REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
71. New Baby Breath


__ADS_3

Ternyata Apartemen yang disiapkan oleh Bimasena untuk Nadia berjarak sangat dekat dari Apartemen Bimasena sendiri. Masih berada di Casablanca. Bahkan lebih mewah dari yang ditempati Bimasena.


Apartemen ini terhubung langsung ke Mall Kota Kasablanka. Nadia menempati unit eksekutif yang memiliki akses private lift.


"Bim, ini punya kamu atau sewa?" Rasa penasarannya muncul begitu melihat kemewahan pada apartemen tersebut.


"Private property," gumam Bimasena. Nyaris tak terdengar.


Membuatnya melongo, bagaimana cara bocah yang seumur dengan dirinya itu menghasilkan uang sangat banyak untuk membeli apartemen tersebut. Padahal dirinya sudah membanting tulang bekerja dari pagi sampai sore di salon, rumah type 36 di perumahan sederhana pun tidak mampu ia beli.


Mungkin Bimasena mendapatkannya dari orang tuanya. Tapi alangkah tidak sopannya bila ia menanyakan hal itu.


"Bim, apartemen ini terlalu besar dan mewah untukku," ucapnya setelah selesai mengintari beberapa ruangan. Bukannya tidak bersyukur dan tidak tahu berterima kasih, tapi ia merasa apartemen itu terlalu berlebihan untuknya.


Desain interior apartemen mewah itu terkesan luas, karena konsep open-plan yang digunakan untuk memisahkan antar-ruang secara visual.


Tidak ada pembatas yang memisahkan ruang makan dan ruang keluarga. Namun, dalam sekali lihat, sangat jelas bahwa keduanya memiliki fungsi yang berbeda.


"Ini yang terdekat Nadia dari apartemenku. Bahkan bisa berjalan kaki sampai kemari. Kita tidak perlu membuang waktu bila ingin bertemu," kilah Bimasena.


"Kenapa kamu nggak tinggal di apartemen ini? Kan lebih mewah dari yang kamu tinggali sekarang?" Matanya masih mengamati interior ruangan.


"Nadia, kalau aku sudah menyukai atau menyenangi sesuatu, aku tidak akan menggantinya dengan sesuatu yang lain. Begitupun kalau aku sudah terlanjur menyayangi seseorang, tidak akan mudah berpindah ke lain hati," jawab Bimasena yang berdiri di sampingnya.


Ada yang tahu untuk siapa kalimat itu ditujukan oleh Bimasena?


Salahkah bila ia merasa tersanjung? Kalimat itu sangat melambungkan hatinya.


"Kalau nggak digunakan ngapain dibeli? Kan mubazir jadinya." Ia duduk di sofa mencoba merasakan empuknya sofa.


Ia masih tidak habis pikir dengan cara pria itu membuang-buang uang.


Tapi akhirnya ia menyesali pertanyaannya, karena menunjukkan kebodohan dirinya setelah mendengar jawaban dari Bimasena.


"Untuk investasi Nadia. Investasi apartemen lebih prospektif dibanding menginvestasikan dana untuk membeli rumah. Juga bisa disewakan. Jika membeli apartemen untuk disewakan kembali, maka keuntungan yang bisa didapatkan bakal cukup besar," terang Bimasena, ikut duduk di sampingnya.


"Ooohhh." Ia mengangguk-ngangguk berpura-pura mengerti. Agar Bimasena tidak menganggapnya bodoh.


Tapi masa bodoh bila Bimasena menganggapnya bodoh. Toh Bimasena tidak pernah membentaknya seperti yang dilakukan Tristan hanya karena ia bodoh.


Tapi sekarang ia penasaran satu hal lagi.


"Bim, kok kamu suka sama saya, padahal saya ... bodoh."


Ia memasang wajah cemberut melihat Bimasena tertawa karena pertanyaannya.


"Siapa yang bilang kamu bodoh? Tristan?" Bimasena malah balik bertanya dan mencubit pipinya.


Tetapi ia tidak mungkin membawa-bawa nama Tristan.


"Kamu pasti tahu sendiri kok kalau aku bodoh," jawabnya.


Akhirnya Bimasena berhenti tertawa, lalu menatapnya dengan tatapan lembut.


"Nadia, kamu nggak bodoh sayang. Tapi kamu memiliki suami yang terlalu pintar. Sehingga ada gap pengetahuan yang terlalu lebar."


"Begitu mengetahui kamu menikah dengan Tristan, aku kaget aja. Bagaimana bisa seorang model catwalk menikah dengan juara olimpiade matematika?"


"Kalau kamu membahas masalah teknologi, keuangan ataupun politik dengan Tristan, pasti kamu kebanting."


"Tapi kalau kamu membahas urusan fashion, mode dan kecantikan, jelaslah Tristan yang kebanting."


"Jadi pintar atau bodohnya seseorang diukur dari bidang yang digelutinya."


"Kalau merasa waktu sekolah gak pernah dapat rangking, jangan menikah dengan peringkat satu seperti Tristan. Apalagi Tristan juara umum. Menikah dengan yang sama-sama gak punya peringkat seperti ... aku," seloroh Bimasena.

__ADS_1


Betulkah dirinya tidak bodoh seperti yang dikatakan Bimasena? Atau Bimasena hanya menghiburnya saja agar ia tidak mengecilkan hati?


Hanya saja Tristan yang sering melontarkan kalimat bahwa dirinya bodoh sudah terlanjur terpatri di otaknya. Sehingga ia menganggap dirinya memang bodoh. Membuatnya kehilangan percaya diri.


"Erna akan menemanimu di sini. Fasilitas keamanan apartemen ini sangat bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," terang Bimasena sudah mengganti topik.


"Kita lihat kamar utama!" Ajak pria itu. Ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan mengekor di belakang Bimasena.


********


Berapa kali Bimasena memperhatikan setiap jalan bersama dengan Nadia, maka Nadia lebih senang mengekor dan menyembunyikan diri di belakangnya. Ataupun bila mereka harus jalan sejajar, Nadia sedikit lebih ke belakang.


Menunjukkan bahwa Nadia ingin dilindungi. Sekuat apapun seorang perempuan, secara fitrah tetap ingin dilindungi. Apalagi Nadia, yang tidak masuk dalam kategori perempuan kuat.


Kamar tidur apartemen ini bergaya desain Hollywood glam. Merupakan salah satu gaya desain apartemen mewah yang paling populer di kalangan milenial. Menggabungkan beberapa fitur desain victoria, termasuk perabot yang terbuat dari beludru dan pemajangan barang antik.


Namun yang paling menarik bagi Nadia bukanlah apartemen ini, tetapi sebuah pot kecil di atas nakas yang berisi bunga baby breath serupa bunga yang pernah ia berikan sebelumnya kepada Nadia.


"Ini bunga untukku?" Nadia mengambil pot itu dari atas nakas dengan wajah berseri-seri.


"Iya, untuk mengganti bunga yang dihancurkan Tristan."


Ia memang sengaja membeli bunga itu kembali. Meskipun Nadia tidak pernah memintanya. Karena memang Nadia tidak pernah memiliki banyak permintaan padanya.


Tetapi saat Nadia menceritakan bagaimana bunga baby breath itu dihancurkan Tristan, ia melihat kesedihan dalam wajah wanita itu.


Sekarang Nadia sibuk dengan bunga itu dan mengabaikannya. Menyiram bunga putih dengan air mineral lalu meletakkannya di belakang jendela. Kemudian duduk mengelus-ngelus dan memandangi bunga itu.


Sekarang ia dikalahkan oleh bunga kecil yang ia berikan sendiri untuk Nadia.


"Kamu suka bunga itu?"


"Iya," jawab Nadia tanpa menoleh padanya.


"Lebih suka bunga itu dari apartemen ini?"


"Lebih suka bunga itu daripada kalung dan cincin itu kemarin?"


"Iya."


Dasar wanita aneh. Kalau hanya bunga itu, setiap hari ia mampu memberikannya untuk Nadia.


"Lebih suka bunga itu dari aku?" Pertanyaan bodoh terlontar dari mulutnya. Bagaimana ia tidak kesal, Nadia menatap bunga itu seperti menatap seorang kekasih.


"Iiih kamu Bim, ada-ada saja. Sama-sama disukai lah."


Sama-sama disukai? Maksud Nadia mungkin nilainya sama dengan bunga itu?


"Aku kan sering bepergian keluar kota atau keluar negeri. Kamu tidak perlu kesepian karena ada bunga itu yang menemani," sindirnya. Tapi ternyata Nadia kurang peka.


"Iya, aku akan menunggumu kembali bersama bunga ini," jawab Nadia tanpa menoleh ke arahnya karena sibuk memutar-mutar pot bunga mencari posisi pandang yang tepat.


Sekarang ia ingin membanting bunga itu dan menghancurkannya seperti yang dilakukan Tristan. Merasa dikalahkan oleh bunga kecil itu.


"Sudah malam, aku kembali ke apartemen," ujarnya sambil melangkah keluar kamar dengan kesal karena diabaikan.


Tetapi Nadia mengejarnya dan menahan tangannya.


"Jangan pulang dulu Bim! Temani aku dulu sampai tidur," rengek Nadia.


Kalau Nadia sudah merengek seperti itu, maka luruhlah seluruh keangkuhan hatinya.


Ia duduk di sofa lalu menarik Nadia duduk di pangkuannya. Mengelus-elus perut Nadia sambil mencium wangi tubuh wanita itu. Wangi yang sangat lembut. Hanya tercium dalam jarak yang sedekat ini. Tidak seperti kebanyakan wanita yang wangi parfumnya sudah tercium dari jarak jauh.


"Temani sampai tidur maksudnya temani tidur ya?" bisiknya mulai menggoda Nadia. Siapa tahu Nadia bisa tergoda dan membolehkannya menginap di sini. Tidak perlu pulang malam ke apartemennya.

__ADS_1


"Iiiiiih, kamu mau nakal lagi ya? Awas!" ancam Nadia yang membuatnya tertawa.


"Tapi kamu suka kan kalau aku nakal?"


"Ya enggaklah, masa suka," sungut Nadia.


Ada yang tahu mengapa wanita sering lain di mulut lain di hati? Jelas-jelas dia suka kok dinakalin. Awalnya saja yang menolak. Lalu sepanjang waktu menikmati. Tapi setelahnya pura-pura marah.


"Senang mana, sofa, mobil, jendela atau yang di kamar kost sempit itu?" Saatnya menggoda Nadia.


"Biiiiiiiim!" Nadia berteriak sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Seperti biasa, wajah wanita itu kembali merah padam. Lalu menyembunyikan wajah pada bahunya.


"Jangan ungkit itu Bim, aku malu," pinta Nadia.


Ia tertawa penuh kemenangan karena Nadia mengiba padanya.


Ia kemudian mengalihkan topik yang memalukan itu menurut Nadia, tetapi sangat menyenangkan baginya


"Besok Novrianto akan mendaftarkan gugatan cerai ke pengadilan. Kamu sudah siap menjalani prosesnya?" Ia menatap lekat-lekat wajah Nadia untuk melihat reaksinya.


Wanita itu mengangguk meskipun disertai senyum getir. Mudah-mudahan Nadia sudah mantap berpisah dengan Tristan. Tidak akan berubah bila menjalani proses mediasi.


"Kamu yakin tidak akan berubah bila hakim memediasi kamu dengan Tristan?"


"Kamu masih belum percaya padaku Bim. Sejauh ini kamu ... "


Buru-buru bibirnya memagut bibir Nadia. Karena bila tidak, Nadia akan mengomel lebih panjang lagi dan ujung-ujungnya akan menangis.


Bimasena yakin Nadia tidak akan berubah. Ia tidak meragukan Nadia lagi.


Karena ia bisa melihat seberapa besar sayang dan cinta Nadia kepada dirinya, meskipun Nadia jarang mengungkapkannya. Mata dan sikap wanita itu tidak bisa berbohong.


Setelah ciuman panjang itu selesai, Bimasena bermaksud membenamkan wajah pada dada Nadia, tapi wanita itu dengan sigap menghindar. Memutar badan ke depan membelakanginya, lalu bersandar dengan manis padanya.


"Jangan macam-macam Bim!" Nadia memberi peringatan padanya.


Sial.


******


Ia sedang menikmati duduk di pangkuan Bimasena. Duduk menyandarkan punggung pada tubuh pria itu. Tangan pria tersebut mengelus-elus perutnya dengan lembut.


Jelas belaian itu ditujukan kepada bayi yang dikandungnya. Tetapi mengapa tubuhnya yang bereaksi? Elusan itu menimbulkan gelenyar-gelenyar dalam dirinya. Membuat ... ah, begitu memalukan untuk dikatakan.


Reaksi yang buruk.


"Oh ya, ada hal yang aku lakukan yang akan membuatmu marah besar kepadaku," ucap Bimasena tiba-tiba yang sangat mengganggu kenyamanannya.


"Apa yang kamu lakukan Bim?" tanyanya penasaran.


"Nanti aku beritahu kamu. Belum sekarang."


"Aku mau tahu sekarang!" Ucapan Bimasena tadi secara drastis merusak mood-nya.


Apa Bimasena berselingkuh? Tapi kata berselingkuh mungkin kurang tepat karena dirinya dan Bimasena lah yang berselingkuh. Atau Bimasena memiliki wanita lain sebelum dirinya?


"Belum sekarang. Beberapa hari lagi. Tapi kamu sayang padaku kan?" Pertanyaan Bimasena semakin merusak suasana hatinya. Namun ia tetap mengangguk meskipun hatinya diliputi tanda tanya.


"Kalau kamu sayang padaku, meskipun kamu marah besar, kamu tidak akan tega dan akan memaafkanku serta mengabulkan keinginanku," lanjut pria itu.


"Bim, kamu akan menyakiti aku?" lirihnya pada Bimasena.


"Aku tidak pernah punya niat menyakiti kamu Nadia."


Ia menatap lekat-lekat mata Bimasena, mencoba menyelami isi hati melalui jendela hati pria itu.

__ADS_1


Tidak punya niat menyakiti? Mudah-mudahan saja. Ia tidak akan mampu mendengar berita kedukaan. Ungkapan Bimasena sudah mengganggu ketenangannya. Rasa gelisah pun tertanam di hatinya seketika.


Karena sekarang ia sudah menyandarkan harapan pada pria tersebut. Mungkin ia harus memperbanyak doa. Sebab sebesar apapun impian dan usaha yang ia lakukan, tetap saja, langit yang memutuskan.


__ADS_2