
Ayahnya sudah mendesak Bimasena segera kembali ke Amerika menyelesaikan urusan peralihan saham FreddCo Energy. Agar secepatnya dilakukan perubahan anggaran dasar perusahaan dengan memasukan nama Bimasena sebagai pemegang saham baru dan mengeluarkan nama pemegang saham lama dari anggaran dasar.
Masalahnya dengan Nadia yang semakin rumit membuatnya dilema untuk kembali ke Amerika dalam waktu dekat. Padahal ia sudah menjadwalkan menghadiri dan mengeluarkan suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham FreddCo Energy sebagai pemilik saham baru.
Dan yang terpenting adalah ia bisa menerima pembayaran dividen serta sisa kekayaan hasil likuidasi.
Tidak mungkin ia meninggalkan Nadia dalam kondisi seperti ini. Terlebih lagi dua hari ini komunikasinya dengan Nadia terputus karena Kakak Nadia membawa Nadia pergi dari rumah Nadia.
Ia sudah mengantongi alamat rumah Kakak Nadia. Baginya tidak sulit menemukan alamat saudara dari Nadia tersebut. Dan sekarang ia dalam perjalanan menuju rumah Bang Herial, khusus untuk menemui Bang Herial.
Semoga saja Bang Herial bersedia membuka ruang komunikasi dengannya. Dan semoga saja komunikasinya bisa berjalan lancar serta membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
Tetapi ia juga harus siap menjadi sasaran amukan kemarahan Bang Herial. Terlebih lagi menurut Nadia, abangnya tidak ubahnya seorang preman. Sama seperti informasi yang diperoleh dari informannya.
Bimasena meminta sopirnya menunggu di halaman sebuah minimarket. Lalu ia berjalan kaki memasuki sebuah gang sempit kurang lebih 100 meter. Ketika tiba di sebuah rumah bercat hijau bernomor 34, ia berhenti sejenak memandang rumah itu. Kemudian ia masuk ke teras dan mengetuk pintu rumah.
Di ruang tamu seorang pria berkumis tebal duduk dengan posisi malas. Mulut dan hidungnya menyemburkan asap.
"Masuk!" sahut pria itu, dengan intonasi lebih mirip sebuah bentakan.
Baru juga ia hendak melangkah untuk duduk di kursi, pria berwajah tidak ramah itu sudah lebih dahulu berdiri mendatanginya. Sehingga ia mengurungkan niatnya untuk duduk di depan pria itu.
"Cari siapa?" Bentak pria itu lagi.
"Boleh bertemu Bang Herial?" Ia tetap berusaha untuk bersikap sopan.
"Kamu siapa?"
Ia yakin pria di depannyalah yang bernama Bang Herial. Ia hanya tidak menyangka, Nadia yang cantik dan lembut, memiliki saudara yang kasar seperti ini.
"Saya Bimasena Bang."
"Jadi kamu pria laknat itu?" suara Bang Herial semakin lantang dan menggelegar.
"Berani-beraninya kamu mempermainkan saudara perempuanku," lontar Bang Herial, disusul tinju kanan diayunkan ke arah mukanya. Dengan cepat ia berkelit, sehingga tinju Bang Herial hanya mengenai udara.
Dari dalam terdengar pekikan Nadia, "Biiiiiim."
Bang Herial semakin emosi, mendorong tubuhnya lalu melayangkan tinju ke perutnya. Tepat bersarang di bawah uluh hatinya.
"Jangan Bang!" Nadia tiba-tiba muncul di ruang tamu, berusaha menarik tangan Bang Herial yang belum puas bila hanya sekali memukul.
Meski rasa sakit dan panas menjalar di perutnya, seolah menghancurkan ususnya, ia berusaha untuk tegap berdiri, tanpa melawan. Karena ia sangat memaklumi kemarahan Bang Herial kepadanya.
"Lepaskan Nadia!" Bentak Bang Herial kepada Nadia yang berusaha sekuat tenaga menahan Bang Herial. Ia malah khawatir Bang Herial bersikap kasar kepada Nadia, yang bisa menyulut emosinya seperti terhadap Tristan tempo hati.
"Biarkan saja Nadia. Jangan ditahan," serunya kepada Nadia.
"Berani-beraninya kamu datang kemari, mau cari mati?" gertak Bang Herial kepadanya.
"Sebelumnya aku minta maaf atas kesalahanku, tapi aku mohon waktu Bang Herial, ada yang hendak aku bicarakan." Ia mencoba untuk bernegosiasi dan tetap tenang. Meskipun pria di depannya sudah berubah menjadi Iblis, ia tidak gentar sama sekali.
__ADS_1
Tapi bukannya waktu yang diberikan oleh Bang Herial. Malah pukulan Bang Herial mendarat di wajahnya. Membuat penglihatannya menjadi gelap sejenak. Karena pukulan Bang Herial sangat kuat dan keras. Tidak seperti pukulan Tristan yang lebih lemah.
Nadia histeris dan menangis, duduk di lantai memeluk kaki abangnya agar berhenti menyerang. Memohon-mohon kepada saudaranya. "Jangan Bang, kumohon jangan Bang."
"Berani-beraninya kamu menginjakkan kaki di sini setelah mempermainkan adikku, merusak rumah tangga adikku," hardik Bang Herial.
Meskipun sempat terhuyung, ia kembali tegap berdiri di depan Bang Herial. Bersiap menerima hukuman selanjutnya yang akan diberikan oleh Bang Herial kepadanya.
"Aku tidak mempermainkan Nadia Bang, aku kesini justru karena ingin mempertanggung jawabkan apa yang telah aku perbuat."
"Breng sek kamu!" Pukulan Bang Herial kembali melayang. Menyambar sudut bibirnya karena ia sempat mengelak. Ia merasa bibirnya pecah, perih dan cairan hangat mengalir.
Dari luar rumah seorang wanita datang terburu-buru. Ia berpikir bila wanita itu istri dari Bang Herial.
"Hentikan Bang! Abang bisa membunuh orang!" Wanita itu berdiri diantaranya dengan Bang Herial. Menghalangi Bang Herial agar berhenti menyerangnya.
"Kamu pindah disitu Nana, dia pantas mati," teriak Bang Herial berapi-api dan tubuh yang bergetar karena luapan emosi.
Namun ia sama sekali tidak takut kepada Bang Herial. Karena pandangannya haru melihat ke arah bawah. Dimana ada Nadia yang masih memegang kaki saudaranya sekuat tenaga.
"Pulanglah Dik! Suamiku bisa membunuhmu." Sekarang wanita itu berusaha menyeretnya keluar dari rumah.
Tetapi ia tetap bertahan pada tempatnya.
"Biar saja Mpok. Gak apa-apa." Ia masih berdiri memasang badan. Dengan harapan bila emosi Bang Herial sudah mereda, Bang Herial bersedia berdialog dengannya. "Aku hanya ingin berbicara dengan Bang Herial.
"Kumohon pulanglah Bim. Pulanglah. Jangan pernah datang kemari," ucap Nadia tersedu-sedu kepadanya dengan wajah memelas.
Tangan kanan Bang Herial mendorong tubuh istrinya ke samping yang berusaha menghalangi. Sehingga tangannya segera menangkap tubuh saudara ipar Nadia itu agar tidak terjatuh.
"Iblis. Mati kamu!" teriak Bang Herial.
Semua pukulan diarahkan ke wajahnya. Mungkin Bang Herial ingin menghancurkan wajahnya. Sekarang pukulan Bang Herial mengenai pelipisnya.
Nadia kembali menjerit. Memperkuat pelukan pada kaki kakaknya.
Sementara saudara ipar Nadia mendorong tubuhnya sekuat-kuatnya keluar dari dalam rumah. Sehingga ia terpaksa mengalah, karena yang mendorongnya seorang perempuan.
"Pulanglah Dik, suamiku akan terus menyerangmu sampai kamu mati. Pulanglah. Tidak mungkin dia ingin berdialog." Saudara ipar Nadia bahkan sudah ikut menangis. Membuatnya hatinya luluh untuk segera meninggalkan tempat itu.
Tapi sebelum pulang ia sempat menengokkan kepala ke dalam rumah. Lalu berseru kepada Nadia yang masih memeluk kaki kakaknya dengan air mata yang berderai.
"Nadia maafkan aku. Jaga dirimu! Jaga kandunganmu! Aku pulang."
Sepanjang jalan menuju kendaraannya pikirannya hanya tertuju kepada Nadia. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang datang menonton keributan di rumah Bang Herial.
Hatinya demikian teriris melihat tangisan dan wajah sendu Nadia. Melihat Nadia yang berusaha sekuat tenaga menahan kaki kakaknya, sampai tubuh wanita itu terseret-seret. Melihat Nadia memohon-mohon kepada Bang Herial agar berhenti menyerang. Melihat Nadia memelas kepadanya agar segera pergi dari tempat itu dan tidak pernah datang kembali. Melihat wajah membiru Nadia, yang berarti bekas pukulan. Mungkin pukulan dari Bang Herial.
Rasa perih pada wajah dan perutnya tidak sebanding dengan perih hatinya melihat keadaan Nadia. Melihat kondisi Nadia.
Ia yang telah menjanjikan kebahagiaan kepada Nadia, justru telah melempar Nadia ke dalam jurang. Rasa egoisnya untuk memiliki Nadia, malah menyiksa wanita itu. Membuat Nadia menderita sendirian. Dan menjadi korban atas segala perbuatannya.
__ADS_1
*******
Danindra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kondisi sahabatnya. Bimasena sedang berbaring di atas sofa mengompres wajah, bibir dan perut dengan es batu.
"Man, berhentilah. Sudah dua kali muka lu babak belur karena wanita itu. Sekarang malah lebih parah lagi dari sebelumnya. Bisa-bisa nyawa lu melayang karena wanita itu."
Entah mengapa dirinya yang emosi melihat kondisi sahabatnya. Yang mengesalkan adalah karena melihat Bimasena tenang-tenang saja.
"Apa sih istimewanya wanita itu selain cantik? Dia pintar? Dia cerdas? Dia kaya? Atau dia hot di atas ranjang? Sampai lu kehilangan akal lantas jadi gila begini?" Ia berdecak tidak percaya.
Tapi jawaban pelan Bimasena membuat perutnya mual, ingin muntah.
"Dia nggak pintar, gak cerdas, nggak kaya. Juga nggak hot di atas ranjang. Justru karena itu aku menyukainya. Aku menyayanginya, Ndra."
Ia hanya melempar bantal kecil sofa ke wajah Bimasena karena kesal dengan jawaban pria itu.
"Lalu apa gunanya ilmu bela diri MCMAP yang lu pelajari di Amerika? Apa gunanya sekarang lu ikutan kick boxing kalau membiarkan wajah babak belur begitu? Kalau lu udah bangkrut, biar gua yang sewa sepuluh bodyguard untuk menjaga lu. Karena lu gak ubahnya anak bayi, nggak mampu jaga diri sendiri."
Tetapi jawaban mengesalkan dari Bimasena membuatnya ingin menambah bengkak dan lebam pada wajah sahabatnya itu. Biar mampus sekalian.
"Ndra, aku babak belur begini bukan karena kalah dari Bang Herial. Aku kesana untuk menyelesaikan masalah. Bukan untuk berkelahi. Aku menghormati dan menghargai Bang Herial karena dia satu-satunya saudara Nadia. Keluarga terdekat Nadia."
"Dari awal aku mengendalikan diri agar tidak tersulut emosi pada Bang Herial. Karena bila aku marah, hanya dengan jari kelingking, aku bisa membuat lelaki itu berhenti bernafas. Tetapi bukankah itu hanya menambah masalah?"
Lihatlah bedebah yang satu ini! Sudah babak belur, masih sombong pula.
"Lu ingin menyelesaikan masalah? Akhiri semua ini. Tinggalkan wanita itu. Berhenti merusak rumah tangga orang."
"Tumben-tumben kamu bisa ngomong yang benar. Kesambet? Biasanya ngomongnya ngajak maksiat melulu." Bimasena malah menertawainya.
Memang benar apa yang dikatakan Bimasena. Biasanya ia mengajak Bimasena mencoba berbagai alkohol. Atau mengajak Bimasena berlomba membawa seorang wanita ke atas ranjang.
"Lah lu tahu sendiri kan kalau omongan gua benar? Jadi lu sudah akui kalau kelakuan lu salah?"
Mungkin besok ia perlu membawa sahabatnya ke seorang ahli jiwa. Karena baginya Bimasena sudah mengalami gangguan kesehatan jiwa. Perilaku dan mental sahabatnya itu sudah bermasalah. Butuh terapi kejiwaan.
"Aku dan Nadia sedang berjalan menuju Surga. Tetapi satu-satunya jalan yang bisa dilalui adalah, harus melewati Neraka terlebih dahulu. Saat melalui Neraka, kami berjumpa dengan Bang Herial, juga berjumpa dengan dirimu Ndra."
*******
Readersku tersayang,
Apa kabarnya hari ini?
Semoga tetap dalam curahan kesehatan dan kebahagiaan selalu.
Sekali lagi mengingatkan,
Jangan mendekati selingkuh, jangan mendekati zina.
Terima kasih atas segala apresiasi dan dukungan terhadap novel ini.
__ADS_1
Salam sayang dari Author Ina AS
😘😘😘