
Keinginan Bimasena adalah melalui malam yang panas bersama Nadia untuk menghabiskan malam terakhirnya di Indonesia. Karena besok ia harus kembali ke Venezuela.
Ada hasrat membuncah, yang lama terpasung dan mungkin ... ia tidak mampu lagi membendungnya malam ini.
Setelah menjadi janda, Nadia memasang rambu-rambu yang teramat banyak baginya. Rambu-rambu yang dipenuhi dengan tanda larangan. Dilarang memegang ini dan itu, dilarang mencium ini dan itu.
Persetan dengan semua markah itu.
Malam ini ia akan menggilas semua rambu-rambu yang dipasang oleh Nadia. Nadia harus mengganti semua malam-malam saat ia berada dalam kubangan rindu dan nyaris putus asa.
Ia tidak akan mengistirahatkan Nadia malam ini sampai pagi.
Tidak akan.
Malam ini akan menjadi malam paling melelahkan seumur hidup wanita itu. Untuk menebus dosa padanya, karena membiarkannya membeku menahan hasrat, terus menghindarinya dengan dalih sedang datang bulan.
Ia sudah gelisah menunggu Nadia yang sedang menyu sui untuk menidurkan baby Glor. Tetapi entah mengapa baby Glor masih enggan untuk tidur.
Biasanya bayi itu begitu mudah diajak bekerja sama. Tapi kali ini Glor seolah menjaga ibunya dari niat nakal ayahnya.
Ia duduk di belakang Nadia. Setiap kali ia mengintip dari balik punggung Nadia yang dalam posisi berbaring memunggunginya, maka puteranya itu akan berhenti meminum ASI lalu tersenyum padanya. Ingin mengajaknya bercanda dan bermain lagi. Seolah Glor belum puas seharian bermain dengannya.
"Mamma," celoteh Glor, mengangguk padanya.
Ayolah Glor. Berikan waktu untuk daddy dan mami malam ini. Bukankah kita sudah bermain seharian?
"Ayo bobo sayang. Besok pagi main lagi bareng Daddy. Glor ikut ke bandara kan antar Daddy?"
Tangannya mengusap-ngusap kepala dan pipi bayi yang sementara meminum ASI itu.
"Bim," pekik Nadia dengan wajah merona.
Karena tangannya yang mengusap pipi Glor tanpa sengaja menyenggol bagian tubuh Nadia yang terdekat dengan bibir Glor.
Tanpa sengaja?
Tentu tidak. Ia sengaja kok.
Mendengar ibunya memekik, Glor malah tertawa renyah.
Sangat lucu.
Tapi saat ini lebih baik bila Glor tidur saja dulu. Karena malam ini adalah malam milik orang dewasa.
"Kok Glor nggak mau tidur sih, Mi?" gumamnya.
"Kalau Glor liat kamu Bim maunya main terus. Mending kamu nunggu di ruang tamu," ujar Nadia.
Menunggu di ruang tamu? Why not ?
Mungkin calon nyonya ingin mengulangi apa yang pernah terjadi di sofa.
Akan kuberikan yang terbaik untukmu.
Sambil berjalan ke ruang tamu ia membuka baju kaos yang ia gunakan, lalu melemparnya begitu saja ke salah satu sofa. Biar gak perlu repot-repot membukanya nanti.
Apa celana jeans yang ia gunakan perlu dibuka juga?
Sepertinya tidak perlu dulu.
Mencegah jangan sampai Nadai memekik dan bersembunyi di kamar bila melihatnya hampir te lan jang.
Ia lalu tiduran di sofa panjang menunggu Nadia keluar dari kamar.
Akhirnya pintu kamar terbuka dan calon nyonya yang ditunggu-tunggu muncul juga dari dalam kamar.
Tapi ...
Ia berharap Nadia muncul dengan menggunakan lingerie dan berjalan dengan anggun ke arahnya untuk menggodanya.
Kenyataannya ...
Wanita itu muncul menggunakan pajamas set. Dilapisi dengan sweater pula.
Apa-apaan ulah Nadia?
Mungkin Nadia bisa menebak isi kepalanya dan membuat perlindungan dengan pakaian serba panjang dan berlapis.
Jangankan pakaian. Bahkan bila Nadia me-wrapping seluruh tubuh berlapis baja pun tidak butuh waktu semenit ia bisa membukanya.
Namun wanita itu memasang wajah merajuk, mata sembab pula karena menangis.
Apa yang terjadi?
__ADS_1
"Ada apa Sayang?" Ia bangun dan duduk di sofa panjang.
Tadi saat ia meninggalkan Nadia di kamar, wanita itu dalam keadaan baik-baik saja. Mengapa sekarang sudah menangis? Semudah itukah cuaca di Indonesia berubah-ubah?
Atau Nadia hendak bersandiwara? Agar ia tidak meminta layanan khusus malam ini?
Nadia menurut saja begitu ia menarik dan mendudukkan di pangkuannya. Dengan posisi seperti ini, singa lapar mudah menerkam mangsanya. Tapi harus meredakan tangis sang mangsa terlebih dahulu. Karena hidangan lezat bila diberi toping air mata akan berubah menjadi hambar.
"Kamu jangan pulang dulu, Bim. Aku belum rela," rintih wanita itu.
Jadi karena itu Nadia menangis?
Bukan hal serius kok.
"Nadia, semakin lama aku kembali ke Venezuela, semakin lama pekerjaanku di sana baru selesai. Bukankah kita harus menikah secepatnya?" ia menyeka air mata Nadia yang meleleh pada sudut mata.
"Tapi aku nggak percaya sama kamu Bim. Kamu nakal. Kamu pasti menggoda semua wanita di sana."
Bagaimana seandainya Nadia tahu bila di Venezuela ia tidak perlu menggoda wanita, wanita sendiri yang datang menggodanya?
"Nadia, kamu nggak tahu bagaimana sibuknya aku di sana. Nggak ada waktu buat menggoda wanita. Lagian juga bukan lagi saatnya aku menggoda wanita di sana. Sekarang yang ada dalam pikiranku bagaimana kita bisa menikah secepatnya."
"Tapi aku baca di internet, Venezuela surganya wanita cantik. Karena itu kan kamu mau kerja di sana? Terbukti kamu berkencan dengan Miss Venezuela."
Bagaimana ia tidak tertawa bila Nadia menangis karena cemburu yang tidak beralasan. Menyusahkan hati sendiri dengan menduga-duga.
"Kamu nggak perlu cemburu dengan Daniela. Atau Daniela-daniela yang lain. Karena satu-satunya wanita yang membuat aku bertindak melampaui logika hanya kamu."
Ia berusaha meyakinkan Nadia. Karena tidak ingin menghabiskan malam hanya berdebat tanpa bergulat.
"Nggak usah merayu. Aku tahu diri kok. Aku nggak ada apa-apanya dibandingkan wanita di sana."
Oh Nadia. Selalu saja menjatuhkan dirinya ke posisi terendah. Nadia sudah kehilangan rasa percaya diri yang dulu pernah dimiliki.
"Mi amor (sayangku). Te quiero a ti con todo lo que viene incluidao tus defectos, tu pasado, tus errores, tus celos, tus enojos." Ia kembali menyeka air mata yang tidak berhenti jatuh di pipi Nadia.
Nadia menatapnya dengan sungguh-sungguh. Ia berharap Nadia bisa 0percaya kepadanya, tapi ...
"Apa artinya?" tanya wanita itu.
Ternyata bukan pilihan bahasa yang tepat untuk Nadia.
"Aku mencintaimu sepenuhnya, bahkan dengan kekuranganmu, masa lalumu, kesalahanmu, kecemburuanmu, kemarahanmu."
Senyum yang sangat manis.
"Me gusta tu sonrisa." Jarinya yang berada di pipi Nadia bergerak ke bibir wanita itu.
"Apa lagi artinya?"
"Aku suka senyummu."
Wanita itu kembali tersenyum tapi kali ini disertai rasa malu. Menggeser pandangan ke kiri menghindari tatapannya.
"Nadia!"
"Iya?" jawab wanita itu, masih juga terisak.
"Mulai sekarang jangan panggil aku Bim lagi. Indra aja kamu panggil Mas."
Nadia tertawa saat mendengar ungkapannya.
"Jadi aku panggil Mas juga? Kita kan seumuran."
"Call me Daddy then I call you Mommy."
"Iiiiih risih ... kita kan belum menikah."
"Iya belum menikah tapi kita kan sudah punya anak."
Nadia akhirnya mengalah.
"Baiklah Bim."
Ia mengernyit kepada Nadia.
"Baiklah ... Daddy," ujar Nadia sambil tertawa malu.
Seperti inilah rupa wanita yang menangis sambil tertawa.
Nah, sekarang saatnya menuntaskan hasrat.
Ia memegang sweater Nadia. "Ini apa maksudnya? Pakai baju panjang-panjang, dilapisi sweater pula. Padahal udara nggak dingin."
__ADS_1
Nadia kembali tertawa padanya. "Trus ngapain juga kamu buka baju, padahal udara nggak juga panas?"
"Kamu? Daddy !" tegasnya.
"Iya Daddy. Ngapain Daddy nggak pakai baju padahal udara nggak juga panas?" Nadia menantangnya dengan suara yang serak sehabis menangis.
Sudah berani rupanya wanita yang duduk di atas pangkuannya.
"Aku mau menuntut hak ku."
"Hak apa?" Nadia mengerutkan keningnya.
"Hak seorang suami dari istrinya."
Sekarang mata Nadia membelalak ke arahnya.
"Tapi kita kan belum suami istri," kilah Nadia.
********
"Tapi kita kan belum suami istri," sahutnya.
Ia melihat kilatan hasrat yang menyala pada mata Bimasena. Membuatnya tiba-tiba gentar, seperti pasukan tentara yang hendak lari dari medan perang begitu melihat musuh.
"Mi, aku nggak mau berdebat. Aku nggak suka pakaianmu ini. Berdiri di depanku. Buka sweater, baju dan celana ini. Atau aku yang buka."
Bukan hanya garis wajah dan aroma tubuh Bimasena yang sangat maskulin. Suara pria itu juga penuh daya tarik seksualitas yang tinggi. Memberikan indikasi begitu banyaknya testosteron yang dimiliki pria tersebut.
Tetapi perintah pria itu membuatnya merinding, seperti mendengar nyanyian kuntilanak pada malam hari.
Tidak mungkin ia berdiri di hadapan pria itu, membuka pakaiannya. Kecuali kepala sudah terpenggal dari tubuhnya, sehingga ia tidak mengerti rasa malu lagi.
Ia lalu merapatkan tubuh pada Bimasena dan menopangkan dagu pada bahu kokoh pria itu. Demi menghindari tatapan mata cokelat tegas yang bisa menghipnotis.
"Jangaaan Bim. Nggak mauuuu," rengeknya. "Kamu kok badung banget sih, maunya berbuat dosa melulu."
"Bim lagi?"
"Jangan Dad." Ia sudah mengiba pada Bimasena.
Pria itu berhenti berbicara. Tetapi tidak dengan tangan. Karena ia merasakan tangan pria itu membelai punggungnya.
Bukan di luar sweater.
Bukan di antara sweater dan baju.
Tetapi di balik keduanya. Sehingga telapak tangan hangat pria itu bergesekan dengan kulitnya. Membuat darahnya berdesir dan mengalir lebih cepat.
"Bim jangan," ucapnya lirih, memejamkan mata.
Tangan pria itu adalah siksaan. Siksaan yang kadang-kadang ... menyenangkan.
Pria itu bahkan tidak protes lagi meski ia memanggil dengan sebutan Bim. Yang ia rasakan hanya deru nafas pria itu yang semakin berat.
"Kamu ingat berapa lama membuatku menanggung kedinginan dan kesepian?" suara pria itu berubah parau. Bahkan Bimasena sendiri juga sudah lupa dengan aturan sebutan Daddy dan Mommy.
Ia tidak menjawab, karena tubuhnya sudah membeku hanya akibat elusan tangan pada punggungnya.
"Kamu harus mengganti semua itu, malam ini." bisik pria itu penuh teror.
Apa malam ini ia masih bisa menghindar dari keinginan kuat Bimasena seperti malam-malam sebelumnya?
Bagamana caranya?
Ia melingkarkan tangannya dengan erat pada tubuh pria itu. Dengan begitu pergerakan Bimasena sedikit terkekang dengan pelukannya.
Tetapi tangan pria itu menyentuh sesuatu yang ia letakkan di dalam pakaian dalamnya, dan bertanya.
"Apa ini?"
"Pembalut," sahutnya. Angin panas menerpa wajahnya. Bagaimana bisa tangan pria itu berada di sana?
"Untuk apa pakai pembalut?"
"Kan aku haid."
Pria itu kemudian tergelak dan merenggangkan pelukannya. Sehingga pria itu bisa melihat wajah memerah yang sedari tadi ia sembunyikan.
"Memang haid itu berapa lama sih? Masa dari minggu lalu haid melulu. Mau membohongi aku ya?"
"Serius aku masih haid Bim," rengeknya, berharap Bimasena percaya dan tidak berniat macam-macam kepadanya.
"Wilayah teritorial Glor hanya yang bagian atas. Jadi Daddy nggak perlu minta izin pada Glor kalau mau memeriksa yang bagian bawah," tegas pria itu membuat mulutnya membulat.
__ADS_1
"Permisi Mi, Daddy mau periksa Mommy."