REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
129. Pengalaman Fantastis


__ADS_3

Nadia, suaminya, kedua anaknya, serta asisten dan beberapa pelayan, pulang ke Indonesia menggunakan private jet Glor.


Meski harus transit dua kali pada dua negara karena batas jangkauan penerbangan, mereka tetap mengutamakan pertimbangan privasi dan kenyamanan. Sebab membawa dua anak yang masih kecil.


Seorang diantaranya masih bayi. Dan seorang lagi, Glor, sedang aktif-aktifnya. Memiliki energi yang berlimpah. Tidak pernah diam kecuali saat sedang tidur.


Khusus untuk perjalanan keluarganya ke Indonesia, di atas pesawat tersebut telah dipasangi bed dan sofa. Yang dilengkapi dengan tirai untuk privacy keluarganya. Sehingga suasana di atas pesawat sama dengan suasana rumah dengan kenyamanan maksimal.


Suaminya memanfaatkan waktu senggangnya di atas pesawat yang sangat jarang dimiliki untuk bermain bersama Glor. Bermain mobil-mobilan dan pesawat.


Bimasena, pria yang telah memegang hatinya itu, tidak pernah terlihat lelah dan tidak pernah mengeluh. Pria yang telah membuatnya mengerti bagaimana rasanya dicintai.


"Waktuku untuk bersenang-senang dalam dunia yang hingar bingar sudah cukup, Mi. Sekarang Daddy memiliki tanggung jawab yang besar sebagai kepala keluarga. Yang Daddy inginkan saat ini hanya ingin hidup tenang dan damai bersama keluarga, serta melihat Mommy, Glor dan Frey bahagia," ungkap suaminya pada suatu malam saat pulang dari kantor dan mendapati anak-anak mereka telah tertidur.


Beberapa menit lamanya Bimasena membawa Glor ke dalam flight deck (kokpit), berdiri menggendong puteranya di belakang pilot. Memperlihatkan kepada puteranya pilot yang sedang mengendalikan pesawat terbang dengan flight control.


Begitu hari telah gelap, mereka menikmati menu dinner dari dapur pesawat. Yang dibawa ke atas pesawat dalam bentuk frozen (beku), lalu kemudian dipanaskan dalam oven sebelum disajikan oleh awak kabin.


Namun khusus kopi untuk suaminya, ia membuat sendiri menggunakan caffe maker yang tersedia di dapur pesawat. Karena hanya dirinya yang mengetahui komposisi yang tepat kopi kesukaan suaminya.


Butuh seribu satu cara untuk menidurkan Glor. Karena Glor hanya ingin bermain dan terus bermain. Sampai terlelap sendiri di sofa pesawat karena kelelahan. Barulah suaminya memindahkan Glor ke atas bed.


Karena suaminya sedang terlibat pembicaraan serius dengan Aurel, sang asisten, ia memilih untuk berangkat tidur terlebih dahulu. Ia pun menyusul berbaring di samping baby Frey dan Glor.

__ADS_1


Namun belum juga lima menit ia berbaring, suaminya sudah menyusul masuk ke dalam dan menutup tirai yang menjadi penyekat dengan penumpang lain yang menyertai mereka. Lalu berdiri di antara tirai dan bed.


Ia melihat kilatan yang meresahkan dari tatapan mata pria yang memegang mimpinya itu. Sebab mereka berada pada tempat dan waktu yang kurang tepat. Guratan wajah suaminya dikuasai hasrat.


"Dad, mau ngapain?" tanyanya dengan suara pelan penuh rasa was-was begitu melihat suaminya melepas sweater rajut sekaligus kaos yang suaminya kenakan.


Bimasena bahkan tidak menjawabnya. Sibuk melepas ce lana menyisakan bo xer.


"Nanti anak-anak terganggu dan terbangun." Ia mengingatkan bila mereka berempat tidur di atas bed yang berukuran kecil. Bergerak sedikitpun akan membuat anak-anak mereka terbangun.


"Standing position." Suaminya memanggilnya dibarengi dengan isyarat wajah. "Sini!"


Ia bangkit duduk, menatap tidak percaya pada suaminya. Tetapi tidak mengikuti perintah suaminya untuk berdiri. Apa suaminya sadar mereka sedang berada di mana? Mana ada orang bu gil di atas pesawat.


Mereka dan orang di luar bilik mereka hanya dibatasi dengan tirai. Bahkan deru nafas pun bisa terdengar keluar apalagi bunyi aneh lain berupa de sa han.


Dirinya sadar, tidak bisa menghindar dari terkaman singa yang sedang haus dan bernafsu.


Sang singa berbisik penuh teror pada telinganya,


"Sofa udah, mobil udah, balik jendela udah, penjara pernah, bathtub sudah, kolam renang, juga pantai sudah. Belum pernah di udara kan? Daddy ingin Mommy mencoba bagaimana rasanya ma king love di udara, dalam pesawat yang sedang terbang. Di antara langit dan bumi." Suara suaminya berubah serak, menahan hasrat yang menggebu.


Bisikan yang mematikan logika disertai re ma san yang agak kasar. Membuatnya menggelinjang dan memekik tertahan.

__ADS_1


"Tapi orang di luar bisa mendengar kita, Dad," kilahnya. Berusaha mempertahankan penerbangan tetap berada pada jalur.


"Disitulah sensasinya. Terserah Mommy mau pakai mode silent atau mau ribut," desis suaminya. Tidak menerima alasan apapun.


"Daddy bawa kon dom?" lagi-lagi ia mencari alasan dengan alat kontrasepsi yang digunakannya.


"Enggak!"


"Bagaimana kalau jadi, Dad ? Frey baru setengah tahun," dalihnya.


"Setengah tahun, sudah cukup umur untuk memiliki adik," pungkas suaminya.


Lalu berbisik padanya yang membuatnya meremang


"Lahirkanlah anak yang banyak untukku, nyonyaku. Maka akan kuberi kebahagiaan berlimpah padamu."


Tidak pernah ada dalam catatan sejarah, sang mangsa lolos dari terkaman singa lapar.


Ia hanya bisa menggigit sweater Bimasena sebagai peredam suara mulutnya yang tidak mampu silent menahan gempuran yang tak berhenti.


Tapi entah apa maksud suaminya. Melepaskan sweater yang ia gigit dari mulutnya. Apa suaminya sengaja agar de sa han yang lolos dari mulutnya terdengar orang di luar sana? Atau sengaja menyiksanya agar tak bersuara saat sedang dipacu?


Suaminya selalu penuh dengan kemauan untuk mencoba fantasi yang menantang. Tak ada yang bisa mencegah. Tidak peduli suara bisik-bisik orang di luar sana yang terdengar jelas sampai ke dalam.

__ADS_1


Beginilah rasanya terbang saat sedang terbang. Bimasena menghempaskannya ke awan-awan saat sedang diselimuti awan malam. Mendaki dan terus mendaki, bermandi peluh. Menggapai puncak yang ternyata berada jauh lebih tinggi di atas pesawat. Begitu tiba di sana, ia berteriak pelan.


Pengalaman yang fantastis. Ia butuh makan malam sekali untuk mengisi ulang daya yang dikuras habis suaminya.


__ADS_2