REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
127. The Blue Night


__ADS_3

Nadia adalah ratu di rumah itu. Dikelilingi tiga pria tampan bermata cokelat.


Kehadiran bayi mungil penyejuk mata yang membawa kebahagiaan baru bagi keluarga kecilnya, juga menambah kesibukan baru dan kerepotan baru.


Kesalahannya adalah, terlambat mengajari Glor mengganti ASI dengan susu formula. Hanya karena dokter membolehkan dirinya menyusui Glor saat sedang hamil. Tetapi dengan syarat, mengonsumsi makanan bergizi seimbang agar nutrisi pada bayi di dalam kandungannya serta produksi ASI untuk Glor yang masih menyusui pada saat yang bersamaan tidak terganggu.


Kini saat ia kembali dari rumah sakit bersalin, ia dan suaminya kerepotan mengatasi Glor yang tidak berhenti menangis karena menginginkan ASI.


Satu lagi, Glor belum ikhlas berbagi ibu dengan baby Frey. Belum rela bila perhatiannya selama ini yang merupakan milik Glor seutuhnya, teralih ke baby Frey. Masih cemburu bila ia menyu sui ataupun menggendong baby Frey.


Sehingga suaminya harus mengambil cuti beberapa hari untuk mengajari putera sulung beradaptasi dengan situasi baru dan bisa menerima serta menyayangi baby Frey, sang adik.


"Mimi Mamiii!" Glor terisak-isak dalam gendongan Bimasena, menunjuk ke arahnya yang sedang menyusui baby Frey.


"Glor minum susu ini ya?" Bimasena menyodorkan ke mulut Glor, botol yang berisi susu. Tapi Glor menggeleng, menolak susu tersebut.


"Mmmau, mimi Mamiii." Glor tidak berhenti menangis, membuat hatinya tidak tega. Ingin rasanya memberi asupan ASI kepada putera sulungnya tersebut. Tetapi cepat atau lambat Glor harus berhenti meminum ASI. Sehingga saat ini adalah waktu yang tepat.


"Susu ini lebih enak loh dari susu Mommy. Daddy udah coba. Ini lebih manis dari susu Mommy, " rayu Bimasena yang membuatnya tidak mampu menahan tawa.


Namun yang paling lucu baginya adalah saat ia masuk ke dalam kamar mandi dan suaminya harus menjaga dua anak sekaligus, lantas dua anak itu menangis secara bersamaan.


"Jangan nangis dong, kalau kalian nangis berbarengan, nanti Daddy juga ikutan nangis," bujuk suaminya. Memangku Glor yang sedang menangis sambil menepuk-nepuk Frey yang dibaringkan di atas tempat tidur.


Dari balik pintu ia mengintip bagaimana cara suaminya menenangkan dua anak yang sedang menangis. Semakin lama tangis dua anak mereka semakin kencang. Dan akhirnya suaminya menyerah, berteriak dengan suara yang lebih kencang dari tangis anak-anak itu.


"Miiiii, cepetaaan!"


Ia pun keluar dari kamar mandi sambil tertawa, menertawai wajah suaminya yang kewalahan.

__ADS_1


"Katanya mau kesebelasan, baru dua aja udah kewalahan," oloknya. Berbaring di samping baby Frey dan memberikan ASInya.


"Jadi ... mau nambah lagi, Dad?" tantangnya, tersenyum nakal pada suaminya.


Bimasena mengulum senyum, lalu berdiri menggendong Glor, berusaha menenangkan puteranya yang kembali meminta ASI.


"Glor udah besar. Anak besar nggak boleh minum ASI lagi. Yang boleh hanya anak bayi dan orang dewasa," gumam Bimasena pada puteranya.


Waktu untuk mereka berdua adalah saat kedua puteranya sudah terlelap.


Setelah puas memandangi wajah anak-anak mereka, berdiskusi panjang lebar tentang masa depan yang disiapkan Bimasena untuk Glor dan Frey, ia beranjak dari tempat tidur menuju meja rias. Meninggalkan Bimasena yang masih berbaring menemani dua putera mereka, Glor dan Frey.


Ia mengamati perubahan perut dan pinggul di dalam cermin sebelum duduk di kursi meja rias menghadap ke cermin. Memulai ritual malam dengan semua skin care -nya. Sebelumnya, ia cepol terlebih dahulu rambutnya ke atas.


Ia tersenyum serta menghentikan aktivitasnya begitu melihat dari dalam cermin, suaminya berdiri di belakangnya. Ia segera memperbaiki posisi tali gaun tidur satin yang ia gunakan, agar ia tidak tampak sensual. Sebab bukan waktu yang tepat memancing hasrat suaminya, mengingat ia masih dalam keadaan nifas.


Namun saat ia menaikkan tali gaun tidur ke bahunya, suaminya malah menurunkannya lagi.


Tetapi ternyata ia terlalu berprasangka terhadap suaminya. Karena Bimasena bukannya nakal seperti yang ia duga.


Tangan pria itu memegang sesuatu, sebuah kotak perhiasan. Kotak perhiasan tersebut diletakkan di atas meja. Lalu membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah kalung yang berkilauan. Memasang kalung tersebut pada lehernya.


Kalung berlian permata biru tua.


Lebih berkilauan dari kalung safir yang pernah diberikan Bimasena sebelumnya. Membuatnya tertegun. Nafasnya berhenti melihat betapa indah kalung itu melingkar pada lehernya.


"The Blue Night Diamond. Untuk isteriku tersayang. Sebagai ucapan permintaan maafku karena telah melewati dua momen yang berat, melahirkan dua puteraku sendirian, tanpaku menemaninya," desis suaminya, membungkuk lalu mengecup puncak kepalanya.


Sementara ia masih terpana ke dalam cermin, terpukau melihat kilauan dan indahnya kalung itu.

__ADS_1


Ia melihat seorang ratu di dalam cermin.


Tetapi mendadak dirinya menyadari suatu hal.


"Dad, berapa harganya?" Lagi-lagi ia menoleh ke arah atas, pada suaminya yang kembali berdiri tegak. Tidak menemukan pertanyaan yang lebih sopan dan cerdas untuk ditanyakan.


Bimasena tertawa ringan seraya berucap, "Lebih mahal dari sebuah mobil sport. Tetapi kalung itu tidak ada artinya dibandingkan dengan pengorbanan kamu sayang," terang suaminya. Meletakkan dua tangan pada bahunya.


Tetapi ia tidak fokus pada semua kalimat pujian yang diungkapkan suaminya. Ia hanya fokus pada harga kalung yang lebih mahal dari sebuah mobil sport. Memang ia terlihat norak dan konyol.


Mendadak tubuhnya meremang, pandangannya berkunang-kunang, kepalanya terasa berat. Karena yang menggantung di lehernya lebih berat dari sebuah mobil sport.


*********


Kok pendek? Mau lagi... protes readers pada bab sebelumnya. Makanya Author double up. Tapi jangan minta lagi ya πŸ˜„ Author kewalahan.


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu diberikan limpahan kesehatan dan rezeki dari Sang Pencipta.


Sebagai ucapan terimakasih atas dukungan readers, author akan memberikan gift berupa bunga artificial cantik kepada sepuluh readers dengan dukungan tertinggi yang dilihat pada episode terakhir.


Terima kasih atas segala dukungannya terhadap novel ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan readers.


Terus dukung author dengan vote, like dan komen.


Salam penuh cinta pada kesempatan yang baik ini.


Author Ina AS

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2