REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
25. Selalu Memikirkanmu


__ADS_3

Bimasena sedang mengikuti rapat di PT. Pertamina Hulu Indonesia, sebuah anak perusahaan dari PT. Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang hulu minyak dan gas.


Rapat membahas masalah tumpahan minyak di area pantai Karawang. Tim Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) akan bekerja sama dengan Tim dari FreddCo Energi, bersinergi dengan berbagai pihak untuk membersihkan sisa ceceran minyak.


"Secara rutin kami akan menurunkan tim kami untuk melakukan flyover atau pemantauan dari udara untuk memetakan lokasi sisa tumpahan," imbuh Bimasena dalam rapat itu.


"Kami juga akan mengerahkan beberapa kapal untuk membantu Pertamina melakukan pembersihan dari laut ke sisi darat," lanjut Bimasena.


Selama rapat berlangsung, Bimasena kurang bisa berkonsentrasi pada materi rapat. Ia terus memikirkan Nadia yang sedang sakit. Tetapi ia sudah terkendala untuk menghubungi Nadia, karena Tristan sudah kembali dari Jepang.


Akhirnya Bimasena setelah rapat usai, Ia menghubungi Tristan, menggunakan alasan bermain catur demi mengorek informasi kondisi Nadia.


Bimasena: Udah di Indonesia Bro?


Tristan: Udah Pak Bro. Tadi pagi.


Bimasena: Catur yuk.


Tristan: Boleh. Entar malam. Tapi di Apartemen kamu aja. Jangan di rumah. Sekarang untuk sementara aku tinggal di rumah ortu.


Bimasena: Kenapa?


Tristan: Nadia kena cacar air. Diisolasi di rumah.


Nadia kena cacar air? Mungkin karena itu ia demam kemarin. Tetapi Tristan mengisolasi Nadia maksudnya?


Bimasena: Maksudnya kamu tinggalkan Nadia di rumah sendiri?


Tristan: Iya, mengantisipasi kemungkinan tertular Bro.


Bimasena berdecak kesal karena Tristan malah meninggalkan Nadia yang sedang sakit sendirian. Bagaimana bila keadaan Nadia memburuk dan ia sedang sendirian? Baginya apa yang dilakukan Tristan sangat tidak masuk akal.


Bimasena: Seandainya Nadia adik gua, gua udah benturkan kepala lo di tembok bro.


Untung saja Tristan malah tergelak. Karena ucapan itu keluar begitu saja dari bibirnya, sebab hatinya sedang marah atas sikap Tristan kepada Nadia.


Tristan: Pola pikir kita berbeda Bro. Aku harus mencegah virus menyebar lebih luas. Lagian aku sudah mengirim obat cacar dari dokter untuk Nadia di rumah kok. Hati kamu kok sensi banget, kayak perempuan saja.


Tristan kembali terbahak.


Bimasena menggerutu kesal setelah mengakhiri sambungan teleponnya dengan Tristan. Ia menghubungi Tristan untuk mencari jalan, alasan agar bisa datang ke rumah mereka. Untuk memastikan keadaan Nadia.


Namun ternyata Nadia lebih mengkhawatirkan dengan kehadiran Tristan, karena Tristan memilih meninggalkan Nadia hanya karena takut tertular.


Entah mengapa ia merasa alergi dengan pria yang tidak mampu menjujung harkat dan martabat seorang istri. Mungkin karena pengalaman melihat penderitaan ibunya dulu. Karena itu pula sampai sekarang Ia belum mencari dimana ayah kandungnya berada.


*******


Nadia sudah menerima kiriman obat cacar air dari Tristan melalui kurir. Namun malah semakin membuat hatinya meradang.


Apa arti kalimat bersama dalam suka dan duka?


Apa berbeda dengan sehat dan sakit?

__ADS_1


Ketika sedang sakit Tristan malah meninggalkannya sendiri. Disaat Ia tidak berdaya dan membutuhkan bantuan.


Suami macam apa?


Lalu apa yang membuatnya bertahan pada Tristan sementara hatinya sudah sering tersakiti?


Jawabannya karena ia belum memiliki modal apa-apa bila bepisah dengan Tristan saat ini.


Rumah yang dijadikan salon adalah milik orang tua Tristan. Modal membuka usaha salon diperoleh dari orang tua Tristan. Rumah yang mereka tempati juga milik Tristan.


Bila mereka berpisah tentu Tristan akan menarik semua miliknya, dan apa yang bisa ia lakukan?


Kembali ke dunia modelling? Tidak mungkin Ia bisa bersaing lagi. Sudah banyak model yang lebih muda dan cantik. Saat masih berumur dua puluhan saja ia gagal bersaing, apalagi sekarang, sudah berumur tiga puluh tahun.


Lantas bagaimana dengan angsurannya di bank tiap bulan? Angsuran hutang kakaknya dan angsuran mobilnya?


Bagaimana dengan biaya pendidikan para ponakannya? Apa ia harus membiarkan ponakannya putus sekolah?


Berharap pada Bimasena?


Bagaimanapun ia masih memiliki harga diri. Lebih baik hidup diremehkan oleh Tristan dari pada menjatuhkan harga diri di mata Bimasena.


Lagian ia tidak mudah percaya pada pria lagi. Tristan dulu juga pria yang baik saat mendekati dirinya. Siapa sangka seiring waktu Tristan berubah menjadi gunung es?


Bisa jadi Bimasena juga seperti itu. Atau mungkin, boleh jadi Bimasena hanya bermain hati. Orang seperti Bimasena dikelilingi wanita cantik. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya untuk pria sekelas Bimasena. Ketika pria itu bosan, ia bisa berpaling ke wanita lain.


Sehingga Ia tidak akan mengambil sebuah keputusan berani bila belum mampu berdiri di atas kaki sendiri.


Ia juga masih menjunjung tinggi janji yang sudah terpatri saat menilah duku. Menghibur diri bahwa apa yang terjadi saat ini merupakan ujian pernikahan yang harus mereka lalui. Tentang sikap Tristan dan tentang hatinya yang berpaling kepada Bimasena, Ia anggap prahara rumah tangga yang harus diselesaikan.


Kenapa Tristan kembali? Pasti orang tuanya meminta ia kembali.


Rasa sakit pada hatinya membuat Ia berjalan dengan enggan untuk membuka pintu buat Tristan. Lebih baik pria itu tinggal bersama orang tuanya, dari pada bersamanya tetapi selalu menyakiti.


"Kenapa kembali?" tanya Nadia saat ia membuka pintu. Namun ternyata Ia malah terkejut begitu mengucapkan pertanyaan tersebut. Karena yang berdiri di depannya bukan Tristan. Tapi ...


Bimasena.


"Bim!" serunya tidak percaya.


Bagaimana ini? Wajahnya sangat memalukan, ditumbuhi bintil-bintil berair. Begitupun kulitnya. Bimasena pasti akan jijik melihatnya dan akan takut tertular bila mengetahui ia terkena cacar air.


Nadia pun mundur beberapa langkah.


"Bersiaplah Nadia, aku antar kamu ke dokter," ujar Bimasena tersenyum kepadanya.


"Tidak usah Bim. Aku sudah memiliki obat. Sebaiknya kamu pulang. Aku terserang cacar air, jangan sampai kamu tertular," tolak Nadia semakin menjauhkan jarak dari Bimasena.


"Aku tahu Nadia kamu terserang cacar air, makanya aku datang kemari. Aku akan membawa kamu ke dokter terbaik agar cacar airmu cepat sembuh."


"Tolong nama dan alamat dokternya saja Bim. Biar aku berangkat sendiri. Naik taxi online. Jangan dekat-dekat Bim, nanti kamu tertular. Sebaiknya kamu pulang saja."


"Tidak Nadia, Aku nggak akan tertular. Juga tidak takut tertular. Berkemaslah. Aku tunggu di luar."

__ADS_1


Dengan mata yang berkaca-kaca Nadia menatap punggung Bimasena yang berbalik, naik ke atas mobil dan menunggunya di sana. Mengapa justru pria itu yang memberikan perhatian disaat sekarang? Bukan Tristan suaminya?


Ia akhirnya menyadari, bukan hanya Bimasena yang menghancurkan benteng pertahanannya. Tapi karena keterlibatan Tristan sendiri.


"Aku naik mobilku sendiri Bim, kalau aku naik mobilmu virusnya bisa menyebar di udara, tinggal di jok mobil, bisa menulari siapapun nanti yang menumpang mobilmu," ucap Nadia saat ia sudah selesai mengunci pintu rumahnya. Tentu ia tidak akan lupa ucapan Tristan, bagaimana virus itu mudah menular.


Bimasena menggeleng. "Kamu sakit Nadia, mana bisa bawa mobil sendiri," ucap Bimasena malah mengarahkan Nadia untuk naik ke mobil Audy R8 itu.


"Aku duduk di jok belakang saja, kita harus jaga jarak. Virus cacar air dewasa sangat mudah menular. Jangan sampai menular ke kamu Bim," tukas Nadia dengan wajah khawatir.


Namun Bimasena tidak menghiraukan kata-katanya. Tetap memintanya duduk di sampingnya.


*******


Sejak berangkat dari rumahnya, wanita itu tidak pernah bersuara, hanya melempar pandangan ke jendela samping. Namun dari gerakan bahunya, nampak ia sedang menangis.


"Nadia!" Bimasena memanggil namanya.


Nadia diam saja, tidak menyahut. Hanya sesenggukannya sekali-kali terdengar.


"Nadia!" Bimasena mengulanginya lagi.


Nadia tetap tidak menyahut, malah duduk serong ke arah jendela samping memunggunginya.


"Hey, kenapa menangis?" Bimasena berusaha meraih bahunya, namun urung menyentuhnya. Tidak sopan bukan? Nadia istri orang.


Nadia malah semakin terisak.


"Ada yang sakit?"


Nadia menggeleng.


"Atau karena ..." Bimasena agak ragu menyebutkannya, "Tristan?"


"Harusnya saat ini aku bersama Tristan Bim, bukan kamu." Akhirnya suara Nadia terdengar meskipun lirih dan tertahan.


Bimasena menghela nafasnya, mencoba mencari kalimat yang tepat untuk menghilangkan sakit hati Nadia kepada Tristan.


"Lihat dari sisi positifnya saja Nadia. Tristan menghindari agar ia tidak tertular. Karena bila ia tertular, orang-orang di kantornya kemungkinan tertular juga. Bila orang di kantornya tertular, mereka akan membawa ke keluarganya. Jadi Tristan orang yang baik, memikirkan kesehatan orang banyak Nadia."


Mengapa ia justru membela Tristan? Bukankah Ia menganggap Tristan rivalnya?


Tidak, Ia tidak akan memakai cara seperti itu. Memanfaatkan kelemahan Tristan lantas menusuknya dari belakang.


"Lalu kenapa kamu tidak memikirkan dirimu Bim? Mengapa kamu tidak memikirkan orang-orang di kantormu? Kenapa kamu tidak memikirkan orang banyak?" Nadia malah menggunakan kalimat pembelaannya bagi Tristan untuk menyerang dirinya. Berarti pilihan katanya tidak tepat.


********


"Lalu kenapa kamu tidak memikirkan dirimu Bim? Mengapa kamu tidak memikirkan orang-orang di kantormu? Kenapa kamu tidak memikirkan orang banyak?" Ia menyerang Bimasena yang justru membela Tristan sambil menatap wajah pria yang sedang serius menatap jalan raya sambil mengemudi.


Pria itu malah tertawa. Lalu menghembuskan nafas panjang.


"Ah Nadia, di otak dan hatiku sekarang yang ada hanya kamu. Tanpa aku perintahpun terus memikirkan kamu. Sekarang kamu yang menguasai pikiranku. Tidak ada ruang lagi yang tersisa untuk orang lain apalagi orang banyak."

__ADS_1


"Kamu tahu bagaimana rasanya jatuh cinta pada istri orang? Kamu tahu bagaimana rasanya merindukan istri orang? Lebih parah daripada cacar air. Lebih menyiksa daripada cacar air. Jadi jangan bersedih Nadia. Karena yang aku alami lebih parah dan lebih menyiksa."


__ADS_2