jaga bayi. Mending jaga makhluk kecil begitu daripada menyikat kamar mandi. Ditaruh aja di atas tempat tidur, nggak bakal lari kemana-mana juga bayinya kok," kilahnya.


"Trus kalau bayinya mau minum susu?" balas Nadia.


"Pake dot."


"Kalau ngompol?"


"Gampang kan, ganti aja diapersnya," jawabnya sambil membilas kloset dengan air.


"Kalau bayinya BAB?"


Ia berhenti sejenak, lalu berucap, "Kalau itu tugas kamu."


Bukan hanya membersihkan kamar mandi yang tidak bisa dilakukan Nadia lagi, bahkan mencabut rumput pun Nadia sudah kesulitan.


Sekarang ia harus menggantikan tugas yang dilakukan oleh Nadia. Sambil menebalkan muka mendengar ocehan Lily yang mengejeknya saat mencabut rumput liar.


"Duh, suami yang pengertian. Sekalian dong bantuin cabutin rumput tetangga."


Sebenarnya bukan hanya karena Nadia sedang hamil. Tapi karena sekarang ia belajar merubah sikapnya selama ini yang sering menyakiti hati Nadia.


Ia akui, dirinya bukanlah type suami idaman.


Bukan type suami pengertian.


Bukan type suami romantis.


Bukan pria yang yang pintar memuji pasangan.


Bukan pria yang menggandeng tangan pasangan begitu keluar rumah bersama.


Bukan pria yang mengobral kata manis.


Bukan pria yang selalu memberi hadiah atau kejutan untuk pasangan.

__ADS_1


Tetapi bukan berarti ia tidak sayang istrinya. Bukan berarti ia tidak peduli istrinya.


Hanya karena memang karakter dirinya yang seperti itu.


Tidak banyak suami yang bisa memaafkan pasangannya yang berselingkuh. Apalagi sampai mengaku hamil karena hubungan terlarang.


Lalu mengapa tetap ada yang memaafkan pasangan yang berselingkuh? Padahal seharusnya ia sudah mendepak Nadia jauh-jauh dari hidupnya. Tidak mudah menahan rasa malu, terhina dan merasa direndahkan.


Apalagi kalau bukan karena cinta. Rasa cinta membuat mampu membuka pintu maaf dan tidak ingin kehilangan, sembari berharap istrinya tidak akan mengulangi lagi perbuatan hina tersebut.


Ia harus mengabaikan rasa malu.


Bahkan sampai saat ini, ia dan Nadia sudah tidak pernah menghadiri reuni SMA lagi. Ia dan Nadia tidak aktif lagi dalam group alumni SMA pada sebuah aplikasi pesan. Semua karena tragedi memalukan yang terjadi di Kaliurang.


Bahtera rumah tangga mereka menjadi bahan gosip terhangat akhir-akhir ini.


Yang ia syukuri sekarang karena Bimasena sudah pindah ke luar negeri. Sehingga ia tidak perlu khawatir lagi Bimasena dan Nadia akan bertemu.


Tugas rumah tangganya harus selesai sebelum jam delapan. Karena jam delapan ia harus berangkat ke kantor. Menyelesaikan draft Laporan Hasil Pemeriksaannya setelah melakukan pemeriksaan laporan keuangan pemerintah daerah Provinsi Bali.


"Kamu nggak usah masak, pesan makanan di luar saja. Mungkin aku pulang malam," pesannya pada Nadia yang mengantarnya ke teras saat akan berangkat ke kantor.


"Iya, hati-hati ya," jawab Nadia, bersandar di kusen pintu.


"Oke."


Kalian nggak tanya apakah ia mencium istrinya sebelum berangkat ke kantor?


Hal aneh dan menggelikan apabila sebelumnya ia tidak pernah melakukannya, tiba-tiba ia harus melakukannya. Ia tidak bisa memaksa dirinya untuk mendadak romantis.


Yang jelas ia sudah berjanji dalam hati, tidak akan pernah sengaja menyakiti Nadia lagi.


Malam begitu ia pulang dari kantornya, ia mendapati Nadia tertidur di sofa. Mungkin ia sedang bermain handphone dan tiba-tiba tertidur. Karena handphone milik Nadia itu sudah terjatuh ke lantai.


Sebelum membangunkan Nadia ia memungut terlebih dahulu handphone yang tergeletak di atas karpet, kemudian meletakkannya di atas meja.


Ia hanya bisa mendesah kecewa menahan emosi yang campur aduk melihat foto pria di dalam ponsel Nadia. Rupanya sebelum tidur, Nadia membuka akun sosial media pria yang tidak ingin ia sebut dan tidak ingin ia dengar namanya lagi itu.


Ia tidak melihat ada riwayat percakapan antara Nadia dan pria tersebut. Berarti hanya istrinya yang terus mencari informasi mengenai pria tersebut.


Dengan kata lain, belum bisa melupakan pria itu.


Ahhh.


Tapi ada satu akun yang mengupload foto bersama pria itu. Yang membuatnya tersenyum kecil.


Semoga mantan sahabatnya itu telah menemukan wanita yang tepat, dan bisa hidup bahagia.


******


Nadia mengantar suaminya sampai ke teras saat Tristan hendak berangkat ke kantor untuk lembur di akhir pekan. Begitu kendaraan suaminya berlalu, ia kembali ke dalam rumah dan masuk ke kamar depan.


Ia mengambil botol spray, lalu menyiram bunga baby breath-nya menggunakan spray tersebut.


Ternyata tidak mudah merawat baby breath meskipun bunga tersebut bisa hidup di iklim tropis.


Bunga itu mudah rebah. Sehingga ia hanya menyiramnya menggunakan spray.


Bunga baby breath memiliki waktu mekar yang lama. Namun sekarang bunga putih yang mekar hanya tersisa satu dua bunga saja.


Mungkin hanya sebuah kebetulan. Bunga itu seperti mewakili keadaan hatinya.


Begitu tiba musim semi di lembah hatinya, bunga putih itu turut mekar menghadiahkan ratusan kuntum bunga.


Tetapi begitu bunga-bunga di taman hatinya sudah layu, bunga-bunga putih itu turut berguguran dari dahannya.


Meskipun yang tersisa hanya ranting-ranting dan dedaunan yang kecil-kecil berwarna hijau, ia tetap merawat bunga itu. Merawat demi menjaga bunga itu tetap hidup dan memberikan keindahan.

__ADS_1


Karena ia percaya, bila suatu saat fase akan berulang. Akan tumbuh kuncup-kuncup putih pada ujung ranting. Yang kelak akan mekar indah seperti saat pertama kali ia menerima bunga tersebut.


Apakah masa itu akan kembali?


Aku kan sering bepergian keluar kota atau keluar negeri. Kamu tidak perlu kesepian karena ada bunga itu yang menemani.


Ucapan itu kembali terngiang, membuat matanya berkaca-kaca menatap sayu bunga itu. Namun pria itu tidak sekedar bepergian. Tapi pergi meninggalkannya dan tidak mungkin akan kembali lagi.


Iya, aku akan menunggumu kembali bersama bunga ini.


Apa benar ia masih berharap dan menunggu pria itu kembali?


Mimpinya untuk kembali bersama pria itu sudah hilang.


Meskipun pria itu telah memojokkannya ke sudut rindu. Dan mengukir nama pada karang hatinya. Yang tidak akan terhapus oleh ombak dari samudera manapun.


Ia sudah merelakan pria itu. Untuk terbang tinggi di atas sana. Bersama wanita yang tepat.


Wanita yang tepat?


Apa pria itu telah menemukan wanita yang tepat?


Apakah itu sebuah pengungkapan harapan yang ikhlas?


Rasa penasaran membuatnya berjalan keluar kamar, mengambil handphone yang tergeletak di atas meja tamu. Lalu merebahkan diri di atas sofa.


Dengan hati berdebar ia membuka sebuah aplikasi sosial media. Lalu mengetik sebuah nama pada kolom pencarian.


Bimasena


Selama ini ia tidak pernah melakukan hal tersebut. Karena ingin mengubur kenangan bersama dan segera melupakan pria itu.


Tetapi begitu akun yang dicarinya muncul pada layar handphone, ia malah menutup matanya. Karena hatinya tidak kuasa untuk melihat foto pria itu.


Dadanya terasa sesak dipenuhi oleh rindu yang mendominasi dan tidak memberi ruang bagi oksigen untuknya bernafas.


Apa ia mampu bila akan melihat foto pria itu bersama wanita lain?


Setelah menguatkan hati, akhirnya ia berani membuka matanya. Mengintai aktivitas pria itu melalui akun sosial media.


Ia baru tahu dari lokasi yang ditandai, ternyata pria itu kembali ke Amerika bukan di Texas. Tapi di Venezuela.


Tidak ada status ataupun foto terbaru yang diupload oleh pria itu sejak kembali ke Amerika. Karena ia sangat mengetahui bila pria itu paling tidak senang pamer di dunia maya.


Tetapi ada unggahan foto dari sebuah akun wanita yang menandai nama pria itu yang membuat jantungnya nyaris berhenti.


Daniela Castarica.


Nama akun wanita tersebut.


Mengunggah foto dengan pakaian yang inner-nya polkadot. Sedang candle light dinner bersama pria yang tidak begitu jelas wajahnya karena remang-remang. Namun ia sangat tahu dari struktur tubuh yang dimiliki pria itu, bila pria tersebut adalah ... dia.


Rasa penasarannya berlanjut dengan membuka akun wanita tersebut. Lalu menemukan foto yang mampu mengerdilkan hatinya. Menjadi lebih kecil dari makhluk protozoa yang hanya bisa terlihat di bawah mikroskop.


Foto yang memperlihatkan wanita cantik itu sedang berdiri mengenakan gaun yang indah, dengan mahkota di kepalanya.


Ternyata wanita itu pernah menjadi Miss Venezuela.


Kegetiran kembali melanda dirinya.


Ia sendiri yang telah pergi meninggalkan Bimasena.


Ia sendiri yang meminta Bimasena agar menjauhinya dan mencari wanita yang pantas.


Dan mungkin saat ini Bimasena telah bersama wanita yang tepat. Miss Venezuela Daniela Castarica.


Tapi mengapa sekarang ia merasakan ...

__ADS_1


Patah hati


__ADS_2