REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
22. Biarlah Hati Melebarkan Sayapnya


__ADS_3

Sejak kapan ia menjadi wanita yang suka melamun? Pagi ini Nadia menikmati sepotong roti dan segelas jus buah di teras rumah, sembari tersenyum-senyum sendiri. Apalagi kalau bukan karena mengingat makan malamnya semalam bersama Bimasena.


Pagi yang sangat indah. Langit biru tanpa awan. Kelopak yang tadinya hanya kuncup, mulai mereka. Memberikan warna pada taman kecilnya yang didominasi warna hijau rerumputan. Semilir angin yang menerpa wajah membawa rindu pada sosok semalam.


Mengapa selalu ingin dan ingin bertemu dengan pria itu? Padahal bila bertemu Ia menjadi tak karuan.


Apa pria itu merasakan hal yang sama dengannya?


Nadia, aku sudah berusaha untuk menghindari dan menjauhimu. Namun ternyata langkah ini terus mendekat.


Mudah-mudahan kamu mengerti. Ada sesuatu yang membuat aku tidak bisa menjauhimu. Maaf, karena ini akan mengganggu kenyamanan kamu.


Baginya, ucapan Bimasena belum begitu jelas maknanya. Ia belum bisa menarik kesimpulan.


Namun untuk apa ia menarik kesimpulan?


Jiwanya meringis merasakan rindu yang terlarang.


Jangan menaruh asa pada hubungan yang terlarang. Kamu harus kembali bagaimana seharusnya dirimu.


Ah tapi biarlah ...


Biarlah hati kembali melebarkan sayapnya.


Terbang bebas ke sungai, ke pantai, ke gunung.


Biarlah hujan turun sejenak di musim kemarau.


Agar jiwa yang kerontang, dapat mengerti kata sejuk, walau hanya sebentar.


Apakah ini pertanda, rasanya terhadap Tristan mulai goyah?


Lamunannya dibuyarkan dengan kedatangan tiba-tiba ibu mertua.


"Mama bawa kurma muda untuk kamu, penyubur kandungan. Sudah lima tahun kalian menikah belum juga dikaruniai keturunan. Apa kalian tidak resah? Adikmu sudah punya dua anak, kalian belum punya."


Nadia beruntung memiliki ibu mertua yang sangat perhatian. Bagaimana seandainya ibu mertuanya memiliki sifat tidak peduli seperti anaknya? Ya, ibu mertuanya seperti pengganti ibunya sendiri yang sudah tiada.


"Tristan nggak pernah merespon bila aku ajak ke dokter kandungan Ma. Nanti dan nanti saja ucapnya," keluh Nadia.

__ADS_1


"Nanti kalau Tristan pulang, Mama yang bilangin. Harusnya kalian berusaha lebih sungguh-sungguh memiliki keturunan. Mama lihat kalian cuek saja. Atau kalian memang tidak punya keinginan memiliki anak?" Ibu mertuanya membuka kotak yang ia bawa dan meletakkannya di meja makan.


"Kurma muda banyak digunakan sebagai obat alternatif dalam program hamil. Tidak hanya bermanfaat bagi kesuburan wanita, kurma muda juga dapat meningkatkan kualitas ****** pada pria. Jadi Tristan bisa mengkonsumsinya juga," lanjut Ibu Mertuanya.


"Caranya bisa dimakan langsung, ditumbuk hingga halus dan diseduh, atau dicampurkan dengan jus buah, hingga dimasak menjadi bubur."


"Oh ya, tadi malam Papa dan Mama dari sini tapi kamu nggak ada, kamu dari mana?"


Pertanyaan Ibu Mertuanya yang membuatnya tersentak dan harus berpikir cepat.


"Nadia dari mall Ma. Bosan tinggal di rumah jadi Nadia jalan-jalan."


"Sama siapa?"


Dua pertanyaan yang sudah menjebaknya ke dalam dosa karena mesti berbohong.


"Sendiri Ma."


"Nadia, meskipun suami tidak ada di rumah, istri keluar rumah tetap harus seizin suami. Tadi malam Papa telepon Tristan, Tristan tidak tahu kamu kemana. Ponselmu tidak aktif juga. Itu etika yang harus dipatuhi dalam berumah tangga," nasehat Ibu Mertuanya dengan intonasi suara yang lembut.


******


Sudah tiga hari Tristan berangkat liburan bersama Hakimah. Namun ia belum memiliki waktu untuk bisa berduaan dengan hakimah. Jadwal tour yang mereka ikuti terlalu padat.


Seperti gayung bersambut, Tristan demikian senang karena Hakimah bersedia turut ke pusat perbelanjaan terbesar di Ginza itu.


Mungkin bila ia bersama Nadia ke Plaza Ginza maka yang menjadi fokus Nadia adalah butik-butik termahsyur dunia yang ada di mall itu, ataupun produk-produk kosmetik jepang yang terkenal seperti SK II.


Namun Hakimah berbeda. Fokus wanita itu salah satunya pada sistem belanja yang diterapkan di mall itu. Terdapat beberapa produk-produk yang dijual di mall itu yang dibebaskan dari pajak pembelian dan pajak impor. Produk bebas pajak yang dibeli akan diantarkan ke konter pengiriman barang sehingga pengunjung tidak kerepotan membawa banyak tas belanja saat berkeliling mall.


Setelah puas berkeliling mall, mereka mengunjungi Kiriko Lounge yang berada di lantai 6. Sebuah cafe yang berada di dalam ruangan, namun serasa berada di area terbuka karena kafe ini memiliki langit-langit yang tinggi dan terbuat dari kaca.


"Arsitekturnya keren ya Kak," ujar Hakimah setelah mereka duduk di dalam Cafe sambil menikmati pemandangan kota Ginza.


" Bangunan ini didesain dengan konsep 'Vessel of light '. Dirancang sebagai wadah kaca yang terinspirasi oleh kerajinan tradisional Jepang dari potongan kaca Edo Kiriko," terang Tristan.


Sebelum berangkat ke suatu tempat, ia sudah harus mempelajari tempat yang ia tuju. Belajar seolah-olah anak sekolah yang akan menghadapi ujian. Seperti itulah beratnya bila bersama dengan wanita cerdas. Tentu ia tidak ingin tampak bodoh di depan Hakimah. Ia harus menjadi pria yang berwawasan luas dalam pandangan Hakimah.


Dengan ekspresi takjub Hakimah mengedarkan pandangannya mengamati fasad mall itu sambil bergumam,

__ADS_1


"Komposisi facade tiga dimensinya yang dari kaca menghasilkan beragam fenomena optik yang berasal dari refleksi sinar matahari. Keren banget Kak."


"Fasadnya menunjukkan berbagai ekspresi berubah oleh waktu dan cuaca. Arsitektur Plaza ini menyatu dengan seluruh lanskap kota, tambahan harmonis untuk urbanscape Ginza," sahut Tristan.


Tidak ada perkembangan berarti dengan hubungannya bersama Hakimah. Mereka mengobrol tanpa pernah menyinggung masalah perasaan atau urusan hati. Namun bisa mengajak Hakimah keluar berdua sudah merupakan milestone bagi Tristan. Langkah awal yang baik. Berharap kedepan lebih dimudahkan lagi.


*******


Dengan wajah serius Bimasena berkata pada seorang pria bernama Ardian di depannya. Pria yang menjadi orang kepercayaannya sejak ia kembali ke Indonesia.


"Nama perumahannya Pesona Kayla Indah. Aku ingin memiliki rumah Blok UU nomor 34 dan Blok UU nomor 36."


"Nama pemilik rumah Blok UU nomor 34 Basuki dan UU nomor 36 Afrizal. Bagaimana caranya kamu bujuk pemilik rumah agar mau melepaskan rumahnya kepadaku. Harga unit baru untuk type yang sama di perumahan itu tujuh ratusan juta. Kamu bermain di sekitaran harga itu." Bimasena menerangkan kepada Ardian.


"Kok, Pak Bima beli rumah di perumahan sederhana? Bukan di Pondok Indah, Pantai Indah Kapuk, atau Kelapa Gading misalnya?" Ardian memandangnya dengan pandangan heran dan bertanya-tanya. Mungkin Ardian mengira ia turun kelas atau sudah mulai bangkrut.


Tentu saja karena permintaannya rada aneh dan membingungkan. Kalau ia bisa membeli rumah di kompleks elit mengapa ia membeli perumahan sederhana?


Kalau masih ada unit baru di Perumahan Pesona Kayla Indah, kenapa mau membeli rumah yang sedang berpenghuni? Baru mau dibujuk pula agar penghuni ingin melepas rumahnya. Tentu saja keinginan Bimasena itu mencurigakan atau mungkin ia memiliki maksud terselubung.


"Aku membeli rumah ini bukan untuk ditinggali, tapi untuk investasi saja," Bimasena bisa melihat kecurigaan dari mata Ardian.


"Jadi yang aku bujuk pemilik rumah no 34 dan 36? Kenapa nggak sekalian no 35 Pak? Biar Pak Bima bisa memiliki satu deret sekaligus."


Dengan cepat Bimasena menggeleng. "Tidak Ardian, kamu bekerja sesuai perintah saja. Jangan lebih ataupun kurang. Dan ingat, jangan pernah menyebut namaku di sana. Pada pemilik rumah ataupun tetangganya. Terutama yang nomor 35 itu," tegas Bimasena.


Ia kembali menggeleng kesal atas inisiatif berlebihan Ardian untuk membeli sekalian rumah no 35. Padahal karena pemilik rumah no 35 itu, ia ingin mengosongkan dan memiliki rumah di kiri dan kanan rumah no 35.


"Lakukan secepatnya, bila pemilik rumah No. 34 dan 36 sudah sepakat, transaksi akan dilakukan oleh pengacaraku," perintah Bimasena.


"Saya usahakan Pak," ucap Ardian dengan ekspresi wajah yang masih menyimpan tanda tanya.


Bimasena berharap Ardian dapat diandalkan untuk urusan kali ini. Karena ia sudah mulai bergerilya.


*******


Readersku tersayang,


Apa kabar? berharap kalian tetap sehat-sehat saja. Untuk yang setia menunggu UP novel ini, mohon maaf karena jadwal UP nya tidak menentu. Author selesaikan dulu (Tak Bisa) Ke Lain Hati yang sudah mendekati akhir episode. Tetaplah bersabar 😁

__ADS_1


Salam sayang dari Author


😘😘😘


__ADS_2