
Mungkin seandainya bukan karena berharap bertemu pria yang teramat dirindukan, maka Nadia tidak ingin datang jauh-jauh ke Yogyakarta untuk mengikuti reuni yang disponsori oleh Afdal. Bukan karena tidak ingin mengikuti reuni. Tetapi akhir-akhir ini ia merasa kurang sehat. Tubuhnya tidak pernah fit.
"Kalau sakit nggak usah ikut," ucap suaminya, Tristan.
"Aku sudah lama nggak lihat Jogja," kilah Nadia. Tidak mungkin ia mengatakan ingin bertemu Bimasena, yang pada saat bersamaan baru pulang dari Australia.
"Nggak usah buang-buang duit buat ticket pesawat. Ticket pesawat sekarang naik karena akhir pekan. Bulan depan reuni lagi kok."
"Nanti aku ganti uang kamu Tristan bila kamu berat membeli ticket untukku." Nadia mengambil beberapa lembar seratus ribuan dari dalam dompetnya, lalu disodorkan kepada Tristan. Tetapi Tristan tidak menerimanya.
"Pakai bayar utangmu saja," ketus Tristan.
Nadia ingin membalas ucapan Tristan tetapi tenggorokannya tercekat. Seolah ada gumpalan yang menyumbat.
Entah berapa tahun lagi hutangnya lunas, agar Tristan berhenti menyindirnya.
Sepanjang jalan ke bandara ia dan Tristan sama-sama diam seribu bahasa. Tristan sibuk dengan gawainya sementara ia memejamkan mata, berusaha untuk tidur.
Begitu berada di waiting room bandara pun mereka memilih duduk berjauhan. Dan ketika berada di dalam pesawat, mereka duduk di seat terpisah. Nadia berpikir Tristan sengaja memilih seat yang berbeda dengannya saat melakukan check in.
Para alumni yang datang dari Jakarta dan beberapa daerah lainnya berkumpul di sebuah restoran ayam legendaris Yogyakarta. Saling menunggu satu sama lain sambil mencicipi menu khas restoran tersebut, yaitu ayam goreng kremes kering, berpadu dengan sambel terasi yang tidak terlalu pedas dan sedikit manis.
"Selamat datang di Jogja teman-teman. Semoga reuni kali ini menyenangkan buat kalian dan menjadi momen yang tidak terlupakan." Afdal, sang Jaksa yang menjadi sponsor acara menyapa para alumni yang telah hadir dan bergabung di restoran.
Setelah semua alumni yang mengkonfirmasi kedatangan, telah berkumpul di restoran, mereka berangkat menuju Kaliurang menumpangi bus pariwisata. Bimasena belum bergabung bersama mereka karena masih dalam perjalanan.
Untuk pertama kalinya Nadia mengunjungi Kaliurang. Di atas bus, ia duduk bersama Mithalia. Jalan yang ditempuh menuju Kaliurang menanjak dan berkelok.
Walaupun kondisi jalan konsisten menanjak sejak dari Pakem, tetapi jalannya sangat mulus, rindang, dengan udara bersih, segar dan adem.
KA Hotel Kaliurang, hotel pilihan Afdal di Kaliurang. Paduan sempurna nuansa kemewahan dan keindahan alam pegunungan. Pesona Gunung Merapi dapat dinikmati dari hotel ini. Dari luar hotel ini tampak sangat megah.
Interior lobby sangat menarik. Tersedia banyak sofa untuk bersantai. Lobby hotel menyatu dengan breakfast area.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Nadia mendapat kunci kamar. Tentu saja ia sekamar dengan Tristan suaminya. Tetapi ia masih gelisah, karena sampai saat ini Bimasena belum tiba di hotel, juga belum berkabar.
Kamar yang mereka tempati lumayan luas. Kasur ukuran queen bed. Kamar mandi dengan rain shower dan hand shower, serta air panas yg stabil.
Kamar itu memiliki balkon. Penasaran dengan pemandangan yang terlihat dari balkon, Nadia membuka pintu sliding dan melangkah ke balkon.
Dari balkon tersaji pemandangan lereng Gunung Merapi serta Kota Yogyakarta yang sangat mengesankan. Udara sore sangat sejuk dan segar, sangat cocok untuk pasangan yang berbulan madu. Sayang, ia dan Tristan tidak pernah memanfaatkan momen seperti ini. Yang lebih aneh, karena suasana hotel semakin menambah kerinduan kepada orang yang ditunggu-tunggu kedatangannya.
Saat ia kembali ke dalam kamar, Tristan sudah terlelap di atas tempat tidur. Udara sejuk yang cenderung dingin membuat tidur akan terasa nyaman.
Nadia segera mandi. Karena ia ingin bergabung dengan teman-teman yang sebagian sudah berada di rooftop. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia meninggalkan kamar dan menuju rooftop. Meninggalkan Tristan yang sedang terlelap dalam tidurnya. Mengabaikan rasa lemasnya yang kembali menyerang setiap sore tiba.
Di atas rooftop terdapat sebuah kolam renang yang berukuran luas. Pada sisi kolam renang terdapat sebuah restoran yang dibatasi dengan dinding kaca.
Di kolam renang, angin bertiup lebih kencang. Meskipun air kolam teramat dingin seperti air es, namun ada saja beberapa teman lelakinya yang berenang.
Pada pinggir rooftop beberapa temannya mengambil foto dengan latar Gunung Merapi yang diselimuti kabut. Nadia bergabung dengan mereka dan turut mengambil beberapa gambar.
Setelah puas berfoto dengan teman-temannya, Nadia bermaksud mengambil fotonya sendiri untuk kepentingan sosial medianya.
Ia meminta tolong pada Mithalia untuk mengambil fotonya sambil menyerahkan handphone miliknya kepada Mithalia.
Saat ia sudah berpose, menunggu diambil fotonya oleh Mithalia, Mithalia malah berkerut memandangi handphone-nya yang berdering.
"Kok Bima menelpon kamu?" tanya Mithalia dengan ekspresi penasaran.
Nadia pun jadi gelagapan. "Ga gak tahu kenapa, sini!"
Nadia mengambil handphonenya dari Mithalia, lalu segera menjawab panggilan Bimasena sambil menjauhkan jarak dari Mithalia yang memandang penuh tanda tanya kepadanya.
Nadia : Halo!
Bimasena : Nadia, kamu di mana?
__ADS_1
Nadia : Rooftop. Kamu dimana Bim?
Nadia sendiri tidak habis pikir dengan suaranya yang mendadak berubah manja seperti itu pada Bimasena. Apa ia tidak terlalu lebay? Atau karena ia tidak pernah bermanja kepada Tristan sehingga melakukannya kepada Bimasena?
Bimasena : Aku sudah di lobby. Tunggu aku disitu ya!
Ingin rasanya melonjak senang, sang pujaan hati segera tiba. Berhari-hari hati resah menunggu dia kembali. Biji asmara yang telah tertebar, sudah tumbuh besar tak terkendali. Mengakar dan menjalar kemana-mana.
Dengan hati berdebar menunggu Bimasena datang, Nadia setengah berlari ke toilet yang berada di balik dinding. Berusaha merapikan penampilannya. Menyisir rambutnya yang mulai kusut tertiup angin. Menyapukan kembali lipstik di bibirnya.
Setelah beberapa saat mematut dirinya di dalam cermin, ia siap bertemu Bimasena. Nadia keluar dari toilet, kembali ke samping kolam renang menunggu Bimasena.
Saat pintu lift terbuka, lalu wajah yang lama dirindukan itu muncul mengurai senyum, ingin rasanya berlari menyambutnya, menghambur ke pelukan hangatnya. Lalu menengadah demi mendapat hujaman ciuman dari pria itu.
Tetapi begitulah keadaannya. Hubungannya dengan Bimasena merupakan sebuah kegilaan yang harus disembunyikan. Kegilaan yang terus dinikmati. Sehingga ia hanya bisa berlari memeluk pria itu dalam bayangan saja.
Nadia bisa melihat Bimasena mengedarkan pandangannya. Ia yakin pria itu sedang berusaha menemukan dirinya diantara para teman-teman yang berada di rooftop.
Begitu mata mereka saling bertemu, senyum pria itu makin lebar. Ia pun membalas meskipun hanya tersenyum simpul agar tidak menarik perhatian. Cukup tautan mata yang mencurahkan rasa, saat kalimat tidak mungkin terucap
Jangan ditanya bagaimana hatinya yang berdebar-debar melihat wajah pria yang selalu menghuni ruang imajinya. Mengapa ia jadi malu bertemu Bimasena? Sungguh, ia sangat malu. Seperti bocah ingusan yang dihampiri seorang pria dambaannya. Mengapa?
Jantungnya menghentak-hentak manakala langkah pria itu terarah kepadanya. Apa Bimasena akan menperlihatkan kepada semua orang kedekatan mereka?
Oh tidak, jangan Bim. Ia pun dilanda rasa gelisah.
Ia tidak tahu harus senang atau bagaimana. Seorang wanita menghentikan langkah Bimasena. Mithalia.
Mithalia bergelayut pada lengan kokoh Bimasena dan bermanja-manja. Mengundang sorak sorai dari teman-teman yang berada di rooftop.
Tetapi mengapa ia jadi muak melihat pemandangan itu?
"Lagi rindu tuh Bang Bima. Cepetan bawa ke kamar." Satu suara terdengar, yang disambut riuh.
"Makanya jangan lama-lama ditinggal pergi. Anak orang gak kuat menanggung rindu." Suara lain menimpali.
Entah mengapa tiba-tiba perutnya menjadi tidak nyaman. Ia sangat muak dan jijik melihat tingkah Mithalia yang terus bergelayut dan bermanja-manja pada Bimasena, serta Bimasena yang tidak berhenti tertawa menanggapi kicauan teman-temannya.
Wajahnya memanas dan perutnya seperti diaduk-aduk. Emosinya naik ke puncak tertinggi. Nafasnya tersengal-sengal.
Begitu Bimasena memandang ke arahnya, ia pun menghunuskan tatapan benci penuh permusuhan kepada pria itu. Tetapi ia tidak bisa lama-lama menikam Bimasena dengan tatapan penuh amarah. Karena perutnya tidak bisa diajak berkompromi.
Dengan langkah tercepat ia menuju toilet. Menumpahkan isi perut bersama segala rasa amarah ke dalam wastafel. Berkali-kali ia muntah sampai tidak ada yang bisa keluar lagi dari dalam perutnya.
Setelah segala air maupun makanan yang berada di dalam perutnya, tidak ada yang tersisa lagi. Amarahnya pun sudah surat.
Ia memandang wajah kusutnya di dalam cermin. Tidak mengerti mengapa reaksinya terlalu berlebihan. Sangat bahkan, karena sekarang ia mulai menangis. Menyesali mengapa melabuhkan hati pada pria yang sudah jelas menjadi incaran banyak wanita. Tetapi jangkar sudah terlanjur menambat. Ia tidak akan berhenti merana.
Sehingga ia harus segera berhenti.
Ya berhenti.
Meninggalkan segala kegilaan ini. Yang begitu abu-abu akan indah di akhir waktu. Toh ia juga tidak punya kekuatan untuk mewujudkannya.
Nadia segera membasuh mukanya dengan air. Setelah mengeringkannya dengan tissue, ia pun berjalan keluar untuk kembali ke kamar. Lebih baik mendengar sindiran berulang dari Tristan, ketimbang melihat Bimasena bersama wanita lain, meskipun wanita itu hanya Mithalia. Tentu saja diluar sana ada ratusan Mithalia.
Tetapi saat kakinya melewati ambang pintu toilet, ia dikejutkan karena hampir menabrak sosok tinggi di depannya. Yang lebih mengagetkan lagi karena begitu melihat wajahnya, sosok itu adalah Bimasena.
Tanpa kata ia berusaha melewati pria itu. Tetapi lengannya lebih dahulu dicegat oleh Bimasena.
"Nadia tunggu ... kamu yang muntah-muntah tadi di dalam toilet?"
"Lepasin, aku mau kembali ke kamar!" Nadia berusaha melepaskan tangan Bimasena dari lengannya. "Nanti dilihat teman-teman," keluh Nadia.
"Kamu pucat banget Nadia, kamu sakit?" gurat wajah pria itu menunjukkan rasa cemas.
"Aku muak," sahutnya begitu saja. Meskipun ia menyesali ucapan yang terlontar. Karena sama saja mengatakan bila aku cemburu.
__ADS_1
"Kamu marah sikap Mithalia tadi? Jadi ceritanya cemburu nih?" Bimasena malah tertawa. Membuat ia ingin menelan bulat-bulat manusia di hadapannya.
"Kan kamu tahu sendiri dari dulu bagaimana Mithalia ke aku. Aku sudah berusaha menghindar, tetapi kan aku tidak bisa bersikap kasar mempermalukan Mitha Nad." Bimasena berargumentasi. Tetapi malah semakin membuatnya muak.
"Sekalian peluk aja wanita itu."
Suara dehaman membuat mereka berhenti. Dengan pandangan menuduh Reyna berjalan melewati mereka masuk ke dalam toilet. Ia pun sadar, mereka berdiri pada tempat yang tidak aman. Semua teman-teman alumninya berada di balik dinding, setiap saat bisa menuju toilet dan melihat mereka berdua.
Ia pun semakin marah pada Bimasena yang tidak ambil peduli, tetap memegang lengannya, meskipun Reyna melihat mereka.
Dengan segera ia menyentak lengannya dengan keras. Tetapi bukannya terlepas. Malah Bimasena menariknya masuk ke dalam toilet pria. Lalu masuk lagi pada salah satu dari tiga bilik di dalam toilet itu.
Ia pun membelalakkan mata kepada Bimasena. Membawanya ke dalam toilet pria? Bagaimana bila ada yang melihat ia berada di dalam toilet pria bersama Bimasena? Tentu saja akan menjadi gosip terpanas. Apalagi sebelumnya Reyna sudah melihat Bimasena memegang lengannya. Sebentar lagi aib mereka akan terbongkar.
"Kalau mau marah, marahlah, disini nggak ada orang." Pria aneh. Memasrahkan dirinya menjadi sasaran kemarahan. Sangat berbeda dengan Tristan.
Ia memang ingin marah. Tetapi lebih ingin segera meninggalkan toilet pria itu. Sekuat tenaga ia mendorong Bimasena yang menghalanginya dari pintu bilik.
Tetapi tembok di depannya terlalu kokoh. Tidak bergerak sedikitpun. Akhirnya ia memukul dada Bimasena berkali-kali sembari menahan suara, tetapi tak mampu lagi menahan tangis. Tangis karena hati yang kesal beradu dengan hati yang rindu.
Pria itu hanya tersenyum, memasang tubuh untuk dijadikan pelampiasan kekesalan sampai ia berhenti sendiri karena kehabisan tenaga. Apalagi yang sakit bukan dada Bimasena, malah tangannya sendiri.
"Puas?" seru Bimasena tersenyum. "Kamu lembut-lembut gitu ternyata bar-bar sayang." Pria itu malah tertawa.
Satu sikap buruk ia tunjukkan kepada pria itu. Tetapi ia tidak peduli. Yang jelas ia sudah meluapkan kekesalannya kepada Bimasena.
Tetapi lihatlah betapa memalukan dirinya!
Baru saja membabi buta menyerang Bimasena, sekarang bibirnya sudah berpagut dengan bibir pria itu. Malah menikmati kehangatan yang menjalar dari ciuman dan belaian lembut tangan pria itu pada punggungnya.
Dengan lihai, Bimasena kembali menerbangkannya ke awan-awan. Sehingga ia lupa sedang berada pada tempat dengan bahaya yang mengintai.
"All I do is think of you (Semua yang saya lakukan hanyalah memikirkan dirimu)," bisik pria itu lalu kembali melu mat bibirnya. Bisikan yang membius, membuainya dalam keindahan.
Ya, ia sudah kalah perang dari Bimasena. Yang muncul sebagai pemenang bukanlah yang menggunakan tenaga berbahan bakar emosi. Tetapi yang bisa bertahan menunggu sampai lawan kehabisan tenaga lalu memanfaatkan kelengahan lawan tersebut.
Saat kata tak dapat terucap diantara mereka. Lidah yang saling bertautlah mewakilkan. Demi membunuh rindu yang semakin membuncah. Dan menghangatkan jiwa yang rapuh karena sepi.
Kedua tangannya meremas lengan Bimasena. Wajahnya mendongak dan kakinya berjinjit untuk memberi kemudahan pada pria itu.
Dua tubuh semakin melekat tak berjarak. Dikelilingi bara api kerinduan, menari di awan-awan senja Kaliurang. Menggulung semua kerinduan, menembus udara dingin penuh kegelisahan.
Bimasena menjeda sejenak ciuman mereka, lalu berbisik pelan. "Kamu sehat sayang?"
Tutur lembut pria itu menghipnotisnya.
Nadia mengangguk. Meskipun ia tahu Bimasena meragukan ucapannya.
Bibir mereka kembali berpagut. Meluapkan semua isi kalbu. Ia bisa merasakan desiran-desiran. Setiap tangan Bimasena bergerak naik turun di punggungnya.
Berada dalam pelukan pria itu sungguh menggetarkan raga dan menyejukkan jiwa. Tubuh memadu kasih, menari dalam geliat-geliat yang berirama.
Detak jantung menggema. Nafas berkejaran. Dinding amarah dan keangkuhan telah roboh diterjang badai rindu. Yang ia tahu, ia sangat mendamba pria ini. Tidak ingin lepas dari pelukannya. Berada dalam pelukan Bimasena membuatnya ketagihan.
Senja di Kaliurang tidak lebih dari sekedar percakapan antara dekapan dan kecupan. Gemuruh di dada begitu liar begitu ia tidak berjarak seperti ini dengan Bimasena.
Siapa yang dapat menghentikan waktu? Agar ia tetap berada dalam pelukan sang kekasih. Tidak terpisah lagi. Ia tak sanggup menahan segala rasa, terutama rindu yang menjadi senjata pembunuh paling ampuh.
Tetapi semua mendadak berhenti. Saat pintu utama toilet terdengar terbuka. Lalu dua suara pria yang sedang mengobrol memasuki toilet. Ia pun terhempas ke bumi dan menyadari ia berada di mana.
Di dalam toilet pria.
Nadia pun panik seketika meskipun Bimasena tampak tenang-tenang saja. Tubuhnya mendadak menggigil dengan kaki gemetaran. Terlebih lagi mengenali dua suara pria yang mengobrol di luar bilik. Glen dan ...
Suaminya, Tristan.
Ia berada di ujung peluru.
__ADS_1
Di ambang kematian.