REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
99. Petualangan Terbesarnya


__ADS_3

Sifar kedewasaan seorang pria terlihat dari seberapa sabar dirinya menghadapi seorang wanita. Seperti kesabaran Bimasena menunggu perceraian Nadia dan Tristan.


Namun bukan sifat dewasa yang membuatnya bisa bersabar. Tetapi karena ia tidak memiliki pilihan lain. Sebab ia tetap harus berada pada jalur yang benar dan tidak boleh menempuh jalan menyimpang lagi. Termasuk mengulangi perbuatan yang mencurangi Tristan.


Lebih dari setengah tahun menunggu dalam ketidakpastian sembari bersembunyi dari jangkauan netra Nadia, bukanlah waktu yang sedikit. Bukan hal yang mudah bertarung melawan kekuatan rindu.


Terkadang ia merasa menjadi lelaki pecundang, hanya menunggu kesempatan tanpa menciptakan peluang.


Tetapi teori peluang dalam bisnis dan dunia kerja tidak serta merta dapat diterapkan dalam dunia percintaan. Karena percintaan melibatkan hati.


When life is too easy for us, we must beware (Ketika hidup terlalu mudah bagi kita, kita harus berhati-hati).


Seperti itulah dirinya terhadap Nadia.


Dengan mudah ia menaklukkan hati Nadia. Tetapi ternyata kesulitan untuk memiliki wanita tersebut.


Bukan hanya kesulitan untuk memiliki wanita itu, ia bahkan kesulitan untuk bisa bersama dengan buah hatinya, Glor.


Belajar dari pengalaman sebelumnya, kini ia harus lebih berhati-hati dalam menentukan suatu langkah. Agar tidak gagal kedua kalinya untuk memiliki Nadia.


Ia harus mengerem sifat pemburu dalam dirinya, menggantinya dengan sifat penyabar dalam menunggu.


Ia bahkan tidak boleh membuat kesempatan, tetapi menunggu kesempatan yang menempatkannya. Hal-hal yang sangat bertentangan dengan dirinya selama ini dan tidak masuk dalam kamusnya.


Namun ia terpaksa melakukannya karena rumus matematis tidak berlaku untuk urusan hati, sebab ada hukum kehidupan yang berlaku diluar kendali.


Hari ini, ia seperti kehabisan stok kesabarannya₩ menunggu.


Tidak mampu mencegah dirinya untuk tidak hadir dalam sidang pembacaan putusan perceraian antara Nadia dan Tristan.


Tetapi ia tidak masuk ke dalam ruang sidang. Hanya menunggu pada sebuah bangku berwarna cokelat di luar ruang sidang.


Orang yang pertama keluar dari ruang sidang adalah Tristan, bersama pengacara dan seorang wanita.


Ia pun berdiri dan berjalan menghampiri Tristan. Sekedar untuk menyapa dan berjabat tangan dengan sahabatnya itu. Meskipun bagi Tristan dirinya adalah mantan sahabat.


"Bro!" sapanya kepada Tristan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Namun Tristan hanya melesatkan tatapan sinis, kemudian berlalu begitu saja meninggalkannya tanpa kata.


Ya memang waktunya belum tepat untuk memperbaiki hubungan persahabatan dengan Tristan. Meskipun Tristan sudah memiliki calon pengganti Nadia.


Ia lalu berjalan menuju ruang sidang dan berdiri di ambang pintu.


Di dalam ruang sidang ia melihat Nadia menangis, berpelukan dengan Ibu Titiana.


Tidak seperti dirinya yang menyambut dengan senang perpisahan Nadia dengan Tristan. Juga tidak seperti Tristan yang mampu bangkit dari kegagalan dalam waktu yang singkat.


Nadia nampak berusaha tegar, tetapi gagal, tetap terlihat rapuh.


Membuat hatinya digelayuti rasa bersalah.


Karena dirinya adalah penyebab dari apa yang terjadi pada Nadia saat ini. Sembari berharap Nadia memberi kesempatan baginya untuk mengganti segala kesusahan hidup yang diderita Nadia dengan kebahagiaan yang ia tawarkan.


Ia menunggu Nadia di ambang pintu ruang sidang. Tidak masuk ke dalam ruang sidang.


Namun saat Nadia berbalik hendak keluar dari ruang sidang, wanita itu sangat terkejut melihatnya, sampai mundur beberapa langkah ke belakang.


Seseram apa wajahnya sekarang sehingga Nadia begitu terkejut?


Apa karena ia belum bercukur?


Setelah lama diam terpaku menatapnya, akhirnya Nadia berjalan ke arahnya berpegangan pada Lily. Raut wajah Nadia seakan hendak menghadapi malaikat pencabut nyawa di pintu ruang sidang.


Semenakutkan itukah dirinya?


"Siang Pak," Lily menyapanya.


Ia menanggapi Lily dengan menganggukkan kepala saja. Karena perhatiannya tidak teralih dari Nadia yang berwajah sembab. Keadaan Nadia begitu mengkhawatirkan.


"Kamu baik-baik saja?" sapanya kepada Nadia.


Bukannya menjawab, Nadia malah bengong dan kembali terpaku menatapnya.


Entah apa yang dipikirkan oleh Nadia tentang dirinya.


"Kamu baik-baik saja?" ulangnya, karena Nadia tidak kunjung menjawab.


"Iya, aku baik-baik saja," jawabnya Nadia gugup.


"Permisi, aku harus ke kantor," lanjut Nadia.


Nadia sepertinya buru-buru ingin meninggalkannya.


Dan ia tidak ingin membuat Nadia semakin tertekan, sehingga ia bergeser satu langkah untuk memberi akses keluar dari pintu.

__ADS_1


"Silahkan."


Memang bukan waktu yang tepat untuk menemui Nadia saat ini. Dan seperti inilah hasilnya bila terlalu terburu-buru.


"Berikanlah waktu kepada Nadia untuk berduka, Sekarang Nadia dalam tahap melewati krisis perasaan karena kegagalan pernikahan. Jadi berikanlah ruang kepada Nadia untuk memahami rasa sedihnya dulu, lalu datanglah pada waktu yang tepat." Nasihat Ibu Titiana kepadanya.


Datang pada waktu yang tepat? Berapa tahun lagi?


Maaf Ibu Titi!


Selama ini ia bisa bersabar tetapi bukan pria penyabar.


Ia hanya seorang pria yang bandel.


Terbukti dengan begitu malam tiba, ia tidak mampu menahan dirinya. Karena rasa rindu yang membuncah kepada seorang wanita bersama dengan puteranya, ia mengemudi ke rumah Nadia.


Ia tidak akan memberikan kesempatan kepada Nadia untuk berduka.


"Kenapa kamu datang?" Nadia membelalak dan mundur satu langkah begitu membuka pintu untuknya. Wanita itu memasang wajah tidak bersahabat.


Padahal ia berharap Nadia akan menghambur ke pelukannya. Ternyata waktu bisa membuat cinta berubah jadi benci.


Sepertinya usahanya selama ini untuk merebut hati Nadia telah sia-sia. Ia harus mulai kembali dari nol untuk menjatuhkan hati wanita tersebut.


No Problem, bila memang harus seperti itu. Ia tidak memiliki mental pengecut, yang menyerah dan mengangkat bendera putih di tengah perjalanan.


Ia yakin, mampu membalikkan kembali keadaan, benci jadi cinta.


Baiklah Nadia, bila itu maumu.


Ngomong-ngomong bicara soal Nadia, penampilan wanita itu sedikit berubah.


Untuk pertama kalinya ia melihat Nadia mengenakan daster. Khas wanita indonesia.


Rambut dipotong lebih pendek, sebahu.


Tubuh Nadia tampak lebih berisi.


Dengan tubuh sintal, Nadia memiliki kecantikan baru. Juga menggemaskan dengan pipi yang lebih berisi. Membuat otaknya lebih aktif dan terstimulasi atas perubahan bentuk tubuh Nadia.


Apalagi nampak jelas dari balik daster tipis itu, bila Nadia tidak mengenakan ... maaf ... bra.


Tanpa diperintah otaknya kembali berfantasi.


Mengapa otaknya begitu nakal dan tidak terkendali setiap melihat Nadia?


Ia mengikuti Nadia ke dalam kamar saat baby Glor menangis. Mendapati Nadia yang sedang me nyu sui baby Glor.


Tetapi begitu menyadari kehadirannya, Nadia sontak menutup dadanya dengan selimut bayi. Sehingga baby Glor juga ikut tertutup selimut.


Ia menahan dirinya agar tidak tertawa melihat kepanikan Nadia.


Mengapa perlu ditutup? Bukankah dirinya lebih senior dari Glor? Lebih dahulu mencicipi?


Meskipun ia menyibak selimut itu agar baby Glor tidak sesak nafas, Nadia kembali menutup dada dengan selimut bayi.


Apa Nadia tidak tahu, semakin ditutup semakin membuatnya penasaran?


Saat ia meletakkan tangan di pinggang Nadia, Nadia tersentak. Lalu diam seperti tidak bernafas.


Ia belum pernah merasa sebahagia ini, berada dalam jarang terdekat dengan orang yang diperjuangkan.


Bisa bercanda dengan Glor, yang begitu ramah menyambutnya. Meskipun wanita yang berbaring di antaranya dengan Glor sudah berubah menjadi patung bernyawa.


"Wawwa," celoteh putera tercintanya, mengangguk-angguk padanya. "Bibbi."


Tingkah anak dan ibu sama-sama menggemaskan.


Bagaimana kira-kira reaksi Nadia bila tangannya yang berada di pinggang Nadia, ia geser sedikit lebih ke atas? Ke bagian yang ditutupi Nadia dengan selimut bayi?


Belum sempat ia mengisengi Nadia, putera lucunya ternyata lebih iseng.


Menyingkap selimut yang menutupi da da Nadia untuk menemukan ASI yang sengaja disembunyikan sang pemilik.


"Terima kasih Nak, sudah memahami keinginan Daddy."


"Bim, tolong keluar!" pekik Nadia sebelum memberi ASI kepada baby Glor dengan wajah memerah.


"Aku belum puas menatap puteraku," kilahnya.


Melihat wajah bayi lucu secara bergantian melihat ibu si bayi, merupakan kenikmatan yang tidak terbeli.


"Juga belum puas menatap kamu," tambahnya, semakin menggoda Nadia.


Bagaimana mungkin dirinya ingin meninggalkan ibu dan bayi itu meskipun berkali-kali diusir oleh ibu si bayi?

__ADS_1


Ia tidak berhenti mengajak Glor mengobrol dan bercanda.


Glor silih berganti meminum ASI dan menanggapinya, berbicara dengan bahasa sendiri.


"Glor, susunya enak ya? Ada manis-manisnya ya? Bagi dong, Daddy juga pengen." Ia mengobrol dengan bayinya, sekaligus mengusili Nadia.


Glor seolah mengerti pertanyaannya, bayi lucu itu mengangguk dengan sangat menggemaskan padanya, "Babba."


Bersamaan dengan rasa sakit yang terasa karena kuku Nadia telah tertancap di tangannya yang berada di pinggang Nadia. Sehingga ia meringis, namun dibarengi tawa. Karena berhasil memprovokasi Nadia.


"Mami, tindakan kekerasan tidak boleh dipertontokan di depan anak, karena akan membekas kuat dalam ingatannya," paparnya, berlagak menasihati Nadia. Sembari belajar menjadi orang tua yang baik.


Wajah Nadia bersemu merah mendengar dirinya memanggil Nadia dengan sebutan 'Mami'.


Lama tidak bersua menyebabkan merpatinya yang dulu telah jinak kembali liar.


Berkali-kali Nadia menepis tangannya meskipun hanya memegang pinggang saja.


Namun ia sudah ahli dalam menjinakkan merpati yang giras.


"Nadia, tanganku cukup sopan dengan hanya memegang pinggangmu. Tapi bila kamu terus-terusan menepis, maka tanganku akan bergeser lebih ke atas atau ke bawah. Pilih mana, atas atau bawa?" Ia menebar ancaman yang mampu membuat Nadia semakin tidak karuan.


Tingkah Nadia seperti inilah yang selalu dirindukan dari wanita itu.


Sebenarnya ia merasa kasihan dengan Nadia yang begitu tertekan dengan kehadirannya. Namun ia begitu rindu pada ibu dan anak di depannya.


Akhirnya Nadia kembali menegang seperti kayu dengan wajah frustasi menghadapinya.


Sangat menyenangkan.


Dari posisinya, ia tidak bisa maksimal memandangi wajah ibu dan bayi itu karena dipunggungi oleh Nadia. Sehingga tanpa permisi, ia mengangkat baby Glor, meletakkannya diantara dirinya dan Nadia.


"Bim, kamu kenapa sih?" protes Nadia. Tentu saja karena malu meng-ASI baby Glor menghadap ke arahnya.


Tapi tidak ada pilihan bagi Nadia, karena baby Glor sudah menangis kelaparan. Dan baru tenang saat diberi ASI.


Ia menikmati perubahan wajah Nadia yang menjadi merah laksana udang rebus. Sementara tangannya bergerak membelai punggung baby Glor dengan lembut sampai puteranya lucunya terlelap.


Glor sudah terlelap, lantas apa yang akan ia lakukan pada ibu bayi itu?


Sebenarnya ia bukan hanya mengusili Nadia. Tetapi juga mengusili diri sendiri. Karena otaknya berubah liar setiap ia melihat Nadia. Beruntung bisa dinetralisir dengan jiwa kebapakannya karena ada baby Glor diantara ia dan Nadia.


"Permisi, aku ke kamar mandi," pamit Nadia. Padahal ia tahu, wanita itu hanya ingin kabur darinya.


Hampir setengah jam wanita itu berada di kamar mandi. Padahal tidak mandi.


Ia hanya bisa tertawa geli melihat tingkah Nadia yang seperti remaja kemarin sore.


Saat Nadia keluar dari kamar mandi, tidak kembali ke kamar lagi. Nadia duduk di sofa ruang tamu. Di tempat yang lebih aman dari sasaran kenakalannya.


Apa Nadia sudah lupa bila ia dan Nadia membuat Glor di ruang tamu?


Atau Nadia ingin ia mengulanginya di tempat yang sama?


Bila ia menginginkan sesuatu terhadap Nadia malam ini, maka tidak ada yang bisa menghentikannya.


Sehingga ia harus segera pamit pulang sebelum kehilangan akal sehat dan menjadi bocah kelaparan yang baru melihat nasi.


Tapi matanya menangkap sesuatu yang menarik di dekat jendela, yang membuatnya penasaran.


"Kamu masih merawat bunga ini?" ia mengagetkan Nadia yang sedang melamun di ruang tamu, sambil memperlihatkan bunga baby breath di tangan kanannya.


Lalu ia berjalan dan duduk di samping Nadia. Tapi Nadia bergeser menjauh untuk menjaga jarak dengannya.


"Memangnya kenapa kalau aku merawat bunga itu? Bunganya cantik, sayang bila dibuang," sahut Nadia, masih bersungut-sungut padanya.


"Aurel pintar ya memilih bunga untukmu," gumamnya, tapi membuat mata Nadia membelalak.


"Jadi ... bunga ini dari Aurel, bukan dari kamu?" tanya Nadia menunjuk bunga putih yang ia pegang dengan tatapan tidak percaya.


"Iya, aku yang minta Aurel untuk mencari bunga pengganti baby breath yang dirusak Tristan. Yang dirusak Tristan itu dari aku. Tapi yang ini, dari Aurel," Terangnya sambil meletakkan bunga itu di sampingnya.


Nadia berdiri seolah hendak menerkamnya, tapi ternyata wanita itu kurang memiliki pasokan nyali.


Akhirnya Nadia hanya berdiri mengomel di depannya.


"Biiiiiim, kamu tahu, aku susah payah merawat bunga ini agar tetap hidup karena aku pikir dari kamu. Bunga ini bahkan lebih rewel dari Glor. Tau bukan dari kamu, sudah lama aku melemparnya ke tong sampah. Menyusahkan ......"


Nadia, nadia. Awalnya berjual mahal. Tetapi kemudian tanpa sadar mengungkapkan sendiri perasaan kepadanya.


Ia hanya tertawa melihat Nadia mengomel kepadanya. Semakin menarik. Malah membuatnya bertambah gemas.


Tidak sabar ingin segera menikahi wanita di depannya. Wanita yang menjadi petualangan terbesarnya.


Nadia dan Glor, adalah kehidupan impiannya.

__ADS_1


*********


__ADS_2