
Biasanya Bimasena senang mendapat tugas khusus seperti ini, karena selain memiliki salary tersendiri, keberadaannya di jajaran FreddCo Energy seluruh dunia bisa diperhitungkan dan dianggap penting. Bukan karena mendompleng nama Ayahnya.
Seperti saat ini, ia ditugaskan oleh Presiden Direktur FreddCo Energy pusat di Amerika yang tidak lain Ayahnya sendiri, untuk meneliti kegagalan FreddCo Energy Australia mendapatkan minyak setelah mengebor empat sumur dalam tiga tahun ini. Kerugian yang dialami FreddCo Energy Australia mencapai USD 302 juta karena kegagalan pengeboran.
Tidak seperti sebelumnya, sekarang ia enggan meninggalkan Indonesia, terutama Jakarta karena Nadia. Tidak mudah menghubungi wanita itu. Ada waktu khusus yang dibolehkan Nadia untuk menghubunginya. Hanya pada siang hari.
Terlebih lagi untuk bertemu. Lebih sulit lagi. Karena Nadia hanya memiliki waktu bertemu pada siang hari, saat jam kerja di salonnya. Sementara siang hari adalah waktu-waktu tersibuknya. Dan akhir-akhir ini ia sangat jarang berada di Jakarta. Ia selalu berangkat ke blok-blok yang dikelola oleh FreddCo Energy untuk meninjau pengeboran minyak agar memenuhi target yang telah ditetapkan.
"Aurel, tolong kamu minta file hasil studi geologi dan geofisika, seismik 3D, dan pengeboran empat sumur yang di Australia itu. Saya ingin pelajari sebelum berangkat ke Australia biar nggak terlalu lama di sana," perintah Bimasena kepada Aurel.
"Saya nggak bisa terlalu lama meninggalkan blok mandar. Di sana banyak masalah sementara biaya investasi kita cukup besar," lanjut Bimasena.
"Saya curiga eksplorasi mengenai petroleum system dan studi Geofisika belum begitu menguatkan indikasi keberadaan hidrokarbon, mereka sudah melakukan drilling agar perusahaan menguncurkan dana yang besar," gumam Bimasena dengan kening mengerut.
"Baik Pak," jawab sekretaris andalannya itu.
"Kemudian kamu persiapkan keberangkatan kita minggu ini, beserta dua ahli geologi dan geofisika, Charles dan Arwandi," lanjut Bimasena.
"Baik Pak." Aurel lalu berjalan keluar dari ruang kerja Bimasena.
Setelah Aurel berlalu, ia mengambil handphone-nya dan menghubungi nomor yang hampir setiap siang ia hubungi saat ini. Karena komunikasi mereka hanya lewat telepon.
******
Apa ada orang sebodoh dirinya sekarang? Setiap siang, Nadia hanya menunggu waktu istirahat tiba. Bukan karena hendak beristirahat. Namun pada waktu itu, dia, sang pujaan hati rutin menghubunginya.
Sekarang ia sudah duduk di dalam ruangan kerjanya, meletakkan handphone di atas meja, menunggu si 'dia' menghubunginya. Karena pantang baginya, menghubungi Bimasena terlebih dahulu, meskipun beban rindu teramat berat untuk dipikul.
Ia tidak boleh berkali-kali menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang wanita di mata Bimasena. Meskipun ia sudah pernah meletakkan harga dirinya di bawah kaki Bimasena, saat dengan mudah Bimasena memuaskan hasrat padanya, di rumahnya pula.
Sejak saat ia datang membesuk Bimasena di apartemennya, tidak pernah ada temu diantara mereka lagi. Hubungan komunikasi hanya terjalin lewat telepon. Karena keadaannya yang sudah berumah tangga dan karena kesibukan Bimasena.
Nadia tidak menyangka, Bimasena adalah makhluk super sibuk. Jauh lebih sibuk dari Tristan suaminya. Membuat dirinya harus bercengkerama dengan rindu setiap hari.
Tetapi meskipun demikian, pria itu sudah membuat harinya berwarna pelangi. Meskipun ia menyadari, bahwa hubungan yang terjalin merupakan sebuah kekhilafan, namun ia tak ingin beranjak dari kekhilafan itu.
Dan saat handphone-nya berdering untuk panggilan video call, lalu pada layar nampaklah foto dan nama BIMASENA, serta merta senyumnya merekah sempurna. Dengan dada berdebar ia menjawab panggilan Bimasena.
Bimasena : Nadia
Mendengar suara berat itu menyebut namanya pun membuat darahnya berdesir. Apalagi melihat mata cokelat tegas itu. Parah benar dirinya sekarang.
Nadia : Ya Bim?
Bimasena : Sudah hampir dua minggu nggak ketemu. Ketemu yuk sebentar malam. Kangen nih. Kamu nggak kangen?
Nah, ia harus jawab apa. Jawab kangen? gengsi dong. Entar Bimasena berpikir ia perempuan mudahan. Padahal memang, ia begitu mudah untuk ditaklukan.
Nadia : Kamu kan tahu aku nggak bisa keluar pada malam hari Bim kalau nggak bersama Tristan.
Bimasena : Kamu belum jawab pertanyaanku Nadia, kamu kangen nggak?
Ah Bimasena selalu saja memasang jerat padanya.
Nadia : Kangen
Di seberang sana Bimasena menertawainya, tentu saja karena pipinya yang sudah merona.
Bimasena : Kalau kamu nggak mau memberi waktu untukku, aku yang ke rumahmu sebentar malam.
Nadia membelalak kepada Bimasena, namun hanya dibalas tawa oleh Bimasena.
Bimasena : Aku paling senang lihat kamu marah, tegang atau panik. Wajahmu jadi gemesin banget.
Nadia : Kamu memang, senang lihat saya susah.
Nadia memasang wajah cemberutnya.
Tetapi Bimasena malah semakin terbahak melihatnya cemberut.
Dan Bimasena membuktikan ucapannya.
Malam hari saat ia membuka pintu untuk Tristan yang pulang dari kantor, di pinggir jalan mobil Audy R8 grey milik Bimasena juga sudah berhenti tepat depan tamannya.
"Kamu janjian dengan Bimasena?" tanyanya pada Tristan dengan wajah yang mulai menegang.
__ADS_1
"Iya, mau main catur."
Ia bisa sedikit bernafas lega mendengar jawaban Tristan. Karena Tristan tidak perlu curiga, mengapa Bimasena datang ke rumahnya.
Tristan tidak langsung masuk ke dalam rumah. Suaminya itu berhenti sejenak menunggu Bimasena yang turun dari mobilnya.
Dari balik punggung Tristan, Nadia melotot kepada Bimasena. Tetapi Bimasena malah membalasnya dengan senyum jahil.
"Masuk Bro! Bisa nunggu? Aku mandi dulu," lontar Tristan kepada Bimasena.
"No Problem (Tidak masalah). I can wait (Aku bisa menunggu)," jawab Bimasena singkat. Pria itu mengekor Tristan masuk ke ruang tamu.
Dan begitu Tristan menghilang dari balik pintu kamar,
"I miss you love (Aku rindu kamu sayang)," gumam Bimasena sambil duduk di kursi.
"Bim kenapa kamu datang kemari?" desis Nadia, matanya bergantian menatap Bimasena dan pintu kamar dengan was-was.
"I just wanna be close to you, Nadia (Aku hanya ingin dekat denganmu, Nadia)," jawab Bimasena
tanpa canggung. Pria itu menyilangkan kedua kakinya dengan kedua tangan direntangkan di sandaran kursi.
Ia tidak percaya betapa santainya Bimasena, padahal jiwa Nadia sudah diselimuti ketegangan.
"Tapi caramu ini berbahaya Bim," protesnya dengan suara yang lirih.
"Ah Nadia, you don't know how it makes me feel (kamu tidak tahu bagaimana perasaanku)," keluh Bimasena.
"Aku tahu, tapi jangan di sini Bim," ucapnya dengan suara yang pelan.
Belum sempat Bimasena menjawab, Tristan keluar dari kamar, hanya menggunakan handuk berjalan ke kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi tertutup dari dalam, Bimasena berdiri dan melesat ke arahnya. Hanya dalam dua detik sudah berdiri tepat di depannya, sehingga ia segera berbalik untuk kabur dari Bimasena. Tetapi belum sempat melangkah, kedua tangan Bimasena sudah menahan langkahnya dan memeluknya dari belakang.
"I miss you," bisik Bimasena di telinganya.
Sungguh pria itu membuatnya frutasi, menyeretnya untuk bermain-main di tepi jurang. Apa pria itu tidak tahu risikonya?
"Kamu ingin Tristan membunuhku Bim, bila melihat kita begini?" desis Nadia dengan nafas terengah-engah atas serangan mendadak Bimasena yang sangat mengejutkan.
Sungguh bila di beri pilihan, ia lebih memilih bermain-main dengan singa di dalam hutan, atau dengan buaya di sungai, ketimbang dengan Bimasena di tempat Tristan berada.
Nadia berusaha mendorong Bimasena agar segera menyudahinya. Ya Bimasena berhenti, hanya untuk menegaskan, "Nadia, jangan halangi aku. Aku tahu kapan harus berhenti." Kemudian pria itu melanjutkan aksi melahap bibirnya.
Bimasena hampir membuatnya gila. Tubuhnya panas dingin dalam penguasaan Bimasena. Saat telinganya harus berkonsentrasi terhadap suara di kamar mandi, tangan pria itu malah bergerak menggoda.
Pria itu begitu terlatih. Mampu membuat tubuh Nadia berada diluar kendali, memberikan respon yang luar biasa. Tidak ada lagi yang tertangkap oleh radarnya. Sudah lupa bahwa ada makhluk di dalam kamar mandi yang bisa tiba-tiba keluar.
Kini ia terseret arus yang diciptakan oleh Bimasena. Terperangkap dalam suasana hati pria itu. Membalas ciuman Bimasena. Tubuhnya gemetar dan otot perutnya mengejang. Ia berkeping-keping menjadi serpihan kecil.
Namun saat ia tengah menikmati dua bibir yang saling berpagut itu, tiba-tiba saja Bimasena menghentikan aktivitasnya. Sehingga ia terengah-engah menahan gejolak yang mulai menuntut. Ingin rasanya menendang kaki pria yang telah mempermainkan gairahnya.
"Minggu ini aku akan ke Australia. Kamu ikut aku ya? Akan kusiapkan visa dan ticketmu. Kamu punya passport kan?"
Nadia hanya bisa membulatkan mulutnya. Ikut ke Australia? Bukannya ia tidak mau. Ia belum pernah melihat Australia, berangkat gratis, bersama Bimasena pula. Tetapi bagaimana cara meminta izin kepada Tristan?
"Bim, jangan meminta sesuatu yang tidak mungkin. Aku harus buat alasan apa pada Tristan?"
"Nanti kita bicarakan itu. Sekarang yang penting kamu mengiya saja dulu."
Suara pintu kamar mandi dibuka membuat mereka tersentak. Dengan tenang Bimasena kembali ke kursinya semula, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Berbeda dengan Nadia, yang jantungnya hampir copot. Tidak tahu harus berbuat apa.
Beruntung Bimasena memberinya isyarat untuk duduk di kursi depan Bimasena. Ia pun mengikuti isyarat Bimasena. Tetapi ia tidak bisa rileks seperti Bimasena.
Nadia jadi penasaran. Apa semua mantan Bimasena adalah wanita yang telah bersuami? Bagaimana bisa seberani dan setenang itu? Pasti karena sudah sangat berpengalaman.
Dan suatu saat ia akan menanyakan hal itu.
"Loh kok malah duduk di situ, ke dapur buat kopi untuk Bima," tegur Tristan begitu melihat ia duduk di depan Bimasena.
"Aku ngajak Nadia ngobrol Tris. Nadia asyik diajak ngobrol. Gak ngebosanin seperti kamu," seloroh Bimasena berusaha melindunginya.
Namun tanpa kata ia segera beranjak ke dapur. Meskipun tidak senang dengan ucapan Tristan ia tidak menunjukkan kekesalannya lagi. Toh apa yang ia lakukan dengan Bimasena tadi kadarnya lebih tinggi dari ucapan Tristan.
"Pinjam toiletnya," ucap Bimasena. Tristan pun menunjukkan kamar mandi.
__ADS_1
Pria itu ternyata tidak pernah masuk ke dalam kamar mandi. Saat Tristan masuk ke dalam kamar untuk berpakaian, Bimasena menggunakan kesempatan itu menghampiri Nadia di dapur yang sedang menyeduh kopi.
Bimasena tertawa melihat matanya membelalak begitu Bimasena mendekat.
"Tunggu di luar Bim!"
Namun tetap saja, Bimasena tidak beranjak dari sampingnya, masih tertawa nakal melihat tangannya yang gemetar. Sepertinya pria itu memang sengaja mengusilinya.
Rasanya ia ingin mencambuk pria yang teramat nakal itu. Tidak cukup nakalkah Bimasena waktu kecil?
"Ini nggak lucu Bim."
Apa ada di dunia makhluk seberani dan senakal Bimasena? Berani bermain-main di kandang singa?
Saat pintu kamar dibuka, barulah Bimasena melangkah ke ruang tamu. Seolah-olah baru keluar dari toilet. Caranya sangat tenang.
Setelah kopi sudah disiapkan, ia membawa baki yang berisi dua cangkir kopi, lalu berdiri di samping Bimasena dan meletakkan cangkir itu di meja tamu.
Ia merasakan sebuah tangan mengelus kakinya.
Membuat ia tersentak dan meremang. Tanpa sengaja menumpahkan hampir separuh isi cangkir.
"Bawa kopi aja nggak benar, ganti itu," seperti biasa, Tristan akan mengeluarkan ucapan yang kurang mengenakkan.
"Nggak usah diganti, untuk aku saja yang kurang itu. Sebelum kemari sudah ngopi di kantor." Bimasena yang berulah sehingga ia harus bertanggung jawab atas ulahnya.
Yang membuat ia terhenyak bukan karena teguran Tristan, tapi keberanian Bimasena mengelus kakinya di depan Tristan, meskipun Tristan sibuk menelpon Alfredo, Glen dan Angga untuk bermain catur.
Saat darah Nadia mengalir lebih cepat, Bimasena tetap tenang dengan wajah tanpa dosa. Bila Bimasena tidak berhenti nakal seperti itu, niscaya dalam waktu dekat mereka akan tergelincir ke dalam jurang.
Dan satu lagi kelihaian pria itu. Berpura-pura hendak keluar membeli rokok. Sehingga sebagai tuan rumah Tristan menawarkan diri.
Saat deru mesin kendaraan Tristan meninggalkan rumah, ia pun melempar protes pada Bimasena.
"Bim, kenapa kamu nakal banget sih? Kalau ketahuan kamu tahu kan konsekuensinya?"
Pria itu hanya terkekeh, dan yang mengejutkan karena Bimasena menariknya sampai ia duduk di pangkuan Bimasena. Lalu kedua tangan pria itu melingkar dengan erat di tubuhnya sehingga ia tidak bisa beranjak dari pangkuan Bimasena.
"Menyenangkan kan seperti ini? Memicu pelepasan hormon adrenalin ke dalam darah?" bisik pria itu di telinganya.
"Menyenangkan bagaimana? Memang ini sebuah game? Kalau kamu seperti ini terus aku bisa mati Bim. Jantungku tidak kuat tahu?" rengek Nadia.
"Aku kan sudah minta waktu, tapi kamu tidak ingin meluangkan waktumu. Mungkin kamu lebih senang kita seperti ini? Iya?"
"Nggak mau Bim!"
"Besok malam kita bertemu lagi. Ketemu di luar atau aku datang kesini lagi?" Pria itu mengucapkannya dengan lembut, membujuk sekaligus mengancam.
"Aku nggak mau ketemu kamu lagi!" Nadia memanyungkan bibirnya. Berpura-pura merajuk.
Tetapi Bimasena malah tertawa. "Baiklah, kalau begitu besok malam aku datang ke rumah ini lagi."
Nadia membelalak, bila Bimasena seperti ini terus, ia bisa mati sebelum ajalnya tiba.
"Jangan Bim! Baiklah kita bertemu di luar."
Licik bukan? atau dirinya yang bodoh?
Ia berusaha rileks berada di pangkuan pria itu sebelum Tristan kembali. Menikmati saat bibir lembut Bimasena menyentuh sisi lehernya, meninggalkan ciuman lembut yang menggugah.
Tetapi satu ucapan pria itu membuatnya terkesiap. Menyadari bahwa jalan yang mereka tempuh sama sekali tidak mudah.
"Nadia, cepat atau lambat hubungan kita akan diketahui Tristan. Karena itulah bagian dari proses yang harus dilalui untuk melangkah lebih jauh. Butuh mental yang cukup kuat untuk hal ini. Aku harap kamu bisa tangguh melewati rintangan yang tidak mungkin mudah. Karena hubungan kita diluar kewajaran."
******
Readersku tersayang,
Apa kabarnya hari ini? Semoga tetap dilimpahi dengan kesehatan dan kebahagiaan.
Terima kasih sudah menunggu UP nya novel ini.
Semoga bisa menghibur.
Salam sayang dari Author Ina AS
__ADS_1
๐๐๐