REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
27. Reunion Part 1 / 3


__ADS_3

Mithalia sudah berada di rumah Nadia, karena ia harus tampil spesial besok malam di acara reuni. Karena reuni besok akan disponsori oleh Bimasena.


Bimasena sudah mereservasi tempat untuk acara reuni angkatannya, di sebuah rooftop hotel bintang lima. Sudah banyak teman angkatan yang mengkonfirmasi kedatangan, bahkan yang tinggal di luar kota. Tentu saja karena reuni kali ini lebih bergengsi, sebab Bimasena yang mengadakannya.


Mithalia meminta Nadia menemaninya mencari busana yang akan digunakan besok malam. Karena Mithalia ingin tampil spesial di hadapan Bimasena.


"Tristan, pinjam istrimu dulu ya. Temanin aku cari gaun untuk besok. Besokkan aku harus tampil spesial," pamit Mithalia kepada Tristan yang sedang duduk di ruang tamu menemani Mithalia.


Tristan mendengus melihat perjuangan Mithalia untuk merebut hati Bimasena. Ia lalu berucap,


"Mit, cara menarik pria tidak melulu dengan kecantikan dan penampilan yang menarik. Apalagi pria sekelas Bimasena, ia sudah dikelilingi perempuan cantik."


"Kamu harus menunjukkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang bisa membuatnya kagum."


Belum selesai ucapan Tristan Nadia menyela. Karena ia sudah tahu apa yang hendak diucapkan Tristan.


"Kamu harus cerdas dan berpengetahuan luas Mit. Begitukan Tristan?"


Tristan hanya menanggapi Nadia dengan tatapan kurang senang.


"Kata Angga kamu sering main catur sama Bima ya Tris? Apa dia sudah memiliki teman dekat atau pacar?" tanya Mithalia kepada Tristan. Tidak mudah bagi Mithalia mencari informasi tentang Bimasena.


"Sepertinya belum. Tetapi ia memiliki sekretaris yang sangat cantik dan sexy. Jadi, jangan hanya mengandalkan kecantikan saja," pungkas Tristan.


Dan saat Nadia sudah berada di dalam kendaraan menuju ke mall bersama Mithalia, Mithalia meminta sesuatu yang menggelikan padanya.


"Nadia, coba deh kamu hubungi Bimasena! Dia akan menggunakan pakaian apa dan warna apa besok. Biar bisa matching dengan busanaku nanti. Aku sudah menghubungi seorang MUA yang akan meriasku."


Nadia menatap Mithalia yang sedang mengemudi di sampingnya.


"Baik, tapi aku WA aja deh. Nggak enak nelpon orang penting seperti Bimasena. Syukur kalau telepon dijawab." Nadia bedalih, agar hubungannya dengan Bimasena tidak terbaca oleh Mithalia.


Hubungan? Hubungan apa maksudnya? Nadia juga tidak mengerti apa nama hubungannya sekarang dengan Bimasena. Hubungan yang tidak bernama dan tidak perlu diberi nama.


Nadia:


Bim, Aku bersama Mithalia sekarang menuju Mall. Mitha minta ditemanin mencari pakaian untuk reuni besok. Ia minta aku tanya kamu, pakai baju apa besok, warna apa. Biar bisa matching dengan busana Mithalia. Biar jadi pasangan serasi.


Ternyata Bimasena bukannya membalas pesannya. Malah meneleponnya. Tetapi tidak mungkin ia menerima panggilan Bimasena di samping Mithalia.


"Siapa yang nelpon, kenapa tidak dijawab?" Mithalia memandangi ponsel di tangannya yang layarnya ia sembunyikan dari penglihatan Mithalia.


"Pelanggan salon. Maunya dilayani besok malam. Tetapi kita kan lagi reuni." Nadia berdalih.


Beberapa saat kemudian sebuah pesan masuk dari Bimasena yang membuatnya tersenyum.


Bimasena:


Bisa tidak kamu mengirimi aku pesan yang bisa membuat aku senang? Tanya kabar misalnya? Dari dulu kamu menghubungi aku hanya urusan Mithalia melulu.


Ia pun memenuhi keinginan Bimasena.


Nadia:


Apa kabar Bim? πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›


Tetapi balasan Bimasena,


Bimasena:


Jangan menjulurkan lidah begitu. Nggak sopan. Belajarlah sopan pada calon Suami.


Pesan yang bermanis madu, membuat perutnya mengejang. Karena madunya hanya bisa dilihat, tidak bisa dinikmati.


Calon suami ? begitu entengnya Bimasena mengucapkannya sesuatu yang tidak mungkin. Apa pria itu tidak berpikir sebelum mengatakannya?


Tuhan. Mengapa Bimasena selalu membuat perasaannya jadi tidak menentu, bercampur aduk.

__ADS_1


"Bima belum balas?" Mithalia menyadarkannya yang sudah mulai membumbung ke atas.


"Belum."


"Ya udah, bantu aja aku pilih busana terbaik, karena kamu lebih mengerti fashion."


Niat hati menemani Mithalia mencari busana yang akan dikenakan untuk reuni besok, namun ternyata Ia tidak mampu menahan dirinya untuk tidak membeli pakaian baru yang akan digunakan juga untuk acara besok.


Meskipun tidak semahal dengan pakaian yang dibeli Mithalia, namun Ia juga ingin tampil menarik pada acara reuni besok.


Kenapa ya?


Entahlah. Kalian juga pasti tahu kenapa.


*********


"Kamu beli baju baru juga hanya untuk reuni? Ikut-ikutan Mithalia?" Tristan memperhatikan penampilannya dari atas sampai ke bawah.


"Nggak. Baju ini stok lama yang belum pernah terpakai." Nadia berkilah untuk menghindari kecurigaan Tristan.


Ia harus berpakaian menarik, karena wajahnya sangat menyedihkan dengan bekas-bekas cacar yang belum menghilang sempurna. Namun sedikit bisa tersamarkan dengan menggunakan concealer matte yang high-coverage. Sehingga ia tidak perlu begitu takut bila teman-teman bakal menghidarinya.


Bila untuk Mithalia ia pilihkan off shoulder dress, dress yang menonjolkan bahu karena Mithalia ingin tampil sexy, untuknya ia memilih peasant dress dengan bahan yang sangat ringan, bermotif floral dengan efek serut pada bagian atas. Dilengkapi dengan high heels dan clutches untuk menunjang penampilannya.


Ia sudah pernah ke hotel ini sebelumya. Sebuah hotel di kawasan Rasuna Said. Siapa sangka Bimasena mengadakan reuni di tempat mereka makan malam berdua kemarin. Namun ia memilih berjalan mengekor Tristan seolah-olah Ia belum mengenal tempat ini.


Saat Ia memasuki lift menuju rooftop Ia tidak akan pernah lupa bagaimana Bimasena mengarahkan ia ke pojok lift dan melindunginya agar ia tidak berdesakan dengan penumpang lift lainnya. Berbeda dengan Tristan yang tidak pernah memikirkan hal kecil seperti itu.


Jangan membanding-bandingkan suamimu Nadia. Alam bawah sadar menegurnya.


Begitu melihat Bimasena saat Ia keluar dari lift, jantungnya kembali berdebar, menghentak-hentak. Pria itu berdiri tidak jauh dari lift, dengan penuh tawa menyapa satu persatu tamu reuni yang datang. Terlihat sangat fresh dengan kemeja slim fit lengan panjang berwarna terang. Sangat bersinar dan memukau.


Nadia bersembunyi di belakang Tristan. Entah mengapa Ia tidak mampu menguasai dirinya. Matanya tidak kuasa untuk menatap Bimasena. Melihat aura Bimasena yang terpancar, Ia semakin kerdil saja dibuatnya.


Jantungnya semakin kuat menghentak manakala giliran Tristan yang beradu kepal tangan dengan Bimasena.


"Di sana Aku sudah siapin papan catur beserta hadiahnya. Sebentar kita turnamen, kalau perlu sampai pagi," ujar Bimasena menunjuk satu arah sembari memegang bahu Tristan.


dug


dug


dug


Jantungnya semakin tidak terkendali. Jantung yang menghentak begitu keras membuat badannya lemas. Seolah ia habis berlari cepat dengan jarak lari marathon. Terlebih melihat senyum di bibir dan mata tegas itu menyipit.


Nadia bahkan tidak tahu bagaimana caranya tersenyum karena gugup. Padahal Ia ingin menampilkan senyum terbaiknya. Karena ia memiliki gigi putih yang rapi. Tapi Ia lupa caranya.


"Nadia, you're very beautiful," gumam Bimasena sembari mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Nadia.


Dan saat tangan mereka saling menjabat ... Bimasena menjabat tangannya dengan sangat erat sambil menatap matanya.


Iya, sangat erat.


Dan belum melepaskannya melewati tempo yang wajar. Membuat badannya panas dingin dan kakinya melayang.


"Silahkan Nadia, pilih tempat yang nyaman!"


Terlambat sedetik saja Bimasena melepaskan tangannya, maka ia akan pingsan di depan Bimasena. Karena rasa gugup itu sudah bercampur takut. Di depan ada Tristan yang menunggunya.


Nadia segera melesat meninggalkan Bimasena.


Rasa menyenangkan, mendebarkan, mengkhawatirkan dan menakutkan bercampur aduk. Mengaduk-aduk.


Ketegangannya yang dirasakan, seperti bermain petak umpet, khawatir ketahuan. Hormon adrenalin meningkat sehingga dada menjadi berdebar-debar.


Saking tidak karuannya, Nadia merasa semua mata tertuju kepada Ia dan Bimasena, menghunuskan tatapan curiga. Namun setelah Ia perhatikan baik-baik, semua orang memiliki kesibukan masing-masing. Termasuk Tristan, sudah bergabung di kelompok catur. Ia pun bisa sedikit bernafas lega

__ADS_1


Tetapi tetap saja Ia berdiri di dekat kolam renang untuk menormalkan nafasnya yang memburu sebelum bergabung dengan teman-temannya.


Di tempat Ia berdiri, Ia baru mengetahui bahwa acara mereka dilaksanakan secara private. Tidak ada orang lain selain teman SMAnya di rooftop itu. Betul-betul Bimasena tidak tanggung-tanggung menyelenggarakan acara. Berapa anggaran yang sudah Bimasena keluarkan untuk acara reuni ini? Reuni di tempat yang paling eksklusif yang pernah mereka adakan.


Sekarang Ia sudah bergabung dengan Mithalia, Reyna dan beberapa teman perempuan lainnya. Dari tempatnya berdiri Ia mencuri-curi pandang pada Bimasena. Berkali-kali Bimasena memandang ke arahnya. Beberapa kali tersenyum. Namun Ia tidak membalasnya. Karena khawatir tingkah mereka terbaca oleh Reyna, yang pernah menjumpai mereka berdua di klinik dokter.


Tetapi Mithalia yang berdiri di sampingnya berbisik,


"Dya, kamu coba kamu perhatikan deh. Bimasena sebentar-bentar memandangiku, Dia beberapa kali tersenyum kepadaku. Aku deg-degan Nadia." Wajah Mithalia berbunga-bunga.


Jadi siapa yang diperhatian Bimasena? Aku atau Mithalia?


"Nadia, tanganku kok jadi dingin?" Mithalia menggenggam tangan Nadia, lalu berseru, "Tanganmu juga dingin, kamu sakit ya?"


Oh Mitha ... Apa yang harus aku katakan padamu?


Menu yang disajikan pun tidak tanggung-tanggung. Bisa menjebol dompet orang sekelas Nadia. Mulai dari caviar, sushi, aneka pasta dan pizza, salmon.


Beberapa jenis wine tersaji di sebuah meja khusus. Sangat memanjakan tamu karena minuman mahal itu tersaji dengan gratis sekarang. Juga tersedia minuman ringan lainnya dan aneka jus di sebuah meja yang berbeda.


Dari menu makanan saja sudah menunjukkan kelas Bimasena. Belum lagi tempat spesial yang ia reservasi. Sebuah band yang menyajikan live music. Dan hadiah untuk pemenang catur? Hadiah juara 1 sampai juara 3, merupakan ponsel yang berlogo buah apel tergigit dengan berbagai varian harga sesuai nomor juaranya. Harga ponsel untuk juara tiga saja belasan juta.


Seandainya Nadia menjadi istri Bimasena, Ia bisa terkena stroke bila mengetahui berapa uang yang dihamburkan Bimasena malam ini. Mungkin karena itu Tuhan menakdirkannya berjodoh dengan Tristan, bukan Bimasena.


Saat Nadia sedang asyik menikmati hidangan bersama dengan Mithalia, Reyna dan Afbianty di sebuah meja. Bimasena datang menyapa mereka.


Berdiri di samping Mithalia yang mendadak jadi manja dan kegeeran, tetapi mata tajam menatapnya. Membuatnya berpura-pura sibuk makan dan tidak menghiraukan candaan yang dilontarkan Bimasena. Siapa yang bisa membalas tatapan itu?


Dan ketika Nadia berdiri untuk mengambil orange juice di sebuah meja, Ia dikagetkan dengan keberadaan Bimasena di sampingnya. Bahkan saking kagetnya minuman yang ia pegang, tertumpah mengenai gaunnya. Bimasena buru-buru mengambil kertas tissue dan menyerahkan padanya.


Namun yang lebih mengagetkan adalah, karena di atas kertas tissue itu terdapat sebuah kartu.


Kartu apa ini?


"Itu access card. Sebentar tepat pukul setengah sembilan aku tunggu kamu di lantai 12, kamar 1210. Jangan terlambat Nadia. Nggak lama kok, nggak sampai setengah jam," ucap Bimasena, lalu pria itu meninggalkannya yang masih melongo.


Menunggunya di kamar 1210.


Tidak sampai setengah jam.


Apa yang akan dilakukan Bimasena padanya dalam waktu kurang dari setengah jam?


Memberinya hadiah?


Melamarnya?


Menciumnya?


Memeluknya?


Atau melakukan itu? Oh jangan gila Nadia, jangan pikirkan melakukan itu.


Tetapi sekarang Ia sudah hampir gila karena gelisah.


Memikirkan pukul setengah sembilan dan kamar 1210.


*********


Readersku tersayang,


Terima kasih sudah mengikuti novel ini. Novel yang sebenarnya Author siapkan untuk menjadi novel yang digarap selanjutnya bila novel (Tak Bisa) Ke Lain Hati telah tamat. Oleh karena itu untuk novel ini, Author belum bisa memberikan jadwal update. Mohon bersabar ya.


Novel ini ditulis sekedar untuk menghibur. Tetapi jangan ditiru ya? Terutama buat para mommy-mommy. 😁😁😁


Terima kasih atas segala dukungannya.


Tetap sehat dan bahagia selalu.

__ADS_1


Salam sayang dari Author Ina AS


😘😘😘


__ADS_2